
Hari ini sudah dipastikan Jhico, Vanilla, Grizelle, dan Bibi pindah ke tempat tinggal baru yang lebih nyaman tentunya.
"Nanti jangan kaget ya rumah itu aku buat seperti apa,"
"Aku 'kan sudah lihat kemarin, Nilla."
"Ah tidak jadi kejutan artinya,"
Jhico menaik turunkan alisnya. Ia memang menyerahkan masalah furniture pada Vanilla dan istrinya itu hanya mementingkan barang-barang yang benar-benar dibutuhkan terlebih dahulu. Yang lainnya, bisa menyusul. Vanilla membeli semuanya melalui orang kepercayaan Mama nya yang biasa menangani keperluan rumah atau kantor bila Rena atau Raihan sedang membuat bangunan baru.
"Bibi penasaran dengan rumah nya Jhico,"
"Rumah bersama, Bi." ujar Jhico dengan senyumnya. Rumah itu akan menjadi tempat tinggal mereka berempat, jadi Jhico katakan rumah bersama.
Mereka semua akan berangkat meninggalkan apartemen yang banyak cerita itu. Mulai dari Jhico yang masih hidup sendiri, sampai memiliki satu anak. Apartemen itulah yang menjadi tempat untuk menjalani hidup nya sehari-hari.
Apartemen yang Ia beli dengan hasil kerjanya sendiri akan ditinggal dan Ia akan pindah ke rumah yang juga merupakan hasil kerja kerasnya.
"Sesekali kita akan ke sini 'kan, Jhi?"
"Tentu saja, apartemen ini bisa kapanpun didatangi,"
"Aku akan merindukan suasana nya. Jujur aku masih berat meninggalkan apartemen,"
"Kita akan pindah ke tempat yang lebih nyaman dan luas, Nilla. Jadi kamu harus senang, sama sepertiku,"
Rena dan Raihan datang ke apartemen anak mereka sekaligus mengantar ke rumah yang sudah siap dihuni itu. Mereka juga ingin tahu bagaimana bentuk tempat tinggal keluarga kecil Jhico sekarang.
"Griz mau pindah. Yeayy senang 'kan, Griz?"
Rena menggoda cucunya yang sudah cantik dengan baju stelan berwarna merah muda perpaduan dengan biru.
"Ayo, kita berangkat."
"Papa yang mengantar kalian menggunakan mobil Papa. Biar mobil kalian dibawa orang saja ke sana,"
"Iya, Pa."
Mereka semua berangkat dalam satu mobil. Jhico duduk di samping kemudi Raihan. "Vanilla, Devan sudah tahu hari ini kalian tidak lagi di apartemen? sekarang hari libur, khawatirnya Ia dan anak-anaknya ke apartemen,"
"Sudah, Pa. Nanti atau besok mereka ingin ke rumah,"
"Orangtuamu sudah diberi tahu juga, Co?"
"Sudah, Pa."
Hanya Karina yang tahu, sepertinya Thanatan tidak tahu. Entah kalau Karina sudah memberi tahunya. Kepindahan Jhico ke rumahnya kali ini justru membuat Thanatan lebih mendukung daripada kepindahan Jhico yang terdahulu dari rumah orangtuanya ke apartemen.
__ADS_1
Thanatan mendukung anaknya memberikan tempat yang lebih baik untuk keluarga kecilnya meskipun Ia ingin sekali Jhico kembali tinggal bersamanya membawa serta Vanilla dan Grizelle.
Tapi berhubung keinginan nya itu tidak mungkin dipenuhi Jhico, jadi mau tidak mau membiarkan Jhico menempati rumahnya sendiri daripada di apartemen yang Ia rasa kurang aman semenjak Ia menyaksikan berita tentang anak yang jatuh dari lantai dua puluh dua sebuah apartemen.
******
Thanatan dan Karina sedang sarapan bersama dengan Hawra. Pembicaraan mengenai jengah nya Thanatan terhadap kesibukan Karina rupanya tak membuat Karina menghentikan kesibukannya sebagai wanita karir. Pagi ini seperti biasanya, Ia akan pergi bekerja bersama suaminya.
"Anakmu hari ini meninggalkan apartemen. Kamu tidak ingin melihat rumah barunya?"
"Kamu sendiri datang ke sana? tidak 'kan? kamu sibuk hari ini," Thanatan menekan kata sibuk ketika mengatakan itu pada istrinya.
Hawra melirik keduanya yang kini sedang memulai perdebatan untuk pagi ini. "Aku akan datang, tapi mungkin nanti siang. Sekalipun sibuk, aku tetap menyempatkan waktu untuk bertemu dengan cucuku,"
"Iya, kamu kan penyayang cucu ya?"
"Hmmm berbeda denganmu,"
********
"Nyaman sekali di sini. Jadi ingin pindah ke tempat lain juga, mencari suasana baru,"
Rena menatap situasi di dalam rumah Jhico yang tenang dan nyaman. Semua perlengkapan yang sudah ada diletakkan dengan posisi yang sangat tepat sehingga menambah keindahan dari rumah itu sendiri.
