Nillaku

Nillaku
Nillaku 348 Grizelle senang karena Kakeknya mulai hangat padanya


__ADS_3

Usai membilas badannya, Grizelle duduk di dekat penghangat. Sembari Ia mengerjakan tugasnya dan televisi menyala tapi tak dinikmati siarannya oleh Grizelle.


Karina datang ke ruangan dimana seharusnya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya keluarga, berbagi keluh dan kesah, tapi nyatanya sangat jarang dipakai untuk itu.


Ia melihat Grizelle tengah serius di sana menatap layar iPad nya. Ia berjalan pelan lalu melihat hal apa yang sedang dikerjakan cucunya. Ternyata tugas sekolah. Ia yang berdiri di belakang Grizelle dengan jahil meniup tengkuk Grizelle. Anak itu langsung tersentak dan hampir saja gadgetnya Ia lempar karena terlalu kaget.


"Ya ampun, Nay-Nay,"


Karina terkekeh melihat cucunya yang kaget ketika tiba-tiba tengkuknya terasa diliputi udara dan Ia hadir di samping Grizelle.


"Itu apa, Nay-Nay?" kata Grizelle pada Karina yang membawa piring datar dengan puding di atasnya.


"Benar kamu tidak tahu ini apa?"


"Maksudku, itu puding rasa apa?"


"Strawberry. Griz mau? tolong, mau ya? biar Nay-Nay senang buatannya dinikmati oleh Griz,"


Grizelle meletakkan gadget di atas meja yang berhadapan dengan sofa yang Ia tempati. Kemudian Ia mengambil puding tersebut menggunakan garpu dan tanpa menunggu waktu lama Ia melahapnya.


"Hmmm lezat. Segar di sini," ujarnya seraya menunjuk kerongkongan. Karina tersenyum kemudian meletakkan piring di atas meja.


Ia bertepuk tangan senang. "Benar lezat? tidak bohong supaya Nay-Nay senang 'kan?"


"Benarrl (benar), aku serrlius (serius), Nay-Nay,"


"Besok-besok buat lagi ya, Nay-Nay,"


"Iya, Sayang. Nanti Nay-Nay buat lagi. Nay-Nay senang kalau Griz mau mencobanya,"


"Ini bukan mencoba lagi, Nay-Nay. Tapi sudah habis dua,"


Grizelle terkekeh malu. Tidak sadar kalau sudah mengambil dua buah puding.


"Kakek sudah mencoba?"


"Ah tidak usah dicoba Kakek. Nanti dia mengejek Nay-Nay. Dia bilang tidak lezat,"


"Biarrlkan (biarkan) Kakek mencoba puding ini Nay-Nay. Aku yakin Kakek juga pasti menyukainya. Karrlena (karena) ini benarrl (benar) lezat!"


Grizelle meyakinkan Karina agar mau memberikan puding buatannya pada Thanatan. Yang membuat Karina malas adalah suaminya itu menyebalkan. Mulutnya tak jarang tajam sekali. Ia takut buatannya ini dihina. Karena Ia jarang sekali membuat makanan sendiri.


"Ayo, berrlikan (berikan) pada Kakek. Supaya Kakek mencobanya. Nanti bisa-biss aku habiskan,"


Itu lebih baik!

__ADS_1


Daripada nanti tidak sesuai selera Thanatan, lebih baik Grizelle saja yang menyantapnya sampai habis pun tidak masalah karena memang niat Karina mebuat puding tersebut untuk Grizelle.


"Ya sudah, Griz saja yang habiskan,"


"Jangan, Kakek harrlus (harus) coba. Kakek pasti suka. Aku yakin, Nay-Nay. Ayolah, bagi Kakek,"


Melihat Karina yang sepertinya nemang enggan sekali memberinya pada sang Kakek, Grizelle akhirnya berdiri dan membawa piring tersebut pergi. Tentu Ia yang akan memberikannya pada Thanatan yang sedang ada di kamarnya.


Ia mengetuk dan disuruh masuk oleh Thanatan. "Kakek aku bawa sesuatu yang lezat dan menyegarrlkan (menyegarkan),"


"Apa yang menyegarkan? Kakek sudah merasa segar habis berenang tadi,"


Grizelle seketika cemberut. Belum juga dilihat apa yang Ia bawa, Thanatan sudah menolak halus di awal.


Ia tiba di dekat Kakeknya. Lalu Ia menjulurkan tangannya memberikan puding itu pada Thanatan yang mengerinyit bingung.


"Puding?"


"Iya, Kakek,"


Thanatan mengambilnya satu dan langsung Ia makan. Grizelle tersenyum menantikan pendapat kakeknya tentang puding dengan irisan strawberry di dalamnya dan juga campuran susu.


"Bagaimana rasanya?"


