
"Pupu dan Mumu mau kemana? ini harrli liburrl (hari libur) mau berliburrl (berlibur) kenapa tidak mengajakku?"
Grizelle baru bangun pukul delapan pagi dan yang pertama Ia lihat ketika menghampiri kamar kedua orangtuanya adalah, penampilan mereka seperti ingin pergi.
"Periksa kandungan Mumu di rumah sakit,"
"Oh...aku kirrla (kira) mau berrliburl (berlibur),"
"Griz, mau ikut?"
"Mau, tapi memang boleh?"
"Boleh, bukankah Griz sudah pernah?"
"Belum. Ya sudah, aku siap-siap dulu. Atau aku begini saja?"
Alis Jhico dan Vanilla kompak terangkat. Grizelle langsung terkekeh geli.
"Aku berrlcanda (bercanda) tidak mungkin aku memakai baju tidurrl (tidur) dan belum mandi juga,"
"Ya sudah, Griz bersiap, Mumu dan Pupu tunggu di ruang makan ya. Kita sarapan bersama,"
"Okay, Mu,"
*****
Raihan membersihkan sudut mulutnya menggunakan tissue usai menikmati sarapan. Ia berdehem kemudian menatap istrinya.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, pagi ini,"
"Kemana?"
"Sudah, tidak usah bertanya. Sekarang kamu bersiap saja dulu,"
"Ini aku sudah siap. Aku sudah mandi. Pakaianku juga tidak buruk untuk ke tempat itu 'kan?"
Raihan menilai penampilan istrinya sesaat. Kemudian Ia mengangguk. "Ya sudah, ayo kita berangkat,"
Ia bangkit terlebih dahulu sementara istrinya tengah meneguk air minum dan duduk sebentar.
"Sebentar, aku belum bisa bangun ini,"
Raihan terkekeh mendengarnya. Kemudian Ia menyuruh istrinya duduk saja dulu nanti baru menyusulnya ke mobil.
"Tidak perlu disupiri. Aku akan menyetir sendiri,"
"Baik, Tuan,"
Driver yang selalu siap siaga ketika melihat Raihan mendekati mobil yang biasa Ia gunakan.
Raihan memasuki mobilnya. Ia menghidupkan mesin sambil menunggu istrinya yang jadi susah meninggalkan tempat duduk setelah makan.
Tak lama, Rena terlihat menyusul. Ia segera masuk ke dalam mobil dan bersandar nyaman usai memakai seatbelt.
"Jangan makan banyak-banyak,"
"Hih? porsiku tidak banyak tadi!" Rena langsung tersinggung mendengar suaminya bicara seperti itu.
"Lalu kenapa sampai susah jalan?"
__ADS_1
"Malas lebih tepatnya. Kalau sudah makan itu inginnya istirahat saja tidak melakukan apapun,"
Raihan mendengus seraya bergumam 'manusia beban bumi kamu itu' yang langsung mengundang tamparan di lengannya dari sang istri.
"Sakit, Sayang. Aku bisa balas dendam. Melakukan hal yang sama atau bahkan lebih,"
Raihan menoleh ke samping dimana istrinya duduk kemudian mendekatkan wajahnya seraya menatap tajam seolah Ia adalah hewan liar yang siap menerkam.
Rena mendorong wajah suaminya yang tidak jelas pagi ini. "Sudah tua!" seru Rena kesal.
"Apa korelasinya coba?"
"Ya kamu seperti waktu muda dulu. Yang sedikit-sedikit mendekat,"
Tawa Raihan pecah seketika. Kemudian Ia menaik turunkan alisnya usai duduk dengan tegak tak lagi mengganggu Rena.
"Sekarang juga masih muda. Masih tampan, masih segalanya lah,"
"Sudah jangan bicara terus. Sekarang kita kemana?"
"Nanti akan tahu juga. Tidak perlu bertanya,"
Rena akhirnya diam tak bertanya tujuan mereka lagi sebab sama saja. Dari saat di ruang makan tadi Raihan tak menjawab, di mobil pun begitu.
Raihan mulai melajukan kendaraan roda empatnya. Sementara Rena menikmati perjalanan mereka pagi ini.
"Jarang kita pergi berdua pagi-pagi seperti ini ya. Karena biasanya kamu sibuk,"
"Kamu juga,"
"Tapi aku tidak terlalu. Hanya sering saja keluar untuk melihat kafe, bakery store, bisnis-bisnisku yang lain,"
Mendengar kalimat Rena yang seperti keluhan, Raihan tersenyum saja. Ia mengusap lembut rambut istrinya tanpa mengurangi fokusnya berkendara.
