Nillaku

Nillaku
Nillaku 120


__ADS_3

Akhir pekan waktunya Jhico memandikan Grizelle. Anak itu menangis selama dimandikan oleh Pupu nya. Sepertinya Grizelle belum ingin mandi, namun karena matahari sudah beranjak ke atas, jadi Jhico tetap mengajaknya untuk mandi. Baginya itu merupakan bentuk paksaan padahal maksud Jhico hanya ingin anaknya bersih setelah sebelumnya sudah diberi susu oleh Vanilla. Tunggu apalagi kalau tidak mandi? sudah kenyang, dan badan harus dibersihkan.


"Aduh aku pusing mendengar tangisnya,"


Bibi menoleh saat sedang menyapu kamar majikannya. Ia mengeluarkan desisan seraya menatap Vanilla.


"Nona, jangan bilang begitu."


Vanilla menepuk-nepuk pelan mulutnya yang telah lancang mengeluh setelah beberapa menit mendengar tangis Grizelle.


Jhico keluar dari kamar mandi dengan tangan yang menggendong sang anak dalam balutan handuk berwarna merah muda nya.


Jhico juga yang memakaikan anaknya baju sementara Vanilla memperhatikan. Hari libur seperti ini, tugasnya banyak diambil alih oleh Jhico.


Bibi keluar dari kamar setelah lantai bersih, sementara Vanilla duduk di dekat Grizelle yang masih terdengar senggukan tangisnya.


"Kenapa menangis sih, Sayang? mandi itu sehat. Masa cantik-cantik tidak mau mandi? nanti wajah cantiknya jadi teralihkan karena belum mandi,"


"Iya, padahal niat Pupu baik, kamu malah marah-marah,"


Tangis nya Grizelle itu seperti luapan kesalnya terhadap Jhico yang memandikan dirinya padahal Ia belum mau mandi.


Biasanya habis bangun tidur, Grizelle diberi susu, dan setelahnya akan mandi. Tapi hari ini Ia nampak berbeda.


****


Ketiga sahabat Jhico yaitu Dante, Tiano, dan Riyon yang sudah lama tidak bertemu, datang ke klinik. Jhico senang luar biasa. Selama ini mereka hanya komunikasi melalui pesan singkat dan itupun sangat jarang.


Semenjak Jhico memiliki klinik sendiri dan lumayan jauh letaknya dari tempat kerja masing-masing dari ketiga nya, mereka memang jarang berkumpul.


"Minum-minum dulu, ayo."


"Minum apa? alkohol? sory, aku tidak minat,"


"Ck! minum kopi, minum teh, atau susu, yang jelas bukan yang kau ucapkan tadi. Aku juga masih ingat bahwa kau adalah laki-laki suci tanpa dosa,"


Bugh


"Arrgh sial!" Tiano meringis saat bahunya ditinju oleh Jhico.


Suci tanpa dosa? memang dia malaikat? Jhico memiliki banyak dosa. Hanya saja selama diberi kesempatan, Ia akan terus berusaha menghapus dosa dengan menjadi orang yang baik.


"Boleh saja kita ke kafe yang biasa. Tapi aku tidak bisa lama-lama. Ada yang menanti kepulangan ku,"


"Dua princess mu?"


"Iya, siapa lagi?"


******

__ADS_1


Menemani Grizelle yang sempat tidak ingin tidur usai disusui, Vanilla merasa perutnya lapar. Penghuni didalam perut nya sudah berteriak minta makan. Mata indah sang anak memejam, saatnya Ia mengisi perut.


Tidak mau buat makanan yang membutuhkan waktu lama dalam proses pembuatannya, Vanilla lebih memilih untuk menyantap semangkuk sereal.


Vanilla sengaja membawa ponsel nya ke meja makan, barangkali suaminya menghubungi.


Sebelumnya Jhico sudah mengatakan bahwa Ia akan pulang sedikit terlambat karena ingin berkumpul dulu dengan ketiga sahabatnya. Vanilla tentu saja tidak melarang. Memang sudah seharusnya Jhico memiliki waktu dengan orang disekitarnya apalagi mereka sahabat Jhico.


"Aku sudah di jalan pulang," gumam Vanilla membaca pesan dari Jhico yang baru singgah di ponsel nya.


Ia tersenyum tanpa sadar dan seperti biasa, perasaan tidak sabar selalu memenuhi hatinya tatkala suami akan segera sampai di rumah.


Setelah sereal habis, Ia menepuk pelan perutnya. Ia berdecak saat menyadari perutnya tidak serata dulu.


"Huh! aku tidak cantik lagi,"


*****


"Astaga pagi-pagi buta begini kamu ngapain?"


"Main sepak bola. Aku workout, kamu bisa melihat nya 'kan?" Vanilla menggerutu saat suaminya menghampiri dirinya di balkon kamar. Dia workout di sana. Bangun, minum air putih, memasak, dan langsung membuka pintu penghubung antara balkon dengan kamarnya. Kemudian Ia menggerakkan tubuh untuk membakar lemah dan mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula.


