Nillaku

Nillaku
Nillaku 346 Berenang bersama kakek


__ADS_3

Usai Triple A kembali je rumah mereka, Grizelle izin pada kakek dan Nay-Nay nya untuk berenang.


"Iya, boleh. Kolam renangnya jarang sekali di pakai. Dibersihkan tapi jarang dipakai jadi percuma,"


"Yeayy berrlenang (berenang),"


Grizelle melepas seragam sekolahnya yang masih melekat di badan bahkan sampai triple A pulang. Seperti biasa, mereka akan sibuk bermain kalau sudah bertemu. Ketika diminta untuk ganti baju dulu oleh Karina, Grizelle menggeleng.


"Setelah itu badannya dibilas ya, Sayang,"


"Iya, memang dibilas, Nay-Nay. Nanti aku jadi gatal,"


Karina tersenyum mengangguk. Grizelle sudah mengenakan pakaian rumahannya sebab Ia tak membawa baju renangnya ke sini. Tak terpikirkan bahwa Ia akan berenang.


"Kakek temani,"


"Hah? yang benarrl (benar) saja Kakek? belum sembuh sudah mau berrlenang (berenang),"


"Memang kenapa?"


"Tidak boleh, nanti sakit lagi. Aku bisa berrlenang sendirrli (berenang sendiri),"


Tak dipungkiri Grizelle senang ketika Kakeknya menawarkan diri untuk menemaninya berenang karena hal itu sangat jarang terjadi. Biasanya sekalipun Ia minta ditemani, Thanatan akan menolak. Sekalinya menuruti, tentu tidak sepenuh hati, dan tuidak seperti Raihan ketika berenang bersama Grizelle dimana Raihan benar-benar tak melepas pandangan dari Grizelle, selalu menjaga Grizelle. Bagusnya, Grizelle tak pernah mau membandingkan. Ia nyaman di kedua keluarga. Dan Ia menyayangi semuanya.


"Jangan, demam baru turun,"


"Aku bisa,"


"Ya memang bisa! siapa bilang kamu tidak bisa berenang. Tapi kamu masih belum sembuh senuhnya"


Karina kelewat kesal dengan Thanatan yang selalu mengatakan 'aku bisa'. Ia tahu kalau Suaminya itu bisa, tapi Ia melarang untuk kebaikannya. Sesulit itu mendengarkan ucapan dirinya?


"Iya, Kakek. Nanti Kakek sakit lagi,"


"Tidak akan. Lagipula daripada aku tidak ada kegiatan, lebih baik aku berenang,"


Karina menutup pintu kamar dengan gerak sedikit kasar. Sebelumnya Ia mengatakan, "Terserah padamu."


Grizelle menatap kakeknya lama. "Nay-Nay marrlah (marah) padaku ya,"


Thanatan berdesis, Ia menggeleng pelan. Ia mengusap rambut Grizelle yang kelihatan sekali langsung kehilangan semangatnya untuk berenang.


"Bukan dengan kamu. Tapi marah pada Kakek,"

__ADS_1


"Lagipula Kakek tidak mau dengarrl (dengar) apa kata Nay-Nay. Jadi Nay-Nay marrlah (marah),"


Jadi begini rasanya disalahkan sekaligus oleh Istri dan cucunya?


Thanatan menghmbuskan napas pelan.


"Kakek akan sehat kalau olahraga, Griz. Berenang itu saah satu olahraga"


"Iya, aku tahu, Kakek. Tapi sekarrlang (sekarang) Kakek belum sembuh, jadi--"


"Sudah, tidak ada demam lagi, tidak sakit kepala lagi," Thanatan membantah tegas. Grizelle segera membungkam mulutnya. Ia pun kesal dengan Thanatan yang sulit sekali diberitahu.


Grizelle akhirnya pergi dari kamar kakek dan neneknya, meninggalkan Thanatan seorang diri.


"Mereka kenapa sih? marah bersamaan begitu," Thanatan bertanya-tanya sendiri. Keduanya sekarang marah, Ia tahu. Tapi ia tidak peduli. Ia sudah merasa lebih baik. Maka akan tetap berenang di kolam renang rumahnya yang airnya akan otomatis hangat kalau suhu sedang dingin.


Grizelle menghampiri Neneknya yang ternyata di tepi kolam renang. "Nay-Nay, marrlah (marah) dengan aku ya?"


Grizelle berdiri di hadapan Karina yang duduk di kursi. Jarina menggeleng cepat. "Bukan, Nay-Nay hanya kesal saja dengan Kakek. Dia tidak pernah mau mengerti tentang kesehatannya sendiri. Nay-Nay lelah memberi tahunya. Nanti kalau Nay-Nay tidak beri tahu, Nay-Nay salah,"


Grizelle mengambil sedikit rambut Neneknya yang terjuntai bebas kemudian Ia melilitnya. Ia mendengarkan omongan Karina seraya memainkan rambut Karina. Bagaimana Karina tidak gemas?


