
Vanilla berjalan menuju basement kampus dimana mobilnya berada. Di sampingnya ada Joana yang siap menemani Ia bekerja.
Saat Vanilla berjalan, Ia melihat Renald sedang membersihkan area depan basement bersama perempuan yang belakangan ini Vanilla perhatikan sangat akrab dengan Renald. Dan Vanila juga baru melihatnya. Sepertinya gadis itu adalah pekerja baru di kampus.
Vanilla hampir saja terjatuh karena tidak memperhatikan langkahnya. Ia terlalu fokus pada Renald. Joana berdecak ketika menyadari itu.
"Ingat yang di apartemen, eh di klinik maksudku," tegurnya diselingi guyon agar Vanilla tidak tersinggung karena kedapatan memperhatikan Renald.
Vanilla memasuki mobil dan mulai membelah kota dengan kecepatan normal. "Aku sudah mencintai Jhico," ujarnya tiba-tiba. Joana menoleh bingung.
"Kalau tidak mencintai, kalian tidak mungkin menikah,"
Vanilla menghembuskan napas pelan. Mungkin selama ini Joana tidak menyadari ada yang aneh dari pernikahannya. Yang Ia tahu Vanilla dan Jhico saling mencintai. Kalau Joana tidak mengetahui itu, artinya Vanilla dan Jhico sama-sama pintar dalam menutupi.
"Jangan pernah berubah kalau begitu. Tetap cintai Jhico. Kamu beruntung memiliki dia. Yang aku lihat kamu sering tidak acuh tetapi dia tidak pernah mempermasalahkan itu. Artinya dia baik, Vanilla. Dan aku senang sahabatku bisa bersama orang yang baik dalam ikatan pernikahan,"
*******
Siang ini Vanilla dan Jhico datang ke mansion, kebetulan diantara keluarga kecil Devan, hanya ada Auristella yang sedang bermain bersama Jane ketika mobil Vanilla akan memasuki mansion.
Jhico menghentikan mobil sebentar atas permintaan istrinya, untuk menyapa Jane yang tampak mengayomi Auristella. Jane bermain sepeda bersama Auristella yang duduk di depannya.
Ketika Vanilla menggoda Jane yang terlihat seperti sedang belajar mengurus anak, Jane menggerutu. Dan malah menimpali sepupunya itu dengan ucapan telak.
"Seharusnya yang belajar punya anak itu kamu, Vanilla. Aku belum menikah. Ayo main sepeda dengan Auris supaya nanti kalau punya anak tidak kaku lagi."
Saat akan memaki, suaminya langsung berdecak, menegurnya. Jhico langsung memasuki mansion agar perdebatan selesai. Sebenarnya Vanilla yang lebih dulu memulai. Semakin mengenal Vanilla lebih dalam, Jhico tahu kalau istrinya sedikit jahil juga. Terutama bila dengan orang-orang yang sudah sangat dekat dengannya.
Beberapa kali datang ke mansion, Jhico kerap mendapati Jane menjadi korban kejahilan Vanilla. Seperti saat Jane ke kamar mandi, lampunya dimatikan lalu Jane akan berteriak dari dalam, disitulah Vanilla terbahak. Vanilla tahu betul kalau sepupunya penakut. Sama seperti dirinya sendiri. Sayangnya Jane jarang sekali membalas perlakuan Vanilla. Hal itulah yang membuat Vanilla semakin gencar beraksi.
__ADS_1
Pernah juga suatu ketika saat Jane menikmati makanan yang terlalu pedas, Vanilla sengaja menghabiskan minuman yang ada di dekat Jane. Setelah melihat Jane akan menangis, barulah Vanilla mengambil air minum yang lain. Dia memang sejahil dan setega itu pada orang lain.
"Hallo, Ma."
"Hai, Sayang. Ayo makan, Mama baru saja masak udon,"
"Lovi dan Devan pergi ya, Ma?"
"Iya, mengajak anak mereka bermain dengan Lucas,"
Vanilla merasa lapar jadi tanpa basa-basi Ia menyiapkan diri untuk mengisi perut. Sementara Jhico hanya duduk di sampingnya. Rena yang melihat itu langsung menegur.
"Jhico tidak mau makan juga?"
"Aku sudah makan di klinik, Ma."
"Yah, sayang sekali. Lain kali kalau mau datang ke sini, kosongkan perut. Mama pasti masak,"
Vanilla kembali sinis saat melihat Jhico banyak berbincang dengan teman-teman sesama model. Karena sudah buruk suasana hatinya, Jhico kira Vanilla tidak ingin kemanapun selain apartemen. Ternyata Ia ingin bertemu dengan ketiga keponakannya.