"Ya, segar. Lezat, siapa yang membuatnya? tidak mungkin kamu 'kan?"


"Oh ya? bisa juga Nay-Nay buat ini ya?"


"Iya, bisa. Buktinya jadi. Dan lezat 'kan?"


"Tadinya Nay-Nay tidak mau Kakek mencobanya. Karrlena (karena) Nay-Nay takut Kakek tidak suka dan mencela buatan Nay-Nay," Grizelle berceruta jujur. Sekaligus ingin tahu apa Kakeknya setelah mendengar penuturannya tadi.


"Ini lezat. Ini 'kan mudah cara membuatnya. Kalau Nay-Nay tidak bisa, keterlaluan,"


"Kakek tidak boleh begitu. Walaupun kata Kakek mudah, tapi tidak semua orrlang (orang) bisa. Aku saja tidak bsa,"


"Ya, karena kamu anak kecil. Memang anak kecil bisa apa?"


Grizelle merengut ketika secara ta langsung Kakeknya menganggap Ia tidak bisa apapun.


"Aku bisa berrelnang (berenang) aku bisa--- bisa apapun yang membuat Mumu dan Pupu senang,"


Thanatan tersenyum menepuk sekali puncak kepala Grizelle. Kemudian Ia menjawil dagu cucunya.


"Kakek hanya bercanda. Ya, Kakek percaya kamu bisa melakukan apapun,"

__ADS_1


Jangan sampai percaya diri yang dimiliki Grizelle hilang ketika Ia bicara seperti tadi.


"Kakek sudah minum obat?"


"Sudah,"


"Ini apa? Kakek mengerrljakan (mengerjakan) tugas juga?" Grizele menunjuk laptop di samping Thanatan yang tadi diletakkan Kakeknya itu ketika Ia minta Kakeknya untuk mencoba puding.


"Ini laptop,"


"Ya, aku tahu, Kakek. Tapi kenapa Kakek membuka laptop? Memang sudah sembuh? sudah mau bekerrlja (bekerja) lagi?"


"Tentu saja. Kakek sudah sembuh. Dan Kakek akan kembali bekerja nulai besok,"


"Tapi mulai sekarrlang (sekarang) sudah sibuk dengan laptop, katanya mulai kerrlja (kerja) besok,"


Thanatan menghembuskan napas pelan. Ini juga yang terkadang membuat Ia tak sabaran dengan Grizelle. Anak ini kalau rasa penasarannya belum hilang maka akan terus mencecar. Dan Grizelle memang pintar sekali protes bila Ia mendapati ketidak samaan antara tindakan dengan ucapan.


"Iya, mulai kerja sekarang,"


"Kakek belum sembuh benarrl (benar),"


"Sudah, Grizelle. Kakek yang tahu bagaimana kondisi tubuh Kakek sendiri,"


"Hmm baiklah. Berarrlti (berarti) besok aku pulang ya, Kakek,"


"Hm? besok?"


"Iya, atau terrllalu (terlalu) lama menurrlut (menurut) Kakek? ya sudah kalau begitu, aku pulang sekarrl---"


"Besok, tidak apa,"


"Kakek tidak mau aku pulang ya?"


Grizelle memasang ekspresi jenaka yang menyebalkan di mata Thanatan. Ia bahkan menunjuk Kakeknya itu hingga membuat Thanatan mengerinyit kemudian membuang muka tidak kuat melihat keusilan Grizelle yang menggemaskan.


Jujur Ia memang tidak ingin cucunya pulang. Tapi tidak mungkin juga Ia melarangnya untuk pulang sebab cucunya itu punya rumah dan orangtua yang sudah menantikan kehadirannya.


Dua hari bersama Grizelle membuat Thanatan semakin yakin untuk bisa berubah memjad sosos kakek yang kebi baik untuk cucu pertamanya. Grizelke sudah sangst baik dan tulus padanya. Terdengar tidak tahu diri kalau Ia masih saja menganggap Grizelle layaknya musuh, sama seperti Ia menganggap Jhico yang setiap bertemu tidak pernah ada kehangatan yang tercipta, seperti orang asing atau bahkan memang lebih tepat disebut musuh.


Ia tidak seharusnya menjadi sosok yang egois, pada akhirnya akan membuat orang-orang terdekatnya terluka.


"Kakek kenapa tidak mau aku pulang?"


Thanatan kini menatap dalam mata Grizelle. Ia tersenyum tipis yang membuat Grizelle semakin tak sanaran menunggu jawaban Kakeknya yang selama Ia di sini terasa lebih mengayomi dan merangkulnya.

__ADS_1


"Kebersamaan kita masih kurang," kata Thanatan seraya merangum dagu Grizelle yang menatapnya diam.


__ADS_2