Nillaku

Nillaku
Nillaku 265 Karina yang menyampaikan undangan


__ADS_3

"Sudah aku kirim undangannya pada Jhico," ungkap Karina. Thanatan belum memberikan reaksi apapun sehingga Karina berpikir bahwa suaminya belum tahu mengenai hal itu.


Thanatan mengangkat pandangannya yang sedari tadi fokus membaca email. Ia menatap Karina yang duduk berhadapan dengannya.


Ia segera memeriksa pesan. Benar, Karina telah mengirim undangan tersebut pada Jhico.


"Untuk apa kamu melakukan itu? lagipula tidak hadirpun tidak menjadi masalah,"


"Kamu seperti kakek yang malu mempunyai cucu ya? padahal Grizelle itu adalah anak perempuan yang membanggakan kalau saja kamu mau mengakui itu. Alasanmu tidak membiarkan Grizelle hadir, apa?"


Karina sampai menghentikan mulutnya untuk mengunyah makanan karena Ia bear-benar penasaran dengan alasan thanatan yang tak ingin memberikan undangan itu pada Grizelle.


"Karena acaranya tidak penting," ujar Thanatan malas.


"Tidak penting bagimu, tapi penting bagi Grizelle. Dia bisa menambah teman. Bagus juga untuk pertumbuhannya kalau Ia bertemu dengan teman-teman yang baru,"


Tak habis pikir dengan alasan suaminya yang menganggap bahwa itu tidak penting.


"Lagipula kamu akan dianggap tidak menghargai karena Grizelle tidak kamu minta datang,"


"Ya biar saja. Aku tidak peduli tentang perkataan orang,"


"Thanatan, hidupmu itu tidak berporos pada dirimu saja. Menghargai orang lain itu perlu dimulai dari hal kecil saja. Contohnya undangan itu. Selagi bisa dihadiri kenapa memlih untuk tidak hadir? aku rasa Grizelle tidak akan keberatan untuk datang,"


Thanatan terkadang memang malas sekali menghadiri acara-acara yang Ia anggap remeh seperti itu. Padahal seharusnya tidak begitu. Selagi ada kesempatan untuk datang dan memberikan doa, kenapa memilih untuk tidak memenuhi undangan?


Malas berdebat, Thanatan beranjak dari meja makan. Ia tidak akan fokus membaca email-email yang berkaitan dengan pekerjaannya kalau masih berhadapan dengan Karina yang malam ini membuat perasaannya kesal.


****


"Griz, Kakek mengirim undangan ulang tahun,"


"Siapa yang ulang tahun, Pu? Kakek ulang tahun ya?"


Jhico menggeleng dan menyerahkan ponselnya pada Grizelle. Biar anak itu sendiri yang membaca isi undangan tersebut.


Jhico baru sempat membaca pesan itu pagi ini setelah Ia mandi dan bersiap untuk bekerja. Anaknya pun sudah siap dengan pakaian sekolahnya.


"Oh ini undangan cucunya teman Kakek mungkin ya? aku belum kenal orrlang nya (orangnya)," ucap Grizelle seraya mengembalikan ponsel pada pemiliknya.


"Iya, mungkin,"

__ADS_1


Jhico juga tak mengerti sebenarnya. Undangan itu dikirim tanpa ada kata-kata.


Entah ditujukan untuk siapa Ia pun tak paham. Tapi sepertinya itu memang ditujukan untuk putrinya karena orang yang berulang tahun yang tertulis di undangan tersebut adalah seorang anak perempuan yang berusia lima tahun dan bernama Evelyn.


"Coba tanya pada Kakek itu undangannya untuk siapa, Pu?"


Jhico mengangguk. Ia segera mengetik pesan untuk ayahnya itu dengan kalimat


-Undangan untuk Grizelle, Pa?-


Tak lama hanya dibaca saja. Jhico membuang napasnya. "Biar saja lah. Mungkin kakek salah kirim," ucapnya pada sang anak.


"Oh, baiklah,"


Grizelle pun tak ambil pusing. Ia mengunyah toast berisi selai strawberry dengan semangat.


"Tapi kalau itu undangan untukku, bagaimana, Pu? apa aku boleh datang?" tanya Grizelle yang merasa bahwa ada kemungkinan undangan itu memang ditujukan untuknya.


"Ya datang saja. Griz jadi kenal teman baru nanti,"


Grizelle mengangguk senang diizinkan oleh ayahnya. Barangkali undangan itu untuknya, Ia sudah memiliki kepastian apakah diizinkan datang atau tidak oleh ayahnya.


"Datang kemana?"


