Nillaku

Nillaku
Nillaku 234 Jhico menjahili anaknya


__ADS_3

Grizelle meletakkan ponsel sang ayah di nakas ketika mendengar pintu ruangannya yang ingin dibuka dari luar namun tak bisa karena dikunci oleh Jhico ketika Vanilla pulang sebentar ke rumah.


Jhico terbangun ketika sisi sampingnya terdapat gerakan. Rupanya Grizelle duduk.


"Pupu, sepeltinya (sepertinya) Mumu datang,"


Jhico segera berdiri kemudian melangkah menuju pintu untuk membukanya.


Benar, kini Vanilla ada di hadapannya dengan satu koper di sampingnya.


"Bagaimana Grizelle? tidak apa-apa 'kan saat aku tinggal?" tanya Vanilla cepat seraya memasuki ruangan anaknya tak sabar melihat Grizelle.


Jhico menutup pintu kemudian kembali ke tempatnya tadi. "Tenang, Griz baik-baik saja. Itu semua perlengkapan kamu sudah dibawa?"


"Iya, sudah,"


Grizelle menatap Mumunya dan koper bergantian. "Mumu nanti pelgi (pergi)nya hati-hati ya,"


"Iya, Sayang. Griz juga hati-hati, jangan nakal ya dengan Pupu,"


"Iya, Mumu. Aku janji tidak akan nakal. Aku kasihan dengan Pupu kalau aku nakal,"


Jhico tersenyum mendengar kalimat putrinya yang terdengar serius.


"Oh iya, Pupu, maaf tadi aku buka-buka pesan di ponsel Pupu. Telus (terus) aku tidak sengaja melihat pesan dali (dari) kakek,"


Grizelle menatap ayahnya dengan sorot takut. Apalagi melihat Jhico yang langsung memeriksa ponselnya.


"Pu..."


Grizelle tidak berani melanjutkan kalimatnya. Sementara Jhico langsung bernapas lega setelah membaca pesan dari ayahnya yang ternyata tidak berisi kalimat-kalimat yang bisa menyakiti perasaan Grizelle.


"Griz, jangan dibiasakan seperti itu ya. Tidak semua hal harus Griz tahu," tegur Vanilla dengan kalimat yang sudah Ia susun agar tidak membuat Grizelle sedih.


Ia takut suaminya merasa bahwa privasinya terganggu. Grizelle memang sudah salah kali ini dan sudah seharusnya ditegur. Walaupun Vanilla tahu isi dari ponsel suaminya tidak ada yang berbahaya untuk Grizelle, tapi biar bagaimana pun Jhico punya privasi.


"Iya, maaf, Mumu. Tapi aku penasalan (penasaran) dengan isi pesan Kakek, maka aku buka tanpa sepengetahuan Pupu yang tadi tidul (tidur),"


Jhico memberi kode dengan istrinya agar tak memperpanjang hal itu.


"Pupu hanya takut saja Kakek mengirim pesan yang bisa membuatmu sedih lagi, Griz,"


Hanya itu yang tidak diinginkan Jhico. Masalah privasi, Ia tak peduli. Tapi mengenai perasaan anaknya, Ia tak akan tinggal diam.


"Pupu kenapa tidak buka pesannya? tadi aku yang buka,"


"Iya, Pupu belum sempat,"


Padahal bukan seperti itu alasan sesungguhnya. Jhico tak ingin membaca pesan ayahnya kareka Ia pikir sudah cukup perbincangan mereka di telepon kemarin. Untuk apa lagi Papanya mengirimi pesan? pikir Jhico, mungkin Thanatan hanya ingin meluapkan kekesalannya karena panggilan mereka kemarin diputuskan secara sepihak oleh Jhico.

__ADS_1


"Padahal Kakek 'kan hanya ingin minta maaf,"


"Griz maafkan Kakek tidak?"


"Tentu saja. Kakek olang (orang) baik, jadi halus (harus) dimaafkan,"


Vanilla tersenyum mendengar kalimat anaknya yang tak hanya mulut saja yang bicara, tapi matanya juga berkata kejujuran. Ia benar-benar menganggap kakeknya baik.


******


"Icelle tingal penyembuhan radangnya lagi ya,"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi ya, Dokter? Hb nya sudah normal?" tanya Vanilla.


"Sudah, jangan mengonsumsi makan atau minum yang bisa memicu radang ya, Icelle. Sekarang saja radang itu belum sepenuhnya sembuh. Masih sedikit terasa sakit 'kan?"


Grizelle mengangguk seraya menjawab pertanyaan Dokter," Iya, Doktel (Dokter),"


"Okay, Icelle tidak boleh pulang dulu ya. Kita lihat sampai besok," Ujar Drey pada Jhico.


Usai memeriksa dan menjelaskan bagaimana kondisi Grizelle, Dokter keluar.


Jhico menatap putrinya yang kini tidak terlihat terlalu lemas lagi seperti sebelumnya. Bibirnya tidak pucat lagi, mata Grizelle pun tak sayu lagi ketika memandangnya. Jhico senang anak itu sudah bisa dikatakan sembuh.


"Jadi, Bagaimana, Mu? Apa Mumu jadi pelgi (pergi) ke Dubai?" Sejak tadi Grizelle pun penasaran dengan hasil pemeriksaan Dokter karena Ia ingin secepatnya mendengar apa keputusan Ibunya.


