
Grizelle melepas kostum khusus yang digunakan selama masuk ke dalam ruang pengolahan susu.
Ia sudah selesai berkeliling. Mulai dari melihat sapi di perah sampai susunya diolah menjadi susu kemasan dan juga makan atau minum berbahan dasar susu seperti cokelat, lolipop, yoghurt, keju, sampai ice cream.
Grizelle sama dengan cucu-cucu teman Karina yang lain. Mereka semua membawa satu ice bag yang isinya berbagai macam olahan susu itu. Tak hanya cucu, tapi kakek atau nenek mereka juga.
Grizelle senang sekali ketika menerimanya. Ia akan menjadikan itu sebagai buah tangan untuk orang-orang di rumahnya.
"Ini buat Griz saja. Nay-Nay tidak mau,"
Karina menyerahkan ice bag miliknya pada Grizelle. Isinya juga sama. Setiap yang datang sudah mendapat bagian satu-satu kalau ingin menambah, harus ada biaya tambahan juga.
"Jangan, Nay-Nay. Itu bisa buat Kakek. Masa Nay-Nay pulang tidak bawa apapun?"
"Ah Kakek sudah tua, tidak suka cokelat, ice cream, dan lolipop. Nanti giginya rontok,"
Grizelle terbahak mendengarnya. Padahal kalau Ia lihat semua gigi Kakeknya baik-baik saja tidak ada yang nasibnya kemungkinan akan rontok bila menyantap makan dan minuman itu.
"Nay-Nay tidak boleh begitu. Gigi kakek masih kuat,"
"Tidak usah, biar buat Griz saja,"
"Tidak mau, ini saja sudah cukup untukku," ucapnya seraya mengangkat ice bag dalam pegangan nya.
"Ini isinya banyak, sudah cukup, Nay-Nay,"
Ia menolak lagi. Miliknya sudah cukup, Ia tak ingin menerima pemberian neneknya. Padahal memang Karina dan Thanatan jarang sekali menyantap makanan sejenis itu. Mereka sudah cukup berusia senja dan Thanatan juga memiliki riwayat penyakit gula darah.
"Ya sudah, nanti Nay-Nay berikan pada orang yang bekerja di rumah. Mereka pasti suka. Nanti Nay-Nay bilang, dari cucu Nay-Nay yang baik ini,"
"Nay-Nay bohong. Itu bukan darrliku (dariku). Itu memang punya Nay-Nay,"
"Tapi sudah Nay-Nay berikan padamu dan kamu menolaknya,"
Usai mendapat pelajaran mengenai bagaimana industri susu berjalan, Karina dan seluruh temannya yang ikut pada liburan kali ini akhirnya berpisah menuju kediaman mereka masing-masing. Sudah ada rencana liburan selanjutnya. Grizelle yang mendengarnya antusias sekali dan Ia meminta pada Karina agar diajak lagi. Tentu Karina tak keberatan. Asal kondisi tubuh sehat, mereka bisa berlibur kapan saja.
"Bye, semuanya. Nanti kita berrltemu (bertemu) lagi ya,"
Sebelum benar-benar berpisah, Grizelle melambai pada kelima cucu teman-teman Karina. Grace, Daviska, Novel, Shein, dan Theresita.
"Bye, Grizelle. Sampai jumpa nanti ya,"
"Iya, kalian sehat terrlus (terus) ya biarrl (biar) nanti kita bisa berrliburl (berlibur) lagi,"
"Iya, bye-bye,"
Sampai akhirnya mereka berpisah memasuki mobil masing-masing.
Grizelle menghentak punggungnya ke kursi. "Akhirlnya (akhirnya) aku akan pulang berltemu (bertemu) Mumu dan Pupu," Grizelle bersorak senang. Membayangkan akan bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Senang ya, Sayang?"
__ADS_1
"Iya, senang. Aku sudah rrlindu (rindu) dengan Mumu dan Pupu padahal hanya seharrli berlpisah (sehari berpisah),"
"Iya, tapi senang 'kan berlibur dengan Nay-Nay?"
"Senang sekali. Makanya aku minta diajak lagi nanti. Dan semoga Kakek mau ikut,"
****
"Hah? sudah pulang? tidak biasanya,"
Karina terkejut saat mendapati suaminya yang sudah menjadi penghuni kamar mereka padahal hari masih sore. Tak biasanya Thanatan sudah pulang.
Thanatan hanya melirik sekilas tanpa membalas ucapan istrinya. Karina tersenyum padanya kemudian menaik turunkan alisnya.
"Kamu tahu hari ini aku akan pulang makanya pulang cepat ya? kamu merindukan aku?"
Thanatan mendengus geli mendengar kalimat penuh percaya diri yang dilontarkan sang istri.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku pulang cepat karena memang semua pekerjaan di kantor sudah selesai,"
"Ah masa? itu kenapa masih menatap laptop?" tanya Karina yang masih berniat untuk menggoda suaminya hingga benar-benar kesal.
"Melihat pekerjaan untuk besok," pungkas Thanatan.
