Nillaku

Nillaku
Nillaku 183 (Tiga tahun kemudian)


__ADS_3

Grizelle yang berusia tiga tahun baru pulang dari sekolah nya. Anak perempuan Jhico dan Vanilla itu turun dari mobil bersama sang ayah yang menggendongnya. Mereka berdua memasuki klinik milik Jhico.


"Hallo, Cantik."


Kenzo menyapa Grizelle yang hari ini tampil cantik menggemaskan seperti biasa. Mengenakan seragam sekolah, Rambutnya diikat menjadi dua bagian dan menggunakan bandana juga.


"Kenapa pakai kacamata?" tanya Kenzo pada Grizelle.


"Tidak mau menatap Uncle yang menyebalkan secala (secara) langsung," ujar Grizelle yang masih sulit mengucapkan kata yang ada huruf R nya.


"Hahahaha,"


Kenzo tertawa mendengar kalimat gadis kecil itu. Grizelle memang menggunakan kacamata nya yang berlensa merah muda.


"Lepas kacamata mu, Griz." ujar sang ayah.


Jhico membawa anaknya masuk ke dalam ruangannya. Lalu Ia menurunkan Grizelle dari gendongannya. "No, memang kenapa kalau aku menggunakan ini, Pu? aku telihat semakin menggemaskan ya?"


Jhico menggeram gemas sembari mengacak pelan rambut anaknya. "Oh my god, Pupu melusak (merusak) hasil kelja (kerja) Mumu,"


"Kamu bukan bayi lagi ternyata ya. Semakin banyak bicara,"


"Bukan, aku sudah besal (besar),"


Grizelle berpose dengan kedua tangan di pinggang nya. Hal itu membuat Jhico terkekeh.


"Mau mengikuti jejak Mumu menjadi model?"


"Hmm aku tidak secantik Mumu,"


Jhico mengusap rambut Grizelle yang setiap saat selalu lembut, berkat semua perawatan yang diberikan Vanilla sejak Ia masih bayi dan mulai tumbuh rambut.


"Kamu dan Mumu sama saja. Kamu versi mini dari Mumu. Itu yang selalu Mumu katakan,"


"Aku boleh menjadi model?"


"Boleh, Sayang. Selagi itu membuat kamu bahagia,"


Drrrrt


Drrrt


Jhico meraih ponsel di saku celana nya. Ia tersenyum membaca nama orang yang saat ini menelponnya.


"Mumu telepon,"


"Hah akhilnya (akhirnya) Mumu ingat aku. Kalau sudah bekelja, Mumu seling (sering) lupa denganku,"


"No, Kata siapa? kami selalu mengingat mu,"


Grizelle menghembuskan napasnya. Ia meletakkan ransel kecilnya di atas sofa sementara Jhico menerima panggilan dari Vanilla.


"Hallo, Jhi. Dimana Griz? kamu sudah menjemputnya?"


"Sudah, kamu ingin bicara?"


"Iya, aku ingin bertanya bagaimana kegiatannya hari ini,"


Jhico memberikan ponselnya pada Grizelle. Grizelle tersenyum menerima nya. Ia selalu menunggu Vanilla dan Jhico mengajaknya bicara disela kesibukan mereka, bertanya bagaimana kabar nya dan apa saja yang Ia lakukan seharian ini.


"Hallo, Mu."


"Hallo, Sayang. Tadi di sekolah pintar 'kan?"


"Tentu saja, aku tidak ingin membuat Mumu sedih,"


"How sweet,"


"I Love you, Mu."


Hati Vanilla terasa menghangat ketika mendengar itu. Grizelle selalu mengungkapkan cinta untuknya, tidak pernah bosan. Bahkan saat ingin tidur pun, Grizelle tak pernah lupa mengatakan bahwa Vanilla adalah salah satu dari dua orang yang sangat-sangat Ia cintai di dunia ini, selain Pupunya.


"I love you too, Grizelle."

__ADS_1


"Mumu sedang apa?"


"Baru selesai mengganti kostum untuk sesi pemotretan ketiga,"


"Hmmm okay, semangat."


"Terimakasih, nanti kalian menjemput Mumu ya?"


