
Jane dan Richard keluar dari restoran yang bersebelahan dengan restoran dimana Jhico dan Keyfa makan saat ini.
Jane awalnya tidak menyadari ada Jhico. Meskipun mobil Richard dan Jhico tidak menciptakan jarak yang jauh. Setelah melihat Jhico berjalan menuju mobil bersama seorang anak perempuan di gendongannya, barulah Ia sadar.
"Itu Jhico ya?"
Richard sudah masuk ke dalam mobil. Sementara Jane masih menatap Jhico yang baru saja memastikan anak itu duduk nyaman di dalam mobil.
"Jane, ayo cepat masuk!"
"Iya, sebentar."
Jane masih penasaran, akhirnya sampai mobil Jhico menjauh barulah Ia masuk. Richard melihat raut bingung di wajah Jane. Ia menyentuh dagu Jane dengan lembut.
"Kamu kenapa sih?"
"Tadi aku melihat Jhico,"
"Suaminya Vanilla?"
"Iya, dia bersama anak kecil."
"Mungkin anak rekan kerjanya,"
Jane mengangguk dan tidak berpikiran negatif sama sekali. Tadi Ia hanya bingung saja siapa anak itu dan kenapa mereka terlihat sangat akrab.
*****
Vanilla menghentakkan kakinya bosan. Jhico lama sekali menjemputnya. Pinggang nya terasa sakit karena terlalu lama duduk. Ia sudah berusaha menghilangkan rasa bosan dengan bermain sosial media.
Renald sudah selesai bertugas. Ia tidak lagi mengenakan seragam kerjanya. Lelaki itu menyadari Vanilla tengah duduk sendirian sementara teman sekelasnya sudah pulang, terlihat dari ruang kelas yang sudah kosong.
Renald menghampiri Vanilla untuk menyapa nya. "Van, kenapa belum pulang?"
"Oh Astaga..."
Vanilla tersentak saat bahunya ditepuk dari arah samping. Ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, memperhatikan ponselnya.
"Iya, Jhico belum jemput tapi dia sudah di jalan,"
"Aku perhatikan kamu sudah sejak tadi duduk di sini,"
"Tidak juga," elak Vanilla. Sebenarnya ucapan Renald benar, tapi Ia tidak mau Renald berpikir bahwa Jhico sengaja membuatnya menunggu. Jhico sedang terjebak macet, begitu katanya di chat tadi.
"Aku antar, mau?"
"Tidak, Jhico sebentar lagi---"
"Okay, aku temani kamu di sini,"
"Kamu sudah selesai bekerja? pulang saja,"
"Sudah, sekarang aku mau kuliah."
"Oh kamu kuliahnya sore?"
"Iya, tapi terkadang pagi dan siang juga,"
"Kuliah dimana?"
"Di kampus yang tidak sebagus ini fasilitasnya. Tapi paling tidak, bisa membawa kebaikan untuk hidupku di masa depan,"
Ini untuk pertama kalinya Renald bicara panjang setelah perang dingin terjadi diantara mereka berdua.
Renald berusaha mengakrabkan diri seperti dulu, tapi Vanilla belum siap membuka diri lagi. Ia terlanjur tidak menyukai perangai Renald yang tiba-tiba berubah setelah mengenal cleaning service perempuan itu. Ia tidak terima ketika Renald menyalahkan dirinya tanpa bukti. Seharusnya Ia yang marah dan menjauh. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Dimana suamimu? katanya sebentar lagi sampai,"
"Aku sudah katakan jangan menemani aku di sini. Untuk apa? aku bisa sendiri,"
"Joana dimana? biasanya kamu selalu bersama dia," Renald mengalihkan pembicaraan karena Vanilla semakin terang-terangan menunjukkan rasa kurang nyaman nya atas kehadiran Ia di sini.
"Ada urusan keluarga,"
Renald mengangguk. Otaknya berpikir untuk mencari topik obrolan lain agar tidak hening, tapi Ia belum menemukan nya. Vanilla juga sibuk sendiri dengan ponselnya. Padahal niat Renald duduk di sini adalah menjalin kedekatan lagi dengan Vanilla yang sempat dijauhinya beberapa waktu lalu.
****
Jhico baru saja tiba. Ia berjalan cepat-cepat memasuki klinik karena dipikirannya saat ini sedang ada pasien yang menunggu pertolongannya.
