
"Iya, aku kemana saja yang penting berrliburl (berlibur),"
Grizelle belum banyak maunya karena mungkin Ia belum seperti Auristella yang mulai tahu tempat-tempat menyenangkan untuk berlibur.
"Ah pokoknya kita harus---"
"Sebentarrl (sebentar),"
Grizelle menyela ucapan Auristella saat pintu kamarnya dibuka dan hadirlah Jhico yang kini menimbulkan wajahnya di sela pintu yang Ia buka sedikit.
"Pupu, aku belum selesai bicarrla (bicara) dengan Aurlis (Auris). Pupu jangan ganggu,"
Jhico mendengus mendengar protesan anaknya itu. "Memang sedang bicara apa? kenapa lama?"
"Ini obrrlolan (obrolan) perrlempuan (perempuan). Pupu tidak boleh tahu,"
Makin jengkel mendengar penuturan sang putri, akhirnya Jhico menjauh, sesuai dengan permintaan Grizelle yang tidak mengizinkan Ia tahu mengenai pembicaraannya dengan Auristella.
Ia kebetulan bertemu dengan Vanilla yang akan menuju lantai bawah. Vanilla bertanya padanya.
"Dimana Griz? sudah kamu panggil 'kan untuk makan cake buatanku?"
"Masih membicarakan bisnis dengan Auristella. Biar saja lah,"
Tawa Vanilla pecah mendengar ucapan sang suami yang tentu tak ada benarnya.
"Sejak kapan Griz dan Auris punya bisnis?"
"Itu sedang meeting online. Mungkin bisnis nya lagi mau mulai,"
Vanilla terbahak kemudian tangannya mencubit lengan kekar sang suami karena merasa gemas dengan Jhico yang kini tengah meluapkan rasa kesal, kelihatannya begitu.
"Kamu kenapa? diusir Griz karena Griz sedang meeting ya?"
Jhico mengangguk tak membantah, "Iya, katanya obrolan perempuan. Aku tidak boleh tahu. Maka aku katakan tadi kalau yang mereka bahas itu adalah bisnis,"
Jhico mengajak istrinya untuk beranjak ke lantai bawah. Vanilla masih tertawa di sela langkahnya.
"Memang begitu kalau mereka sudah mengobrol, Jhi. Kamu seperti tidak tahu saja. Apalagi kalau Auristella sedang tidak bersama Adrian. Pasti tidak ada yang ganggu. Jadi mereka bisa bebas berbicara,"
****
Devan berada di dekat Auristella selama Auristella berbicara dengan Grizelle.
Ia menggeleng pelan mendengar orbolan mereka. Tak ada habisnya, kalau saja Adrian tak masuk ke kamarnya dan bergabung di ranjang bersamanya dan Auristella. Daripada kakaknya menganggu, lebih baik Auristella mengakhiri panggilannya dengan Grizelle.
"Dad, boleh ya liburan bersama Griz dan adiknya nanti? kita berlibur ke negara lain,"
"Ah banyak maunya kamu," ejek Adrian pada sang adik bahkan sebelum Devan angkat bicara.
"Yang ditanya itu Daddy, Ian. Bukan kamu, jadi kamu tidak usah jawab,"
Adrian terkekeh meringis mendapat teguran dari ayahnya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Auris banyak mau nya, Dad,"
"Ya biar! aku minta pada Daddy, bukan padamu," sahut Auristella cepat.
"Tapi aku yang dengar saja merasa telingaku panas. Apalagi Daddy,"
Auristella menarik telinga Adrian. "Biar sekalian panas," ujar Auristella dengan santai.
Adrian akan membalas, namun suara Devan membuatnya tak jadi melaksanakan niatnya.
"Jangan begitu pada Auris,"
"Daddy selalu bela Auris," gerutu Adrian lalu memutuskan untuk menghentak kepalanya ke bantal dan Ia terlungkup.
"Sudah besar tapi masih saja merajuk. Daddy bela yang benar,"
"Tapi Daddy selalu bela Auris. Aku jarang dibela,"
"Karena seringnya kamu yang buat kesalahan,"
Adrian mendengus kemudian Ia berteriak memanggil Mommynya dan mengadu.
"Mommy, Daddy jahat. Hanya Auris saja yang disayang padahal aku yang lahir lebih dulu,"
Devan menatapnya dengan alis mengerinyit. Bisa-bisanya Adrian berpikir seperti itu. Adrian memang kerap menjadi pemulai dalam setiap perdebatan yang terjadi antara dirinya dan Auristella. Devan terkadang tidak tega anak perempuannya diperlakukan seperti itu oleh Adrian.