"Ya, itu pasti. Dan besok gantian, aku akan menemani Mumu bekelja (bekerja),"


"Iya, Sayang. Tapi jangan merengek meminta pulang ya. Pekerjaan Pupu dan Mumu berbeda. Pupu bekerja di tempatnya sendiri. Kalau Mumu, bekerja pada orang lain,"


Grizelle mengangguk meskipun Vanilla tidak melihatnya. Sekarang Ia mendengarkan dengan baik pesan dari Vanilla. Besok, Ia tetap saja merengek tidak betah bila menemani Mumu nya bekerja.


"Tapi besok Mumu tidak ada pemotretan. Hanya menghadiri fashion show saja,"


"Hah benalkah? (benarkah) yeayy aku senang mendengalnya (mendengarnya) Aku bisa melihat wanita-wanita tinggi dan cantik nanti,"


"Di rumah, Griz sudah melihat wanita tinggi dan cantik," sahut Jhico. Grizelle menepuk keningnya.


"Aku lupa kalau Mumu juga cantik dan tinggi, sepelti (seperti) model-model itu. Supaya cantik dan tinggi halus (harus) menjadi model ya, Mu?"


Vanilla terkekeh mendengar pertanyaan putrinya. Terlihat sekali kalau Grizelle mulai tertarik untuk mengikuti jejaknya. Tidak hanya sekali dua kali saja Ia bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dirinya.


"Tidak, Sayang. Cantik dan tinggi itu pemberian Tuhan. Dan model adalah salah satu pekerjaan yang sangat---"


"Vanilla, set sudah siap. Ayo, kita mulai,"


"Oh iya, okay."


Wajah Grizelle berubah murung ketika Mumunya yang sedang bicara diminta untuk segera bersiap di depan kamera.


"Griz, Mumu bekerja dulu ya,"


"Okay, Mu. Semangat ya, jangan lelah-lelah karena bekelja (bekerja) itu bukan tugas Mumu sebenalnya (sebenalnya), ada Pupu yang bisa melakukan itu. Tapi sayangnya, Mumu tidak mau diam saja di lumah (rumah) bersama ak---"


klik


Panggilan berakhir begitu saja. Grizelle menatap ponsel Jhico dengan bibir melengkung ke bawah. Ia senang dengan pekerjaan Mumu nya tapi akan berubah tidak senang bila Vanilla sudah sibuk.


Lelaki itu segera memeluk malaikat kecilnya. "Pupu tidak bisa memaksa, Sayang. Mumu berhak memilih. Tapi Mumu tetap menyayangimu. Tidak setiap saat Mumu sibuk. Benar 'kan?"


"Iya, tapi aku ingin Mumu sepelti (seperti) Aunty Lovi yang bisa kapan saja bekelja, tidak telikat (terikat) dengan ini dan itu,"


"Aunty Lovi memiliki butik sendiri,"


"Ya sudah, Pupu buatkan Mumu butik juga,"


"Bukan itu bidang Mumu,"


"Pupu bisa membuat apapun untuk Mumu selain butik. Bisa 'kan? bisa lah, Pupu banyak uang,"


Grizelle memeluk Jhico erat-erat. Jhico menghembuskan napas pelan. Ia merasa tidak tega melihat anaknya sedih seperti ini ketika Vanilla sibuk. Jhico tahu, Grizelle merasa kalah dengan pekerjaan Vanilla.


*******


Jhico dan Grizelle menjemput Vanilla di studio pemotretan nya hari ini. Grizelle keluar dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam hingga orang-orang di studio itu menggeram gemas ketika melihatnya.


Vanilla terpekik senang melihat anaknya yang sudah datang. Tinggal sekali lagi Ia difoto setelah itu Ia bisa pulang.


"Mumu, belum selesai?"


"Belum, Sayang. Sebentar lagi ya,"


"Okay, aku tunggu."


Jhico mengangguk saat Ia disapa oleh tim yang bekerja bersama Vanilla. Kemudian Ia meminta anaknya untuk jangan mengganggu Vanilla.


Grizelle masuk ke dalam set foto, seolah Ia juga modelnya. "Griz tunggu di sini saja bersama Pupu,"


"Iya, Pu."


Tanpa membantah, Ia duduk di samping Jhico, memperhatikan Vanilla yang masih bekerja. Ada rasa bangga di hati Grizelle melihat betapa mandiri nya Vanilla. Mumu nya selalu terlihat sempurna dalam melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Griz, habis dari sekolah langsung ke sini?" tanya Joana menghampiri anak dari sahabatnya itu.


