Nillaku

Nillaku
Nillaku 353 Grizelle terjatuh


__ADS_3

Pulang sekolah, Grizelle yang dijemput Vanilla mengajak teman-temannya untuk bermain di playground pemberian kakeknya.


Grizelle ingin merealisasikan niatnya. ia tentu tidak lupa kalau ingin membawa teman-temannya ke tempat itu. Biar mereka merasakan bagaimana bermain di sana.


Hampir seratus dua puluh menit mereka bermain di sana, Grizelle memutuskan untuk pulang lebih dulu sementara teman-temannya bebas ingin bermain sampai kapanpun.


"Griz kenapa mau pulang lebih dulu?"


"Karrlena (karena) aku takut Mumu kelelahan,"


Vanilla mencium singkat puncak kepala anaknya setelah membukakan pintu mobil dan Grizle masuk ke dalam.


Setelah itu, Vanilla mengendarai mobil menuju rumah mereka. Dengen kecepatan normal, Grizelle menikmati perjalanannya. Ia lelah maka hampir saja terlelap kalau Mumunya tidak mengajaknya bicara.


"Aunty Lovi mau ke rumah,"


"Oh ya? kenapa, Mu? maksudku ada apa Aunty ke rrlumah (rumah)?"


"Mau antar buah tangan katanya,"


"Ya ampun, masih ada saja buah tangannya,"


"Ya, untuk Mumu dan Pupu katanya belum ada. Kalau Griz sudah dapat dari Auris make up, kuteks, dan segala macam 'kan,"


"Iya, waktu di rrlumah (rumah) Aunty Lovi. Aku dan Aurrlis photoshoot, Mu,"


Grizelle tiba-tiba mengingat itu ketika membahas make up dan pewarna kuku. Waktu itu Auristella memberikannya banyak sekali pewarna kuku.


"Iya, Mumu dikirimi fotonya oleh Aunty Lovi,"


"Kalian cantik sekali," tambah Vanilla memuji Grizelle dan Auristella.


"Itu kita diledeki Ian, Mu,"


Vanilla terkekeh membayangkan seperti apa Adrian mengejek adik-adiknya ketika berfoto. Pasti menyebalkan sekali.


"Dia sampai terltawa (tertawa)-tawa," kata Grizelle lagi.


"Menyebalkan sekali dia,"


Grizelle menceritakan Adrian dengan wajah merengut nya. Kapau mengingat kejadian itu Grizelle jadi kesal lagi. Adrian tiba-tiba masuk ke dalam kamar Auristella lalu mengganggu kegiatannya bersama Auristella.


Vanilla menghentikan perputaran roda kendaraannya saat sudah tiba di rumahnya.


Ia keluar lebih dulu dan akan membukakan pintu untuk putrinya yang ternyata sudah keluar sendiri.


Grizelle berlari dari mobil masuk ke rumahnya. Sampai tidak sengaja Ia terjatuh.


Vanilla tersentak kaget. Ia cepat-cepat menghampiri Grizelle agar anak itu tidak menangis tapi kondisinya yang tengah mengandung membuat Ia lamban dalam bergerak apalagi berlari.

__ADS_1


Grizelle sudah menangis lebih dulu. Belum ada yang membantu karena semua berada di dalam rumah, kecuali penjaga pos keamanan yang langsung sigap ke arah Grizelle.


"Haaa Mumu, sakit. Kakiku sakit,"


Grizelle menolak dibantu oleh lelaki penjaga rumahnya. Ia mengulurkan tangan ke arah Vanilla yang baru tiba di dekatnya.


"Mumu, aku sakit," erangnya sambil menangis kencang.


"Itu berdarah, Nona," lapor security rumahnya pada Vanilla.


"Iya, tidak apa,"


"Nanti sembuh. Griz kan anak hebat," Vanilla berusaha menghentikan tangis anaknya.


"Kami masuk dulu,"


"Iya, Nona,"


"Griz tidak mau digendong masuk ke dalam?"


"Mumu 'kan sedang mengandung,"


Grizelle menolak untuk digendong oleh lelaki itu. Ia memilih berjalan ke dalam dengan dipapah Vanilla. Begitu tiba di rumah, raung tangisnya langsung mengisi kesunyian rumah.


******


Lovi menunjuk buah tangan untuk Grizelle sat Ia pergi yang belum sempat Ia berikan pada Grizelle.


"Memang Icelle sudah pulang dari rumah Kakek Thanatan?"


"Sudah, tadi di butik Mommy telepon Aunty Vanilla,"


"Oh, begitu. Aku mau ikut, Mom,"


Baru pulang sekolah tidak mengurungkan keinginan Auristella untuk bertandang ke rumah Grizelle.


"Tidak usah ganti baju ya? pakai baju ini saja,"


Auristella menunjuk pakaiannya saat ini. Hanya stelan baju yang biasa Ia pakai di dalam rumah. Ia sudah mengganti baju sekolahnya dengan itu.


