
"Nilla, kamu jadi dijemput oleh Jhico?"
"Iya, aku sudah mengabarinya dan Ia mengatakan akan menjemputku,"
"Ya sudah, aku tunggu kamu sampai dijemput oleh Jhico,"
"Tidak usah menungguku, Joana. Kamu pulang saja, aku tidak apa sendiri di sini,"
Joana menggeleng, Ia ingin menemani Vanilla sampai Jhico datang menjemput. Mereka bisa sambil berbincang selama menunggu Jhico.
"Jhico hari ini mulai bekerja, aku rasa dia sangat sibuk. Tapi dia menyempatkan waktu untuk menjemput kamu,"
"Iya, dia menawari aku ingin dijemput atau tidak. Tentu saja aku tidak menolak,"
"Bag---"
"Hai Vanilla, Joana,"
Renald menyapa mereka. Lelaki itu sepertinya akan pulang, terlihat dari pakaian nya yang sudah tidak mengenakan pakaian kerja lagi, melainkan baju biasa.
"Hai, Renald. Mau kuliah atau pulang?" balas Vanilla.
"Pulang, Vanilla."
"Hmm okay,"
"Kalian tidak pulang?"
"Aku sedang menunggu Jhico menjemput, dan Joana menemani aku di sini,"
"Tadinya mau mengajak kamu untuk pulang bersama,"
Vanilla mengangkat alisnya mendengar hal itu. Sementara Joana menggerutu dalam hati. "Sepertinya dia lupa kalau Vanilla sudah punya suami,"
"Vanilla, Joana, aku pergi dulu kalau begitu,"
"Iya, hati-hati, Renald."
Renald mengangguk kemudian melangkah pergi. Bahu Vanilla didorong pelan oleh Joana yang sedari tadi enggan sekali bicara dengan Renald.
"Untuk apa membalas ucapannya? kamu itu lupa saat dia tiba-tiba menjauhi kamu lalu lebih memilih untuk dekat dengan temannya yang bernama Anneth?"
"Biarkan saja lah,"
"Sekarang sepertinya dia berusaha mendekati kamu lagi. Mungkin sifat asli Anneth sudah mulai terlihat. Perempuan itu jahat sampai hampir mencelakai kamu ketika hamil,"
"Oh rupanya kamu masih kesal dengan Anneth dan Renald ikut terbawa?"
"Lelaki itu juga aneh menurutku. Dulu dia mengatakan kamu dan dia bisa menjadi teman. Tiba-tiba menjauh hanya karena kamu tidak suka dengan Anneth, teman dekatnya itu,"
__ADS_1
"Dia mengunjungi Grizelle waktu belum lama lahir," ujar Vanilla memberi tahu sahabatnya, Bahwa Renald tidak seburuk itu menurutnya. Entah ada maksud lain atau tidak dibalik kunjungan Renald ke apartemen setelah kelahiran Grizelle, yang jelas Vanilla senang dengan sikap yang ditunjukkan laki-laki itu.
"Siapa? Renald?"
"Iya, dia bertemu dengan Jhico."
"Astaga, untuk apa dia datang?"
"Memberi ucapan selamat dan bingkisan saja, setelah itu pulang karena kebetulan ada Adrian juga yang over protective denganku,"
Joana menatap jam di pergelangan tangannya lalu beralih pada Vanilla yang sesekali mengecek ponselnya.
"Omong-omong Jhico lama juga ya,"
"Makanya kamu pulang saja, Joana. Mungkin Jhico ada pasien sebelum berangkat ke sini,"
"Tidak, aku masih ingin mengobrol denganmu,"
"Bagaimana dengan rencana pernikahan---"
"Yo-yo-yo whats up girls,"
"Ck! kamu?! untuk apa di sini?"
Joana memutar bola matanya kesal saat Ganadian tiba-tiba datang menyapa mereka. Lelaki itu pasti ingin menjemput nya padahal Ia tidak meminta.
"Ganadian, kamu semakin berani mendekati Joana ya. Kamu tahu 'kan kalau Joana itu akan menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya?"
Vanilla membulatkan matanya saat Ganadian semakin percaya diri mendekati Joana.
"Dia mungkin tidak menghilang, hanya perlu waktu untuk meyakinkan diri sebelum menikahi Joana dan berurusan dengan kamu,"
"Ck alasan macam apa itu? kalau dia memang ada niat untuk mewujudkan keinginan orangtuanya, dia tidak mungkin menjauh tiba-tiba hanya karena melihat kedekatan aku dengan Joana,"
"Tapi dia sempat menunjukkan jati dirinya di hadapan Joana lalu menjauh setelah kejadian di kelab malam waktu itu 'kan?"
