
Usai mengusik adiknya pagi ini, Adrian lekas mempersiapkan dirinya sendiri untuk pergi ke sekolah.
Ia yang penasaran apakah kakaknya sudah bangun apa belum dari tidur, tadi membuka sedikit pintu kamarnya dan ternyata Andrean sudah bangunĀ bahkan terlihat ingin bergegas ke kamar mandi. Maka Ia pun segera beranjak ke kamarnya sendiri untuk mandi dan mengenakan pakaian sekolah.
Sekarang Ia sudah berpenampilan sangat rapi dan bersih. Ia keluar dengan ransel yang Ia jinjing. Kemudian Ia langsung ke ruang makan dimana ayah dan kakaknya tengah duduk di kedua kursi yang ada di sana.
"Daddy ternyata habis lari pagi ya?" tanya Adrian melihat pakaian ayahnya saat ini yang mengenakan celana joger panjang, t-shirt, dan sebuah topi.
"Iya, kenapa?"
"Tidak, hanya bertanya. Tadi aku ke kamar Daddy dan mommy sebelum membangunkan Auris. Aku lihat daddy tidak ada di kama, tersisa Mommy saja yang masih tidur. Aku pikir Daddy sudah berangkat bekerja,"
"Hari ini Daddy sedikit siang ke kantor. Daddy antar kalian sekolah ya?"
"Okay, Dad,"
Devan tersenyum mengacak pelan rambut Adrian dan Andrean yang masih sedikit basah sehabis mandi namun telah tersisir rapi.
Adrian mendengus dan merapikan rambutnya sendiri. "Daddy jangan merusaknya. Aku menata ini penuh perjuangan,"
Devan hanya mencibir saja. Tak bisakah Adrian tinggal merapikannya lagi tanpa berujar seperti itu? Andrean saja hanya tinggal merapikan kembali rambutnya tanpa mengatakan apapun.
"Mommy kurang sehat ya, Dad?"
"Tidak, tadi malam Mommy sibuk sekali mengemasi barang-barang kita. Sampai selesai dini hari. Sengaja tidak daddy bangunkan pagi ini. Biar saja Mommy beristirahat. Nanti kalau dia merasa cukup isrirahat, pasti akan bangun juga"
"Dan Auris malah tidur dengan Mommy bukannya sekolah,"
"Semalam katanya Ia mulai belajar pukul delapan. Kalau kalian pukul tujuh 'kan?"
Kedua putranya mengangguk bersamaan. "Ya sudah, biar saja dia puas tidur dulu. Nanti Daddy pulang dari mengantar kalian, akan Daddy bangunkan Auris,"
Devan beranjak dari kursi yang ia tempati tadi. Usai meredakan dahaga dan istirahat sejenak sehabis membakar kalorinya pagi ini, Ia akan bersiap untuk mengantar kedua putranya.
"Kalian sarapan berdua saja ya. Daddy dengan Mommy dan Auris nanti,"
"Okay, Dad,"
Tersisalah Adrian dan kakaknya di sana. Mereka berdua menikmati makan pagi yang disiapkan maid dengan tenang. Sesekali Adrian akan berceloteh yang akan ditanggapi seadanya oleh sang kakak.
"Sudah dengar tentang lomba melukis belum? kamu ikut saja,"
__ADS_1
"Dengar,"
"Kamu ingin ikut?"
Andrean menggeleng enggan. Kemudian menjelaskan alasannya dengan singkat.
"Sebentar lagi kita akan pulang dan kembali lagi ke sekolah kita di sana,"
Adrian mengangguk paham. Kakaknya tak ingin lagi mengikuti lomba di sekolah mereka saat ini karena kalau tak ada halangan esok hari mereka sudah kembali ke tempat asal mereka.
"Lombanya akan diadakan dua minggu lagi,"
"Ya, maka aku tidak ingin ikut,"
"Sayang sekali. Padahal aku yakin kamu menang, Ean. Kamu pandai melukis selain pandai dalam akademi dan pandak diam juga,"
Mata Andrean menatapnya dengan lebih dingin daripada sebelumnya. Adrian yang tahu bahwa kakaknya kesal langsung terkekeh pelan.
"Tidak serius," ujarnya.
"Tapi apa yang aku katakan tadi memang benar 'kan? kamu itu pintar diam selain pintar dalam ilmu pengetahuan,"
"Banyak omong kamu," gumam Andrean dengan datar dan malas sekali meladeni adik keduanya yang lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama dengannya itu.
Andrean meletakkan kedua alat makannya di sudut piring lalu menatap adiknya tanpa ekspresi apapun.
"Jadi maksudmu aku bukan manusia?"
