Nillaku

Nillaku
Nillaku 36


__ADS_3

Vanilla datang ke kafe yang telah ditentukan oleh Renald sebagai tempat bertemunya mereka sore ini.


Setelah menyelesaikan kuliahnya, Ia langsung pergi ke sini dengan perasaan tidak sabar dan pernasaran akan tujuan Renald mengajaknya bertemu.


Sudah hampir sepuluh menit Vanilla menunggu, akhirnya Renald datang menghampirinya dengan senyum hangat.


"Kamu mau pesan apa?"


"Apa saja,"


Kalau Jhico yang menawarinya lain cerita. Ia pasti akan memesan makan dan minum sebanyak mungkin agar suaminya membayar banyak. Sekalipun Jhico tidak pernah mempermasalahkan itu. Jadi terkadang Vanilla bingung ingin mengerjai suaminya dengan cara apa. Ia ingin sekali melihat Jhico protes atau marah. Tapi hampir tidak pernah. Marah hanya karena laki-laki lain saja. Itupun baru akhir-akhir ini.


"Kali ini jangan 'apa saja', Aku bisa bayar. Jangan khawatir," kekeh Renald karena tahu Vanilla tengah menjaga harga dirinya. Ia tahu Vanilla tidak ingin mempersulitnya.


******


Ketika semangatnya mulai turun karena sudah sore, Jhico harus menangani seorang anak yang mengalami kecelakaan kecil karena menaiki sepedanya tidak hati-hati. Ia terjerembab lalu kakinya terluka dan mengeluarkan darah.


Jhico selalu tersenyum biarpun lelah atau suasana hatinya sedang tidak baik. Apa lagi anak ini selalu menangis, sehingga Jhico harus menenangkannya.


"Beruntungnya luka itu tidak terlalu dalam. Tapi tetap diberi antiseptik dan obat pereda nyeri. Jangan terlalu sering dibawa berjalan ya?"


Masih dengan tangisnya anak perempuan yang usianya kira-kira empat tahun itu mengangguk. Jhico mengusap kepalanya sekilas.


"Terima kasih, Dokter."


"Ya, Nyonya. Lain kali jika Ia sedang bermain lebih diperhatikan lagi,"


"Baik, dokter."


Jhico berjalan memasuki ruangannya. Ia ingin menghubungi Vanilla yang tadi pagi lupa Ia tanyakan pulang pukul berapa.


Sebentar lagi jam kerja Jhico selesai, setelahnya Ia langsung pergi ke kampus Vanilla untuk menjemput istrinya itu.


"Co, kita pulang bersama ya?"


"Huh? tidak biasanya kamu mengajakku pulang bersama. Biasanya dengan Raven,"


"Dia sedang sakit. Jadi aku pulang sendiri hari ini. Dan aku tidak bawa mobil," Denaya menjelaskan dengan senyum meringis.


Pikirnya pasti Jhico tidak mau. Karena biasanya Jhico selalu menghindar. Hanya sebatas menyapa karena rekan kerja.


"Kamu tidak membawa mobil? kenapa? sengaja ingin pulang dengan aku?"


Menyadari kadar percaya diri Jhico yang sangat tinggi, Denaya terkekeh dan memukul bahu Jhico tidak terima.


"Aku serius bertanya," tukas Jhico.


"Bahan bakar habis, Jhico."


Baru kali ini pembicaraan mereka tidak menyangkut dengan pekerjaan. Denaya harap tidak ada lagi kecanggungan diantara dirinya dan Jhico karena mereka sudah sama-sama memiliki pasangan yang harus dijaga perasaannya.

__ADS_1


"Aku harus menjemput Vanilla," Jhico menolak masih dengan cara halus.


"Rumahku tidak jauh dari sini,"


"Minta Vander saja untuk mengantarmu,"


"Vander orang pertama yang aku mintai tolong. Sayangnya dia harus mengantar Ibunya periksa rutin,"


"Hmm... Okay , aku akan mengantarmu dulu baru setelahnya menjemput Vanilla,"


Denaya terpekik senang. Ia hampir memeluk Jhico karena spontanitas atas rasa senangnya. Namun Jhico segera menahannya seraya menggeleng tegas.


"Secinta itu kamu dengan Vanilla sampai tidak ingin menerima pelukan dari sahabat?"


"Statusku sudah berbeda, Denaya. Aku harap kamu mengerti,"


"Ya, aku hanya terlalu bahagia tadi karena ada orang baik hati yang akan mengantarku ke rumah,"


"Aku lakukan ini terpaksa," jawab Jhico dengan datar. Hal itu mengundang tawa Denaya yang begitu keras.


*****


Sudah hampir satu jam Vanilla dan Renald membicarakan hal-hal yang ringan, akhirnya Renald berani mengutarakan sesuatu yang menjadi tujuannya meminta Vanilla datang ke sini.


"Vanilla, aku memiliki perasaan yang lebih untuk kamu,"


Pasokan oksigen terasa berhenti untuk Vanilla hirup. Seluruh tubuhnya kaku, punggungnya terasa dijalari rasa dingin.