"Ya, dan dari sana aku tahu kalau dia itu ingin dianggap dominan daripada Joana. Dia memarahi Joana yang datang ke kelab. Memang apa urusannya? dia bukan siapa-siapa untuk Joana,"
"Itu wajar menurutku. Jhico saja tidak suka aku datang ke kelab, dia akan marah,"
"Tapi dia belum menjadi siapapun untuk Joana. Dan Joana datang ke kelab pun karena sudah merasa stres dengan rencana pernikahan mereka,"
"Sudah-sudah, jangan membahas itu," Joana menghentikan pembicaraan Ganadian dan Vanilla yang malah membahas permasalahan beberapa waktu lalu.
"Tapi Ayahmu sudah menyelesaikan masa hukuman nya 'kan, Jo?"
Joana mengangguk setelah Vanilla bertanya seperti itu.
"Sudah,"
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu dan Milano belum juga menikah?"
"Aku tidak tahu, tapi aku bersyukur. Semoga saja tidak jadi,"
*******
"Kamu lama sekali datang nya. Niat jemput atau tidak, Jhi?"
"Maaf, Nilla. Tadi ada pasien dua orang sebelum aku berangkat ke kampus kamu dan ada kendala juga di jalan,"
"Kendala apa? tidak terjadi sesuatu pada kamu 'kan?"
Jhico menepuk pelan puncak kepala istrinya. "Tidak, aku baik-baik saja. Aku tidak akan mengulangi kebodohan ku waktu itu yang menyebabkan aku menjadi cedera seperti ini,"
Vanilla mengangguk dengan perasaan lega. Ia akan benar-benar melarang Jhico mengendarai mobil kalau memang suaminya sampai kecelakaan lagi. Vanilla hampir gila waktu itu mendapati suaminya mengalami kecelakaan. Apalagi sebelumnya Ia dan Jhico sempat berdebat. Ia jadi merasa bersalah.
"Tadi bicara apa saja dengan Renald?"
"Kamu tahu kalau aku dan dia bicara?"
"Tahu, tapi aku memilih memperhatikan kalian dulu,"
"Ishh aku berharap kamu cepat datang agar dia tidak mengajakku mengobrol. Ternyata kamu malah---"
"Aku tidak ingin menganggu nostalgia kalian," ucap Jhico dengan senyum tipis nya.
"Ihhh apa sih?"
Vanilla mencubit pinggang suaminya yang menggodanya seperti itu. Vanilla tahu suaminya tengah merasa cemburu tapi Ia memilih untuk tidak mengakui itu.
"Kamu cemburu ya?" Vanilla menggunakan jari telunjuk nya untuk mendorong pelan pipi Jhico yang menampilkan ekspresi tak acuh.
"Tidak, untuk apa cemburu? aku percaya diri, orang yang cemburu itu adalah orang yang tidak percaya diri, takut kalah saing," ujar Jhico dengan gaya pongah, Ia menunjukkan kalau Ia benar-benar percaya diri sekarang. Ia yakin cintanya untuk Vanilla lebih besar dari laki-laki manapun. Dan hanya Ia yang bisa membuat Vanilla bahagia.
Vanilla melipat kedua tangannya lalu membuang pandangan keluar jendela. Vanilla merasa kesal karena Ia berharap Jhico menjawab 'Ya, aku cemburu, Nillaku.'
"Aku yakin sih,"
"Yakin apa?!" tanya Vanilla dengan tidak santai.
Jhico terkekeh melihat istrinya yang sedang merajuk. Vanilla yang seperti ini saja berhasil membuat semangat nya melonjak lagi. Padahal belum setengah hari Ia bekerja tapi sudah merasa lelah dan Vanilla bisa menghapus rasa lelah itu.
"Kamu tidak akan berpaling dari aku,"
"Astaga, sejak kapan kamu terlampau percaya diri begini?"
Jhico mengangkat bahunya. Kemudian Ia menarik lengan Vanilla hingga perempuan itu mendekat padanya yang saat ini sedang menyetir mobil. Sesaat Ia mencium kening Vanilla yang mendongak menatapnya.
"Memang benar 'kan? kamu akan terus bersama aku dan Grizelle. Kamu milik aku selamanya. Apa yang sudah aku miliki, tidak akan mudah aku lepaskan,"
__ADS_1
--------
Hellawwww. Gak sabar Griz gede ya. Kalian ngerasa kek gt jg gk? gmn ya kehidupan mereka pas Griz udh gedean dikit. Pantengin trs cerita ini ya guyss.