Kenzo keluar dari ruang pemeriksaan setelah tidak ada lagi pasien yang harus ditanganinya. Beberapa pasien sedang menunggu namanya dipanggil oleh petugas apotek klinik untuk menerima obat.
"Santai saja. Semua sudah aku tangani,"
"Serius kau?"
"Maaf, Ken, aku baru datang."
"Iya, tidak masalah."
"Aku datang, semua sudah selesai kau tangani. Sepertinya kau lelah sekali. Pulang saja, Ken."
"Bicara apa kau? jam kerjaku masih ada sampai nanti malam,"
Ia kira begitu sampai di klinik, ada banyak pasien yang harus ditanganinya. Ternyata tidak ada, mereka hanya tinggal menerima obat setelah ditangani oleh Kenzo.
"Sengaja datang ke sini untuk berobat sekaligus memanjakan mata. Ternyata orang yang diharapkan tidak ada saat aku periksa. Malah baru datang sekarang," Ada dua orang gadis yang menjadi pasien Kenzo tadi. Mereka sedang menunggu namanya dipanggil oleh petugas apotek klinik. Mata kedua gadis itu mencuri pandang pada Jhico dan Kenzo yang tidak berbincang di ruangan mereka.
"Yang tadi juga tampan,"
"Menurutku dokter Jhico yang paling tampan,"
Mereka tinggal tidak jauh dari lokasi klinik. Sudah sering datang ke klinik Jhico bila ada gangguan kesehatan. Mereka sudah tahu betul siapa Jhico. Pemilik sekaligus menjadi dokter juga di klinik tersebut. Sementara Kenzo adalah dokter yang mendampingi Jhico.
Sakit jadi tidak terasa kalau datang ke klinik itu. Karena Jhico sangat ramah dan sangat mengayomi pasiennya, disamping parasnya yang memesona.
"Aku belum makan siang. Aku ke ruanganku dulu,"
"Okay, sekali lagi maaf sudah membuatmu sibuk hari ini,"
Kenzo menepuk bahu Jhico dengan tawa kecilnya. "Kau selalu bicara begitu. Aku ini dibayar, jadi memang sudah risiko nya seperti itu,"
Kenzo justru salut dengan Jhico yang sangat bijaksana sekalipun Ia pemiliknya. Ia tetap bekerja, sama seperti semua pegawainya. Tidak pernah membedakan diri dengan semua yang bekerja di klinik.
__ADS_1
Sampai di ruangannya, telepon dari Alifia masuk ke ponselnya. Kenzo tersenyum sebelum menjawab panggilan.
"Hallo, Sayang."
"Sibuk? aku ganggu?"
"Tadi aku sibuk. Sekarang tidak. Ada apa?"
"Tidak apa. Setelah jalan bersama beberapa hari yang lalu kita belum mengobrol lagi,"
"Oh ya? tapi aku tidak merindukan kamu, omong-omong. Kamu begitu juga?"
Kenzo menahan tawa setelah mengatakan itu pada Alifia, kekasihnya. Mereka jarang komunikasi tapi hubungan tetap baik-baik saja. Apa ini yang namanya hubungan dewasa? selagi ada waktu, maka akan ada salah satu yang menanyakan kabar lebih dulu. Tapi kalau tidak ada waktu, tidak masalah.
"Tidak rindu, hanya mau tahu kamu masih hidup atau tidak,"
"HAHAHAHA."
"Tertawa heh? kalau sudah bisa tertawa artinya kamu masih hidup dan baik-baik saja,"
"Kamu sehat?"
"Aku sehat. Sekarang aku akan berjaga di ruang ICU. Aku tutup teleponnya ya,"
"Okay, bye."
Sesingkat itu komunikasi mereka. Bukan karena tidak ada rasa rindu yang perlu dilampiaskan. Mereka sudah tahu risikonya menjalin hubungan spesial ditengah sibuk mengejar karir seperti ini, tapi Kenzo dan Alifia tidak pernah mengeluh. Sebisa mungkin mereka saling memahami kesibukan masing-masing.
Jhico melewati ruangan Kenzo yang pintunya sedikit terbuka. Ia menggeleng pelan saat mendengar Kenzo tertawa sendirian seraya menatap ponsel. Yang pasti sikap temannya itu ada kaitannya dengan perempuan.