Melihat mata istrinya yang memicing ke arahnya, Ia berdecak. "Jangan terlalu percaya diri. Ketika jawabanku tidak sesuai, kamu sendiri yang kesal,"
"Hih? siapa yang kesal? aku biasa saja. Justru aku bahagia habis beribur dengan Griz,"
"Oh iya, di freezer ada ice cream, cokelat, lolipop, dan yoghurt dari Grizelle untuk kamu dan orang-orang di rumah ini yang mau.Tapi aku katakan, bahwa kamu sudah tua tidak bisa mengonsumsi itu semua dan Griz tetap memberikannya untukmu,"
Alis Thanatan terangkat. "Memang aku anak kecil," gumamnya.
"Hargai bisa tidak?" tanya Karina kesal menatap tajam pada suaminya yang Ia anggap tak bisa sedikitpun menghargai kebaikan Grizelle. Kurang apalagi anak itu? meskipun Ia sudah katakan bahwa Thanatan tak bisa menikmati semua itu, Ia tetap meminta Karina agar dibawa pulang saja karena pikirnya barangkali Thanatan mau.
"Nanti aku makan,"
"Tidak usah juga tidak apa. Aku tidak akan memaksa, dan Griz juga tidak memaksa. Dia hanya ingin berbaik hati saja kalaupun kamu tidak menerima, tidak masalah,"
Karina beranjak menuju kamar mandi untuk berendam, meninggalkan Thanatan yang mendengus.
Karina pulang malah mengajaknya berdebat dan lagi-lagi Grizelle yang menjadi topik mereka tadi.
Benar-benar sebesar itu pengaruh Grizelle terhadap nenek dan kakeknya. Karina ingin selalu memastikan suaminya tak membuat hati Grizelle terluka.
Thanatan turun ke lantai bawah. Ia segera menghampiri freezer dan mencari apa yang dikatakan istrinya tadi.
Setelah dapat, Ia menatap sebentar ice cream yang ada dalam genggamannya.
"Padahal dia suka sekali dengan minuman sejenis ini. Kenapa malah memberikannya padaku?"
Setahunya, Grizelle menyukai ice cream dan sekarang Ia rela berbagi untuknya. Bahkan jumlahnya pun terbilang banyak.
__ADS_1
Thanatan menggeleng pelan. Ini sebenarnya aneh. Tapi Ia tak menampik bahwa ada rasa haru kala mengingat bagaimana sikap Grizelle selama ini terhadapnya. Ia selalu diingat oleh Grizelle padahal Ia sendiri bila pergi ke suatu tempat belum tentu ada keiginan untuk membawakan Grizelle sesuatu.
****
"Mumu bagi-bagi ya,"
Grizelle mengangguk antusias melihat Vanilla membuka ice bag yang Ia bawa.
"Buat Pupu jangan lupa. Pupu sedang bekerrlja (bekerja)," pesannya pada sang Ibu agar tak melupakan bagian Jhico walaupun ayahnya itu tengah bekerja.
"Buat Griz sedikit saja. Ice cream satu, lolip---"
"Hah? kenapa cuma satu, Mu? tidak dua saja? atau tiga?"
Alis Vanilla menukik mendengar protesan anaknya. Tidak mau hanya diberikan satu ice cream. Maunya dua atau tiga. Vanilla yakin sekalipun Ia berikan empat atau lima, Grizelle tak mungkin menolak.
"Ini ice cream nya lezat, Mu. Darrli (dari) susu sapi asli. Aku mau yang lumayan banyak," pintanya seraya tersenyum lebar.
"Satu,"
"Haaa Mumu. Aku mau dua kalau begitu. Masa cuma satu?"
Nada tak bisa menahan tawanya melihat Grizelle yang mendebat karena merasa ice cream miliknya kurang.
"Buat Nada, Bibi, dan driver-driver kita bagaimana? nanti tidak cukup,"
"Masih banyak, Mumu,"
Grizelle mengambil alih ice bag kemudian menghitungnya dengan cepat. Ice cream ada dua puluh, lolipop lima belas, cokelat dua puluh, dan yoghurt lima belas.
"Banyak, pasti cukup. Jadi aku minta dua," mohonnya agar Vanilla berubah pikiran.
Vanilla mengangguk tak tega, "Baiklah. Mumu beri tiga ice cream untuk Griz,"
Grizelle bersorak senang. "Tapi---" ternyata Mumunya belum selesai bicara. Mendegar kata 'tapi' mendadak wajahnya mendung.
"Cokelat dan yang lainnya tidak usah ya,"
"Huwaaa aku mau juga,"
Grizelle merengek tidak terima mendengar keputusan Vanilla. Ia bahkan menghentak-hentak kakinya ke lantai. Masalah ice cream tidak ada toleransi baginya.
"Iya, Mumu beri tiga ice cream untuk Griz. Dua cokelat, youghurt, dan lolipop. Bagaimana?"
"Okay, tidak apa. Itu sudah cukup bagiku. Yeaayy terrlimakasih (terimakasih) Mumu,"
Usai mengutamakan princess kecil dalam rumah itu. Vanilla juga membagi-bagikan buah tangan dari anaknya itu pada penghuni rumah yang selama ini membantu mereka.
----
Icelle debat lg masalah ice cream. Mirip aku bgt nih😂😂 gk mau kl cuma dikit wkwk. Aku post part ini jam 09.33 Kalian bacanya jam brp?
__ADS_1