
"Nilla, rasamu tetap sama," gumam Jhico ketika menyatukan kening mereka. Jhico belum mau beranjak namun Vanilla mendorong pelan dadanya.
"Aku mengantuk, bisakah kamu menyingkir?"
"Sekali---"
"Tidak! sudah cukup, Jhi. Aku lelah,"
Jhici berdecak lalu beranjak dari atas tubuh sang istri. Sebelumnya Ia meraup wajah Vanilla dengan lembut.
"Lelah darimana? kamu semangat terus dari tadi,"
*******
Thanatan memasuki kawasan apartemen anaknya. Begitu tiba di basement, Ia keluar dari mobilnya lalu bergegas ke unit apartemen Jhico.
Ia menaiki lift dan setelah keluar dari lift, langkahnya terhenti ketika melihat anak kecil yang pernah datang ke rumah sakit menjenguk Jhico yang tak lain adalah Keyfa bersama Ibunya. Mereka baru keluar dari lift lain.
Thanatan mengerinyitkan dahinya sejenak lalu memilih untuk memutar balik langkah kakinya ke mobil. Kenapa Ia menjauh? karena jujur saja Thanatan tidak nyaman dengan kehadiran Keyfa. Anak itu terlalu over dalam mencari perhatian Jhico.
"Aku harus menegurnya lain waktu,"
Akhirnya Thanatan memutuskan untuk pergi ke kantor. Tadinya Ia berencana untuk datang melihat Jhico tapi karena ada Keyfa, Ia mengurungkan niatnya.
Thanatan sampai di kantornya dan menelpon seseorang. "Aku akan kirimkan foto seseorang padamu dan aku minta pada kau untuk mencari tahu semua tentangnya,"
"Baik,"
*******
Vanilla membuka pintu apartemen setelah sebelumnya ada yang menekan bell di luar.
Senyum Vanilla yang tadi begitu lebar untuk menyambut tamu, perlahan menyempit. Namun Ia tetap membalas sapa dari tamunya dengan hangat.
"Hallo, kakak manis,"
"Ya, hallo Keyfa. Ayo silahkan masuk,"
"Grizelle sedang apa?"
Keyfa dan Ibunya memasuki unit apartemen Jhico. Keyfa mengitari pandangan mencari Grizelle.
"Grizelle di kamar bersama Pupu nya,"
"Hari ini Kakak dokter akan periksa rutin ya?"
__ADS_1
"Iya, Keyfa."
Keyfa dan Vivi dipersilahkan duduk di ruang tamu. Sementara Vanilla beranjak ke kamarnya untuk memberi tahu Jhico bahwa Keyfa datang.
Saat melihat Vanilla akan ke kamar, Keyfa berdiri dan ingin mengikuti. "Keyfa, tunggu saja di sini," bisik Ibunya namun Keyfa tetap mengikuti Vanilla.
Vanilla membuka pintu kamarnya. Matanya menangkap kebersamaan antara suami dan anak mereka di atas ranjang. Kehangatan itu apakah harus berakhir karena kedatangan Keyfa?
Apa Grizelle harus menghentikan aksi manjanya pada Jhico karena Keyfa? sekarang Grizelle sedang berbaring di samping Jhico yang sedang menonton televisi.
Jhico menyandarkan punggungnya di ranjang. Tangannya mengusap kepala Grizelle yang terkadang menggeliat. Kakinya bergerak-gerak di udara.
"Jhi, ada Keyfa--"
"Hallo, Kakak dokter."
Vanilla terkejut karena rupanya Keyfa mengikutinya ke kamar. Keyfa berdiri di sampingnya menatap Jhico dan Grizelle.
"Hai, Grizelle. Mau bermain denganku?"
"Keyfa datang dengan Ibu?" tanya Jhico pada Keyfa.
"Iya, ayo Grizelle kita keluar. Bermain di luar. Kalau di sini, aku tidak sopan,"
"Grizelle ada playground, baru aku buat beberapa hari lalu. Kenapa harus bermain di kamar sekalipun tidak di tempat tidur," sanggah Vanilla yang merasa bahwa kamar adalah ruangan yang sangat privasi. Sekalipun Jhico mengizinkan mereka berdua bermain di atas permadani yang berada di bawah ranjang, tapi tetap saja lebih nyaman bermain di tempat yang memang dirancang untuk bermain.
Jhico menggendong Grizelle keluar kamar. Keyfa dengan setia mengikuti. Sesekali Ia bercanda pada Grizelle di balik punggung Jhico yang sedang menggendong Grizelle.
Vanilla memejamkan matanya seraya menghembuskan napas berat. "Kenapa aku semakin risih dengan Keyfa? seharusnya tidak boleh seperti itu. Dia anak yang baik, begitu kata suamiku," gumam Vanilla menatap pintu yang tadi ditutup oleh Keyfa.