Melihat orang yang sedang mabuk cinta seperti Kenzo, Jhico jadi ingat masa lalunya dulu. Ia juga pernah berada di posisi Kenzo. Jadi tahu betul sebesar apa bahagia yang dirasakan ketika bisa mendengar suara kekasih hati setelah beberapa hari tidak berbincang.
****
BRAKK
"Sok sibuk sekali kamu tidak mau turun menemui aku!"
Masuk-masuk Vanilla langsung menyentak sepupunya yang berada di kamar bersama Auristella.
Jane dan Auristella kompak menoleh ke pintu. Jane melempari Vanilla dengan binder dan berhasil ditangkis oleh wanita hamil itu.
Melihat kedua Aunty nya bertengkar, Auristella terkekeh geli sampai menggigit tangannya karena gemas dan ingin terus melihat pertengkaran itu karena dia suka keributan sama seperti Adrian.
"Aku memang hamil tapi aku masih kuat," ujar Vanilla seraya menampakkan lengannya yang mulai berisi tidak seperti saat gadis dulu.
"Datang-datang buat kerusuhan. Lebih baik kamu keluar,"
"Belagu kamu ya. Aku datang bukannya disambut malah sok sibuk mengerjakan tugas,"
"Hey bodoh! bukannya sok sibuk. Aku memang sibuk. Waktuku tidak banyak untuk meladeni orang seperti kamu. Keluar cepat!'
Jane bangkit dari ranjang meninggalkan Auristella yang sibuk tertawa. Yang ada dihadapannya ini dianggap lucu. Wajah imut Auristella sampai merah karena tak henti tertawa. Padahal Vanilla dan Jane tidak melucu.
Jane mengusir Vanilla tapi tidak berhasil. Dengan langkah ringan, Vanilla duduk di sofa kamar Jane lalu menatap kamar Jane yang lebih berantakan dari biasanya.
"Aku tidak yakin ini kamar manusia. Sepertinya aku salah masuk. Ini kandang sapi mungkin ya?"
Vanilla menjelajahi kamar Jane dengan mata nya. Sangat berantakan hingga Vanilla tak habis pikir. Sebenarnya apa yang dilakukan Jane di kamar sampai membuat semuanya tidak tertata seperti ini.
"Berisik! keluar, sekarang! kamu ganggu saja di sini. Tugasku belum selesai, Van!"
Vanilla menghela napas seraya berdiri. "Okay, aku keluar sekarang. Setelah mengerjakan tugas, turun ke bawah! aku mau dengar cerita mu,"
"Cerita tentang apa?"
"Apapun itu yang berkaitan dengan pernikahanmu,"
Jane hanya bergumam. Vanilla benar-benar keluar dari kamar lalu membanting pintu dengan kencang.
Vanilla masih bisa mendengar sepupunya memaki. Dan Ia tertawa puas di luar. "Seharusnya aku rusak sekalian pintu kamarnya,"
Jane mengambil pewarna kuku di kamarnya lalu turun ke lantai dasar. Wanita hamil itu duduk di sofa lalu mulai sibuk merubah warna kukunya.
Vanilla berkreasi di kukunya sendiri sementara Rena membaca majalah di sampingnya.
"Aku mau creambath,"
"Creambath saja di mansion sendiri. Itu salon sudah jarang dipakai semenjak kamu tidak tinggal di sini lagi,"
"Mama kenapa tidak menggunakannya?"
"Lebih sering ke salon di luar. Lebih lengkap,"
"Aku creambath di sini saja kalau begitu, hitung-hitung melepas rindu dengan tempat yang menjadi favorit ku semasa gadis,"
"Ayo, Mama bantu."
"Memang Mama bisa? tidak usah, ada yang melakukannya nanti,"
Vanilla tidak yakin Rena bisa. Ada orang yang sudah biasa melakukannya. Vanilla akan meminta bantuan pada orang itu. Dia juga sudah biasa membantu Vanilla merawat diri di mansion bila sedang malas ke salon yang berada di luar.
"Ya sudah, silahkan kalau begitu."
"Aku belum selesai dengan ini,"
Vanilla menunjuk kuku tangan sebelah kiri yang belum sama sekali dipoles dengan pewarna.
Setelah kedua tangannya beralih warna menjadi nude, kini Vanilla mewarnai kuku kakinya menjadi serupa juga.
