Nillaku

Nillaku
Nillaku 352 Bercerita pada Mumu dan Pupu


__ADS_3

"Kakek kemana?"


Grizelle bingung karena saat Ia kembali bersama Mumunya dengan penampilannya yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah, Ia malah tidak menemukan keberadaan Kakeknya yng tadi saat Ia pergi masih ada di meja makan.


"Kakek sudah pergi ke kantor, Sayang,"


"Yah... kenapa tidak menunggu aku dulu,"


Grizelle berlari keluar barangkali Kakeknya belum benar-benar pergi. Mungkin Kakeknya sedang menghidupkan mesin mobil di garasi. Ia berharap demikian.


Jhico dan Vanilla dibuat tercengang dengan anak mereka yang tiba-tiba berlari ke arah luar rumah.


"Mungkin pikirnya Kakek masih ada di luar," ujar Karina di tengah keterdiaman Vanilla dan Jhico.


"Iya, anak itu belum tenang kalau belum pamit dengan Kakeknya ya," ucap Hawra seraya terkekeh pelan. Sampai mengejar keluar pasti karena Grizelle ingin pamit dulu pada Kakeknya.


Grizelle berteriak pada Kakeknya yang kini memanaskan mobilnya. Grizelle menghampiri sang kakek yang menatapnya bingung.


"Griz, kenapa?"


"Kakek, berrluntung (beruntung) nya Kakek belum perrlgi (pergi). Aku belum pamit pada Kakek mau sekolah dan pulang ke rrlumah (rumah),"


Thanatan keluar dari mobilnya. Kemudian Ia menunduk menatap cucunya yang kini mendongak sebab Thanatan tinggi sekali.


Thanatan tiba-tiba saja memeluknya. Mengusap punggung mungil itu dengan lembut. Kemudian mengacak pelan rambut Grizelle.


"Terimakasih sudah menginap di sini ya,"


"Iya, Kakek. Sama-sama. Aku juga berlterlimakasih (berterimakasih) sudah menerlimaku (menerimaku) di sini. Nanti aku tidak pulang ke sini ya,"


Thanatan mengangguk, kemudian berdiri tegap. Lalu Ia berbalik untuk masuk ke mobilnya. Namun Grizelle memeluknya lagi.


"Hati-hati ya, Kakek,"


"Ya, kamu juga hati-hati sekolahnya. Semangat belajar,"


"Iya, Kakek,"


Grizelle menjauh dari mobil sementara Kakeknya masuk ke dalam mobil.


Grizelle melambai antusias pada Thanatan. "Hati-hati membawa mobil, Kakek,"


Lagi-lagi Grizelle berpesan seperti itu pada Kakeknya.


"Ya,"


Setelah mobil Kakeknya tidak terlihat lagi, Grizelle masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Kakek belum berangkat?"Vanilla langsung bertanya seperti itu pada Anaknya yang masuk dengan langkah riang.


"Belum, jadi aku sempat pamit pada Kakek," katanya seraya tersenyum.


"Ya sudah, sekarang pamit pada Nay-Nay dan Oma. Lalu kita berangkat ke sekolah. Nanti kamu terlambat,"


"Nay-Nay, Oma, aku perrlgi (pergi) sekolah dulu ya. Aku juga nanti tidak ke sini. Langsung pulang ke rrlumah (rumah),"


"Iya, Sayang. Terimakasih sudah menginap di sini. Membantu Nay-Nay merawat Kakek dan menemani Kakek,"


"Iya, Nay-Nay,"


Grizelle tersenyum mengangguk. Ia memluk Karina dan Hawra kemudian bergegas keluar. Karina dan Hawra mengikuti Ia dan kedua orangtuanya.


"Kami pergi dulu ya, Ma, Nenek. Terimakasih sudah menerima Griz di sini,"


"Iya, Van. Sama-sama. Griz sering menginap di sini tidak apa ya?"


"Iya, Ma. Kami tidak pernah mau melarang," ujar Vanilla seraya tersenyum.


Karina tak hanya meneluk Vanilla saja,tapi Jhico juga. "Terimakasih sudah mengizinkan Griz di sini. Mama dan papa senang sekali," gumam karina sebelum melepas pelukannya. Jhico mengangguk, "Iya, Ma. Aku juga sangat berterima kasih. Griz tidak kalah senang ketika menginap di sini,"


Jhico dan Vanilla masuk ke dalam mobil sementara Grizelle sudah lebih dulu masuk.


Mobil melaju di tengah padatnya lalu lintas pagi ini. Grizelle duduk dengan tenang di dalam mobil.


"Boleh nyalakan musik, Pu?"


Jhico meminta tolong pada isgrunya untuk memenuhi permintaan putri mereka sebab Vanilla lebih leluasa unuk melakukannya sememtara dia tengah fokus menyetir.