Tawa Adrian pecah mendengar pertanyaan itu. "Aku tidak bermaksud membuatmu tersindir, Ean. Tapi kalau kamu merasa, ya...jangan salahkan aku,"
"Memang kamu yang salah. Kamu jelas-jelas tengah membicarakan aku,"
"Woahh kamu bisa protes juga ternyata. Aku kira hanya Auris yang bisa,"
"Tentu saja,"
Pagi ini ada keinginan dalam diri Andrean meladeni adiknya ini jadi Ia menyahuti sedari tadi meskipun tidak dengan kalimat yang panjang.
*****
Pulang dari berlibur, Jhico membawa keluarganya untuk pulang ke rumah mereka.
__ADS_1
Vanilla terlelap di mobil. Ketika dibangunkan, Ia segera beranjak masuk ke dalam rumah. Tapi belum menginjakkan kaki ke istananya itu, Ia jatuh pingsan. Beruntungnya Grizelle yang menyadari keanehan dari sikap tubuh sang Ibu langsung berteriak memanggil ayahnya dan Jhico bergerak tepat sekali membawa Vanilla untuk Ia rengkuh dan Ia segera membawa istrinya itu ke rumah sakit. Ia cemas sekali. Mengingat mereka baru saja berlibur, Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Griz diam di rumah dengan Nada ya. Hati-hati,"
Begitu pesan Jhico sebelum melajukan mobilnya ke rumah sakit. Grizelle tadi turut mengantar ibunya ke dalam mobil. Jhico sempat mengecup keningnya sebelum benar-benr pergi meninggalkan anaknya di rumah hanya bersama asisten.
"Aduh, bagaimana keadaan Mumu sekarrlang (sekarang) ya, Nada? aku takut sekali,"
Terlampau khawatir pada Ibunya Grizelle sampai tak fokus bermain dengan Nada yang langsung mengajaknya bermain demi mengalihkan pikiran gadis kecil itu yang kelihatannya tak tenang sekali mengetahui Vanilla tak sadarkan diri.
"Mumu seperrlti (seperti) ini karrlena (karena)aku ya, Nada?"
"Sstt, Griz tidak boleh bicara begitu. Mumu memang sedang kelelahan saja,"
"Iya, dan Mumu kelelahan karrlena berrliburl (karena berlibur) dengan aku,"
"Griz, jangan berpikir begitu. Nanti Mumu bisa sedih kalau Griz berpikir bahwa Mumu seperti itu karena Griz. Mumu yang ingin berlibur dengan Griz, jadi bukan salah Griz,"
Nada mengusap pelan rambut anak itu menenangkan. Terlalu memikirkan sesuatu kemudian menyalahkan diri sendiri memang sudah sering Ia dapati dari Grizelle. Ini bukan pertama kalinya. Bahkan saat sakit pun, masih sempat Ia berpikir bahwa telah menyusahkan kedua orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Padahal saat sakit pun Grizelle tetaplah anak yang tak pernah membuat semua orang sulit.
*****
"Nona Vanila kelelahan dan kurang cairan juga. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi sebaiknya menginap dulu di rumah sakit untuk satu malam agar kondisinya lebih sering dipantau,"
Jhico bisa menghela napas lega begitu mendengar kalimat Dokter setelah kondisi istrinya diperiksa.
Karena menurut saran dokter, Vanilla dibiarkan menginap dulu, maka Vanilla dibawa ke ruang rawat inap. Dan Vanilla juga sudah sadar.
"Maaf ya. Kamu jadi khawatir denganku,"
"Kamu sudah tiga kali mengatakan itu, Nillaku. Sudahlah, jangan memikirkan apapun selain kesehatanmu dan adiknya Grizelle ini,"ujar Jhico seraya mengusap lembut perut istrinya.
"Aku lemah sekali," gumam Vanilla dengan senyum tipis. Jhico menghela napas pelan. Ia menggeleng tegas. Vanilla tidak lemah. Ia kuat maka bisa melahirkan satu malaikat kecil keturunannya ke dunia ini.
"Kamu kuat, jangan berlikir kalau kamu itu lemah. Nanti tubuhmu jadi tersugesti untuk menjadi lemah. Yakin saja bahwa kamu itu kuat dan bisa sehat terus sampai persalinan nanti,"
Vanilla mengangguk pelan. Ia tak menyangka akan berakhir di rumah sakit setelah berlibur dalam rangka menyenangkan anaknya yang baru bertambah usia.
Tangan Vanilla terangkat mengusap rambut Jhico yang duduk di kursi samping bangsalnya dan meletakkan kedua siku di bangsal Vanilla, menatap Vanilla dengan lekat.
"Bagaimana dengan Griz? kamu tidak ingin pulang?"
__ADS_1
"Aku tidak mungkin membiarkan kamu sendiri di sini. Griz akan baik-baik saja. Lagipula besok kamu sudah boleh pulang kalau memang kondisimu semakin membaik,"