"Ya ampun berantakan sekali jadinya. Nanti aku mau minta bantuan Jhico saja,"
"Mama saja yang bantu,"
"Tidak mau, Jhico saja yang mewarna kuku kaki aku,"
"Ya sudah, terserah Ibu hamil saja."
Vanilla bangkit untuk berjalan ke ruangan yang biasa disebutnya salon mansion. Ia akan memanjakan rambutnya di sana.
"Meskipun hamil, rambut Nona tetap terjaga ya,"
Rambut Vanilla mulai disentuh dengan tangan profesional itu. Selain sering membantu Vanilla, dia juga menjadi hair stylist untuk Rena dan tinggal di mansion itu juga.
__ADS_1
Vanilla duduk dengan nyaman seraya memejamkan matanya. Penatnya akan benar-benar hilang sebentar lagi.
"Itu harus, hamil tidak menjadi halangan untuk aku tampil cantik,"
Ucapan Vanilla membuat perempuan yang sedang membersihkan rambutnya tersenyum tipis. "Sepertinya anakmu perempuan, Nona."
"Hmm... semoga,"
Ingin mengatakan 'semoga' saja Vanilla bimbang. Karena jenis kelamin masih menjadi perdebatan batin diantara dirinya dan keluarga Jhico khususnya Papa Jhico.
"Belum di periksa jenis kelamin nya, Nona?"
"Belum, nanti setelah genap empat bulan."
"Oh okay. Pasti Nona tidak sabar ya?"
"Iya, ini anak pertama. Jadi antusias sekali menyambutnya," ujar Vanilla seraya mengusap perutnya dengan lembut berharap anaknya mendengar juga apa yang dia katakan tadi. Ia tidak sabar menantikan kehadirannya.
Seraya memberi pijatan lembut di kepala Vanilla, perempuan itu bertanya lagi, "Nona ingin memiliki berapa anak?"
"Aku belum membahas hal itu dengan Jhico. Karena yang ini saja belum lahir,"
"Kalau sudah punya satu, pasti mau tambah anak terus, Nona. Percaya padaku,"
"Ah yang benar? kenapa begitu?"
"Hidup akan semakin berwarna,"
"Sepertinya dua anak cukup untukku. Kalau tambah terus, aku angkat tangan,"
Mereka berdua tertawa bersama. Melihat bagaimana orang disekitarnya memiliki sekaligus merawat anak, Vanilla jadi belajar menjadi orangtua juga. Ia banyak belajar terutama dari kakaknya sendiri. Sangat sulit menjadi orangtua, oleh sebab itu semasa gadis Vanilla tidak pernah berkeinginan untuk memiliki anak. Ia hanya ingin hidupnya diisi dengan kebahagiaan tapi bukan dari membangun keluarga kecil. Foya-foya bersama teman, membuang uang dan waktu sia-sia, adalah hal yang akan Vanilla lakukan selamanya. Tapi setelah bertemu Jhico, semuanya berubah.
"Kuku Nona mau aku---"
"Tidak usah. Aku ingin Suamiku saja yang melakukannya,"
"Manjanya Ibu hamil,"
"Sejak aku hamil, aku sering meminta bantuan Jhico untuk mengganti warna kuku. Dia tidak pernah menolak, jadi aku senang."
"Tentu saja tidak menolak. Kalau menolak, nanti---"
"Apa? jangan katakan kalau aku ini akan merajuk ya,"
"Tapi memang benar seperti itu 'kan, Nona?"
Sembari melepas handuk yang membalut rambut Vanilla, dia menggoda Vanilla yang wajahnya sudah merengut.
"Benar, tapi jangan dibicarakan. Aku kesal kalau dikatakan sering merajuk. Walaupun kenyataannya memang begitu. Aku sensitif sekali selama hamil,"
"Sudah selesai, Nona."
"Okay, terima kasih ya."
Vanilla memeluk perempuan yang sering menjadi teman curhatnya sejak dulu itu. Ia bernama Haica. Setiap Haica membantunya merawat rambut atau kuku, Vanilla selalu bercerita apapun. Sejak zamannya Vanilla menjadi gadis yang ketus dan kejam sampai Ia sudah berubah menjadi lebih baik seperti sekarang ini, Haica masih tetap menjadi pendengar yang baik.
Vanilla kembali ke tempat yang tadi Ia tinggalkan kurang lebih tiga puluh menit. Mamanya sudah tidak membaca majalah lagi, tapi sedang menikmati pizza yang sepertinya baru datang.