"Bagaimana, Pu?" tanya Vanilla pada suaminya.


"Sudah, Mumu pelgi (pergi) saja. Jadi nanti saat aku pulang ke lumah (rumah), Mumu sudah tenang karena pekeljaan (pekerjaan)nya sudah selesai,"


Grizelle yang sebelumnya terlihat sulit sekali melepas Mumunya, kini sudah tampak rela. Mungkin karena kondisi tubuhnya juga sudah membaik jadi tidak menuntut Vanilla untuk selalu berada di dekatnya setiap saat.


"Kalau Mumu pergi, Griz benar-benar tidak keberatan?"


"Tidak, Mumu 'kan pelgi (pergi) untuk bekelja (bekerja). Kecuali Mumu pelgi (pergi) untuk libulan (liburan), balulah (barulah) aku kebelatan (keberatan) kalena Mumu tidak ajak aku,"


"Kamu benar tidak akan sedih Mumu tinggal?"


"Sedih, Mu. Tapi tidak boleh sedih telus (terus), bial (Biar) Mumu kelja(kerja) nya tenang,"


Vanilla merasa terharu dengan anaknya yang begitu pengertian ini. Ia benar-benar beruntung dianugrahi berlian dalam rengkuhannya ini.


"Tapi Mumu halus (harus) janji pulang dalam keadaan sehat. Okay, Mu?"


Vanilla tersenyum mengecup kening anaknya berkali-kali. "Iya, Mumu harus pulang dalam keadaan sehat karena sudah ada yang menunggu kedatangan Mumu,"


"Aku," sahut Grizelle seraya menunjuk dirinya sendiri. Jhico yang sedari tadi diam, menyaksikan interaksi kedua belahan jiwanya akhirnya bergabung dalam pembicaraan.


"Kalau Griz nakal, nanti Pupu menyusul Mumu,"

__ADS_1


"Aku tidak pelnah (pernah) nakal,"


"Oh yang benal (benar)?" Jhico sengaja menggoda anaknya dengan berpura-pura tak bisa bicara R yang jelas. Sontak saja hal itu membuat Grizelle merengek.


"Aaa Pupu tidak boleh begitu. Aku 'kan memang tidak bisa,"


"Bukan tidak bisa, Grizelle masih kecil jadi wajar,"


"Lalu kenapa Pupu mengejekku?"


"Pupu suka saja melihat wajah kesalmu,"


Jhico terlampau gemas hingga Ia menekan kedua pipi Grizelle hingga mulut Grizelle maju. Ia menyatukan hidungnya dan sang putri. Kemudian mengapit hidung kecil Grizelle dengan kedua bibirnya yang disatukan.


Vanilla yang melihat anaknya berontak langsung memukul bahu suaminya.


"Jangan begitu. Kenapa jahil, Jhi? anakmu lagi sakit,"


"Gemas,"


Grizelle merengut menatap ayahnya yang kini tertawa puas di sofa sembari menatapnya.


"Huh, Pupu aku tinggal ke Dubai nanti ya. Bial (biar) Pupu sendilian (sendirian)!"


"Memang Griz bisa pergi tanpa Pupu? ah Pupu tidak yakin,"


"Nanti Aku cali (cari) Pupu balu (baru) ya!" ancamnya dengan wajah yang dibuat segalak mungkin. Malah terlihat lucu dimata Jhico dan Jhico tahu anaknya sedang mengajaknya bercanda.


Vanilla terbahak mendengar ucapan anaknya. Tak pernah Grizelle menggoda Jhico dengan kalimat seperti itu. Jhico memasang wajah menantang.


"Oh Pupu juga bisa cari anak perempuan yang lain, yang bisa jadi Princess kecilnya Pupu," Jhico tak ingin kepanasan sendiri. Ia turut membuat anaknya kesal.


Baru dibecandai seperti itu saja, Grizelle terlihat kesal, sedih dan tak terima. Bibirnya melengkung ke bawah, matanya berkaca.


"Ah Pupu akan cari anak baru," Jhico mengulangi ucapannya kali ini dengan sorak pelannya.


Pecah sudah tangis Grizelle. Ia tak ingin ayahnya cari anak yang lain dan menjadikan dia sebagai princess kecil.


Hanya Ia saja yang berhak menjadi Princess kecil Jhico, Pupunya! tidak boleh yang lain.


Vanilla menggeram kemudian menghampiri Jhico untuk memberinya pelajaran dengan mencubit pinggang Jhico hingga lelaki itu meringis.


"Jangan bicara begitu. Griz jadi menangis karena kamu,"


Jhico mengusap alisnya dan merasa bersalah. Ia segera menatap anaknya yang kini memeluk Vanilla kemudian membuang wajah tak ingin menatap dirinya.


"Aduh, Griz merajuk,"


----

__ADS_1


Hayoloo sama-sama mau cari yg baru. Griz kl baper lucu yaa😂😂aku up byk tp like, komen, dan vote nya jgn dikit ya :) dukungan kalian itu obat capek nya aku😊makasih bwt yg udh baik bgt kasi dukungan untk karyaku🙏


__ADS_2