
Ada pertemuan antara Rena, Karina, dan para istri dari pengusaha lainnya.
Mereka berkumpul di sebuah restaurant untuk berbincang hangat setelah menghadiri pembukaan busines salah satu dari mereka yang bernama Mothy.
Karina dan Rena tidak sengaja bertemu. Rupanya mereka sama-sama berteman dengan Mothy dan diundang juga oleh Mothy.
"Mot, kamu yang bayari kita semua 'kan?" tanya Rena bercanda, namun ditanggapi langsung oleh Mothy yang tak keberatan sama sekali.
"Iya, boleh,"
"Harusnya kamu yang bayar, Rena. Karena kamu 'kan akan punya cucu lagi. Itu harus kita rayakan," ucap Leshi yang mengundang tawa persetujuan dari yang lainnya.
Karina terdiam beberapa saat. Sepertinya hanya Ia yang tidak tahu maksud dari ucapan Leshi.
"Cucu baru?" tanya Karina.
"Iya, kalian kan mau punya cucu baru. Benar 'kan?"
Karina menelan ludah gugup ketika ditatap oleh teman-temannya dengan sorot meminta jawaban sementara dirinya tak tahu apa-apa. Ia tersenyum saja yang langsung disambut tawa mereka lagi. "Aduh, mendadak lupa Karina ya."
*****
Begitu matang, Grizelle langsung menikmati cake buatan Rena, saat bangun tidurpun seperti itu.
Ia langsung meminta tolong pada Bibi agar cake itu dipotong lumayan besar untuknya kemudian diletakkan ke dalam pring khusus cake, berwarna merah muda miliknya
"Bibi, Ini kulang besal (kurang besar) aku belum cukup," pintanya lagi yang langsung dilaukan oleh Bibi.
"Sudah cukup?"
"Iya, tapi nanti kalau aku kulang (kurang) tambah lagi ya,"
"Siap,"
"Aku sendili (sendiri) yang potong,"
Melihat Grizelle peraih pisau untuk memotong cake, Bibi segera mencegahnya.
"Anak kecil tidak boleh pegang benda tajam," larangnya yang langsung dibalas kekehan oleh Grizelle.
"Aku lupa,"
"Memang sekarang mau tambah lagi?"
Grizelle menelan cake dalam mulutnya sebelum menjawab, "Nanti saja,"
"Ya sudah, cakenya Bibi simpan dulu,"
Grizelle mengacungkan ibu jarinya, membiarkan Bibi menyimpan cake buatan Neneknya.
*****
"Mom,"
"Hmm? ada apa, Sayang?"
"Ini foto apa sih?"
"Foto yang mana?"
"Ini,"
Auristella berdiri membawa ponsel milik Lovi yang sedang Ia buka isi galerinya. Kemudian Ia menunjukkan satu buah foto berwarna hitam yang baru diambil kemarin.
__ADS_1
"Itu foto hasil pemeriksaan kandungan Aunty Vanilla,"
"Hah?"
Lovi kembali bergelut dengan layar tab-nya. "Iya, Sayang. Aunty Vanilla hamil lagi,"
"Hah?"
Dua kali Auristella hanya menanggapi dengan mulut terbuka.
"Jadi, maksud Mommy, Griz akan punya adik?"
Lovi mengangguk dua kali. Sedetik kemudian, Auristella berseru lalu melompat kesenangan.
"Ya Ampun, aku akan punya adik lagi,"
Lovi tersenyum melihat respon Auristella yang seperti ini, apalagi Grizelle. Pasti reaksinya juga sama persis atau bahkan lebih riuh. Karena Ia tahu Grizelle sudah begitu kesepian, tak ada saudara yang tinggal serumah dengannya. Ia hanya bermain dengan triple A ketika bertemu saja.
"Griz sudah tahu, Mom?"
"Pasti sudah diberi tahu Mumunya. Kamu saja yang telat Mommy beri tahu,"
"Iya, Mommy kenapa baru beri tahu sekarang? itupun karena aku yang melihat foto ini,"
"Justru itu, Mommy lupa. Berutungnya kamu tanya tentang foto itu. Sengaja Mommy foto untuk ditunjukkan pada anak-anak Mommy. Senang ya, akan punya sepupu lagi?"
Auristella mengangguk cepat. Tentu saja Ia senang. Keluarganya akan semakin ramai. Setiap tahun ada saja anak-anak dari sepupu ayahnya yang berpindah tempat tinggal. Sehingga memang yang paling dekat hanya Grizelle karena Grizelle juga anak dari adik kandung ayahnya.
"Ian sudah tahu?"
"Belum,"
"Aku akan beri tahu Ian,"
Vanilla yang mengandung, Grizelle yang akan punya adik, tapi banyak orang yang dibuat antusias menyambut kehadirannya.
******
"Co, Vanilla hamil lagi?"
"Astaga, maaf, Ma. Aku lupa memberi tahu,"
"Sampai lupa ya? tapi dengan Mama tidak lupa 'kan?"
Jhico yang baru saja selesai membuat kamar anaknya kelihatan beda, langsung dibuat termenung mendengar Mamanya bicara seperti itu.
