
"Sampai kapan Aunty? kenapa lama sekali?"
Adrian bangkit dari duduknya dan merengek bosan. Perawatan yang dijalani oleh Vanilla tidak selesai juga sejak tadi. Sampai Jane disuruhnya untuk membeli makanan ringan untuk mengusir kebosanan.
Vanilla sedang di creambath dan Jane belum juga datang. Adrian semakin badmood. Ia berdiri, duduk, lalu berdiri lagi hanya untuk mengendalikan rasa kesalnya. Hal itu tidak luput dari perempuan-perempuan yang bekerja sebagai beauty therapist. Mereka tersenyum gemas dan salut saat ada anak laki-laki seusia Adrian mau dibawa ke tempat seperti ini. Mereka tidak tahu kalau setelahnya harus ada bayaran untuk Adrian dari Vanilla dan Jane.
Mereka harus membayarnya dengan mahal! karena perjuangan untuk tetap diam di salon tidaklah mudah bagi seorang Adrian. Biasanya bila Ia sudah bosan, kakinya akan berjalan kemanapun yang terpenting suasana hatinya tidak lagi buruk. Kali ini Adrian tidak bisa kemana-mana.
Jane mencari makanan dan minuman dengan santai. Tidak tahu kalau keponakannya sudah mengeliat seperti ular di salon.
"Jane, hei Jane!"
Jane menoleh saat dipanggil oleh seseorang. Ia menemukan Deni bersama istrinya. Jane mengangkat alisnya singkat untuk membalas sapaan.
"Sendiri saja?"
"Bersama Vanilla dan Adrian,"
"Dimana mereka?"
Keynie melirik saat suaminya bertanya dengan semangat. Huh! kalau sudah seperti ini Ia harus apa?
"Di salon,"
"Aku boleh---"
"Jangan macam-macam, Deni. Adikmu itu sudah menikah. Aku beri tahu barang kali kamu lupa dengan undangannya,"
"Bukan lupa, aku sengaja tidak datang,"
Deni tertawa seorang diri. Berusaha terlihat santai padahal kenyataannya tidak ketika mengingat hari bahagia Vanilla itu.
"Aku mengajaknya tapi dia tidak mau. Maafkan kami tidak hadir, Jane."
"Tidak masalah, Keynie. Kalian tidak hadir pun pernikahan tetap berjalan baik dan sesuai harapan,"
Jane melihat trolinya. Kemudian menatap sepasang suami istri itu. "Aku sudah selesai belanja. Aku pergi dulu,"
"Aku juga sudah selesai. Bisa kami bertemu dengan Vanilla untuk memberinya ucapan selamat?"
Jane mengangguk pada Keynie dan mereka pun keluar dari supermarket setelah membayarnya. Mereka membicarakan banyak hal. Keynie dan suaminya banyak bertanya mengenai acara yang berlangsung beberapa hari lalu. Walaupun tak bisa dipungkiri saat ini Vanilla sudah memiliki batasan, sejujurnya Deni senang. Karena bukan hanya dia dan Devan saja yang menjaganya. Sudah bertambah satu laki-laki yang dengan berani datang ke mansion lalu meminta Vanilla kepada Raihan dan Rena untuk dijadikan teman hidupnya.
*****
"Okay, Nilla. Pekerjaanku juga belum selesai,"
Jhico tidak henti tersenyum saat mendapat panggilan dari Vanilla yang mengatakan bahwa Jhico bisa kapanpun menjemputnya di mansion. Gadis itu juga tidak biasanya memberi tahu kegiatan apa yang sedang dilakukan.
"Hanya bersama Jane dan Adrian?"
"Ya, dengan siapa lagi? aku--"
"Suamimu posesif juga. Apa setiap kalian berpisah, dia akan bertanya hal tidak penting seperti itu?"
Alis Jhico menukik tajam setelah mendengar sahutan dari seberang sana selain suara Vanilla.
"Kamu tidak hanya bersama mereka yang aku sebutkan tadi? suara siapa itu?"
Vanilla menutup panggilan karena malas. Apakah Jhico tidak tahu kalau sikapnya saat ini benar-benar menggelikan di mata Vanilla? Vanilla sudah menjawab dengan jujur, tapi dia tidak percaya. Bertanya seperti itu adalah bentuk ketidak percayaan bukan?
__ADS_1
Namun tak bisa dipungkiri Vanilla juga kesal dengan Deni yang terkesan sengaja menciptakan perdebatan diantara Vanilla dan Jhico.
