Nillaku

Nillaku
Nillaku 380 Meluapkan kekesalan pada Auristella


__ADS_3

Usai mandi, Devan mendekat pada Adrian, berusaha untuk membujuk anaknya itu agar tidak lagi memiliki rasa jengkel terhadapnya.


"Maaf ya,"


Devan memeluk Adrian yang terlungkup masih memeluk Lovi dengan erat dan kepalanya juga masih sengaja Ia tenggelamkan di ataa perut Lovi. Ia diam saja saat ayahnya bicara.


"Maaf, Daddy pikir kamu dan Ean masih lama pulangnya. Sementara Daddy ada waktu kosong langsung menjemput Auris dan kami pergi. Maafkan Daddy ya,"


Andrean menjawab ,"Iya, Dad," Karena permintaan maaf itu juga untuknya.


Adrian segera mengangkat kepalanya dan menoleh pada kakaknya yang sudah menjawab 'iya' semudah itu dan secepat itu. Tidak kompak dengannya!


"Ean sudah maafkan Daddy. Ian belum?"


Masih diam, Adrian memilih untuk membungkam mulutnya dengan rapat.


Ia merasakan usapan lembut di kepalanya yang dilakukan Lovi. Mommynya itu pasti juga tengah berusaha membujuknya agar tidak kesal lagi pada ayahnya.


"Ayolah, dijawab permintaan maaf Daddy. Nanti kalau Daddy lelah minta maaf padamu, bagaimana?"


"Ya sudah, aku tidak mau mengobrol lagi dengan Daddy sampai kapanpun," lugasnya yang mengundang senyum geli Devan dan Lovi.


Devan dengan jahil menggelitiki sang putra. Adrian kemudian beranjak duduk dan menatap datar ayahnya.


"Daddy jangan ganggu," katanya pada Devan.


Devan berdecak kemudian ikut duduk. "Maaf, Daddy sudah minta maaf ratusan kali,"


"Ratusan kali? berlebihan," Adrian mencibir. Ia hitung-hitung belum segitu banyak permintaan maaf dari Daddynya. Kenapa malah mengaku sudah ratusan kali?


Drvan terkekeh, bisa-bisanya Adrian protes. Itu hanya sebagai perumpanaan saja bahwa Ia telah lebih dari sekali meminta maaf dari anak keduanya itu.


"Maafkan Daddy,"


"Tidak mau,Daddy bukan sekali saja begitu. Karena aku dan Ean pulangnya lebih lama, jadi hanya menjemput Auris,"


"Karena Daddy tidak bisa lama-lama meninggalkan kantor, sayang. Kalau kebetulan kalian belum pulang, terpaksa Daddy hanya menjempit Auris. Tapi kalau kalian sudah pulang juga, pasti daddy jemput 'kan? tidak mungkin hanya Auris yang Daddy antar ke rumah,"


Devan mendekat pada anaknya kemudian merangkum wajahnya yang kini masih murung. Ia memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah adrian dan itu membuat Adrjan berdecak tak senang.

__ADS_1


"Aku tidak mau dicium,"


"Memang kenapa?"


"Tidak mau,"


"Semakin susah dia kalau mau dicium. Mungkin karena sudah besar," cetus Lovi pada suaminya memberi tahukan bahwa semakin hari, kedua anak lelakinya memang sulit untuk diberi ciuman. Biasanya saat masih kecil, mereka akan pasrah saja paling hanya merengek kalau sudah merasa kesal dicium terus-menerus. Tapi sekarang, jadi menghindar terus.


"Memang iya? aku baru sadar,"


"Iya, tapi kalau mencium aku masih mau beruntungnya walaupun jarang,"


"Aku mau dicium Momny kalau mau berangkat sekolah,"


"Iya, tapi biasanya saat tidak berangkat sekolah pun Mommy mencium kalian tak masalah. Kalau sekarang sepertinya tidak. Kalian sering menghindar,"


Lovi protes karena Ia belum siap bila kedua anaknya beranjak besar. Dari hal itu saja mulai berubah. Ia yakin sekali kalau keduanya mulai tumbuh besar jadi malu.


"Itu artinya bagus untuk masa depan, Lov,"


"Maksudnya?"


"Bagus, tidak suka dicium wanita," Usai mengatakan itu devan tergelak dan Lovi memberinya cubitan di pinggang lelakinya hingga Devan meringis karena rasa panas langsung menjalar di kulitnya yang menjadi sasarn Lovi.


