
"Oh jadi kamu balas dendam?"
"Tidak balas dendam, Nilla. Memang gas nya memaksa keluar,"
Vanilla mendengus lalu menaiki tempat tidur. Grizelle melenguh dalam tidurnya.
"Tanda-tanda mau bangun," gumam Jhico memperhatikan putri kecilnya. Vanilla dan Jhico menatap anaknya was-was.
Saat melihat mata Grizelle terbuka perlahan, Vanilla segera menatap Jhico dengan tajam.
"Griz bangun sendiri, bukan aku yang membangunkannya,"
Jhico mengangkat tangannya seperti seseorang yang mengakui kesalahan dan menyerahkan dirinya pada pihak berwajib.
"Tapi--"
"Enghhh," lenguh Grizelle seraya menggeliat dengan mata yang sudah terbuka sempurna.
"Kenapa bangun, Griz? karena Pupu berisik ya?"
"Kamu yang tertawa tadi, jadi kamu yang berisik,"
"Hih?"
Jhico tak peduli saat Istrinya menatap ke arahnya tidak menerima. Lelaki itu mengangkat anaknya lalu menciumnya
"Tanganmu belum sembuh, Jhico. Hati-hati! Kenapa terlalu memaksakan sih?"
"Tapi menggendong Grizelle bisa,"
Jhico membawa anaknya ke balkon. Bangun tidur disajikan pemandangan gedung-gedung tinggi dengan hembusan angin yang menyapa kulit membuat Grizelle merasa nyaman.
Sementara Jhico dan Grizelle di balkon, Vanilla membereskan ranjang. Lalu Ia merasa mulas lagi. Perempuan itu segera ke kamar mandi.
"Semoga saja Jhico tidak bertanya aku makan apa sampai bisa sakit perut. Nanti aku bingung akan menjawab apa," gumamnya dalam hati.
"Griz, Kita telepon Adrian ya?" Jhico duduk di salah satu kursi yang berada di balkon lalu mengajak anaknya bicara.
"Kamu sudah rindu dengan Auris juga 'kan?"
"Kita telepon mereka ya?"
Grizelle menatap Pupu nya saat bicara. Jhico tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.
Lelaki itu masuk ke dalam kamarnya bersama Grizelle. Ia tidak menemukan istrinya di kamar.
"Nilla.."
"Nilla, kamu dimana? di kamar mandi?"
"Iya, Jhi."
"Mulas lagi?"
__ADS_1
"Tidak,"
Jhico bergumam pelan menatap Grizelle, "Sepertinya Mumu sakit perut, Griz. Apa yang dia makan tadi? Kamu tidak memata-matai nya?"
Jhico meraih ponselnya lalu berseru pada Vanilla yang masih berada di kamar mandi.
"Minum obat kalau sakit,"
"Iya,"
Jhico menyiapkan obat untuk istrinya yang Ia yakini tengah sakit perut. Karena sudah dua kali ini Vanilla ke kamar mandi dan jarak waktunya berdekatan sekali. Setelah di dalam kamar mandi, Vanilla terdengar beberapa kali membuang gas.
"Haahh ada-ada saja kamu, Nilla. Apa yang kamu makan tadi?"
Vanilla diam saja tidak menjawab karena Ia masih buang air. Jhico kembali ke balkon setelah menyiapkan obat. Jhico duduk dan Grizelle dipangkunya.
Jhico mulai menelpon Devan. Dua kali Ia menelpon barulah dijawab. "Ya, ada apa, Co?"
"Anak-anakmu tidak datang. Kapan ke sini?"
"Oh iya, minggu ini Adrian dan Andrean sedang ujian. Tapi besok sudah berakhir. Mungkin besok mereka ke sana. Auris juga minta untuk datang ke sana tapi Lovi belum sempat menemaninya,"
"Griz merasa kesepian,"
"Hadirkan teman bermain untuk Griz, Co." ujar Devan seraya tertawa. Jhico menimpali tawanya.
"Griz saja baru dua bulan,"
"Tidak apa, biar jaraknya tidak terlalu dekat,"
"Okay, sampaikan juga rindu nya triple A untuk Griz. Aku tutup teleponnya,"
Vanilla keluar dari kamar mandi lalu meghampiri suaminya di balkon yang baru saja menyelesaikan panggilan.
"Siapa yang menelponmu?"
