Nillaku

Nillaku
Nillaku 173


__ADS_3

Jhico kembali ke apartemen dengan membawa dua paper bag kecil berisi cake. Adrian dan Devan juga sudah pulang ke rumah mereka usai Adrian membahas Keyfa.


"Bawa apa itu?"


Vanilla sudah menunggu kedatangan suami dan anaknya. Ia juga sudah selesai memasak. Jhico sampai di apartemen, semuanya sudah siap. Jhico tinggal menikmati masakannya.


"Cake,"


"Woahh aku mau,"


Jhico mengangguk, saat Ia akan mengambil piring untuk meletakkan cake di sana, Grizelle merengek.


"Tunggu sebentar, Griz. Pupu ambil piring dulu,"


Vanilla yang mengambil alih anaknya di stroller. "Griz lebih baik mandi. Biar Pupu makan,"


Grizelle dibawa masuk ke dalam kamar untuk dibersihkan tubuhnya. Sebelum kedatangan Jhico dan Grizelle, Vanilla sudah menampung air hangat dari shower, dan menyiapkan perlengkapan mandi untuk anaknya, baju bersih pun sudah Ia siapkan.


Sementara anaknya mandi, Jhico menyantap masakan Vanilla. Nanti, Ia akan menggantikan tugas Vanilla selama Vanilla berada di kampus.


Grizelle sangat menikmati perlakuan Vanilla yang lembut terhadapnya, Ia juga menguji kesabaran Vanilla. Saat Ia masih nyaman berada di dalam air, Vanilla memberi pengertian bahwa Ia akan kedinginan dan juga Vanilla harus secepatnya menyelesaikan kegiatannya saat ini karena waktu terus berjalan menuju jam kuliahnya.


Setelah memandikan Grizelle, Vanilla menyempurnakan penampilan anaknya. Meskipun hanya di dalam apartemen, buah hatinya harus tetap cantik.


Jhico memasuki kamar dan melihat anaknya tengah diberikan cologne oleh Mumu nya. "Cepat bersiap, Nilla. Jangan sampai terlambat kuliah,"


"Iya,"


Vanilla menatap anaknya yang sudah tampil cantik. Ia menghela napas lega. Setelah terjadi drama sebentar di kamar mandi karena Grizelle yang sepertinya belum rela berpisah dengan air, akhirnya Ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Saatnya Ia yang bersiap lalu berangkat ke kampus.


******


Thanatan menerima obat untuk mempercepat proses penyembuhan anaknya yang Ia pesan dari temannya yang berprofesi sebagai dokter.

__ADS_1


"Ini benar-benar bisa membantu 'kan?"


"Iya, tapi tetap Tuhan yang berkehendak, oleh sebab itu jangan pernah berhenti berdoa,"


"Baiklah, terimakasih,"


"Semoga Jhico cepat pulih. Aku permisi,"


Thanatan menatap dua botol obat di tangannya. Ia berharap obat itu bisa membantu kerja obat yang saat ini sedang dikonsumsi Jhico untuk memulihkan tulang nya yang sempat cedera. Ia semakin tidak tega melihat anaknya hidup dengan keterbatasan bergerak. Kemarin Ia menyaksikan sendiri Jhico tidak bisa sebebas biasanya bahkan untuk menggendong anaknya saja kerap merasa kesulitan.


*******


Vanilla keluar dari mobilnya setelah tiba di basement kampus. Vanilla tidak sengaja bertatap muka dengan Renald dan juga Anneth, cleaning service perempuan yang menjadi teman dekat Renald dan memiliki rasa kesal berlebihan dengan Vanilla yang Ia ketahui masih menjadi orang spesial di hati Renald.


"Hai, Vanilla."


Vanilla tersenyum membalas sapa Renald lalu mempercepat langkahnya agar segera sampai di kelas.


Dosen baru saja duduk di kelas Vanilla. Beruntungnya mata kuliah belum dimulai dan dosen itu dengan berbesar hati mengizinkan Vanilla masuk ke kelas tanpa dimarahi terlebih dahulu. Siapapun tahu Vanilla sudah memiliki anak dan Vanilla juga terlihat sudah berusaha untuk datang tepat waktu.


"Tidak apa, memang begitu lah kalau sudah menjadi Ibu,"


*******


Jhico menutup pintu kamarnya setelah menerima sebuah kiriman yang baru saja datang ke apartemen nya.


Ia segera membuka kotak di tangannya dan terkejut melihat dua botol obat lalu tidak lama ponsel nya bergetar. Thanatan menelponnya.


"Hallo, Pa."


"Itu obat untukmu. Semoga bisa mempercepat proses penyembuhan mu, berhubung kamu tidak mau berobat ke tempat yang Papa inginkan,"


"Oh ini untukku? terimakasih, Pa. Tapi tidak biasanya Papa----"

__ADS_1


"Tidak usah mencela, bisa tidak? Papa peduli padamu,"


"Aku tidak mencela, aku hanya ingin bertanya, kenapa Papa peduli padaku? tidak biasanya Papa---"


"Kamu harus secepatnya sembuh, Jhico. Tidak bosan diam di apartemen terus? biasanya beraktifitas di luar, lalu tiba-tiba hanya diam saja,"


"Tapi aku senang, Pa. Karena saat aku sakit begini, aku punya lebih banyak waktu dengan Grizelle,"


"Papa rasa, dia pun bosan melihatmu setiap waktu,"


Jhico tersenyum mendengar ucapan Papanya yang jarang sekali mau menelponnya apalagi memikirkan kondisinya.


"Sudah berapa kali anak itu datang ke apartemen semenjak kamu sakit?"


"Anak siapa?"


Menyebut namanya saja, Thanatan malas sekali. Tapi Ia harus bertanya karena Ia ingin tahu apakah peringatannya diabaikan atau tidak.


"Keyfa,"


"Oh, dia tidak datang-datang. Sepertinya terakhir bertemu setelah dari pesta waktu itu,"


"Oh benarkah? apa kamu tidak mencuri-curi waktu untuk bertemu dengannya, lalu menemaninya bermain?"


Thanatan mencurigai anaknya yang terlalu menyayangi Keyfa sehingga bisa saja Jhico bertemu dengannya tanpa sepengetahuan siapapun.


"Tidak, Pa. Vanilla sudah kuliah, otomatis aku yang harus menemani Griz,"


"Oh baguslah, kamu masih waras, lebih mengutamakan anakmu daripada orang lain,"


Usai mengatakan itu, Thanatan mematikan sambungan telepon mereka. Jhico menatap ponselnya bingung. "Kenapa jadi membahas Keyfa sih? padahal aku sudah senang Papa memperhatikan aku. Setelahnya malah seperti menuduhku. Kalaupun aku bertemu dengan Keyfa, memang kenapa?"


 ---------

__ADS_1


Haii guyss gmn kabarnya? baca ini jam brp? ADDICTED UP👇



__ADS_2