"Jangan menyamakan hubungan mereka dengan kita, Jhico. Mereka terlalu manis untuk dikacaukan dengan gangguanmu tadi. Kalau kita mungkin tidak akan ada masalah karena kamu tidak pernah peduli. Sementara Jhico? dia begitu mencintai Vanilla, pasti setelah mendengar suaramu dia merasa cemburu,"
Deni berdecak setelah mencibir, "Berlebihan sekali kalian." Lalu mengetuk-ngetuk kukunya di meja.
Setelah dari salon, mereka mengunjungi salah satu restoran untuk makan siang. Setelah Vanilla menikah, Keynie justru lebih terbuka. Mungkin karena secara tidak langsung perasaan takut dikhianati perlahan hilang setelah Vanilla dimiliki oleh seseorang. Keynie percaya Jhico dan Vanilla saling mencintai sehingga Ia berharap kehadiran Deni tidak berpengaruh apa-apa untuk mereka.
*****
"Nilla, aku sakit."
"Aku harus apa?"
"Ya dirawat, Vanilla. Seharusnya sebelum kamu mengatakan otakku kosong, berkaca dulu!"
Vanilla mendengus lalu mengikuti kemanapun Jhico menarik tangannya. Sejujurnya Vanilla tidak mengerti dengan sikap Jhico setelah sampai di mansion, tanpa menyapa Deni dan Keynie langsung berbicara dengannya seperti itu. Bahkan sengaja menjauhkan Vanilla dari tamu.
"Kamu seorang dokter kenapa harus laporan padaku?"
"Serius, aku sakit,"
"Ya, aku tahu! tubuhmu panas. Tapi kenapa harus aku---"
Bibir Vanilla dibuat terbungkam dengan kecupan Jhico. Ya Tuhan, Vanilla menahan napasnya. Belum sempat Ia berontak, Jhico sudah melepaskan.
"Aku akan mengambil kompres. Kamu temani aku tidur di sini,"
"Maksudmu di sini? kita tidak pulang?"
"Tidak, Nillaku. Aku akan meminta kompres pada pelayan. Kamu tunggu sebentar, okay? "
****
Jhico memang benar-benar sakit. Tubuhnya panas seperti apa yang tadi dikatakan Vanilla. Namun hatinya jauh lebih panas. Alih-alih menghampiri pelayan untuk meminta disiapkan kompres, Jhico lebih memilih untuk datang ke ruang tamu lalu bergabung dengan Jane, Keynie, dan Deni.
"Kenapa tidak istirahat? bukankah kau sakit?"
Jhico tersenyum saat Deni mengatakan itu. Senyum yang tersungging berbeda dari biasanya.
"Kita pernah bertemu sebelumnya,"
"Ya, apa yang akan kau sampaikan? sepertinya ada sesuatu yang mengganggu,"
Jane dan Keynie tiba-tiba saja merasa khawatir. Mereka tidak buta sehingga bisa melihat dengan jelas bagaimana tajamnya tatapan Deni dalam membalas Jhico yang menampilkan raut datarnya.
Beruntung Adrian sudah masuk ke dalam kamarnya. Raihan dan Devan belum pulang. Sementara Rena, Senata, dan Lovi entah berada dimana. Berharap tidak terjadi apapun.
"Dan pertemuan kita yang sering terjadi itu, aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan,"
"Apa?"
"Kau menganggap Vanilla lebih dari--"
"Adik? jangan berlebihan, Jhico. Kau cemburu atau bagaimana?"
Rahang Jhico mengetat seketika. Sungguh ini kali pertama Ia merasa tidak nyaman dengan kedekatan Vanilla dan Deni. Mungkin karena Vanilla sudah menjadi istrinya. Sehingga ada rasa tidak suka bila gadis itu terlalu berlebihan dalam menjalin kedekatan dengan laki-laki lain.
Ia tahu mereka memang dekat tapi Jhico tidak menyangka kalau Deni masih sesulit itu untuk menerima pernikahan mereka. Terbukti dari ucapannya sejak tadi bahkan di telepon pun Deni terdengar begitu sinis. Jhico perlu meluruskan agar perasaannya juga tidak bercampur aduk.
