Nillaku

Nillaku
Nillaku 35


__ADS_3

Deni menyudahi kegiatannya lalu keluar dari ruang olahraga seraya membanting pintu. Keynie menggeleng pelan melihat perilaku suaminya yang rela marah-marah padanya hanya karena Vanilla, gadis yang sudah menjadi istri orang.


Keynie menyusul suaminya yang ternyata sudah berganti baju. Dari penampilannya, Ia tahu Deni akan pergi.


"Kamu selalu mengatakan kalau aku terlalu kekanakan. Coba lihat dirimu sendiri!"


Deni meraih kunci mobilnya lalu pergi secepat kilat tanpa menjawab ucapan Keynie. Ia sedang menahan diri sekarang, jadi lebih baik Ia menghindari Keynie yang bisa saja semakin memancing emosinya.


"Ada dua kemungkinan. Yang pertama, mungkin dia ke mansion Devan. Dan yang kedua, dia menghabiskan waktunya di kelab bersama perempuan-perempuan di sana. Huh! padahal ada istri di rumah. Tapi kenapa harus bersama mereka?"


*******


Vanilla sudah mandi sore ini. Ia menutup gordyn di kamarnya lalu berbaring di atas sofa seraya memainkan ponsel.


Vanilla tengah menjelajahi instagram sepupunya sendiri hanya untuk mencari nama akun Jhico di sana. Dari sekian banyak orang yang diikuti oleh Jane, akhirnya Ia berhasil menemukan akun Jhico.


Vanilla melakukan ini hanya karena penasaran. Apakah yang dikatakan oleh Jane tadi siang benar adanya? Ia juga ingin tahu bagaimana isi dari sosial media sang suami.


Vanilla mengetik nama akunnya sendiri di bagian 'mengikuti'. Rupanya benar, Jhico sudah mengikutinya. Sementara Ia tidak mengikuti balik.


Ada dua foto yang mencuri perhatian Vanilla. Foto pernikahan dan juga foto yang tadi dikatakan oleh Jane. Kapan Jhico memotretnya? di foto itu dia tertidur dengan gaya yang tidak memalukan sebenarnya. Tapi entah kenapa ada rasa kesal karena Jhico memotret tanpa izin.


Vanilla baru membuka kolom komentar di foto pernikahan Ia dan Jhico, tiba-tiba nama Renald hadir sebagai sosok penelpon sore ini.


Vanilla mengangkat panggilan tersebut dengan cepat. Senyum langsung menggantikan ekspresi kesalnya tadi.


"Setelah menunggu berabad-abad, akhirnya kamu menghubungiku lagi. Sudah tidak sibukkah?"


Renald tertawa dan menjelaskan kegiatannya hari ini tanpa diminta. Vanilla mendengarkan dengan baik. Sejujurnya Vanilla suka menjadi teman curhat. Dulu, Ia tidak sepeduli itu pada orang lain.


"Besok kamu kuliah?"


"Ya, tentu saja. Kamu bekerja?"


"Yes, princess. Oh ya, aku juga akan kuliah sebentar lagi,"


Vanilla berseru senang. Bayangannya Renald akan berkuliah di kampus yang sama dengannya.


"Tapi kita tidak bisa satu kampus. Itu terlalu mahal untukku. Aku mencari kampus yang harganya sesuai dengan kondisi ekonomiku dan kualitasnya lumayan bagus,"


Vanilla langsung menghembuskan napas kecewa. Bayangannya hancur seketika.


"Jadi kita akan semakin jarang bertemu?" Ia baru ingat akan hal itu. Disaat sering bertemu di kampus Vanilla saja terkadang mereka tidak ada waktu untuk saling menyapa. Apa lagi ketika Renald sudah berkuliah. Pasti semakin jarang berkomunikasi.

__ADS_1


"Aku tetap bekerja di sana. Aku mengambil jam kuliah untuk karyawan. Setelah bekerja, aku langsung kuliah,"


"Tapi tetap saja. Kamu tidak lama-lama di kampusku karena harus kuliah setelahnya,"


Pintu kamar dibuka. Tapi Vanilla tetap bergeming dalam pembicaraannya. Jhico sudah datang. Ia melepas sepatu dan kaus kaki serta jam tangannya.


Ia melirik Vanilla yang dengan santai berbicara entah dengan siapa tanpa menyambutnya. Ponsel benar-benar membuat Jhico emosi. Ketika tidak ada ponsel, Vanilla selalu menyapanya walaupun hanya sekilas.


"Siapa?"


"Hmm?"


"Siapa yang sedang kamu telepon?" tanya Jhico dengan nada yang masih lembut. Ia baru pulang bekerja, jadi tidak ingin kembali menguras tenaga hanya untuk marah-marah karena cemburu. Ia bukan anak kecil lagi, dan Vanilla adalah tipe perempuan yang bila dikasari akan semakin berontak. Ketika Jhico marah karena kesalahannya, bukan meminta maaf yang dilakukan Vanilla. Justru malah marah-marah juga pada Jhico.


"Okay, sampai jumpa di kampus besok. Bye, My Renald,"


Jhico mendelik saat mendengar panggilan itu. Vanilla sengaja melakukannya. Ingin tahu reaksi apa yang akan ditunjukkan Jhico. Apakah ponselnya akan menjadi korban lagi?


Vanilla menyingkirkan ponselnya dari telinga kemudian diletakkan di nakas, lalu Vanilla melihat Jhico yang sedang mengeluarkan pakaian yang akan dikenakannya selesai mandi nanti.