"Oh workout?" tanya Jhico dengan tampang linglung. Sudah lama sekali dia tidak melihat Vanilla workout tepatnya setelah hamil. Dan sekarang Ia kembali melihat kebiasaan hidup sehat istrinya itu.


"Mau bergabung?" tanya Vanilla.


"Tidak, aku malas. Lebih baik lari pagi atau bersepeda daripada workout. Workout lelahnya tidak main-main,"


Jawaban Vanilla adalah, "Karena kamu belum terbiasa, jadi rasanya sangat melelahkan. Kalau sudah terbiasa, pasti tubuh akan jauh lebih baik,"


"Griz belum bangun 'kan?"


Jhico menggeleng pelan. Vanilla menghembuskan napas lega. Ia masih bisa workout sebelum anaknya itu menyita waktunya.


"Kamu sudah berapa lama workout nya?"


"Lima menit kurang lebih,"


"Sudah sebanyak itu keringatnya? luar biasa,"


Jhico yang melihat keringat mengalir deras dari kening Vanilla merasa ikut gerah juga. Padahal dia baru bangun tidur dan belum melakukan apapun.


"Sarapan nya sudah aku buat ya. Silahkan dinikmati,"


"Wow, sudah masak? kamu bangun jam berapa?"


"Tidak lihat jam. Aku masak dibantu Bibi juga jadi cepat selesainya dan sempat untuk workout,"


Jhico meninggalkan istrinya yang masih sibuk berolahraga. Berhubung anaknya belum bangun jadi dia tidak ada teman mengobrol karena istrinya juga workout. Lebih baik dia mengisi perutnya.

__ADS_1


"Pagi, Jhico."


"Pagi, Bi." senyum hangat Jhico membalas sapa Asisten rumah tangga yang sudah bersamanya sejak kecil. Cara mereka berinteraksi tidak seperti majikan dengan asisten nya. Bahkan Bibi memanggil Jhico dengan namanya. Saat kecil Jhico sebal sekali kalau dipanggil tuan kecil. Akhirnya Bibi tidak memanggil dia tuan kecil lagi. Vanilla pun tidak ingin Bibi memanggilnya Nona atau apapun itu, cukup nama saja.


"Istrinya dimana?"


"Mengusir lemak,"


"Hah? Untuk apa di usir? Badan nya sudah bagus,"


"Ya, tapi Ia merasa gemuk,"


"Memang seperti itu setelah melahirkan,"


"Iya, Bi. Tapi Vanilla tidak mau menerima begitu saja. Dia berusaha untuk mengembalikan tubuhnya yang dulu,"


Penuturan Jhico membuat Bibi menggeleng pelan. Bentuk tubuh Vanilla masih tergolong sangat bagus untuk seorang ibu yang baru melahirkan. Kenapa harus sekhawatir itu terhadap bentuk tubuh?


Jhico mulai menyantap sarapannya dalam diam. "Bi, mau kemana? sarapan di sini saja," ajak Jhico pada Bibi nya yang akan berbalik ke dapur.


"Ah tidak, di belakang saja, Co."


"Di sini saja. Aku sendirian sarapannya,"


Jhico tetap kukuh menyuruh wanita paruh baya itu untuk makan di meja makan, bersamanya.


"Seperti biasa, jangan makan di belakang. Bibi lupa apa yang tidak aku sukai?"


Bibi hanya merasa sungkan. Dulu, karena ada neneknya dan Jhico belum punya istri, mereka memang kerap makan bertiga bersama Hawra. Tapi sekarang sudah berbeda. Ia merasa Jhico akan terganggu dengan kehadirannya. Dan belum tentu juga Vanilla bisa menerima kehadirannya di meja makan. Seandainya Vanilla sudah selesai olahraga dan menghampiri meja makan lalu melihatnya yang lancang makan bersama Jhico di meja makan, khawatirnya Vanilla kurang nyaman.


"Aku dan Vanilla sudah menganggap Bibi sebagai orangtua. Jadi tidak boleh merasa sungkan pada kami,"


*****


"Aku ingin sekali belanja bulanan bersama Bibi,"


"Jangan, Vanilla. Nanti Grizelle dengan siapa kalau kamu pergi?"


"Lama-lama bosan juga jadi Ibu rumah tangga ya. Astaga, padahal belum lama."


"Karena kamu terbiasa keluar untuk berkegiatan,"


"Iya, jadi tidak sabar Griz sedikit besar biar aku bisa pergi-pergi seperti dulu dan dia akan menjadi temanku,"


"Bibi berangkat dulu ke supermarket ya,"


"Okay, Bi. Hati-hati ya,"


---------

__ADS_1


Ada pembaca nya triple A di sini? kalian udh baca blm? lapak mereka udh ending lhoo. Kira-kira dibikin ex part gk menurut kalian? komen di bawah yaa :)



__ADS_2