
"Kenapa Papa meminta Griz datang ke sini, Ma?"
"Buaya nya sudah ada," terdengar nada sebal ketika Rena menjawab pertanyaan putrinya.
Mata Vanilla sedikit membulat, "Buaya? Grizelle benar-benar meminta buaya dan Papa menurutinya?"
Rena mengangguk, Vanilla saja tak menyangka kalau Raihan benar-benar serius memenuhi permintaan Grizelle. Apalagi dirinya yang melihat langsung bagaimana persiapan Raihan mulai dari mengurus izin sampai menyiapkan tempat tinggal untuk buaya itu.
"Iya, itu sudah ada dua ekor. Mungkin sekarang Griz sedang melihatnya,"
"Anak itu ada-ada saja,"
"Iya, seharusnya minta apartemen atau hotel bukan buaya,"
"Mama jangan mengajari Griz begitu, Ma,"
"Ya memang seharusnya begitu. Habiskan uang kakeknya untuk masa depan,"
Rena tak habis pikir dengan cucunya. Ada banyak yang bisa Ia minta entah mengapa malah minta hewan.
"Mumu, aku punya mainan barrlu (baru),"
Grizelle berlari menghampiri Vanilla yang duduk dan begitu tiba Ia langsung menenggelamkan kepalanya di pangkuan Vanilla.
Vanilla mengusap rambut lembutnya yang membuat Ia mengangkat kepalanya.
"Mainan apa?"
"Diberrlikan Grlandpa (diberikan Grandpa),"
"Iya mainan apa?"
"Buaya,"
Sudah Vanilla duga Grizelle akan mengatakan itu. Memang apalagi mainan yang dimaksud Grizelle selain buaya?
"Kenapa meminta itu?"
"Aku mau, Mumu,"
"Griz, seharusnya kamu minta apartemen, hotel, resort pada Grandpa. Bukan buaya. Untuk apa minta buaya?"
"Tapi aku mau buaya, bukan hotel, apallrtemen (apartemen) atau yang lainnya. Aku 'kan masih kecil,"
"Justru itu, Sayang. Kamu masih kecil jadi selagi ada kesempatan, habiskan harta kakekmu itu dengan minta hal-hal yang bermanfaat untuk masa depan,"
Grizelle menatap neneknya bingung. Grizelle menoleh pada Ibunya.
"Kenapa begitu, Mu?"
"Ma, jangan mengajari Griz begitu. Nanti Griz menganggap serius ucapan Mama bagaimana?"
"Ya biar saja. Memang harta yang ada sekarang untuk cucu pada akhirnya," jawab Rena ringan tanpa beban membuat Vanilla menghela napas. Memang Raihan dan Rena sudah beberapa kali mengatakan itu tapi tidak sekarang juga diwujudkan. Grizelle masih kecil masa harus disuruh minta semacam itu pada kakeknya? yang benar saja.
"Bagian Griz dan trple A sebenarnya sudah ada. Tapi kalau Griz merasa kurang, silahkan minta saja pada Grandpa, Griz. Daripada minta buaya,"
Grizelle menggeleng cepat. "Aku tidak mau. Aku tidak bisa mengurrlusnya (mengurusnya) lagipula kasihan kakek dimintai seperrlti (seperti) itu,"
Rena terkekeh melihat kepolosan Grizelle. Masih kecil sudah diajak membicarakan harta jelas saja Ia bingung.
"Pintar, Griz. Nanti kalau sudah besar bisa kerja keras sendiri ya? tidak boleh mengandalkan siapapun,"
"Iya, Mu,"
Grizelle duduk di atas kursi menatap makanan di meja makan. "Griz mau makan?" tanya Mumunya yang dijawab dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Masih ada mobil-mobilannya Ian ya, Grrlandma?"
"Masih, Ia belum pulang jadi mobilnya belum diambil,"
Grizelle mengajak kakeknya yang baru memasuki ruang makan untuk menemaninya bermain mobil milik Adrian itu.
"Biar Grandpa makan dulu,"
"Tidak, Papa hanya haus saja," jawabnya pada Vanilla saat Vanilla melarang anaknya untuk mengajak Raihan keluar.
"Sebentar ya, Grandpa minum dulu,"
Grizelle mengangguk kemudian Ia berjalan di belakang Raihan, mengikuti Raihan menghampiri mobil mainan milik Adrian.
"Griz berani?"
"Iya, tapi Jaga aku ya, Grrlandpa (Grandpa),"
"Okay, sekarang naik dulu terus pakai seatbelt nya,"
Grizelle mengangguk patuh. Ia segera memasuki mobil kecil itu dan mengenakan seat beltnya dibantu Raihan.
"Griz tekan ini untuk menghidupkan,"
Grizelle menekan tombol kecil di dekat tangannya. Kemudian mesin mobil menyala.
"Injak ini sebagai rem dan yang ini untuk menambah kecepatan," ujar Raihan yang didengarkan baik-baik oleh Grizelle.
"Ayo, diinjak pelan-pelan yang di sebelah kanan ini," kata Raihan yang tak dilakukan Grizelle sebab Ia sedang mengumpulkan keberaniannya.
"Aku takut," gumam anak itu.
"Dicoba dulu. Injaknya pelan saja," bujuk Raihan yang akhirnya berhasil membuat kaki Grizelle bergerak sedikit untuk menginjak pedal gas mobil mainan yang bermesin mewah milik Adrian itu.
"HUWAA KAGET," Grizelle berteriak saat tak sengaja menginjak pedal gas terlalu kuat hingga mobil menghentak ke depan. Beruntungnya Raihan dengan cepat berdiri di depan mobil hingga mobil kecil itu menabrak kakinya. Ia meringis dan menunduk untuk melihat kakinya.