__ADS_1
"Kami sudah mengenal lama. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan,"
"Aku tahu, aku bisa melihatnya. Tapi bukankah wajar bila aku--"
"Bukan masalah," Deni mengangguk dengan santai. Sepertinya Vanilla menikah dengan orang yang tepat. Pembawaan Jhico benar-benar membuat Deni terperangah. Ia kira Jhico akan melampiaskan rasa cemburunya dengan emosi menggebu.
"Tapi Jhico, bukan aku yang harusnya kau cemburui. Coba kenali Vanilla lebih dalam, lalu cari tahu siapa saja orang-orang yang berpengaruh besar untuk membuat hubungan kalian terancam,"
"Deni, apa-apaan kau!" Jane berseru marah. Biar bagaimana pun Vanilla adalah sepupunya. Dan Jane tahu siapa orang yang dimaksud Deni.
Bila seperti ini rasanya Jane ingin memukul kepala Vanilla dengan keras. Rupanya bukan hanya Ia yang mengetahui kedekatan Vanilla dengan Renald.
"Kenapa? biar Jhico tahu kalau istrinya begitu dipuja oleh banyak orang. Sebenarnya bukan hanya kau yang ingin memilikinya. Bahkan awalnya aku pun ingin,"
"Sial!"
Deni tertawa keras dan memukul lengan Jhico yang sangat tegang. Kenyataannya memang seperti itu. Bahkan sampai sekarang pun masih. Tapi berkata terlalu jujur pada Jhico bukanlah pilihan.
"Hubungan kalian pernah lebih dari apa yang aku tahu?"
"Memang apa yang kau tahu dari kami?"
"Mungkin hanya sebatas adik dan kakak? karena kau dan Devan sahabat bukan?"
Deni menjentikkan jarinya, tepat. Sampai diwaktu Vanilla menikah, hubungan Ia dan Vanilla memang tidak pernah berubah.
"Tapi aku yakin kau menganggap Vanilla lebih dari itu,"
Keynie menggeleng kagum. Ia sedari tadi diam untuk menilai bagaimana sosok Jhico yang sebenarnya. Bahkan disaat tebakannya diangguki oleh Deni, Jhico masih bisa bersikap tenang. Walaupun sebenarnya Keynie tahu betapa membaranya api di hati Jhico saat ini.
"Sebisa mungkin aku tidak akan menghancurkan kalian. Tapi kalau tiba-tiba saja kau mati, tentu aku harus maju,"
Deni mengatakannya dengan ringan. Tujuannya membuat Jhico semakin emosi tanpa disadari melukai lembutnya hati Keynie. Ia berbicara seperti itu di hadapan istri yang beberapa bulan ini menemani hidupnya. Ini untuk pertama kalinya Deni dengan terang-terangan mengakui itu di hadapan Keynie, bahwa Ia berharap lebih pada Vanilla yang selama ini dianggapnya sebagai adik.
"Kalau kau menyakitinya terlalu dalam, tanpa perlu menunggumu mati, aku akan berusaha membuatnya di sisiku,"
*****
Vanilla memainkan kuku-kuku cantiknya. Ingin sekali menyusul Jhico yang begitu lama, namun rasanya sangat malas untuk beranjak dari ranjang.
Vanilla meluruskan kakinya lalu Ia berbaring. Tangannya Ia gunakan untuk mencari-cari remot televisi di nakas yang ada di sebelahnya.
Sebuah miniatur di nakas terjatuh karena Vanilla tidak sengaja menyentuhnya. Bersamaan dengan suara jatuhnya benda mati tersebut, Jhico masuk ke dalam kamar.
"Tolong ambilkan miniaturnya,"
Jhico mendekat lalu meletakkan kompres di atas ranjang. Kemudian Ia meraih benda itu dan mengembalikan di tempatnya.
Entah mengapa Jhico sangat ingin memeluk gadis itu. Ucapan Deni selalu terngiang di telinganya. Ia tidak ada niat untuk menyakiti Vanilla, tapi kenapa sudah merasa ketakutan di awal?
Akhirnya Jhico benar-benar melakukannya. Ia memeluk Vanilla secara tiba-tiba. Sampai gadis itu membeku dalam balutan lengannya. Vanilla juga bisa merasakan detak yang begitu keras berasal dari dada bidang suaminya.
"Jhico..."
"Aku takut kehilanganmu, Nilla."
--------------
Hello zheyeng-zhyengku. Kalian baca ep ini jam brp? lg apa? trs udh tinggalin jejak blm? kl udah, maaciw yaaaa.
__ADS_1