"Bagaimana di klinik, Co? senang bekerja di sana?"
"Senang, dan berjalan lancar, Ma. Berkat doa dari Mama juga,"
"Semoga bisa lebih berkembang lagi dan membuka cabang dimana-mana. Memang perusahaan saja yang bisa bercabang. Iya tidak?" Gurau Rena dengan tawanya yang renyah. Jhico mengangguk, semoga doa-doa baik bisa dijadikan kenyataan oleh Tuhan.
Jhico sudah sangat nyaman dengan dunianya. Vanilla dan Jhico memang tidak pernah bercerita mengenai permasalahan yang terjadi diantara Jhico dengan keluarganya. Tetapi sekali lintas, bila Rena dan Raihan bertemu dengan Thanatan, Papa dari Jhico itu memang tipe orangtua yang sangat egois dan Rena tahu Jhico tidak nyaman akan hal itu. Ada banyak tekanan yang sekarang dirasakan Jhico dan entah sampai kapan akan berakhir. Rena juga tidak ingin terlalu ikut campur. Biarkan anak dan menantunya mengarungi kehidupan berdua. Bila mereka belum memanggil, artinya belum membutuhkan peran serta Rena dan Raihan, mereka masih bisa mengatasinya.
Dan Rena pikir hal-hal seperti itu memang kerap terjadi. Devan salah satu contohnya. Raihan yang egois menjadikan Devan seperti sekarang ini. Yang beda dari Devan dan Jhico adalah Devan sudah mulai merasa nyaman bahkan saat di awal Ia memasuki dunia yang diciptakan oleh Raihan. Sementara Jhico sudah menolak sejak awal, dia memilih jalannya sendiri.
__ADS_1
"Kamu benar-benar tidak mau seperti Papamu ya? punya perusahaan besar dan ada dimanapun," Rena bertanya disela makannya. Ia hanya ingin tahu saja jawaban Jhico.
"Mama tahu aku tidak---"
"Hanya sedikit yang Mama tahu. Dari pertemuan pertama kita, Mama bisa menilai kamu tidak sebebas yang Mama kira dalam menentukan arah hidupmu,"
"Iya, memang. Banyak yang mengaturku. Mereka bersikap seperti halnya Tuhan. Seolah aku bukanlah pemilik hidupku sendiri,"
"Terlepas dari itu semua, tujuan orangtuamu baik. Mungkin anggapan mereka hanya menjadi pengusaha saja yang bisa dikatakan sukses,"
"Aku juga tidak mengerti dengan pola pikir mereka. Padahal aku sudah nyaman dengan profesiku yang sekarang. Dengan menjadi dokter aku bisa mendapatkan kebahagiaan lain dalam hidupku,"
Vanilla menoleh dan mengangkat satu alisnya. "Apa? pasti aku ya?"
Rena terkekeh lepas begitupun dengan Jhico. Rupanya seperti ini kalau Vanilla sedang percaya diri yang berlebihan.
Vanilla yang tadi lahap langsung berhenti makan karena penasaran dengan arah pembicaraan suaminya.
"Iya, kalau aku tidak jadi dokter belum tentu aku menikah dengan kamu,"
"Hmm... sebenarnya aku juga tidak mau memiliki suami pengusaha,"
"Kenapa?"
"Semua laki-laki di sekitarku menjadi pengusaha. Aku mau yang berbeda,"
"Maksudmu mantan-mantan kekasihmu?"
Rena menahan senyum tatkala menyadari kalau Jhico tengah cemburu. Tapi berusaha sekali Ia tahan, Jhico ingin terlihat tenang.
__ADS_1
"Maksudku, Papa, Devan, dan hampir semua sepupuku. Kalau kamu menjadi aku, pasti ingin menjadi yang lain. Awalnya aku juga diminta Papa untuk menjadi wanita yang bekerja dalam bidang bisnis. Sama seperti kamu, aku menolak. Beruntungnya aku tidak sampai dipaksa seperti halnya Devan. Mungkin karena aku anak perempuan,"
Jhico sangat ingin mengecup bibir istrinya yang mengerucut ketika menceritakan pengalaman hidupnya saat Raihan ingin menjadikannya sesuatu yang bukan merupakan keinginannya. Vanilla menggemaskan sekali ketika bercerita dengan lepas seperti ini.