Nillaku

Nillaku
Nillaku 131


__ADS_3

Hawra dan Karina datang menjenguk Grizelle. Mereka sangat terkejut begitu tahu bahwa Grizelle sedang dirawat di rumah sakit.


"Papa masih belum mau menemui Griz ya, Ma?"


Tiba-tiba saja Vanilla bertanya seperti itu. Ia mulai merasa sedih kembali karena lagi-lagi yang peduli dengan anaknya hanya Karina dan Hawra. Grizelle benar-benar tidak dianggap ada oleh Thanatan.


"Dia titip salam saja tadi,"


"Bohong," batin Vanilla menyahuti. Ia tahu mertua nya berbohong demi menjaga perasaannya. Rasanya tidak mungkin Thanatan sebaik itu pada anaknya.


Karina akui, Ia memang berbohong. Suaminya tidak acuh saat Ia pamit untuk ke rumah sakit menjenguk cucu mereka. Malah Ia pergi untuk bermain golf bersama ayah Karina, Arlan. Mereka berdua sama saja. Tidak ada yang memiliki inisiatif untuk turut memberi dukungan bagi Grizelle yang baru pertama kali menjalani rawat inap di rumah sakit.


Meskipun Jhico sudah katakan bahwa tidak usah peduli dengan sikap ayah dan kakeknya, tetap saja Vanilla ingin anaknya diterima seperti tiga keponakannya yang sangat diterima kehadirannya oleh orangtua Devan juga orangtua Lovi. Kapan Grizelle seperti Andrean, Adrian, dan Auristella yang sangat diperlakukan seperti raja dan ratu dalam keluarga, baik dari Daddy nya maupun Mommy nya.


"Aku ke kamar mandi dulu,"


Vanilla ingin menumpahkan kesedihannya di kamar mandi. Ia jadi sensitif setelah Grizelle sakit apalagi mengingat sikap keluarga suaminya terhadap Grizelle.


"Ada yang aneh dari Vanilla. Apa yang terjadi padanya? kamu berbuat kesalahan?"


Jhico menghembuskan napas pelan. Ia menggeleng namun Hawra menepuk bahunya dengan sorot mata tidak percaya.


"Apa yang kamu lakukan? dia seperti banyak beban pikiran. Kamu membantunya dalam mengurus Griz 'kan?"


"Iya, Nek."


"Lalu ada apa dengan Vanilla? dia tidak pernah lagi membahas sikap Papamu, sekarang malah sebaliknya."


Vanilla khawatir anaknya kehilangan kasih sayang dari Jhico. Dan sekarang Ia kembali dihantui dengan rasa khawatir bila sampai dewasa nanti Grizelle tidak pernah diterima oleh keluarga suaminya.


Jhico menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia juga bingung ingin menjawab neneknya seperti apa. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Vanilla kembali mempermasalahkan sikap Thanatan yang tak acuh terhadap Grizelle.Vanilla tidak cerita apapun mengenai kerisauan hatinya sejak perdebatan sengit dengan Jhico semalam.


Perempuan itu lebih banyak diam dan lebih menyibukkan diri dengan terus mengurus Grizelle. Sementara Jhico hanya memperhatikan.


Jhico mengetuk pintu kamar mandi, berharap Vanilla membukanya. "Nilla, aku mau masuk ke kamar mandi."


Itu hanya sebagai alasan agar Vanilla keluar sehingga Ia bisa melihat Vanilla apakah Ia baik-baik saja.


Vanilla berjalan menuju pintu kamar mandi lalu membukanya. Tapi Ia tidak keluar, melainkan kembali berdiri di depan wastafel dan cermin.


Jhico masuk dan segera membalik tubuh Vanilla. Ia merangkum wajah Vanilla yang nampak suntuk.

__ADS_1


"Kamu masih marah? aku minta maaf, Nilla."


Vanilla menggeleng kemudian menunduk. Ia menjauhkan tangan Jhico dari wajahnya. Sedetik kemudian Ia memeluk Jhico. Ia menangis pelan di sana tanpa ingin Jhico tahu. Namun karena getar halus di punggungnya akibat tangis dan juga baju yang dikenakan Jhico terasa basah akibat air mata nya yang keluar, Jhico jadi tahu. Lelaki itu segera membuat jarak diantara mereka.


"Aku membuatmu menangis,"


"Aku mohon, sayangi Grizelle lebih dari apapun. Kamu sendiri yang mengatakan bahwa tidak masalah kalau keluargamu tidak peduli pada Grizelle karena ada kita yang selalu memberikannya kasih sayang. Jangan sampai kamu melupakan ucapanmu itu, Jhi."


Jhico terluka ketika Vanilla memohon seperti ini. Ia masih ingat dan akan terus


mengingat ucapannya itu.