"Woaahh ada taman relief juga di sini. Nanti kalau Griz sudah besar, dia pasti suka sekali melihatnya,"
Taman berbentuk relief yang disertai juga dengan jembatan sangat memanjakan mata yang melihatnya. Rena jadi membayangkan kalau nanti cucunya bermain di sana saat sudah bisa berjalan dan berlari.
"Adrian semakin tidak mau pulang nanti. Di apartemen yang pemandangan nya itu-itu saja membuat dia begitu nyaman. Apalagi di sini,"
"Mama ingin melihat kamar Griz, si gadis kecil,"
"Ayo, silahkan, Ma."
Jhico mempersilahkan Rena dan Raihan naik ke lantai atas dimana kamar Grizelle berada.
"Kenapa kamar kalian tidak di lantai bawah saja, Co?"
"Di bawah ini untuk kamar tamu dan lain-lain nya, Pa." jawab Jhico menjelaskan.
"Yang lebih privasi di lantai atas, Pa." lanjut Rena yang membuat Raihan mengangguk. Mereka menghampiri kamar gadis kecil yang dalam gendongan Jhico.
Yang lain begitu antusias melihat rumah baru itu sementara Grizelle terlihat mengantuk. Hal itu membuat Vanilla terkekeh.
"Griz sepertinya masih sulit meninggalkan apartemen, sama sepertiku,"
"Memang iya, Griz? kamu mendukung keputusan Pupu 'kan Griz?"
__ADS_1
"Jangan mengarang, Van. Griz itu sudah rela meninggalkan apartemen, mungkin hanya kamu saja yang tidak rela,"
"Iya, karena di sana banyak sekali kenangan, Ma."
"Di ajak tinggal di tempat yang lebih nyaman kenapa harus keberatan?"
Mereka tiba di lantai atas. Jhico membuka kamar anaknya yang hanya diisi oleh tempat tidur dan juga lemari saja.
"Berhubung Griz belum tidur di sini, jadi barang-barang nya juga masih sedikit sekali, Ma."
"Mama mau melengkapi kamar Griz, kira-kira dibolehkan tidak?"
"Hmm?" Vanilla segera menatap suaminya. Vanilla pikir lumayan juga kalau Mamanya yang mengisi kamar Grizelle. Ia tidak perlu keluar biaya.
"Astaga Vanilla! bicara apa kamu," batinnya memarahi diri sendiri.
"Jangan, Ma. Vanilla yang mau melengkapinya,"
Jhico mengangguk lega setelah sang istri menjawab demikian. Itu adalah kamar anak mereka jadi sudah kewajiban mereka untuk melengkapi semuanya yang merupakan kebutuhan buah hati mereka.
"Oh padahal Mama ingin turut serta mengisi kamar ini,"
Vanilla hanya terkekeh saja menanggapi Mama nya yang mengeluh kecewa. Ini pertama kalinya Ia menjadi seorang Ibu, oleh sebab itu antusias mengisi kamar Grizelle sebenarnya lebih besar daripada mengisi ruangan lain dengan furniture.
"Kenapa tidak diisi sekaligus rumah nya? apa yang bisa Papa bantu kira-kira,"
"Memang sengaja tidak sekaligus, Pa."
"Kenapa? tidak mungkin karena biaya 'kan? Papa rasa Jhico tidak mungkin kehabisan uang," Ujar Raihan dengan tawa kecilnya tidak bermaksud menyinggung karena ia percaya menantunya itu tidak mungkin membiarkan anak dan istrinya hidup dalam kekurangan.
"Tapi kalau pun begitu, tidak usah sungkan untuk datang ke Papa," lanjutnya.
"Sebenarnya aku yang terlalu khawatir kehabisan uang, Pa. Kenyataan nya tidak seperti itu,"
"Nah itu dia. Kenapa kamu tidak percaya pada suamimu? dia tidak mungkin membiarkan uang nya habis,"
Vanilla menggeleng bingung. Ia juga tidak mengerti kenapa sekhawatir itu dengan kondisi ekonomi mereka pasca Jhico kecelakaan dan harus menjalani pengobatan.
"Kalau suamimu mengatakan 'baik-baik saja' maka kamu harus yakin, Vanilla. Jangan meragukannya. Kamu yang terlalu khawatir begitu malah bisa saja membuat Jhico tersinggung,"
Vanilla menelan ludahnya gugup ditatap tajam oleh Papa nya yang sedang menasihati.
"Iya, Pa. Aku mengerti. Tapi untuk melengkapi rumah dengan barang memang keinginanku untuk pelan-pelan saja. Aku pikir tidak perlu sekaligus,"
ย -------
Segini dulu ya gengss. Babay semuanyaa. Makasih yaa bwt dukungan kalian. Mau Addicted up? ramein komen di sana ya๐ kuyy ramein bombardir kl perlu๐๐
__ADS_1