"Grrlandpa sakit ya? maaf ya, Grrlandpa,"
"Tidak apa, Sayang. Tapi kamu baik-baik saja?"
Raihan mengeluarkan cucunya dari dalam mobil. "Aku baik-baik saja. Aku hanya kaget,"
"Aku masih mau berrlamin (bermain)," ucap Grizelle tak ingin keluar dari mobil, minta dilepaskan dari gendongan Raihan.
"Griz harus hati-hati,"
Grizelle mengangguk dan menginterupsi kakinya sendiri agar tidak lagi mengulang kesalahan.
Ia mencoba dan kali ini Ia berhasil mengontrol gerak kakinya sendiri.
"Iya benar begitu, Griz,"
Raihan masih tak lengah mengawasi cucunya. Ia berjalan di depan mobil itu guna memastikan mobil yang dikendarai Grizelle tak maju dengan serakah lagi.
"Kalau mau ke kanan atau kirrli (kiri) bagaimana?"
"Diputar stirnya,"
Grizelle mencoba melakukan apa yang dikatakan oleh kakeknya. Ia memutar stir dan menginjak pedal terlalu semangat hingga lagi-lagi membuat kakeknya panik.
Grizelle tertawa kemudian. Ia akhirnya menyerah. Ia tak ingin Raihan tiba-tiba diserang panik berlebuh karena dirinya.
Grizelle keluar dari mobil itu. "Kalau lihat Ian berrlmain (bermain) ini seperrltinya (sepertinya) mudah,"
"Memang mudah sebenarnya asal sudah bisa dulu. Kalau masih belajar tentu kamu anggap sulit,"
__ADS_1
Grizelle pernah bermain di rumah Raihan yang juga triple A ada di sana. Ia melihat Adrian senang sekali bermain mobil kecil berwarna merah itu. Ia ingin coba selama ini namun belum ada keberanian. Baru sekarang lah Ia ingin mencoba untuk mengendarainya. Ternyata sulit baginya.
"Lebih baik aku naik sepeda saja. Aku sudah pintarrl (pintar) naik itu karrlena diajarrli (karena diajari) Pupu,"
Raihan tersenyum mengacak pelan puncak kepala cucu keempatnya itu.
"Jadi sekarang Griz mau bermain sepeda? sepedamu di sini juga ada, kalau mau, kita bersepeda sekarang, tidak usah ambil sepedamu di rumah,"
"Grrlanpa saja yang bawa sepeda, aku duduk di depan ya?"
"Okay, ayo kita bersepeda,"
Raihan segera mengambil sepeda yang sering Ia gunakan ketika pagi hari waktunya sedang luang.
"Kita sebentarrl (sebentar) saja ya, Grrlandpa. Karrlena aku mau pulang,"
"Kenapa cepat sekali?"
"Ini sudah sorrle (sore)sekali, Pupu sebentarrl (sebentar) lagi pulang,"
Grizelle ingin menyambut ayahnya pulang bekerja seperti biasa dan bercerita secara langsung bagaimana Ia menjalani harinya termasuk apa saja yang Ia lakukan di sekolah.
"Sering datang ke sini ya,"
"Sudah serrling(sering),"
"Tapi menurut Grandpa jarang,"
Raihan mulai mengelilingi sekeliling kediamannya menggunakan sepeda. Saat penjaganya ingin mengikuti, Raihan menolak. Ia ingin benar-benar hanya berdua menghabiskan waktu dengan cucunya sembari menaiki sepeda.
"Sudah ada mainan baru di rumah Grandpa, jadi harus lebih sering datang ke rumah Grandpa,"
"Ean, Ian, dan Aurrlis (Auris) sudah tahu kalau aku punya buaya di rrlumah Grrlandpa (rumah Grandpa)?"
"Mereka belum tahu. Biar nanti jadi kejutan saja. Setelah mereka pulang dan datang ke rumah Grandpa, mereka akan terkejut melihat ada hewan lain di rumah Grandpa selain ikan dan kucing,"
"Kucing kapan selesai disekolahi, Grrlandpa?"
"Hanya tiga minggu dan tersisa satu minggu lagi,"
"Haaa lama sekali. Lagipula kenapa Grrlandpa cuma punya satu?"
"Grandpa tidak ingin banyak. Cukup ada satu saja,"
"Tapi ikan yang kecil-kecil ada banyak,"
"Karena kolamnya besar,"
"Tempat tinggal untuk kucing juga besarrl (besar),"
Raihan gemas mendengar cucunya yang bertanya terus hingga Ia sedikit menunduk untuk mengecup pipi Grizelle.
"Tapi satu kucing saja cukup, Sayang,"
"Grrlandpa kenapa buayanya dua?"
"Kalau satu nanti tidak ada teman,"
"Nah kucing juga harrlusnya (harusnya) begitu,"
Sepertinya anak ini memamg benar-benar ingin rumah kakeknya menjadi tempat pemeliharaan banyak hewan.
"Iya, nanti Grandpa tambah,"
"Tapi jangan disekolahi dulu ya? biarrl (biar) yang satu dikeluarrlkan (dikeluarkan) dulu darrli (dari) sekolah, barrlulalh (barulah) kucing barrlu (baru) nanti disekolahi biarrl (biar) pintarrl (pintar) seperrlti (seperti) pemiliknya," ucap anak itu disertai pujian untuk Raihan sebagai pemilik hewan menggemaskan dengan bulu lembut itu.
__ADS_1
----
Halloha selamat pagi. Udh sarapan? baca ini jam brp?