"Ganti, Mu," pinta Grizelle saat mendengar lagi yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Iya, yang ini saja," Ia meminta Mumunya berhenti mengacak-acak isi playlist dan memutarnya secara asal. ia sudah senang dengan lagu yang kini masuk ke telinganya.


"Griz, jangan tidur ya. Mau sekolah," Vanilla memperingati putrinya. bisa jadi grizelle tidur sebab lagu yang terdengar kali ini mengalun bisa membuat siapapun yang mendengarnya jadi mengantuk.


"Tidak, aku 'kan mau sekolah,"


"Ya, pintar anak Mumu,"


Selama di perjalanan, Grizelle mendengarkan lagu tersebut. Meskipun Jhico terbilang jarang sekali mau mend.egarkan musik selama di perjalanan,tapi kalau anaknya sudah meinta maka Ia tak mungkin melarang.


Sesekali Grizelle akan ikut bernyanyi dengan pelan. Matanya fokus menatap suasana di luar.


"Griz tidurnya dengan Kakek dan Nay-Nay?"


"Di kamarrl (kamar) yang sama tapi di tempat tidurrl (tidur)yang berlbeda (berbeda),"

__ADS_1


"Oh iya, jadi memindahkan ranjang lain ya?"


"Jadi, karrlena (karena) Nay-Nay tidak mau aku ikut sakit seperlti Kakek,"


"Tapi sekarang Kakek benar-benar sudah sembuh?"


"Iya, Mu. Aku datang, Kakek jadi cepat sembuh," katanya dengan percaya diri.


"Oh Mumu senang mendegarnya. Kedatangan Griz membawa pengaruh yang baik,"


Grizelle terkekeh pelan. Padahal tidak tahu juga apakah kedtangannya membawa pengaruh baik atau tidak yang jelas Ia percaya diri kalau kedatangannya menjadi salah satu penyebab Kakeknya jadi lebih cepat sembuh padahal kalau saat Ia datang, kakeknya masih lemah sekali.


"Karena Griz rawat juga mungkin. Jadi cepat sembuh,"


"Iya, mungkin,Pu,"


"Sudah pantas jadi dokter lah kalau begitu,"


"Memang iya?" tanya Grizelle tidak yakin.


"Aku itu hanya menyuapi kakek, menjadi teman mengobrrlol (mengobrol) untuk kakek, lalu memberikab obat yang sudah disiapkan Nay-Nay pada Kakek. Itu tidak sepelrti (seperti) Donterl (Dokter), Pu,"


"Sudah, Griz sudah seperti Dokter. Tulus sekali merawat Kakek,"


"Kakek tanya aku tentang cita-cita aku mau jadi apa,"


Vanilla dan Jhico selalu tertarik dengan pembahasan anak mereka. Seperti kali ini yang tengah menceritakan apa saja yang ia lakukan bersama Kakeknya selama menginap.


"Lalu Griz jawab apa?"


"Pupu dan Mumu tahu 'kan kalau cita-citaku itu banyak. Dokterl (dokter), Gurlu (guru), model, dan lain-lain,"


"Ya, lalu apa tanggapan Kakek?"


"Kakek tanya apa aku mau jadi sepelerti Kakek, Grlandpa dan uncle Devan. lalu aku jawab tidak mau. Karlena menurlutku (karena menurutku) sibuk sekali,"


Vanilla dan Jhico terkekeh dan menggeleng tak habis pikir dengan jawaban anak mereka. Simple sekali tapi mungkin memang itu yang ia pikirkan selama melihat kedua kakaknya dan pamannya.


"Tapi kata Kakek, semua pekerljaan (pekerjaan) itu pasti punya kesibukan masing-masing dan tanggung jawab juga,"


"Ya, benar apa yang dikatakan Kakek," sahut Jhico seraya melirik anaknya melalui kaca di atas kepalanya.


"Pupu saja sibuk. Mumu juga sibuk. Jadi semua pekerjaan itu pasti membuat yang menjalaninya jadi sibuk,"


Grizelle mengangguk pelan mencerna ucapan Mumunya. Memang benar apa kata Vanilla. Saat masih bekerja, Vanilla juga sibuk. Lalu Jhico tidak setiap hari bisa pulang cepat karena memang Ia juga punya kesibukan.


"Aku bilang pada Kakek, aku belum tahu mau jadi apa. Aku masih bingung. Karlena (karena) keinginanku itu banyak,"

__ADS_1


Vanilla menoleh padanya kemudian tersenyum lembut. Saat seuisia Grizelle ia pun belum terpikirkan ingin menjadi seperti apa di masa depan.


"Tapi Griz harus ingat. Jalani semuanya dengan tekun dan sabar. Mau menjadi apapun nantinya terserah pada Grizelle. Itu pilihan Grizelle. Mumu dan Pupu hanya bisa mendukung dari belakang,"


__ADS_2