Belum sempat Vanilla mengendalikan diri, Renald kembali melanjutkan ucapannya, "Perasaan ingin memilikimu tapi bukan hanya sekedar teman,"


"Tapi aku belum mempunyai keberanian untuk membawamu ke jenjang yang lebih serius, karena aku merasa belum pantas, Vanilla,"


Vanilla hanya bisa mendengarkan. Karena tenggorokannya terasa disumbat sehingga sulit untuk mengeluarkan suara barang bisikan sekalipun.


"Aku berpikir begitu lama. Sampai akhirnya---"


Renald menunduk sesaat untuk menghela napasnya dan menghilangkan perasaan gugup yang luar biasa ini. Menatap birunya manik gadis itu, Renald hampir kacau.


"Aku memutuskan untuk menghilangkan pemikiran itu. Uang bisa dicari, tapi kalau kamu hilang, aku bingung harus mencarinya kemana,"


******


Jhico menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Denaya yang begitu menjulang. Ia menoleh tanpa mengatakan apapun, mempersilahkan Denaya untuk keluar.


"Iya, aku keluar sekarang,"


Karena berlama-lama di sana, jujur saja membuat memori lama di kepala Jhico kembali berputar.


Saat masa kuliah dulu, Ia sering mengantar dan menjemput Denaya, memastikan gadis itu baik-baik saja.


Semua yang terbaik Ia lakukan untuk Denaya yang rupanya mengkhianatinya. Jhico sempat patah hati namun tidak lama. Karena ini merupakan pelajaran untuknya. Denaya menjalin kedekatan dengan teman sekelas Jhico, dan itu bukan Raven. Yang Jhico tahu, mereka belum meresmikan hubungan, namun ketika Jhico sudah mulai mencium aroma perselingkuhan, tanpa pikir panjang Ia memutuskan hubungannya dengan Denaya. Agar tidak ada lagi penghalang di antara mereka.

__ADS_1


Setelah mengetahui bahwa Raven lah yang menjadi kekasih Denaya, bukan teman masa lalu Jhico, Jhico hanya bisa berharap Denaya tidak mengulangi kesalahan yang sama.


"Terima kasih, temanku. Aku harap tidak ada lagi yang aneh dalam hubungan pertemanan kita,"


******


Jhico memasuki kampus Vanilla yang suasananya sudah sepi. Ketika Ia akan bertanya pada pihak keamanan, mata Jhico menemukan sosok yang hampir sama seperti Jane, terlihat ingin pulang. Kebetulan yang sangat tepat.


Jane yang sedang menunduk langsung mundur karena terkejut begitu melihat ada sepasang sepatu di depannya.


"Jane..." Jhico memastikan dan ketika Jane mengangkat wajahnya, Ia menghela napas lega karena tidak salah orang.


"Ada apa?"


"Kelas Vanilla sudah selesai?"


"Sejak tadi," jawabnya jujur tanpa ada yang ditutupi.


"Tapi dia sedang bertemu dengan seseorang," lanjut Jane.


"Siapa? dia tidak berbicara mengenai hal itu padaku,"


Jane menyebutkan tempat Vanilla dan Renald bertemu. Jhico berhak mengetahui keberadaan istrinya. Ia tidak akan membiarkan Vanilla lebih lama bersama dengan Renald sementara suaminya khawatir mencari.


"Okay, terima kasih, Jane."


Saat Jhico akan pergi, Jane menahannya untuk berucap, "Apapun yang kamu saksikan nanti, jangan cepat-cepat menyimpulkan. Bicarakan baik-baik terlebih dahulu,"


******


Renald meraih kedua tangan Vanilla yang ada di atas meja lalu menggenggamnya sangat erat. Mata Renald menatap dalam-dalam manik biru itu sampai dibuat terpaku.


"Aku ingin memilikimu, Vanilla."


"Jhico---"


Renald menggeleng lalu mengisyaratkan Vanilla untuk mendengarkan kalimatnya sampai akhir.


Jhico berjalan cepat memasuki kafe yang sedikit ramai itu. Mata Jhico menjelajahi semua sudut kafe. Ia menemukan sosok yang dicarinya. Namun bersama seorang pria yang diingat Jhico pernah bertemu dengannya ketika menjemput Vanilla saat itu.


Pemandangan ini tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Apakah Ia akan dikhianati lagi? atau mereka hanya berteman?


Kaki Jhico tidak bisa bergerak menghampiri apa yang sudah menjadi miliknya. Melihat betapa erat mereka saling menggenggam, sepertinya bayangan Jhico benar adanya. Pengkhianatan akan kembali mengukungnya dalam rasa sakit. Satu kalimat meluncur, dan itu membuat Jhico semakin tidak kuat berdiri dan menopang tubuhnya sendiri. Keringat dingin menjalari seluruh tubuh, kedua tangannya mengepal erat untuk meluapkan semua rasa yang bercampur aduk di dalam hatinya.


"Kamu mau menjadi istriku?"


"Brengsek!"


---------


Pagi buta aku up. Dukungannya jgn lupa yak. Tencuuu :*

__ADS_1


MCH DI TUNGGU TRS YAAA. PLISS TUNGGUIN :( *ngarepbgt*



__ADS_2