
Esok hari usia kandungan Vanilla sudah memasuki usia yang ke tujuh bulan. Akhirnya penantian Vanilla selama ini untuk melakukan babymoon ke Korea akan segera tercapai.
Semuanya sudah dipersiapkan oleh Jhico seperti tiket pesawat, tempat mereka menetap untuk sementara, juga destinasi apa saja yang akan mereka kunjungi.
Untuk liburan kali ini Vanilla yang mengatur pakaian dan perlengkapan apa saja yang akan mereka bawa selama berlibur. Ia melarang Jhico untuk menyiapkannya. Katanya, Vanilla ingin belajar untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan suami dan anak-anaknya.
Vanilla baru selesai periksa kandungan sekaligus memastikan apakah besok Vanilla benar-benar bisa dibawa berlibur oleh Jhico. Hasilnya menyenangkan, kondisi Vanilla dan janinnya baik-baik saja.
"Wow tidak disangka bertemu kalian di sini,"
"Ngapain kamu ke sini?"
"Berjualan! tentu saja periksa kandungan, memang ngapain lagi?"
Sahut Vanilla dengan nada tidak santai saat Deni berkata seperti itu padanya. Mereka tidak sengaja bertemu.
"Besok aku mau liburan, Deni." ujar Lovi seraya menjulurkan lidahnya pada Deni.
"Woaahh aku juga, Vanilla." sahut Keynie dengan excited. Kenapa mereka bisa memiliki rencana liburan yang kompak?
"Kemana?" tanya Jhico.
"Korea setelah itu Thailand,"
"Ck! kalian mengikuti aku ya?! aku juga mau ke Korea,"
"Hih? kurang kerjaan aku mengikuti kamu,"
Vanilla memukul bahu Deni, sahabat kakaknya itu yang sekarang sudah seperti sahabatnya juga. Mereka semakin dekat dan akrab setelah terlibat kerja sama dalam pekerjaan.
"Akan menjadi liburan yang menyenangkan," ujar Keynie seraya mengusap perutnya.
"Tadinya kami ingin pergi berlibur saat usia kandungan ku delapan bulan. Tapi karena aku sudah tidak sabar sekali, jadi rencana itu gagal," lanjut Keynie.
"Kalau aku memang dari awal ingin babymoon saat usia kandungan tujuh bulan," jelas Vanilla.
"Ya sudah, kami pulang dulu."
"Ya, hati-hati, Jhico, Vanilla." Keynie melambai pada Vanilla dan Jhico. Deni langsung menurunkan tangan istrinya yang tadi terangkat.
"Senang sekali kamu bertemu mereka,"
"Senang lah. Aku berlibur bersama mereka juga nanti,"
"Belum tentu kita satu pesawat dan satu penginapan. Lagipula kamu tidak cemburu kalau aku dan Vanilla---"
"Tidak, karena ada Jhico. Kamu tidak bisa macam-macam dengan istri orang lain, Deniele!"
Deni menatap istrinya dengan jengah. "Siapa yang mau macam-macam? aku malu dengan anakku,"
"Aku harap kamu konsisten dengan ucapanmu. Tadi saat melihat Vanilla, tetap saja tatapan mu berbeda. Aku tahu itu,"
__ADS_1
"Entah sudah berapa kali aku katakan, dia sudah seperti---"
"Adik? ya, aku tahu itu,"
"Lalu kenapa kamu bicara seperti itu? seolah menuduhku,"
Keynie mengangkat bahunya tak acuh kemudian Ia berjalan lebih dulu keluar dari rumah sakit meninggalkan suaminya yang menggeram kesal.
*****
"Nillaku..."
"Hmm? kenapa?"
"Jangan ke Korea, bisa tidak?"
"Huh? maksud mu bagaimana? kita sudah mempersiapkan semuanya,"
Jhico terdiam, sulit menjelaskan rasa tidak nyaman yang memenuhi hatinya setelah tahu bahwa Deni dan Keynie juga memiliki rencana untuk pergi ke Korea.
"Pasti karena ada Deni ya? kamu cemburu?" tebak Vanilla tepat sasaran. Tapi Jhico mengelak.
"Tidak, aku hanya---"
"Mereka pergi nya kapan? memang sama dengan kita? belum tentu. Lagipula apa yang salah kalau memang kita bertemu dengan mereka nanti? dia bawa istrinya, Jhi."
"Iya, aku tahu."
"Iya, itu yang membuatku tidak nyaman. Aku malas melihat tatapan sinisnya setiap bertemu aku. Dia menganggap aku musuh padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun,"
Baru kali ini Jhico mengungkapkan rasa kesal dan malasnya terhadap sikap Deni. Selama ini Vanilla mungkin tidak sadar betapa agresif nya Deni untuk melindungi Vanilla sampai terkadang Jhico yang berstatus kan suami dibuat tersinggung, seolah Ia tak ada perannya. Padahal tanpa Deni pun Ia bisa menjaga Vanilla.