"Devan, sudah lama aku tidak bertemu dengan anak-anaknya,"
"Mereka terakhir ke sini sebelum kamu pulang dari rumah sakit kalau tidak salah,"
"Ya, oleh sebab itu aku meminta mereka untuk datang,"
*********
Akhir pekan pun tiba. Vanilla pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan anaknya yang sudah tinggal sedikit. Baik itu popoknya, dan segala keperluan lain.
Ia meninggalkan anak dan suaminya bersama dengan kakaknya serta istri dan anak-anak mereka.
"Dulu kalau sudah datang ke tempat seperti ini, pasti mataku langsung hijau,"
Bibi yang ikut Vanilla hari ini terkekeh mendengarnya. "Kita memang seperti itu. Padahal yang dibeli belum tentu dibutuhkan,"
"Iya, benar, Bi. Aku beli ini dan itu hanya karena ingin tapi nanti belum tentu digunakan. Hanya menghamburkan uang saja,"
__ADS_1
Selain membeli kebutuhan anaknya, Vanilla juga mencari bahan-bahan untuk memasak yang sudah sedikit lagi.
"Nanti setelah belanja, jadi treatment wajah?" tanya Bibi pada Vanilla disela-sela memilih apa saja yang ingin dibeli.
"Tidak jadi, Bi. Lain kali saja,"
Vanilla pikir lebih baik Ia mengutamakan kebutuhan sehari-hari dulu. Saat ini Ia harus menekan pengeluaran seminimal mungkin walaupun Jhico tidak memintanya untuk seperti itu. Kondisi keuangan nya bisa saja memburuk dan Ia harus mempersiapkan diri. Salah satunya tidak mengeluarkan uang untuk hal-hal yang menurutnya bisa dinomor duakan.
"Perawatan wajah penting untuk Vanilla. Karena nanti Vanilla akan kembali menjadi model lagi,"
"Iya, Bi. Tapi perawatan nanti-nanti saja lah. Yang terpenting skin care masih jalan terus," sahutnya dengan tawa kecil.
Saat di apartemen tadi, sebenarnya Ia sudah izin pada Jhico untuk pulang sedikit terlambat sebab dia harus ke klinik kecantikan untuk perawatan. Tapi selama di perjalanan tadi, Ia berpikir ulang. Sepertinya perawatan belum terlalu dibutuhkan untuk sekarang karena Ia pun masih tidak diizinkan untuk bekerja oleh Jhico. Sehari-harinya hanya di rumah saja, tidak menampilkan wajah di depan lensa kamera.
********
"Jadi tidak ada yang mau datang ke birthday party anaknya teman Daddy?"
"Tidak, Dad." Andrean dan Adrian menjawab kompak. Disusul oleh adik mereka, Auristella.
"Ndak,"
"Auristella ikut saja lah. Tidak mungkin hanya Daddy dan Mommy yang datang ke sana,"
Jhico terkekeh membayangkan bila ucapan Devan benar-benar terjadi. Mereka berdua datang ke acara ulang tahu anak dari teman Devan tanpa membawa satupun dari ketiga anak mereka. Akan terlihat aneh di mata orang lain.
"Ndak awu,"
"Kalau begitu, Andrean saja yang ikut. Biarkan Adrian dan Auristella bermain dengan Grizelle,"
"Aku juga tidak mau, Dad."
"Astaga, Griz pakai perekat apa sampai mereka bertiga tidak mau jauh dari Griz?"
Jhico tertawa mendengar Lovi yang bertanya seperti itu pada anaknya. "Daya tarik Griz tidak main-main," ucap Devan.
Lelaki beranak tiga itu berjalan mendekati anak sulungnya lalu memeluk kepala Andrean yang sedang berkutat dengan iPad nya. Anak itu sedang membaca cerita anak secara online.
"Ayolah, Andrean. Kamu anak yang paling menurut biasanya,"
Andrean menghembuskan napasnya lalu meletakkan benda berlayar datar yang dipegangnya sedari tadi ke atas meja.
"Ya sudah, aku ikut Mommy dan Daddy,"
"Pintar!" puji Lovi.
"Kenapa tidak serahkan saja kadonya lalu Mommy dan Daddy kembali lagi ke sini?"
"Kurang baik kalau begitu. Paling tidak, ada salah satu dari kalian bertiga yang mewakili untuk mengucapkan 'happy birthday' pada Abella yang berulang tahun,"
--------
Hellaw guysss Pa kabs? udh kangen sama Triple A? ku ksih di part ini. Lagi" mereka dtg ke apart Griz untuk main sama Griz.
__ADS_1
YG UDAH NUNGGU ADDICTED, BISA CEK PROFIL AKU YAA. ADDICTED UDH UPDATE