"Mereka tidak menerima kehadiran Grizelle, tidak masalah. Ada kita yang akan selalu bersama Grizelle, melimpahi Grizelle dengan kasih sayang yang penuh," Itu merupakan serangkaian kalimat yang selalu Jhico ucapkan untuk menenangkan Vanilla.


"Hapus air mata mu. Griz sedang sakit. Dia bisa lebih sakit setelah melihat kamu bersedih,"


Saat Jhico akan melepas pelukan untuk menghapus air mata Vanilla, Vanilla menggeleng. Ia masih ingin memeluk lelaki itu sembari meyakinkan dirinya sendiri bahwa Jhico akan terus bersamanya melindungi Grizelle sekalipun dunia menolak kehadirannya. Ia berusaha yakin bahwa sebesar apapun rasa sayang Jhico terhadap Keyfa, tetap saja Grizelle yang lebih unggul karena Grizelle adalah darah daging Jhico.


"Nilla, maafkan aku sudah membuatmu sedih. Tapi percaya padaku, aku sangat-sangat menyayangi anak kita. Maaf sudah membuatmu ragu,"


"Aku sedih melihat kamu lebih memilih bersama Keyfa daripada anakmu sendiri yang sedang sakit. Aku hancur saat kamu tidak ada di sampingku ketika aku panik menghadapi situasi pada saat itu. Kamu tahu sendiri, aku adalah orang yang paling bodoh dalam segala hal. Aku selalu mengandalkan kamu. Dan semalam kamu mengecewakan aku. Kamu tidak bisa aku andalkan, seperti biasanya."


Jhico membiarkan Vanilla terus memeluknya, mengadu lewat tangis nya yang sangat pelan betapa lelahnya dia semalam.


Hawra dan Karina bingung karena sepasang suami istri itu lama sekali berada di dalam kamar mandi.


"Apa yang mereka lakukan?"


"Ibu tidak tahu,"


Karina berjalan ke kamar mandi lalu mengetuk pintunya. Penghuni di dalamnya tersentak. Vanilla melepaskan pelukan mereka tidak rela.


"Basuh wajahmu dan jangan tampilkan wajah sedih. Griz butuh senyuman agar dia semangat untuk sembuh bukan nya tangisan,"


Vanilla mengangguk dan Ia segera membasuh wajahnya di wastfel. Sementara Jhico sudah keluar lebih dulu.


"Apa yang kalian lakukan di dalam?"


"Tidak ada, Ma."


"Jangan berbohong, Jhico. Ada apa dengan kalian?" Hawra ikut bertanya penasaran.

__ADS_1


"Kalian saling menutup mulut sejak tadi. Lalu tiba-tiba lama sekali di dalam kamar mandi,"


"Vanilla----"


Jhico nampak bimbang ingin menjelaskan atau tidak. Karena Ia tipe lelaki yang tertutup dalam segala hal terutama rumah tangganya sekalipun itu dengan keluarga sendiri.


"Aku sedih tadi dan Jhico menenangkan aku," jawab Vanilla.


Ingatan Karina langsung kembali terlempar pada obrolan beberapa saat lalu dimana Vanilla membahas ketidak hadiran Thanatan disaat Grizelle sakit seperti ini. Ia yakin Vanilla sedih karena hal itu.


"Vanilla, jangan sedih karena Papa. Biarkan saja---"


"Tidak, Ma. Aku sedih karena Grizelle sakit,"


"Tapi dia sudah membaik. Jangan sedih lagi,"


Jhico menuntun istrinya untuk duduk. Setelah Vanilla duduk, Jhico berdiri di hadapan Vanilla lalu menenggelamkan kepala Vanilla di perutnya kemudian mengusap surai halus milik perempuan itu.


Hawra dan Karina hanya memperhatikan. Sepertinya memang Vanilla benar-benar sedang sedih hingga Jhico semakin lembut saja memperlakukan istrinya.


"Vanilla sudah makan?" tanya Hawra.


"Belum, Nek. Nilla belum makan," Jhico yang menjawab.


Jhico mengangkat dagu istrinya lalu Ia tersenyum. "Makan!" titahnya tegas. Vanilla mengangguk.


"Mama tadi masak chicken teriyaki. Kamu coba dulu, semoga suka,"


"Iya, terimakasih, Ma."


"Mau nenek suapi? waktu nenek sakit, Vanilla yang suapi nenek makan,"


"Tidak usah, Nek. Aku makan sendiri saja."


Jhico melirik Hawra yang sepertinya sangat ingin menyuapi Vanilla. Kemudian Jhico menatap istrinya penuh makna. Vanilla yang mengerti langsung cepat-cepat menyanggah ucapannya tadi.


"Tidak jadi makan sendiri. Aku mau disuapi Nenek,"


------


Hai hai semuanyaaa. Gimana kabarnya hari ini? udh sarapan blm?

__ADS_1


__ADS_2