"Setelah pulang sekolah, ke klinik Pupu dulu, Aunty Jo,"


"Oh begitu. Pintar sekali sih membuat Mumu bahagia. Mumu senang saat kamu ikut Pupu untuk menjemputnya,"


Hari ini kebetulan Grizelle pulang sekolah dijemput oleh Jhico, dan Grizelle meminta untuk datang ke klinik tidak ingin di rumah, Saat Jhico akan menjemput Vanilla, Grizelle pun ingin ikut juga.


"Griz sudah makan? Aunty punya cokelat,"


Joana memberikan dua buah cokelat berbentuk hati pada Grizelle. Anak itu senang sekali ketika menerimanya.


"Telimakasih, Aunty. Bentuknya hati, ini benal (benar) untukku? apakah Aunty tidak ingin membelikannya (memberikannya) pada Uncle---"


"Tidak, itu untuk keponakan Aunty saja,"


"Woahhh telimakasih ya, Aunty."


Grizelle beralih pada Jhico yang sedang menatap layar ponselnya. Grizelle mengulurkan cokelat pada Pupu nya.


"Pu, tolong buka cokelat nya,"


Grizelle mengalihkan fokus Jhico yang sedang mengecek ponselnya. "Eh cokelat dari siapa ini?"


"Aduh, makanya Pupu jangan lihat ponsel telus. Cokelat itu dali (dari) Aunty Jo,"


Joana terkekeh ketika Grizelle menegur Pupu nya. Padahal sepertinya baru saja Jhico mengecek ponsel.


"Sudah mengatakan terimakasih?"


"Sudah, Pu."


******


Vanilla selesai mengirimkan surel pada Jhico berupa surat kontrak dari sebuah brand sepatu yang ingin menjadikan dirinya sebagai brand ambassador.


"Jhi, aku butuh persetujuanmu untuk menerima kontrak dari beauty shoes,"


Jhico menghembuskan napas pelan. Ia menatap Vanilla yang sedang duduk di depan cermin, menggunakan produk perawatan wajah.


Ini sudah malam, waktunya mereka beristirahat tapi Vanilla masih ingin membicarakan perihal pekerjaan.


"Nilla,"


Vanilla menoleh ke belakang untuk bertanya, "Kenapa?" setelah itu Ia kembali menghadap cermin.


Tap


Tap


Vanilla menepuk-nepukkan toner yang berada di kapas ke wajahnya. Ia membalas tatapan Jhico.


"Tadi Grizelle meminta aku untuk membuatkan kamu butik biar kamu tidak sibuk lagi,"


"Kamu tahu 'kan kalau itu bukan keinginanku,"


"Grizelle memintaku agar membuatkan usaha untukmu supaya kamu tidak terlalu sibuk, seperti Lovi yang memiliki butik,"


"Aku tidak mau, Jhico."


"Grizelle juga mengatakan, tidak harus butik. Mungkin kamu bisa terjun ke bidang lain. Nanti aku bantu,"


"Tidak, aku tidak mau,"


"Aku mendengar permintaan nya merasa sedih, Nilla. Dia begitu menginginkan perhatian---"


"Aku memperhatikan Grizelle. Aku tidak sibuk setiap saat. Aku juga tahu kalau aku ini seorang Ibu sekaligus istri,"


"Tapi Grizelle merasakan hal yang berbeda. Mungkin baginya, perhatian yang kamu berikan masih kurang. Tadi, saat kamu tiba-tiba saja mematikan telepon karena kamu harus kembali melanjutkan pekerjaan padahal kalian sedang berbicara, wajahnya langsung murung,"


ย -------


Ini langsung aku skip yaa. Jd usia Griz sekarang 3 thn. Konflik nya keliatan lg pas sekarang. Kemarin kan bahagia trs tuh wkwk.. Aku mau tanya, part ini ada yg rancu ga sih? kasih tau aku yakk

__ADS_1


Aku revisi, si Griz masih cadel R guyss tp aku nulisnya gk ada versi cadel biar gk ribet gt๐Ÿ˜‚ tp krn pd bingung knp umur 3thn bicaranya udh lancar, yaudah aku buat versi cadel nya yakk. Btw, aku punya sodara 3th lebih dikit, itu udh lancar bgt ngomong nya. Yaa pertumbuhan tiap anak kan beda yaa. Maaf kl aku salah. Malum aku blm punya anak, cuma ngandelin gugel๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


__ADS_2