"Papa mengirim undangan. Tapi entah untuk siapa. Tidak jawab saat aku tanya,"


"Undangan ulang tahun anak. Aku rasa itu cucu temannya, atau anak temannya mungkin,"


"Oh untuk Griz?"


"Tidak tahu, Nillaku. Aku bertanya tapi tidak dijawab Papa,"


****


"Jhico tidak membalas pesanmu? apa katanya? Grizelle akan hadir?"


Thnatan mengangkat bahunya tanpa menjawab dengan mulut. Baru saja Ia membaca pesan dari Jhico dan dia memilih untuk tidak membalasnya.


"Dia bertanya undangan itu untuk siapa. Aku tidak menjawab. Memang dia tidak bisa berpikir ya? tentu saja untuk anaknya," decaknya kesal.


Alis Karina menukik tajam. Ia menelan makanannya sebentar sebelum berkata, "Memang salah dia bertanya? wajar saja dia bertanya padamu mungkin dia pikir kamu salah mengirim undangan,"

__ADS_1


"Salahmu yang mengirim undangan tanpa mengatakan apapun. Hanya dikirim undangan saja," kini Thanatan menyalahkan istrinya yang gemas sendiri dengan Thanatan. Apa salahnya dijawab 'untuk Grizelle' tanpa marah-marah dulu.


"Kalau tanganmu tidak bisa membalas pesannya, biar aku saja. Kemarikan ponselmu,"


Karina segera meraih ponsel suaminya. Thanatan akan melarang namun tak berhasil karena Karina dengan sigap mengambil cepat dan langsung mengetik di layar ponselnya.


"Tanganku tentu bisa mengetik pesan. Tapi aku malas saja menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu,"


Karina mengembalikan ponsel pintar itu pada pemiliknya. Tak membalas cibiran suaminya, Ia memilih untuk fokus mengisi perutnya yang sudah cukup lapar padahal semalam Ia makan malam.


"Kalau Griz ikut, kamu menemani nya 'kan? karena temanmu yang mengundang,"


"Kenapa harus aku? datang saja sendiri,"


Karina menggigit bibir dalamnya yang ingin sekali melempari makian-makian kejam untuk suaminya.


"Oh ya sudah. Aku saja yang menemaninya,"


"Tidak malu? acara itu untuk anak-anak. Bukan orang tua sepertimu,"


Lagi, Karina menahan mulutnya untuk menyahut 'Kamu juga orang yang sudah tua!'


"Jhico atau Vanilla tidak mungkin menemani sepanjang acara karena Tuan rumahnya bukan mengenal mereka melainkan kamu. Berhubung kamu tidak mau datang, ya sudah aku saja yang datang sebagai istri yang mewakili suaminya," lugas Karina tak peduli Thanatan menatap datar ke arahnya entah maksudnya apa. Tidak ada salahnya Ia datang. Acara itu besar. Pasti tidak hanya berisi anak-anak kecil saja. Rekan kerja Thanatan pasti banyak juga yang hadir. Memang dasarnya Thanatan saja yang tidak mau hadir menemani Grizelle, cucu sulungnya.


****


"Jhi, kenapa tidak pernah mengajak Griz lagi ke klinik?"


"Ia tidak meminta. Lagipula untuk apalah di sini. Dia banyak bermain pada perawat dan bisa menganggu pekerjaan mereka,"


"Padahal tidak begitu. Aku yang sering bermain bersamanya juga tidak merasa keberatan. Ajak Griz besok ya,"


Kenzo menepuk bahu Jhico, membujuk agar mau membawa Grizelle datang ke klinik. Kalau ada anak itu, rasanya tidak membosankan ketika bekerja. Grizelle juga tahu kondisi bila mengajak bermain atau mengobrol.


"Semenjak tahu Vanilla hamil, dia jarang mau meninggalkan Vanilla. Saat liburan kemarin dengan neneknya baru pertama kali dia meninggalkan Vanilla dan dia merasa sedih. Walaupun setelah itu dia menikmati liburannya,"


"Mau jadi kakak yang baik. Selalu mendampingi adiknya. Oh iya, Vanilla tidak sulit di kandungan ketiganya ini?"


"Tidak, dia tidak banyak mau," ungkap Jhico seraya terkekeh mengingat istrinya yang selama hamil ini memang tidak banyak keinginan dan tidak ada perubahan signifikan selain mudah lelah dan terkadang mual di pagi hari.


 

__ADS_1


Part kedua yg td pagi aku up itu isinya sama kan ya? up nya keulang😆 ini aku up lg


__ADS_2