Nillaku

Nillaku
Nillaku 422 Ibu Richard meminta maaf pada Jane


__ADS_3

"Hallo, Ian,"


"Icelle, ada apa?"


"Aku ingin berlmain dengan kalian di playground aku dan Aurrlis,"


"Okay, kita meluncur. Bertemu di sana ya,"


"Bye, Ian,"


"Bye, Icelle,"


Adrian mengembalikan ponsel pada Ibunya yang kini menjemputnya dan Andrean di sekolah.


Ya, hari ini Andrean memutuskan untuk sekolah. Ia merasa sudah sehat sehingga tidak ingin absen lagi.


"Kita diajak bermain di playground Icelle. Boleh ya, Mom?"


"Boleh, kalian bertiga yang diajak Icelle?"


"Iya, Mom. Tidak mungkin Icelle mengajak Mommy 'kan?"


"Iya, kalau begitu kita pulang dulu. Sampaikan pada Auris,"


Adrian mengangguk, adiknya itu pasti senang karena akhirnya bisa datang ke playground dan bermain bersama Grizelle.


*****


"Aku mau pakai celana, tidak mau dress, Mumu. Karlena (karena) Aku ingin berrlmain (bermain),"


"Iya, di dalamnya celana panjang,"


"Tidak mau, langsung celana saja tidak usah mengenakan dress,"


"Okay,"


Vanilla akhirnya mengambil celana panjang untuk anaknya dan juga t-shirt berlengan pendek agar anaknya nyaman bermain.


Grizelle sudah bisa menilai yang nyaman Ia kenakan saat akan melakukan sesuatu. Bila disiapkan tidak sesuai dengan keinginannya, maka Ia akan protes.


"Yang ini ya?"


Vanilla menunjukkan pakaian yang Ia pilih. Grizelle mengangguk, "Iya, Mu. Terrlimakasih ya, Mu,"


"Iya, Sayang. Sudah bermainnya, sekarang bersiap. Nanti triple A sudah menunggu di sana,"


"Iya,"


Grizelle meninggalkan gadgetnya dan lekas bersiap untuk pergi. Menanggalkan pakaiannya dengan cepat kemudian mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh sang ibu.


"Rrlambutnya diapakan?"


"Diikat jadi satu, Mu. Aku mau coba sendirrli (sendiri),"


Vanilla mengangguk pelan. Ia membiarkan anaknya melakukan apa yang ingin Ia coba. Seperti saat ini mengikat rambutnya menjadi satu.


"Mumu bantu,"


Vanilla mengambil satu jumput rambut anaknya yang tertinggal, tidak masuk dalam genggaman tangannya.

__ADS_1


"Yeayy aku bisa,"


Grizelle menatap hasilnya di depan cermin. Hasilnya terbilang berhasil.


"Pintar sekali Icelle ya. Sudah bisa ikat rambut sendiri,"


"Terrlnyata (ternyata) mudah," katanya dengan senyum lebar.


"Ayo makan dulu sebelum pergi,"


Grizelle mengangguk pelan. Ia menerima uluran tangan Mumunya yang ingin menggenggam tangannya. Ia makan minta disuapi oleh Mumunya. Setelah itu, barulah Ia bergegas pergi dengan ditemani Vanilla tentunya.


*****


Auristella bersiap dengan cepat begitu tahu kalau Grizelle mengajaknya bermain.


"Semangat,"


"Iya, memang kenapa?" Alisnya terangkat tinggi menyahuti ledekan kakak keduanya yang mengatakan ia semangat begitu tahu akan bermain.


"Ean, yakin mau ikut?"


Andrean mengangguk, "Aku sudah sembuh,"


Kemarin saat Auristella dan Adrian bermain, Ia tidak ikut sebab masih sakit. Sekarang Ia tidak ingin ketinggalan datang ke playground adiknya dan juga Grizelle.


"Daddy telepon ini,"


Lovi menerima panggilan suaminya. Ia langaung disuguhkan dengan pemandangan suaminya yang tengah makan.


"Selamat makan," katanya sebagai awalan. Devan tersenyum memperlihatkan bekal yang dibawakan oleh sang istri.


"Selalu lezat, Lov. Terimakasih,"


"Masih di jalan?" tanya Devan setelah melihat Lovi berada mobil.


"Iya,"


"Aku sudah izin dengan Daddy tadi 'kan?" Adrian menimbulkan wajahnya di layar. Ayahnya mengangguk tersenyum. "Iya, Sayang. Kalian hati-hati ya,"


Adrian memang sempat bicara dengan Devan saat sampai di rumah tadi. Tapi memang singkat, Ia hanya meminta izin saja bermain di luar. Sebab Ia tahu ayahnya tengah sibuk.


"Iya, Dad,"


"Bye, Daddy,"


"Bye, Sayang,"


Devan dengan mulut yang terisi makanan melambaikan tangannya. Kemudian panggilan selesai.