****
Rena datang ke apartemen Vanilla untuk melihat persiapan putrinya. Ini untuk pertama kalinya Vanilla pergi jauh selama menikah dan dalam kondisi hamil. Sehingga Ia ingin benar-benar memastikan apakah semuanya sudah dipersiapkan dengan matang atau belum.
"Bawa sepatu sneaker saja, Vanilla. Untuk apa bawa yang tinggi-tinggi begini? kamu mau berlibur atau fashion show?"
Rena menjauhkan wedges dari tempat penyimpanan sepatu yang ingin dibawa Vanilla dan juga Jhico.
"Iya, itu tidak jadi dibawa, Ma. sudah dilarang Jhico,"
"Aneh-aneh saja kamu. Ngapain bawa wedges? berlibur itu tujuannya agar kamu senang, bukannya mencari celaka,"
Vanilla diam mendengarkan Mama nya yang memberi nasihat. Maklum, sebelum hamil, wedges dan high heels tak pernah lepas dari Vanilla bila sedang berlibur. Ia mengenakannya untuk berfoto ria. Tapi ketika jalan-jalan, Ia mengenakan flat shoes atau sepatu sneaker.
Biasanya Ia hanya bawa satu alas kaki ber hak tinggi untuk bergaya. Sisanya, sepatu yang benar-benar bisa dipakai untuk menjelajahi destinasi liburan.
Untuk saat ini Ia tidak bawa sama sekali. Karena Jhico sudah memberi peringatan tegas. Jhico tidak suka istrinya bergaya tapi malah membahayakan keselamatan Vanilla dan janin mereka.
"Kamu bawa snack juga?"
__ADS_1
"Iya, Ma. Itu harus, karena aku mudah lapar. Mama tahu itu 'kan?"
"Ini semua dibawa?" tunjuknya pada kumpulan makanan ringan yang berada di dekat koper yang masib belum terisi penuh oleh pakaian.
"Iya, Ma."
"Sudah mau berangkat, koper belum selesai diberesi. Aduh, Vanilla...."
"Kamu merapikannya terlambat sekali. Seharusnya dari seminggu yang lalu,"
Vanilla terkekeh saja mendengar Rena berceloteh. "Sebenarnya aku juga mau membereskan dari minggu lalu, Ma. Tapi aku sibuk kuliah dan bekerja. Jadi kesulitan cari waktu yang lengang,"
"Alasan, update di sosial media sempat. Masa merapikan ini saja tidak bisa?"
Vanilla menggigit bibirnya terdiam. Seharusnya Ia tidak menjawab saja karena Ia sedang melakukan kesalahan.
"Update di sosial media berhubungan dengan pekerjaan, Ma."
"Apa? Mama lihat kamu semakin eksis sekarang, buktinya hampir setiap hari posting foto selfie. Kalau endorse Mama tidak bisa protes karena itu pekerjaanmu,"
"Iya, hahhaah. Endorse aku semakin jarang karena Jane terlalu memfilter nya. Dia tidak mau aku terlalu banyak beban karena kandunganku saja sudah menambah beban ku. Beban tubuh maksudnya,"
"Iya, Mama perhatikan kamu jarang sekali mempromosikan sebuah produk. Dulu juga jarang, hanya brand-brand yang besar dan terkenal saja. Tapi kali ini lebih jarang lagi. Mama sampai geleng kepala melihat foto selfie mu terus setiap buka sosial media,"
"HAHAHAHA," Tawa Vanilla semakin tidak terkendali. Entah mengapa, hobi selfie nya semakin meningkat. Saat make up selfie, saat polos natural juga selfie.
"Mungkin bawaan bayi ya, Ma?"
"Halah, jangan bawa-bawa cucu Mama. Bukannya sibuk urus suami, malah sibuk di depan kamera,"
Rena sengaja menyudutkan Vanilla karena selama ini Ia hanya bisa memantau, barangkali Vanilla bisa merubah dirinya sendiri. Tapi sepertinya tidak. Ia memang harus disindir dengan terang-terangan.
"Aku sudah mengurus Jhico sekarang. Sering memasak, dan setiap hari baju kerja nya aku siapkan. Kalau tidak percaya, tanya Jhico."
"Akan Mama tanya,"
Mendengar Mamanya akan bertanya langsung pada Jhico, Vanilla jadi panik. Suaminya adalah orang yang sangat jujur.
"Hmmm tidak setiap hari juga sih. Tapi kalau aku tidak kelelahan bekerja dan kuliah, malam hari aku siapkan. Atau kalau aku bangun pagi, pasti aku siapkan. Tergantung---"
"Errghhh," geram Rena seraya mengetuk kening anaknya dengan pelan. Vanilla meringis seraya terkekeh kecil.
"Itu tidak setiap hari namanya!"
----------
Cek cek cek msh ada yg bangun? bwt yg masih blm tidur, tidur yaa abis baca ini eheheh. Semoga mimpi indah😊
__ADS_1