Nillaku

Nillaku
Nillaku 326 Devan si pembuat wajah Lovi merona


__ADS_3

"Devan, jangan langsung tidur, Sayang. Mandi dulu,"


Devan yang sudah berbaring di ranjang masih dengan pakaian kerja dan kakinya masih terjulur di lantai seketika bangun mendapat usapan lembut di kepalanya.


Ia segera beranjak duduk. Ia memijat kepalanya yang pening, "Aku mengantuk, ingin tidur,"


"Ini karena mengantuk atau karena mabuk sih?"


"Keduanya mungkin, Lov,"


Lovi menghela napas pelan. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan suaminya. Selain mabuk, Devan juga kelewat letih dan mengantuk sampai seperti ini kondisinya.


"Memang kadar alkoholnya tinggi sekali?"


"Tadi aku lihat tidak. Biasanya aku lebih tinggi dari itu dan aku kuat. Tapi malam ini mungkin karena memang lelah dan mengantuk, maka efeknya berlebihan sekali,"


"Menurutku justru tidak berlebihan. Kamu bisa berjalan, dan mengerti apa yang aku tanyakan,"


Bayangan Lovi justru suaminya sudah tidak sadarkan diri atau meracau tak karuan seperti tadi di dalam mobil yang Ia dengar hanya racauan Devan saja, kurang jelas artikulasi ucapan Devan.


"Dan mungkin sekarang efeknya mulai berkurang,"


Devan mengangguk, Ia berdiri dan melepas satu persatu kemejanya dibantu Lovi.


Hembusan napas pria itu membuat hidung Lovi sedikit mengerinyit. Aroma tak biasa masih dapat Ia terima dari hembusan napas suaminya yaitu aroma minuman beralkohol.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa mabuk? tadi jawabanmu tidak jelas,"


"Saat makan siang, aku beli minuman. Aku tidak tahu minuman apa itu. Aku letakkan di dashboard mobil dan aku baru ingat bahwa aku punya minuman itu ketika aku masuk ke mobil saat akan pulang. Aku minumlah sebelum pulang. Mataku yang memang sebelumnya mulai berat karena kantuk, makin bertambah berat dan kepalaku jadi pening sekali. Maka aku hubungi Iyon agar menjemputku,"


Mendengar penjelasan Devan, Lovi menggeleng pelan tak habis pikir. Bisa-bisanya Ia tidak tahu minuman apa yang dibeli.


"Namanya juga manusia, Lov. Terkadang lalai,"


"Bukan kamu sengaja mau mabuk?"


"Ya ampun, Lov. Kalau akuĀ  mau sengaja, aku datang ke bar dan minum sepuasnya di sana,"


"Seharusnya cari tahu dulu sebelum membeli sesuatu,"


"Iya, aku minta maaf. Aku pikir itu minuman berperisa saja. Ternyata ada alkohol di dalamnya,"


"Malam ini kamu membuatku panik,"

__ADS_1


Devan terkekeh melihat kecemasan yang memang benar-benar tergambar jelas di wajah bidadari nya itu.


Setelah melepas kemeja dan t-shiry yang merupakan bagian dalam dari pakaian Devan, Lovi segera menyuruh Devan untuk ke kamar mandi dan Ia akan menyiapkan pakaian tidur suanminya.


Namun Devan maish bertahan di posisinya. Lovi menatapnya bingung apalagi melihat Drvan yang tersenyum aneh membuat Ia bergidik.


"Mandi, kenapa masih diam?"


"Tidak mau membantu aku melepas ini?" Devan menunduk ke bagian bawah tubuhnya.


Seketika Lovi yag sedang memegang kemeja Drvan langsung memukul lelaki itu dengan kemejanya.


"Maksudku, tidak mau bantu aku membuka sabuk pinggangku?"


"Bisa sendiri!" lugas Lovi dengan ketus. Devan menggoda istrinya lagi.


"Pikiranmu sudah kemana, Lov? jelas-jelas aku minta dibantu membuka sabuk pinggang, bukan celana. Pasti kamu mengira aku memintamu untuk membuka celanaku 'kan?" Lovi diam namun pipinya yang merah sudah menjawab semuanya. Lovi merona karena apa yang dikatakan Devan benar adanya. Ia sempat berpikir seperti itu tadi makanya langsung menggunakan kemeja untuk menyerang lelaki itu.


Devan masih senyum dan belum juga membuat Lovi berhenti bergidik.


"Devan, kamu itu lagi mabuk! jangan seperti itu menatapku. Kenapa senyum sih?!" sentak Lovi yang sudah kelewat kesal. Dan saat itu juga Devan terbahak. Ia memang mabuk tapi masih ada kemampuan untuk menggoda istrinya hingga salah tingkah sendiri.