******


Jhico tahu kalau siang ini anak dan istrinya sedang tidak berada di rumah melainkan di playground. Tapi ia tetap pulang cepat. Seperti katanya kemarin hari ini Ia praktik hanya sampai siang.


Ia gunakan waktu kesendiriannya di kamar itu dengan beristirahat. Nanti setelah terjaga Ia akan bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan Renald seperti apa yang sudah direncanakan dirinya dan Vanilla semalam.


******


"Haaa Icelle, sayangku,"

__ADS_1


Auristella berseru senang saat melihat Grizelle. Ia memeluk langsung tanpa basa-basi. Grizelle juga tak kalah senang bertemu kakak sepupunya.


"Artinya sudah sembuh ya?" Auristella menunduk melihat kaki Grizelle yang tertutpi celana.


"Sudah, aku sudah bisa berrlmain (bermain),"


"Yeaay,"


"Mommy dan Aunty Vanilla menunggu di sana ya?"


Lovi menunjuk kursi untuk menunggu anak bermain. Mereka bereempat mengangguk. Dan langsung berhambur mencari permainan yang sesuai dengan keinginan. Lovi dan Vanilla mengawasi mereka dari tempat yang tak jauh. Meskipun sudah ada yang menjaga tapi mereka tetap mengawasi juga.


*****


Mendapat paksaan terus menerus dari ibunya yang ingin bicara dengan sang istri, pada akhirnya Richard menghubungi Jane. Dua kali memanggil, Ia tidak kunjung mendapat jawaban dari Jane.


"Panggilanku tidak dijawab, Ibu,"


"Coba sekali lagi,"


Richard melakukan apa yang dikatakan Ibunya. Ia kembali menghubungi istrinya agar Ibunya bisa bicara dengannya.


Kali ini dering teleponnya tidak terdengar lagi digantikan dengan suara Jane.


"Hallo, aku dari toilet. Ada apa, Ri?"


Richatrd jujur gugup, takut mempertemukan Jane dengan ibunya sebab Jane jelas masih kesal dengannya maupun keluarganya. Ia takut menyakiti hati keduanya. Ia tidak ingin Ibunya mendapat reaksi yang mungkin berlebihan dari Jane mengingat Jane tengah dalam keadaan marah. Sebaliknya, Ia tidak ingin bila istrinya yang belum hilang rasa marah malah harus mendengar ibunya bicara.


"Ibu ingin bicara denganmu. Keberatan, Jane?"


Jane diam beberapa saat. Kemudian Ia menjawab dengan cepat, "Boleh, aku tidak keberatan, Ri,"


Jawaban dari mulut Jane membuat Richard tersenyum. Ia memberikan ponselnya pada sang Ibu.


"Hallo, Ibu. Bagaimana keadaannya? sudah lebih baik?" Jane yang terdengar menyapa lebih dulu Ibu dari suaminya itu.


"Jane, Maafkan Ibu. Kabarmu baik?"


"Iya, aku baik, Ibu. Aku berdoa untuk kesembuhan Ibu dan Ayah,"


"Terimakasih, sekali lagi Ibu memohon maaf dari kamu. Dan


bolehkah Ibu minta pada kamu untuk kembali ke sini bersama Richard? Ibu tidak bisa melihat dia sedih seperti saat ini,"


Jujur Jane terkejut mendengar ucapan wanita itu. Ia tidak menyangka kalau Ibunya akan meminta maaf. Iya, itu Ibunya, karena sejak bersatu dengan Richard, apapun yang menjadi bagian dari suaminya, maka akan menjadi bagian darinya juga.


"Jane, kamu mau memaafkan Ibu? Ibu akan berusaha untuk lebih baik lagi. Beri Ibu kesempatan,"


Jane tiba-tiba saja merasakan luapan air matanya tumpah aalgi mendengar suara lemah Ibunya di seberang sana yang sedang tidak sehat.


"Aku memaafkan Ibu,"


"Tadinya Richard akan mendatangi kamu di sana tapi tidak bisa karena Ibu sakit,"


"Iya, Ibu. Aku sudah diberi tahu oleh Richard,"


"Dia ingin menjemput kamu, membawa kamu kembli ke sini. Dia benar-benar hampa tanpa kamu Jane. Ibu memang tidak bertemu dengannya setiap saat tapi Ibu tahu bagaimana keadaannya setelah kamu pergi. Meskipun dia berusaha menutupi,"


Jane tahu semua dari Ibunya mengenai Richrd yang Ia kira baik-baik sekalipun Ia pergi ternyata merasakan apa yang Ia rasakan juga.

__ADS_1


"Richard akan tetap menjemput kamu di sana tapi Ibu mohon kamu tidak menolak untuk kembali bersamanya ke sini ya?"


"Aku akan datang ke sana sendiri, Ibu, untuk melihat keadaan Ibu,"


__ADS_2