*****
Jhico mengajak Keyfa dan Grizelle ke sebuah ruangan dengan ukuran tidak terlalu besar yang disulap oleh sang istri menjadi playground. Berhubung Grizelle akan tumbuh tidak terasa, Vanilla sudah menyiapkan satu persatu hal yang dibutuhkan oleh sang putri salah satunya adalah ruang bermain. Playground itu akan menjadi tempat favorit Grizelle nantinya dan juga ketiga keponakannya setiap berkunjung ke sini.
"Grizelle banyak sekali mainan nya. Aku kalah,"
"Saat kamu kecil kamu juga pasti seperti ini, Keyfa."
"Barbie nya banyak sekali. Aku punya barbie tapi tidak banyak,"
"Ini juga. Boneka nya banyak sekali ya. Semuanya menggemaskan juga sama seperti Grizelle,"
Grizelle perlu waktu untuk benar-benar akrab dengan Keyfa. Ia sudah mau berbaur lebih tepatnya menerima ajakan Keyfa untuk bermain tapi lebih banyak diam. Bila dengan Auristella dan Adrian, Ia selalu ingin ikut campur bila melihat keduanya bermain. Kalau sekarang, Ia lebih banyak memperhatikan Keyfa yag sibuk dengan barbie miliknya.
"Ini, Grizelle pegang. Aku akan---"
__ADS_1
"Enghhh,"
"Oh dia takut dengan itu, Keyfa." cegah Jhico saat Keyfa memberikan boneka harimau kecil pada Grizelle. Boneka itu pemberian Adrian.
Saat study tour, Adrian meminta pada Mommy nya untuk dibelikan itu dan akan Ia berikan pada Grizelle. Rupanya benar, ketika Adrian ke apartemen, boneka itu dibawa lalu dipersembahkan untuk sepupunya itu. Lovi tidak ingat lagi dengan boneka itu karena jarak waktu saat membelinya dengan kedatangan mereka ke apartemen lumayan lama sekitar dua minggu. Adrian yang mengingat bahwa boneka itu hampir tertinggal ketika mereka sudah memasuki mobil. Beruntungnya mobil belum jalan ke apartemen.
"Kalau takut kenapa mau punya boneka ini?"
"Boneka nya pemberian dari Adrian,"
"Oh begitu. Sebenarnya wajar kalau Grizelle takut karena bentuknya harimau. Seharusnya Adrian memberikan boneka yang bentuknya lucu-lucu seperti panda atau kucing,"
Keyfa mengangsurkan boneka itu pada Grizelle lagi dan Grizelle kenbali menggeliat menolak. Kemudian anak itu merengek pada Jhico seolah minta perlindungan dari kejahilan Keyfa.
"Jangan, Keyfa. Griz takut, nanti Griz menangis,"
"Ah Griz penakut. Tidak seru. Tapi kalau Griz menangis kira-kira bagaimana eskpresinya?"
"Jangan dibuat menangis lah. Aku saja tidak mau dia menangis, kamu malah penasaran dengan eskpresi menangis nya,"
"Pasti semakin menggemaskan. Nanti hidungnya merah seperti joker. Kakak dokter tahu film joker tidak?"
"Anakku cantik begini, kamu bilang seperti joker?" tanya Jhico dengan wajah tidak terima.
"Kalau menangis hidungnya pasti merah 'kan?"
"Tidak tahu, aku merajuk padamu. Aku tidak terima anakku dikatakan seperti joker," ujar Jhico pura-pura merajuk. Melihat itu Keyfa langsung terkekeh.
"Aku hanya bercanda, Kakak dokter. Grizelle cantik, bahkan sangat cantik melebihi aku yang punya penyakit ini,"
Terdapat nada canda di kalimatnya namun berhasil membuat hati Jhico sedih. Jhico menatap Keyfa yang sedang tersenyum pada Grizelle.
"Jangan suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Tuhan tidak suka dengan itu. Semua manusia punya kekurangan dan kelebihan, Keyfa. Kamu tidak perlu pesimis. Yakinlah bahwa kamu bisa sembuh dari penyakit jantungmu itu,"
Jhico mengusap kepala Keyfa penuh kelembutan sama halnya dengan yang Ia lakukan terhadap Grizelle tadi.
"Semoga ucapanmu dikabulkan Tuhan, Kakak dokter. Karena jujur saja, aku hampir lelah berharap,"
-------
Guyssss selamat malaaam Pembacaku yg msh setia. Makasih yaaa untk semua dukungan kalian😊 Sayang kalian bgt😚
ADA YG UDAH NUNGGUIN ADDICTED? AKU UDAH UP JG DI SANA. SELAMAT MEMBACA YAAA
__ADS_1