"Maaf ya, Ma. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk tidak memberi tahu Mama. Aku lupa, terlalu senang dengan kabar itu. Sampai lupa memberi tahu Mama,"
Karina tersenyum lirih kemudian menutup panggilannya. Jhico dibuat merasa bersalah. Tapi Ia memang tak berniat untuk melupakan Mamanya sama sekali. Ia terlalu bahagia mendengar kabar kehamilan Vanilla lalu sibuk dengan memperhatikan Vanilla dan sibuk mempersiapkan kamar anaknya sampai tidak sadar kalau keluarganya belum diberi tahu tentang kehamilan istrinya.
Jhico menghubungi Mamanya lagi. Beruntung dijawab. "Ma, jangan kecewa ya. Aku minta maaf,"
"Kamu tidak menganggap Mama seperti Papa 'kan?"
"Ya ampun, tidak, Ma. Jangan berpikiran seperti itu. Aku memang akan membagikan kabar ini tapi aku lupa. Aku terlalu sibuk memastikan kondisi Vanila yang masih di Dubai, kemudian aku juga sibuk membereskan kamar anakku nanti, ya walaupun belum sempat digunakan tapi aku ingin sekali menatanya lagi. Mama mau maafkan aku 'kan?"
"Rena tahu, sementara Mama seperti orang bodoh. Mama tahu dari orang lain, teman Mama,"
Jhico membasahi bibirnya merasa tak tega mendengar ucapan Karina. Ia tidak sama sekali menyamakan Mama dengan Papanya. Ia tahu bahwa Mama dan Neneknya pasti akan menyambut baik kabar bahagia itu. Sementara Papanya belum tentu. Tapi sialnya Ia memang lupa membagikan kabar itu. Dan sayang, Karina terbawa perasaan karena menganggap dia orang terakhir yang tahu sementara Rena sudah tahu lebih dulu.
"Sekali lagi aku mohon maaf ya, Ma,"
"Iya, kondisi Vanilla bagaimana? kandungannya baik-baik saja?"
__ADS_1
"Kandungannya lemah, menurut Dokter,"
"Ya Tuhan...."
"Lalu kapan dia kembali?"
"Kalau sesuai rencana, dini hari nanti, Ma,"
"Apa Griz sudah tahu?"
"Griz orang pertama yang tahu bahwa dia akan segera memiliki adik. Dia senang sekali,"
Karina tersenyum ikut merasakan bahagia yang dirasakan cucunya. Sudah diduga, anak itu pasti akan sangat antusias. Dia memang kelihatan sudah mendambakan sosok adik.
"Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya ya,"
"Iya, Ma. Sekali lagi mohon maaf,"
"Iya, nanti Mama beri tahu Papa dan Nenek,"
"Nenek saja yang diberi tahu,"
"Jangan lah, Papa mu juga berhak tahu terlepas bagaimana dia menyikapinya nanti. Itu terserah dia lah. Yang penting dia sudah tahu bahwa dia akan punya cucu lagi,"
******
Grizelle memutuskan untuk menghampiri ayahnya yang belum juga keluar dari kamar adiknya sejak Rena masih ada, sampai pulang, Jhico nyaman sekali di sana. Bahkan Ia sudah sempat tidur dan makan cake tapi ternyata Pupunya belum juga keluar dari sana.
Tok
Tok
Tok
"Pupu, boleh aku masuk?"
"Boleh, Sayang,"
Grizelle membuka pintunya dan Ia terpukau melihat perubahan letak barang-barang di kamar itu. Jhico totalitas sekali.
"Pupu tidak lelah memindah boks bayi sendili (sendiri) lemali (lemari) juga dipindahkan sendili. Bahkan mainan-mainan adik juga,"
Jhico yang duduk di lantai, tepatnya di bawah boks bayi yang akan menjadi tempat tidur anak keduanya, tersenyun pada Grizelle kemudian mengisyaratkan Grizelle agar duduk di sampingnya.
"Pupu pasti lelah ya?"
Jhico terkekeh membenarkan. Ia tak hanya sekali merubah posisi. Agar mendapat kepuasan dalam memandang tiap presisi barang di sana, Jhico sampai harus beberapa kali merubahnya lagi hingga ditemukan posisi yang menurutnya tepat.
"Aku pijat ya bial (biar) tidak lelah lagi,"
Grizelle duduk di belakang ayahnya dengan lutut sebagai penopang. Kemudian Ia mulai memberikan pijatan di bahu sang ayah. Ia melakukannya dengan lembut dan penuh ketulusan. Pupunya sudah lelah memperindah kamar adiknya, maka tugas dirinya adalah membuat rasa lelah Pupunya hilang dengan cara diberikan pijatan lembut.
"Bagaimana, Pu?"
"Pijatan Griz seperti Mumu,"
"Kenapa? sakit ya, Pu?" tanya Grizelle menatap ayahnya yang memejamkan mata dengan kening mengerinyit.
"Tidak, justru langsung hilang semua lelahnya," jawab Jhico seraya tersenyum pada anaknya yang sempat memandang dirinya khawatir.
-----
Aduuh anak perempuan yg perhatian bgt si Icelle nih. Pas dapat notif Nillaku, kalian lg apa, manteman? komen di bawah coba👇
__ADS_1