"Iya, tidak apa. Ayo,kita berangkat sekarang,"


Sepeeti biasa, Lovi kerap menjadikan Auristella sebagai temannya bepergian. Anak perempuan lebih bisa diajak kemanapun. Berbanding terbalik dengan anak laki-laki yang tidak sabar apalagi ketika diajak belanja. Entah hanya anaknya saja yang seperti itu atau memang kebanyakan di luar sana anak laki-laki memiliki sifat seperti itu.


"Setelah ini temani Mommy treatment wajah ya? Daddy mu itu cerewet sekali menyuruh Mommy untuk treatment sejak beberapa hari yang lalu,"


"Okay, Mom,"


Masih sama seperti dulu, Devan memang lebih cerewet kalau masalah penampilan istrinya. Tidak mau hemat apalagi untuk anak dan istrinya.

__ADS_1


Sementara Lovi sendiri masih dengan sifatnya yang hanya bila merasa perlu barulah Ia beli. Seperti halnya perawatan wajah. Lovi merasa sudah cukup hanya dengan memakai produk perawatan wajah. Tapi suaminya selalu menyuruh untuk datang ke klinik kecantikan dan treatment langsung dengan alat-alat di sana. Devan dan Lovi sudah punya klinik andalan mereka unuk masalah perawatan. Jangan dikira Devan tidak memperhatikan penampilannya. Justru kalau produk, Ia lebih malas ketimbang perawatan langsung.


Sebab memakai produk-produk perawatan kulit sejenis serum dan teman-temannya membutuhkan kedisiplinan sementara dirinya setiap hari disibukkan dengan pekerjaan.


Maka Devan lebih suka perawatan dengan datang langsung ke klinik dan di sana menggunakan alat-alat dengan megode canggih.


"Padahal wajah Mommy sudah cantik. Tapi daddy masih saja cerwet ya,"


"Iya, sampai panas telinga Mommy karena berulang kali bilang 'Lov, sudah lana tidak ke klinik ya? datang ke sana. Perawatan, biar semakin mempesona' halah, Mommy geli mendengarnya,"


Aurustella terbahak mendnegar  Mommynya yang tadi menggambarkan bagaimana bila Devan menyuruhnya untuk perawatan.


"Padahal sudah cukup pakai skincare saja. Mommy itu malas datang ke klinik, Auris. Biaya nya  mahal. Sudah skincare tidak murah, treatment di sana juga begitu. Sayang uangnya,"


Auristella masih tertawa. Mommynya memang perhitungan padahal untuk dirinya sendiri. Kalau untuk anak dan suaminya,tentu beda cerita. Bahkan Lovi akan mengutamakan mereka ketimbang dirinya sendiri.


"Wajar kalau mahal, Mom. Harga alat yang dipakai, dan tenaga profesional juga mahal,"


"Ya, kamu benar,"


"Tapi meskipun mahal pasti ada hasilnya. Buktinya Mommy yang sampai sekatang masih kelihatan muda dan cantik,"


"Hei, Mommy memang masih muda. Kalau masalah cantik, memang sudah dari lahir,"


Auristella tersedak tawanya sendiri. Lovi kalau sudah mengeluarkan kepercayaan dirinya yang diatas rata-rata memang jadi kelihatan lucu.


Mereka leluasa mengobrol tanpa sungkan karena hanya berdua di mobil. Kali ini mereka pergi tanpa driver. Sebab Lovi dan Auristella akan singgah dulu ke klinik kecantikan setelah berkunjung ke rumah Grizelle.


"Iya, makanya Daddy tergila-gila ya,"


"Hm, sampai tidak mau lepas dari Mommy. Mommy memang tiada dua,"


"Ya ampun, Mommy,"


Auristella memegang perutnya yang keram sebab tertawa terus. Menertawakan Lovi yang tinggi sekali kepercayaan dirinya. Tapi tak bisa dipungkiri Auristella memang bisa melihat bagaimana Daddynya selama ini pada Lovi. Kelihatan sekali kalau Devan memiliki cinta yang sangat besar untuk Lovi. Seperti apa yang dikatakan Lovi tadi, Devan tidak mau lepas darinya.


"Sudah ditakdirkan oleh Tuhan, Mom. Makanya Daddy tidak bisa kepas dari Mommy karena Mommy itu wanitanya Daddy,"


Kali ini Lovi yang tertawa. Dan pipinya merona. Bisa-bisanya Auristella bicara seperti itu yang membuat Ia tersipu dan hatinya menghangat.


"Ah kamu jangan bicara begitu. Mommy jadi malu,"


Lovi fokus menyetir dan Ia menggunakan satu tangan lainnya untuk menggelitiki pinggang anaknya dengan telunjuk.


"Mommy, jangan begitu,"


"Iya, makanya jangan membuat Mommy malu,"


Lovi hanya sebentar melakukannya sebab Ia tengah menyetir. Meskipun Ia tetap bisa fokus mengendarai mobil.

__ADS_1


__ADS_2