Nillaku

Nillaku
Nillaku 233 Grizelle kecewa dan kesal tapi sudah memaafkan


__ADS_3

"Aunty Nein, kalau aku katakan sudah membaik, nanti Mumu jadi pelgi (pergi) ke Dubai ya?"


Nein melirik Vanilla. Ia bingung ingin menjawab pertanyaan Grizelle dengan kalimat seperti apa.


Grizelle menatap bergantian ke arah Nein dan Vanilla. Wajahnya yang polos membuat Joana terkekeh.


"Tidak usah bicarakan itu dulu. Kondisi Griz yang lebih penting untuk sekarang,"


"Tapi sehalusnya (seharusnya) Mumu belangkat (berangkat) besok 'kan?"


Vanilla mengangguk. Kemudian Ia menyentuh lengan Nein dan mengajaknya keluar untuk bicara.


"Sepertinya aku tidak bisa pergi ke Dubai,"


Nein mengangkat bahunya, "Kalau memang itu sudah keputusanmu, ya sudah."


"Tapi ini acara penting ya,"


"Kalau kamu tidak bisa meninggalkan Griz, ya sudah, Vanilla,"


"Coba nanti aku bicarakan dulu dengan Jhico. Sebelumnya kami belum membahas hal ini empat mata,"


"Aku rasa Jhico tidak mengizinkan,"


Vanilla diam, Ia tak tahu bagaimana keputusan Jhico nanti. Karena semuanya memang tergantung bagaimana kondisi Grizelle.


*****


Vanilla merapikan pakaian yang akan Ia bawa ke Dubai. Jhico memberinya izin untuk pergi. Jhico meyakinkan Vanilla bahwa Ia bisa sendiri menghandel semuanya, sehingga Vanilla tak perlu khawatir.


Meskipun sudah diperbolehkan Jhico, Vanilla akan pergi bila memang kondisi Grizelle sudah baik, tinggal pemulihan.


Jhico mengizinkan karena memang Vanilla sudah hampir tidak pernah bekerja jauh-jauh lagi tidak seperti waktu itu. Kali ini, Ia membiarkan Vanilla pergi. Meskipun pasti akan sulit mendampingi Grizelle tanpa istrinya, tapi Ia yakin bisa. Sebab, Grizelle pun kalau sudah ditinggal Ibunya, tak pernah menyulitkan sama sekali, Ia pengertian.


Meskipun belum ada kepastian apa Ia pergi atau tidak nantinya, Tapi Jhico menyuruhnya untuk menyiapkan pakaian yang akan dibawa. Kalau seandainya menurut pemeriksaan dokter nanti, Grizelle sudah membaik hanya tinggal pemulihan, maka Vanilla jadi berangkat.


Vanilla pulang untuk menyiapkan semua perlengkapannya. Sementara Jhico menjaga putrinya di rumah sakit.


"Seandainya Griz tidak sakit, mungkin Nona akan mengajak Griz ya? sekalian dia liburan,"


Disela kegiatannya membantu Vanilla, Nada bicara.


"Tadinya dia ingin ikut karena mengira ketiga sepupunya ikut Mommy mereka yang juga pergi ke acara itu sama sepertiku,"


"Oh, triple A tidak ikut?"

__ADS_1


"Tidak, Hanya Mommy mereka saja,"


Vanilla menunjuk pouch berisi peralatan mandinya yang sudah Ia siapkan sebelumnya. Nada mengambilnya kemudian menyerahkan pada Vanilla yang langsung dimasukkan oleh perempuan itu ke dalam koper.


"Apa lagi, Nona?"


"Sepertinya sudah semua,"


Vanilla menatap kopernya yang terbuka dan terisi penuh. Ia hanya membawa satu koper tak terlalu besar karena memang tidak lama berada di sana.


"Jadi belum ada kepastian apakah Nona pergi atau tidak?"


"Iya, Jhico sudah mengizinkan tapi aku tidak akan pergi kalau Grizelle belum pulih,"


Vanilla menutup kopernya usai memastikan bahwa tidak ada lagi keperluannya yang tertinggal.


*****


"Pupu, aku pinjam ponselnya, boleh?"


Jhico padahal tengah bermain game, tapi ketika anaknya meminjam usai belajar, Ia mengizinkan.


"Aku mau bermain game yang ada di ponsel Pupu,"


"Boleh,"


"Jadi tugasnya sudah selesai semua?" tanya Jhico pada putrinya itu.


Grizelle mengangguk karena mulai serius dengan permainan yang kini menantang dirinya.


Tadi Jhico yang menjadi pengoreksi untuk tugas-tugas Grizelle sebelum diserahkan pada pengajarnya. Saat ada tugas yang kesulitan untuk diselesaikan oleh Grizelle, Jhico dengan senang hati membantu sekaligus mengajarinya agar paham.