"Aku mau, Ma."
"Ambil saja. Tapi jangan berlebihan,"
Vanilla mengambil satu slice pizza dengan topping keju mozzarella. Vanilla berdecak tidak sabar saat pizza itu ada di depan matanya. Ia cepat-cepat menggigit pizza.
"Wow sepertinya sudah lama aku tidak makan ini,"
"Tidak boleh sering-sering makan junk food. Kurang baik untuk kesehatan, apalagi kamu sedang mengandung,"
"Ini aku bawa pulang ya, Ma." ujar Vanilla seraya menunjuk satu kotak pizza yang belum dibuka.
"Sepertinya Jhico tidak akan suka melihatmu makan itu,"
"Aku tidak peduli. Ini ada sayur nya juga walaupun sedikit. Selama ini yang aku makan tidak pernah jauh-jauh dari sayuran," Vanilla menggerutu, dan ditegur lagi oleh Rena yang menganggapnya tidak bersyukur dengan perhatian Jhico.
"Jhico ingin kamu sehat. Makan sayur dan buah paling aman," Rena menasihati anaknya. Vanilla masih belum bisa menerima sepenuhnya gaya hidup sehat yang diterapkan Jhico. Dulu, Vanilla gemar sekali menikmati makanan yang menurutnya enak tapi membahayakan kesehatan, suka juga minum alkohol dan tidur tidak pernah cukup, tapi sekarang Jhico menghapus itu semua dari hidup istrinya.
****
Saat melewati street food, Vanilla meminta pada Jhico agar menghentikan mobilnya. Jhico bertanya ingin apa, dan Vanilla hanya menunjuk stand yang menjual pop corn.
Jhico mengangguk dan segera turun dari mobil untuk memenuhi keinginan istrinya. Vanilla tersenyum senang karena suaminya baik sekali. Padahal sebelumnya Jhico mengeluh ingin buang air kecil, dan ingin segera sampai di apartemen.
Jhico kembali lagi ke mobil setelah membeli berbagai varian rasa pop corn. Vanilla terkejut saat melihatnya. "Banyak sekali, Jhi."
"Aku lupa bertanya padamu mau yang rasa apa. Jadi aku beli semuanya. Sudah tidak ada lagi yang kamu inginkan? biar kita pulang,"
"Tidak, ayo kita pulang."
Vanilla kasihan pada suaminya yang sedari tadi menahan keinginan untuk buang air kecil. Sebenarnya Vanilla tidak ada niat mengerjai. Ia memang benar-benar menginginkan pop corn sekarang. Bahkan karena terlalu tidak sabar ingin menikmati pop corn, sebelum sampai di apartemen Ia sudah membuka kemasan pop corn lalu dimakannya dengan lahap yang rasa caramel.
Begitu tiba di apartemen dan memastikan mobilnya nyaman di tempatnya, Jhico dan Vanilla keluar. Walaupun Jhico sedang menahan sesuatu, tapi Ia tetap menggenggam tangan Vanilla saat berjalan memasuki gedung tinggi apartemen mereka.
"Jhi..." Vanilla menahan lengan suaminya ketika mereka akan masuk ke lift yang biasa mereka gunakan untuk naik ke lantai dimana unit apartemen mereka berada.
"Iya?" tanya Jhico dengan lembut.
"Aku maunya naik lift yang itu," ujar Vanilla dengan nada merengek seraya menunjuk lift yang lain.
Jhico menggeram dalam hati. Apa bedanya lift yang satu dengan lainnya? sama-sama bisa digunakan.
"Padahal sama saja, Nilla."
"Tapi aku mau yang itu!"
"Ya sudah, okay."
"Astaga, jangan sampai aku buang air kecil di sini," batin Jhico mencibir kesal. Permintaan Vanilla benar-benar aneh. Lift saja diperdebatkan. Waktunya juga tidak tepat. Disaat Ia ingin sekali bisa cepat sampai di toilet apartemen, Vanilla malah menghambatnya.
"Semoga anakku nanti tidak menyebalkan seperti Ibunya,"
 ---------
Vanilla kenapeee siyy? random bat tingkahnya yakk🤣🤣 ada yg mirip Nilla pas hamidun? cerita pengalaman, Bun. Boleh kok ;) di kolom komen yaaa. Akyu tunggu
__ADS_1
Mampir ya, Bun, Moms ke lapak ini👇 😂