*****
"Kakaknya pintar sekali mau menemani adik periksa,"
Usai menjelaskan mengenai kondis kandungan Vanilla yang baik-baik saja, Dokter itu mencoba untuk menggoda Grizelle. Sejak awal datang Ia salah fokus dengan Grizelle. Yang datang langsung menyapanya dengan riang dan sopan, kemudian ikut mendengarkan apa yang Ia katakan.
"Adik di dalam sana pasti senang. Kakaknya baik dan pintar. Sudah lama mau punya adik?"
"Hmm...iya, Dokterrl (Dokter),"
"Tidak sedih 'kan saat mau punya adik? biasanya ada yang seperti itu,"
"Awalnya iya. Karrlena (karena) aku takut dilupakan Mumu dan Pupu. Tapi sekarrlang (sekarang) tidak lagi. Aku bahagia sekali mau punya adik, ada teman barrlu (baru) di rrlumah (ruma) nanti,"
"Iya, nanti bantu Mumu jaga adiknya. Ya?"
"Siap, Dokterrl (Dokter),"
"Ada yang ingin ditanyakan lagi, Nona Vanilla?"
"Tidak ada, Dokter. Terimakasih, kami pulang dulu,"
"Baik, hati-hati ya. Dijaga kesehatannya mulai dari istirahat yang cukup, minum vitamin jangan pernah lupa," Ia mengingatkan lagi sebelum Vanilla benar-benar keluar dari ruangannya bersama sang suami dan Grizelle.
"Iya, Dokter. Terimakasih,"
__ADS_1
Lagi-lagi Vanilla dan Jhico merasa lega usai mengetahui kondisi anaknya. Tadi ada sedikit pertanyaan dari Vanilla dan Jhico yang dijawab dengan baik disamping penjelasan dari Dokter mengenai kandungan Vanilla.
"Mumu, tadi kata Dokterrl (Dokter) jenis kelamin adik bayi belum kelihatan ya?"
"Iya, belum, Sayang,"
"Padahal aku sudah penasarrlan (penasaran) sekali,"
"Pupu juga begitu. Ingin segera membuat kamar untuknya,"
"Kamarrlku (kamarku) jadi ditata ulang, Pu?"
"Jadi, Sayang. Nanti bersamaan dengan kamar adikmu ya,"
"Memang Griz mau diubah seperti apa?"
Grizelle menoleh mendengar pertanyaan itu. Jhico segera membawa anaknya ke dalam gendongan karena ada orang yang berlalu lalang di sekitar mereka sementara Grizelle sedang mau bicara dengannya dan Vanilla. Satu tangan Jhico digunakan untuk menggenggam tangan istrinya.
"Aku mau sama seperrlti (seperti) adik,"
"Kalau robot? mau?"
"Jangan,"
"Katanya mau sama seperti adik,"
"Tapi jangan rrlobot (robot). Aku 'kan bukan laki-laki,"
Vanilla menggaruk tengkuknya bingung. Barusan Grizelle sendiri yang ingin seperti adiknya. Kalau adiknya itu terlahir sebagai laki-laki, bagaimana?
"Kalau dia laki-laki, jangan rrlobot (robot), Pu,"
"Bisa luarrl (luar) angkasa saja temanya,"
"Oh iya, memang rencana Pupu seperti itu,"
"Tapi kata Mumu rrlobot (robot),"
"Ya kalau Griz mau menyamakan adik, berarti jangan robot tapi luar angkasa saja konsepnya. Biar kamarmu tidak terlalu mencolok. Kalau robot, akan sangat aneh sebab kamu perempuan,"
"Yeaayy Pupu benarrl (benar),"
"Sudahlah robot saja. Mumu inginnya kamar adik berkonsep robot,"
Grizelle merengek tidak mau menerima keinginan Mumunya itu. Benar kata ayahnya tadi. Kalau robot, pasti akan ditertawakan oleh Auristella bila tiba berkunjung ke rumahnya.
"Mumu hanya bercanda. Sudah, jangan cemberut begitu," tegur Ayahnya yang membuat Grizelle langsung tersenyum manis.
"Lagipula sudah ribut masalah kamar sekarang. Jenis kelamin saja belum tahu. Dan belum tentu juga laki-laki,"
"Iya, benar. Kamu juga kenapa membuat Anakmu kesal,"
Vanilla terkekeh mendapati tatapan suaminya yang datar. Grizelle tak hanya merengek tadi, Matanya bahkan sudah berkaca.
"Nanti kalau adikku perrlempuan (perempuan), bagaimana, Pu?"
"Griz mau menyamakan juga?"
"Iya, biar kamar aku dan adik sama. Kita seperrlti (seperti) anak kembarrl (kembar) nanti,"
__ADS_1