"Yah kalah. Kenapa kalau Pupu yang belmain (bermain) kelihatannya mudah ya? tapi gililan (giliran) aku yang belmain (bermain) malah sulit,"


"Mau Pupu bantu?"


"Tidak mau,"


Grizelle kembali fokus dengan misinya untuk mematikan monster jahat yang mengejarnya.


"Memang kenapa sih kejal-kejal (kejar-kejar)? ini 'kan halta kalun (harta karun) bukan punya dia,"


Grizelle menggerutu disela keseriusannya bermain game. Jhico terkekeh mendengarnya.


"Kamu sama seperti Mumu ya. Kalau bermain pasti menggerutu,"

__ADS_1


"Aku kesal, Pu. Ini monstel (monster) nya nakal,"


Grizelle terlihat mengambil senjata tambahan untuk memusnahkan monster yang masih mengejar.


"Ini halta kalun (harta karun) punyaku. Ihh dasal (dasar) monstel (monster) jahat!"


Jhico gemas melihat anaknya yang menggerutu memarahi monster yang hanya bisa Ia lihat di dunia permainan saja.


"Dia mau harta karun punyamu,"


"Iya, kenapa halus (harus) mengambil punya olang (orang) lain? kan bisa cali sendili (cari sendiri),"


"Dia memang sudah ditakdirkan menjadi monster yang mengejar para pencari harta karun, Griz," ucapnya seraya terkekeh. Lucu meladeni Grizelle yang seperti ini.


"Pupu tidul (tidur) saja. Nanti kalau aku sudah selesai, aku kembalikan ponselnya,"


Jhico mengangguk. Ia mengusap kepala Grizelle yang berbaring di dadanya. Sebelum Ia memejam, Ia meninggalkan kecupan dulu di pelipis Grizelle.


Ia hanya ingin memejamkan mata sebentar. Karena tidak akan mungkin bisa tidur pulas layaknya di rumah. Anaknya masih perlu pengawasan ekstra darinya.


Beberapa menit kemudian, Grizelle mulai bosan bermain. Ia mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat sang ayah yang kini menumpukan dagu di kepalanya.


"Pupu sudah tidul telnyata (tidur ternyata),"


Grizelle masih ingin berselancar di ponsel ayahnya. Ia membuka asal apa yang menurutnya menarik. Mulai dari galeri sampai ruang obrolan Jhico bersama Mumunya.


"Ah Mumu dan Pupu ****** (jarang) kilim (kirim) pesan," gumamnya saat melihat terakhir kali Jhico dan Vanilla berkirim pesan empat hari yang lalu.


Jelas saja, karena Jhico dan Vanilla selalu berdampingan selama Grizelle sakit. Untuk apa berkirim pesan kalau ada dalam satu ruangan?


Kemudian Ia melihat riwayat panggilan. Ada nama kontak 'Papa' yang terakhir menghubungi Jhico.


"Kakek telepon Pupu. Kenapa ya?" tanya nya pada diri sendiri. Ia merasa penasaran.


Ia kembali ke ruang obrolan dan menggulir layar sedikit ke bawah. Ada nama staf klinik dan dokter Kenzo yang baru membalas pesan Jhico. Grizelle tak ingin membacanya karena itu urusan pekerjaan ayahnya. Kemudian Ia menemukan pesan Karina yang menanyakan kondisinya beberapa kali. Setelah itu, Ia menggulir layar lagi. Kontak 'Papa' membuatnya penasaran. Kakeknya mengirimi pesan ke Jhico juga rupanya.


Ia membuka ruang obrolan antara ayah dan kakeknya yang ternyata kosong, hanya ada satu pesan dari Thanatan yang dikirim kemarin.


-Papa berjanji pada Grizelle untuk datang tanpa melihat jadwal dulu sebelumnya. Hari ini Papa ada pertemuan dengan salah satu rekan kerja. Papa sudah meminta pengertian untuk mengundur pertemuan agar Papa bisa datang menemui Grizelle. Tapi mereka tidak menyetujui. Terpaksa Papa mengingkari janji pada Grizelle-


Pesan itu belum dibaca ayahnya entah mengapa. Meskipun sampai saat ini Ia masih kecewa, tapi setelah mendapat penjelasan dari Mumunya kemudian sekarang Ia tahu kenapa alasan kakeknya tak datang, rasa sedihnya hilang.


"Telnyata benal (ternyata benar) kata Mumu. Kakek tidak bisa datang kalena (karena) ada pekeljaan (pekerjaan) yang tidak bisa ditinggal,"


"Ah kemalin (kemarin) aku juga sempat kesal dengan Kakek. Maafkan aku ya, Kakek," ujar Grizelle mengecup singkat layar ponsel ayahnya yang masih menampilkan pesan dari Thanatan.

__ADS_1


 


Hullaa ku dtg lg. Part ke tiga bwt malam ini. Lanjut gk? msh ada stok nih. Ehehe😆


__ADS_2