"Aku serius, Lov. Itu bagus untuk masa depan mereka nanti. Tidak murah menjadi laki-laki,"


Sebelum Lovi kembali menyerangnya, Devan menjauh dan melangkah cepat menuju pintu tapi kebetulan yang sangat buruk, pintu kamarnya terbuka dari liar hingga menyebabkan kepalanya terantuk.


Adrian terbahak menyaksikan itu. Tapi kemudian Ia langsung diam begitu melihat ayahnya meringis kesakitan dan juga Ia dengar bunyinya tadi lumayan kedengaran.


Ia mengikuti Andrean menghampiri ayah mereka untuk melihat keadaan keningnya. Sementara Lovi diam saja di ranjang. Itulah akibat kalau membuat istri kesal. Sudah dilarang mengatakan itu, masih saja diulang.


Auristella masuk ke kamar dengan tampang polosnya. Ia bingung melihat kedua kakaknya yang tengah menyuruh Devan duduk di tepi ranjang kemudiam mereka juga memaksa Devan untuk menjauhkan tangannya yang kini sedang menutupi rasa sakitnya.


"Daddy kenapa?" tanya Auristella langsung.


"Kenapa-kenapa?! karena kamu ini!"


"Aku? aku salah apa?"

__ADS_1


"Erghh masih bertanya juga! Daddy terantuk pintu saat kamu membuka pintu tadi,"


"Oh bunyi tadi itu karena kening daddy dan pintu beradu?" Aurista bertanya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Iya!" Adrian memang masih ada rasa kesal terhadap adiknya karena masalah jemput dan pergi tadi kemudian ditambah kini, maka sekalian saja Ia menyalurkan kesalnya.


"Maaf, Dad. Aku tidak sengaja,"


"Memang Daddy yang salah,"


"Berikan obat dulu," kata Lovi yang dijawab Devan langsung, "Tidak apa. Ini tidak sakit,"


Kini Devan sudah tidak menutupi keningnya yang terantuk tadi. Ketiga anaknya langsung mengamati dengan seksama.


"Itu merah, Dad," kata Andrean menunjuk kening ayahnya di tengah yang sedikit memerah.


"Tidak apa, Sayang. Hanya merah, sakit sedikit,"


Lovi segera mengambil aromatic oil kemudian mengoleskannya di dahi sang suami, mencegah kemungkinan akan memar.


"Ian katanya tidak mau bicara pada Daddy?" Devan memasang raut jenaka saat bicara seperti itu pada anaknya yang tadi begitu kesal dengannya bahkan sampai tidak mau bicara padanya. Tapi ternyata Adrian tidak benar-benar melakukannya. Bahkan Ia bisa melihat Adrian sangat cemas tadi bahkan sampai sekarang..


"Kebetulan mulutku lagi mau bicara," cetusnya membuat Devan terbahak.


Kemudian adrian bersikap dingin lagi. Ia kembali ke tengah ranjang dan meraih remote televisi untuk menonton.


"Benar tidak mau memaafkan Daddy?"


"Memang Daddy buat salah apa pada Ian?" Auristella yang baru bergabung terang saja bingung kenapa ayahnya meminta maaf pada kakaknya.


"Aku juga kesal padamu,"


Auristella menunjuk dirinya sendiri usai Adrian menyahuti. "Kesal padaku? kenapa?"


"Ian kesal karena Daddy hanya menjemput kamu dan daddy hanya mengajakmu  ke rumah Grandpa,"


"Oh, karena itu. Aduh maaf ya, Ian. Grandpa itu mau memberi berkas kepemilikan playground punyaku. Kamu 'kan tidak ada, jadi tidak diajak,"


Devan langsung membantah, "Tidak begitu, Sayang." Devan mengacak ranbutnya pusing. Auristella malah membuat panas situasi. Adrian pasti akan kesal mendengar penuturan adiknya.

__ADS_1


"Tapi Grandpa sedang mencari hal lain yang akan diberikan untuk aku dan Ean. Jadi aku bukan tidak punya! tapi malah lagi dicarikan yang lain, bukan playground karena aku sudah lebih besar dari kamu!" Adrian beruntungnya ingat perkataan kakeknya tempo lalu bahwa Kakeknya sedang mencari selain playground yang bisa diberikan untuknya dan juga Andrean. Jadi mereka berdua bukan tidak diberikan!


"Justru Grandpa dan Grandma inginnya kalian bertiga yang datang ke rumah mereka. Tapi berbubung saat Daddy menjemput tadi hanya ada Auris, maka yang Daddy ajak adalah Auris. Kalau seandianya saja tadi kamu dan Ean juga sudah pulang, pasti akan Daddy ajak juga. Intinya begitu. Jadi jangan berdebat lagi ya?"


__ADS_2