Tapi kalau Auristella salah, Ia juga tidak segan untuk menegur dengan tegas. Ia sudah berusaha untuk berlaku adil. Yang Ia minta hanya Adrian sedikit lebih dewasa dalam bersikap karena usianya juga diatas Auristella. Tapi pemikiran Adrian adalah, Ia selalu membela Auristella.
"Ada apa lagi?"
Lovi menghela napas pelan. Ia mengurut pelipisnya sebentar kemudian mendekati Adrian yang kini berbaring menghadap dinding.
"Kakak memang harus mengalah pada adik. Apalagi adikmu perempuan,"
"Aku minta liburan ke negara lain, tapi Ian malah ikut campur, Mom. Padahal Daddy saja belum setuju ataupun menolak," Auristella menjelaskan pada Mommynya yang kini menatap seolah meminta penjelasan dari sisi Auristella karena yang Ia dengar tadi langsung pengaduan Adrian.
"Ian bilang kalau aku banyak mau nya. Padahal tidak. Iya 'kan, Dad?" tanya Auristella seraya menoleh pada ayahnya.
"Sebebarnya iya," jawab Devan seraya tersenyum pada anaknya yang langsung merengek.
"Aaaa Daddy tidak sayang padaku. Masa jawabannya begitu?"
"Aduh, semuanya saja protes 'tidak disayang' sudahlah terserah. Sakit kepala Daddy,"
Devan beranjak menjauh dari kedua anaknya. Anak yang kedua mengaku tak disayang karena jarang dibela, lalu anak yang ketiga protes juga tidak disayang sebab jawabannya tadi seperti itu.
"Itu jawabannya dari hati atau cuma bercanda, Dad?"
"Dari hati,"
Auristella merengek lagi. "Mommy, aku tidak banyak maunya 'kan?"
"Sudah dijawab oleh Daddy. Masih bertanya juga. Tidak punya telinga ya?" Adrian berujar sinis pada adiknya. Lovi segera mengusap wajah anak lelakinya.
__ADS_1
"Jangan begitu pada adikmu," Lovi menegurnya dengan cepat sebelum Auristella membalas ucapannya dan berakhir dengan berdebat sengit.
*****
Grizelle datang ke kamar Pupu dan Mumunya. Ia tak menemukan mereka berdua. Ia dengan cepat memanggil dengan suara lumayan keras seraya keluar dari kamar.
Tak ada jawaban dan Ia menduga bahwa Vanilla dan Jhico ada di lantai bawah dan suaranya tak terdengar oleh mereka.
Ia menghampiri meja makan. Mumu dan Pupunya ada di sana. Tengah mengobrol dan langsung tersadar bahwa ada dirinya di dekat mereka.
"Sudah selesai bicara dengan Auris?"
"Sudah, Pu,"
"Jadi kapan mulainya?"
Alis Grizelle terangkat bingung mendapat pertanyaan itu dari Jhico.
"Mulai apa, Pu?"
"Mulai bisnis,"
Vanilla kembali tertawa hanya karena suaminya kembali bicara soal bisnis dan melihat kebingungan di wajah Grizelle, Vanilla kian tertawa.
"Jhi, kasihan anakmu kebingungan. Coba dijelaskan,"
"Tadi Pupu tidak boleh dengar pembicaraan kamu dan Auris. Pasti karena kalian sedang membicarakan bisnis 'kan? jadi kapan bisnisnya dimulai? bukankah tadi sudah meeting?"
Grizelle terkekeh baru mengerti maksud ucapan Pupunya. "Bukan bisnis, Pupu,"
"Lalu apa yang dibicarakan?"
"Tentang liburan,"
"Baru kemarin berlibur. Sudah mau berlibur lagi?"
Grizelle menggeleng kemudian tangannya mengambil cake yang tersaji di depan Jhico dan Vanilla. Ia duduk di samping Vanilla.
"Liburannya nanti setelah adikku lahir, kata Aurrlis (Auris) begitu,"
Jhico dan Vanilla mengangguk. Kemudian mulut Vanilla terbuka untuk bertanya, "Mau liburan kemana?"
"Ke negara lain kata, Aurrlis (Auris). Memang boleh ya, Pu?"
"Boleh, nanti kita atur lagi ya,"
"Yeaayy," Grizelle bersorak mengangkat tangannya senang.
"Pupu dan Uncle Devan harus semangat carrli (cari) uangnya. Supaya kita bisa berrliburl (berlibur) bersama ke tempat yang jauh,"
Jhico terkekeh mendengar penuturan putrinya yang seolah menyemangati agar Ia tak pantang menyerah untuk terus bekerja keras.
"Nanti kalau Pupu butuh bantuan, katakan saja padaku,"
__ADS_1
Vanilla dan Jhico kompak tertawa. Ucapan Grizelle seperti sudah dewasa saja. Seolah Ia adalah orang yang dengan baik hati menawarkan bantuan untuk yang lain.
-----