"Aku mandi dulu ya. Kalau mau melepas rindu, nanti saja setelah aku mandi,"


Lovi mencibir kesal. Siapa pula yang rindu dengannya? setiap hari bertemu.


"Mom, Daddy sakit ya?"


"Bagaimana kondisi Uncle?"


Begitu tiba di meja makan yang berpenghuni empat anak kecil, Lovi langsung mendapat sambutan seperti itu.


Ia menyiapkan makan malam untuk sang suami seraya mulitmya menjawab agar menuntaskan rasa penasaran dan khawatir mereka.


"Daddy hanya sakit, Sayang,"


"Mommy akan membawakan makan malam untuk Daddy,"


"Sudah minum obat?" tanya Andrean pada Mommynya yang dijawab anggukan, "Sudah."


"Sudah istirahat, Mom?" Adrian ikut bertanya.


"Sekarang sedang mandi. Nanti setelah mandi dan makan, paati langsung istirahat,"

__ADS_1


"Jangan bekerja dulu, katakan pada Uncle ya, Aunty," pesan Grizelle yang tentu ikut cemas memgetahui adik dari Mumunya sedang tidak baik-baik saja.


"Iya, terimakasih, Icelle,"


Lovi tak mungkin mengatakan pada mereka bahwa Devan mabuk. Jawaban yang paling aman adalah sakit. Lagipula mereka juga sudah berpikir seperti itu. Ia bersyukur mereka fokus pada rasa khawatir mereka saja tak terkecuali Grizelle, keponakannya. Tak bertanya lebih yang sempat ditakutkan Lovi. Sebab mereka bereempat ini adalah anak-anak yang kritis dalam berpikir dan akan terus bertanya sampai mendapat jawaban yang bisa diterima oleh nalar mereka.


"Nanti aku mau lihat Daddy boleh ya, Mom?"


Lovi terang mengangguk. Tak mungkin Ia melarang Auristellah yang ingin tahu secara langsung mengenai kondisi ayahnya. Dan lagipula Devan juga sudah baik-baik saja buktinya tadi bisa menggodanya hingga membuat Ia kesal sekali. Tingkah lakunya tak begitu menunjukkan bahwa Ia tengah mabuk maka Lovi semakin yakin efeknya mulai hilang. Dan Lovi sangat bersyukur sebab tidak lama. Bayangnya, sampai besok baru Devan mulai 'waras'


"Ya sudah, kalian lanjutkan makan malamnya ya,"


"Aunty tidak makan?"


"Nanti Aunty pasti makan, Icelle,"


"Aku juga boleh lihat Uncle nanti?"


"Boleh, Sayang. Itu Uncle nya Icelle. Kenapa tidak boleh melihatnya?"


Grizelle tersenyum lebar hingga memperlihatkan susunan giginya yang sempurna.


Lovi selesai menyiapkan hidangan makan malam sekaligus


air minum untuk suaminya yang sedang mandi guna membntu menghilangkan rasa aneh yang menjalar dalam tubuhnya usai meneguk alkohol.


Lovi kembali ke kamarnya dan Ia melihat Devan yang baru keluar dari kamar mandi dengan bathrobe. Tetesan air menjalar mulai dari rambut hingga ke lengannya dan itu mmebuat Lovi jadi tidak fokus meletakkan baki berisi hidangan ke atas nakas hingga berhasil menjatuhkan sebuah benda yang tak lain adalah arloji milik suaminya.


Mata Lovi membulat dan Ia dengan cepat melihat kondisi jam tangan itu. Beruntungnya baik-baik saja.


Melihat kepanikan istrinya, Devan berujar, "Kalau rusak, masih ada banyak, Lov. Tidak usah panik seperti itu,"


"Tapi ini harganya mahal!"


"Ya kalau rusak mau bagaimana? tidak mungkin aku marahi kamu 'kan? lagipula tidak mungkin rusak. Hanya jatuh dari nakas," sahutnya dengan ringan seraya berjalan mengambil handuk kecil di stand hanger untuk mengeringkan rambutnya.


"Sampai menjatuhkan arloji. Kenapa sih? tidak fokus karena melihat aku yang baru habis mandi ya?"


Devan!


Sialan!


Sudah dua kali Devan berhasil menebak isi pikiran Lovi. Tadi perkara sabuk pinggang, sekarang hal ini.

__ADS_1


Erghh!


Lovi benci dengan suaminya yang terus-terusan membuat wajahnya merona malu.


__ADS_2