"Griz berenang sekarang. Nay-Nay menunggu Griz di sini,"


"Tidak, Sayang. Nay-Nay lihat dari sini saja ya? tidak apa 'kan?"


"Iya, tidak masalah,"


"Itu pangamannya sudah disiapkan,"


Saat datang ke sana tadi Karina langsung mengambil pengaman untuk cucunya berenang yang bisa melingkari pinggang Grizelle.


"Tidak usah pakai itu. Aku sudah bisa berrlenang senddlirli (berenang sendiri). Waktu itu aku loma dengan teman-teman saat berlriburl (brlibur) dengan Nay-Nay,"


"Oh iya, Griz sudah hebat berenangnya bahkan sampai menjadi pemenangnya waktu itu,"


Karina hampir lupa betapa lihai scucunya sekarang dalam berenang. Terbukti ketika berenang bersama cucu-cucu dari para temannya. Mereka berlomba dan Grizelle sempat jadi pemenangnya.


Grizelle menyentuh airnya dulu dengan tangan dan kaki untuk menyesuaikan dan ia tidak kaget ketika masuk sepenuhnya ke dalam air.


Ia juga melakukan peregangan ringan sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalam air.


Thanatan datang dan langsung duduk di samping Karina. "Tidak jadi berenang?"

__ADS_1


"Memang boleh?"


"Sejak kapan kamu mau mendengarkan aku? bukankah kamu keras kepala ya," sindir Karina dengan telak yang membuat Thanatan tersenyum tipis.


Lelaki itu berdiri dan melepas stelan baju santainya. Menyisakan celana pendek sebatas lutut dan juga t-shirt hitam polos. Dia benar-benar akan berenang dengan Grizelle.


"Berhubung kamu tidak masalah kalau aku berenang, maka aku akan berenang,"


"Iya, silahkan. Tapi kalau sakit lagi, aku tidak mau mengurusmu,"


"Oh ya?"


Thanatan menatap Karina dengan sorot tidak yakin. Apa benar Karina tidak mau mengurusnya? Ia tahu betul Karina hanya mengancam sesaat. Karina menyayanginya dan sudah jauh lebi-lebih perhatian padanya daripada dulu. Karina berhasil merubah dirinya menjadi lebih baik lagi, sebagai ibu maupun istri. Dulu ia kurang memperhatikan Jhico, sekarang justru rajin sekali menanyakan kabr Jhici sekalipun hanya melalui pesan singkat. Jhico dan Thanatan sudah merasakan perubahan yang besar dari diri Karina. Sementara dari Thanatan sendiri, Jhico merasa ayahnya masih sama saja. Walaupun memang sejak terakhir kali mereka berdebat, ayahnya tak pernah lagi mengajaknya berdebat. Tapi Jhico merasa Ia dan ayahnya memang masih dingin dan kaku. Tapi setidaknya sudah ada kemajuan karena Grizelle yang tanpa sadar membuat mereka kian erat, dan malu untuk berdebat sejak dimana Grizelle menyaksikan mereka adu mulut.


Dan lagipula tak ada hal yang mereka perdebatkan lagi untuk saat ini. Grizelle membuat susana menjadi tenang dan damai.


"Ya ampun, Kakek benarrl-benarrl (benar-benar) berlenang (berenang),"


Grizelle terkejut mendapati Kakeknya sudah berada di kolam berenang juga bersamanya.


"Ya, Kakek tidak ingin kalah darimu,"


"Oh Kakek mengajakku lomba?"


Thanatan mendengkus melihat gaya Grizelle yang kini memasang wajah menantangnya seraya bersedekap dada.


Grizelle tertawa setelahnya da ia cepat-cepat meminta maaf pada Thanatan.


"Aku berrlcanda (bercanda), Kakek,"


"Bagi Kakek kalau sudah ditantang, mka tidak ada kata bercanda,"


"Haaaa Kakek marrlah (marah) padaku ya?" Grizelle merengek panik kalau Kakeknya mrah akibat Ia yang menantang tadi tapi sebenarnya Ia tidak serius. Hanya memasang gaya saja. Ia sering melihat Adrian seperti itu pada Auristella. Menurutnya itu keren, maka Ia ikuti.


"Aduh, aku tidak boleh menyamakan Kakek dengan Aurrlis yang bisa ditantang Ian,"


Ia menepuk dahinya pelan. Ia sudah salah sasaran. Lupa kalau yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang selalu serius dalam menjalani hidup. Susah sekali diajak bercanda.


"Ayo, kita adu kecepatan. Siapa yang lebih dulu sampai di ujung sana, maka dia pemenangnya,"


"Hmm...okay,"


Tak ada salahnya Grizelle menyetujui itu. Barangkali Ia bisa menang. Walaupun ia tahu bahwa sulit sekali pasti mengalahkan Thanatan yang kemampuannya selalu diatas rata-rata dalam hal apapun itu, Grizelle tahu bahwa semua keluarganya hebat.

__ADS_1


__ADS_2