"Aku yang menjadi suaminya saja tidak pernah mendapat panggilan seperti itu sekalipun aku sudah mempunyai sebutan khusus untuknya 'Nillaku," gumam Jhico menahan kesal.


*****


"Jhico, ponselku dimana?!"


"Kemarin kamu pernah menyembunyikan ponselku. Barang kali sekarang juga,"


Seharusnya setelah Jhico menyiapkan sarapan, Vanilla mengucapkan 'terima kasih' dengan nada yang manis. Ini malah memarahi Jhico yang baru masuk kamar ingin membangunkannya.


"Cari yang benar! jangan menuduhku sembarangan,"


Jhico merasa tidak mengulangi perbuatannya kemarin. Bila diminta bersumpah pun akan Ia lakukan karena memang tidak ada yang Ia sembunyikan dari Vanilla.


Vanilla mengangkat kedua bantal di atas ranjang, kemudian mengangkat lampu tidur juga di nakas. Sampai ke lantai di bawah ranjang pun Ia periksa.


"Ponselku sering menyembunyikan diri di sela antara bed dan dipan. Coba kamu lihat!"


Jhico memberi petunjuk seraya mempersiapkan dirinya untuk bekerja. Kini lelaki itu tengah menyisir rambutnya, menatap cermin dimana Ia bisa melihat Vanilla melakukan apa yang Ia perintahkan tadi.


Ketika ponselnya ditemukan, Vanilla tidak mengatakan apapun. Padahal suaminya yang memberi titik terang.


"Adrian dan Andrean saja sangat pintar mengucapkan 'terima kasih' pada orang lain. Sayang sekali, Aunty mereka tidak seperti itu," Ia menyindir terang-terangan. Vanilla nampak membalas tatapan suaminya melalui cermin.

__ADS_1


"Terima kasih,"


"Coba beri sebutan khusus untukku. Jangan hanya orang lain saja yang mendapatkan itu,"


"Padahal aku yang menikahi kamu. Tapi kenapa dia yang diakui menjadi milikmu?"


Vanilla menghela napas pelan, mencoba sabar. Salahnya juga yang pagi-pagi menuduh Jhico tanpa mencari dulu keberadaan ponselnya dengan benar.


Ia berjalan ke arah Jhico lalu meraih sisir yang sedang dipegang Jhico. Ia menata rambut Jhico dengan lembut. Hitung-hitung sebagai permintaan maaf.


Jhico menarik pinggang istrinya agar lebih melekat dengan tubuhnya. Vanilla merasa tidak nyaman hingga Ia ingin melepaskan, namun Jhico lebih kuat untuk mempertahankan sumber kenyamanannya.


"Hari minggu anak dari temanku berulang tahun. Kamu ikut aku menghadiri acaranya ya?"


Vanilla langsung mengangguk, tidak biasanya. Jhico memastikan sekali lagi, "Benar? jangan lupa dan jangan membuat rencana lain untuk hari minggu karena kamu sudah menyetujuinya tadi,"


*****


Pagi ini Renald tidak bekerja di kampus Vanilla karena Ia harus menjalani masa perkenalan di kampusnya.


Namun Renald tetap menyempatkan waktu untuk berkunjung ke kampus Vanilla karena ingin berbicara empat mata. Sayangnya, Vanilla belum tiba. Yang Ia lihat hanya Jane. Sehingga Renald menitip pesan untuk Vanilla melalui Jane agar sore nanti Vanilla datang ke sebuah kafe untuk bertemu dengannya.


"Aku tunggu nanti sore, katakan pada Vanilla."


"Hmm... okay,"


Jane menatap punggung Renald yang mulai menjauh. Ia mengangkat bahunya acuh. Tidak akan Ia sampaikan pesan itu. Karena Ia yakin Renald pun akan mengirim pesan untuk Vanilla dengan isi yang sama melalui ponsel. Untuk apa Ia mengatakannya lagi?


Jane melihat kelas Vanilla. Sepupunya memang belum ada. Mungkin sedang terjebak macet atau Ia pikir belum bangun, masih bergelung dalam selimut bersama suaminya. Ia tidak tahu kalau peristiwa yang terjadi pagi ini di apartemen Jhico justru sebaliknya. Bukan hal manis seperti yang dipikir Jane. Melainkan perdebatan sampai pada akhirnya Vanilla yang luluh lebih dulu agar masalah cepat selesai. Ia juga yang salah karena menyangka Jhico lah yang menyembunyikan ponselnya lagi.


"Jo, Vanilla belum datang atau tidak masuk?" Ia menghampiri Joana yang sedang menikmati sandwich sebagai sarapannya di kelas.


"Masuk, mungkin hanya sedikit terlambat,"


Jane mendengkus lalu melirik jam tangannya, "Ini bukan sedikit. Mata kuliah hampir dimulai bukan?"


Joana menggeleng dengan mulut penuhnya. Setelah dihaluskan sandwich tersebut, Ia menyeruput air minum.


"Masih ada sepuluh menit lagi, Jane. Terlambat adalah hal yang biasa juga untuk Vanilla. Kamu lupa?"


"Ah iya. Aku baru ingat. Vanilla memang selalu seperti ini bahkan dulu lebih parah,"


-----------

__ADS_1


Ada yg nungguin kah? donat jeko sama panil dtg nih :) Dukungannya jgn melorot yak wkwk



__ADS_2