
Grizelle menuntun Vanilla menuju ruang makan, Jhico mengikuti di belakang.
Ia benar-benar berterimakasih pada putrinya yang berhasil membujuk Vanilla keluar sehingga Ia bisa melihat kondisinya sekarang. Vanilla masih kacau seperti tadi. Tapi sedikit lebih baik karena terlihat sekali Vanilla berusaha untuk tegar di hadapan putri mereka.
Dan lagi-lagi Jhico berterimakasih pada putrinya. Grizelle adalah alasan dari bangkitnya setiap keterpurukan yang dialami olehnya dan Vanilla.
"Kita tidak jadi dinner di luar?"
Grizelle tersenyum, "Mumu mau kita kelual (keluar)?"
"Iya, kalau Grizelle juga mau dan Pupu mengizinkan. Biar kita cari udara segar," jawab Vanilla.
"Pasti Pupu izinkan, Mu. Karena Pupu yang mengajak kita," ujar anak itu seraya menoleh pada ayahnya.
"Iya 'kan, Pu?"
Jhico mengangguk tersenyum. Ia mendekat pada mereka berdua, separuh hidupnya.
"Ayo, kita pergi,"
"Yeayy yeayyy kita pelgi (pergi) malam-malam. Sudah lama tidak pelgi saat malam,"
Semua penat, suntuk, dan rasa-rasa tidak nyaman lainnya dalam diri Vanilla dan Jhico seketika meluap tak bersisa.
"Senang sekali ya?"
Grizelle mengangguk semangat. Tangan mungilnya melingkari pinggang sang Ibu.
"Yeaayy Mumu senyum,"
"Dari tadi Mumu senyum, Sayang,"
"Tapi Mata Mumu tidak,"
Hati Vanilla mencelos saat mendengar kalimat singkat namun bermakna luar biasa bagi dirinya.
Grizelle tahu bahwa Vanilla hanya sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Karena senyum itu tidak sampai ke matanya.
*****
"Aku mau ini, ini, dan ini ya, Pu?"
Grizelle menunjuk gambar makanan yang Ia inginkan. Kemudian meminta persetujuan dari lelaki pertamanya itu.
"Iya, Sayang. Boleh pilih apapun,"
Jhico mengusap kepala anaknya. Kalau sudah meminta sesuatu padanya, Grizelle terlihat semakin menggemaskan.
"Kamu mau apa?" tanya Jhico pada istrinya.
__ADS_1
"Seperti kamu saja,"
Jhico mengangguk. Ia tahu Vanilla sebenarnya malas sekali makan, seperti biasa kalau Ia sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Tapi demi anaknya, Vanilla di sini. Menerima ajakan makan malam diluar.
*****
"Apa yang terjadi?"
Hawra menunggu anaknya di depan pintu. Ia yang menyuruh Karina untuk menemui Thanatan lalu bicara di dalam kamar mereka.
"Hal seperti ini sudah terbiasa terjadi 'kan, Ibu? tidak heran,"
"Ya, tapi kali ini Thanatan menyangkut pautkan Vanilla. Mungkin itu yang membuat Jhico marah sekali pada Thanatan,"
"Aku akan bicara pada Jhico,"
Karina berjalan menuju meja makan, diikuti oleh Hawra. Semua terasa berat. Karena keegoisan, Grizelle bahkan menyaksikan perdebatan yang seharusnya tidak terjadi.
*****
Disela makan malam, Jhico melihat nama Mamanya tertera di layar ponsel yang sengaja Ia letakkan di atas meja.
"Aku jawab telepon dulu ya,"
"Pupu tinggal sebentar ya, Griz,"
Pamitnya pada Vanilla dan Grizelle. Ia mengusap bahu keduanya sebelum pergi menjauh untuk menjawab panggilan Mamanya.
"Vanilla baik-baik saja?" hal pertama yang harus Ia ketahui adalah kondisi Vanilla. Tapi Ia tidak berani untuk bertanya langsung.
"Ya, dia baik-baik saja. Vanilla mendengar semua yang dibicarakan Papa tadi pada temannya. Batinnya terguncang dan aku sangat khawatir,"
"Iya, Mama tahu. Maafkan Papamu ya. Tolong jangan larang Griz untuk datang ke sini lagi,"
Jhico memijat hidung atasnya saat dari sana rasa nyeri mengalir hingga ke kepala.
"Tidak akan, Ma. Grizelle menyayangi Mama dan Papa,"
Sekalipun Ia ingin sekali menjauhkan Grizelle dari Papanya, tapi Ia yakin sekali anaknya tidak akan menerima hal itu.
"Sekarang Griz dan Vanilla sedang apa?"
"Kami sedang dinner di luar, Ma,"
"Oh maaf Mama mengganggu. Selamat menikmati makan malam ya,"
"Iya, Ma,"
Setidaknya meskipun Thanatan seperti itu, Jhico bersyukur masih memiliki Karina yang sekarang semakin menyayanginya serta keluarga kecilnya. Tidak lagi menghiraukan seperti ketika Ia masih kecil.
__ADS_1
Karina yang seorang wanita karir tak jarang mengabaikan dirinya. Sehingga Ia lebih dekat dengan sang Nenek, Hawra. Ia memiliki orangtua tapi rasanya sangat kesepian sampai akhirnya Ia memutuskan untuk tinggal sendiri setelah merasa bisa mandiri.
Bahkan saat Ia tinggal sendiri pun kedua orangtuanya masih tetap sibuk dengan dunia mereka sendiri. Sampai ketika Ia menikah, Karina mulai berubah. Mungkin karena Ia merasa bertambah anak, kemudian perempuan, yaitu Vanilla. Sehingga Ia lebih peka, perhatian pada Jhico dan juga istrinya. Padahal saat Jhico masih kecil sampai menghabiskan masa lajangnya, Ia jarang sekali melakukan hal itu.
Apalagi setelah kehadiran Grizelle. Karina sepenuhnya berbeda. Tak seperti sang suami yang mempermasalahkan jenis kelamin, saat mengetahui bahwa putranya akan segera memberikan Ia cucu, Ia bahagia sekali. Banyak rencana yang sudah Ia susun untuk kemudian menjadi momen dirinya bersama sang cucu kelak ketika Ia dewasa. Seperti belanja bersama, merawat diri bersama, dan masih banyak lagi.
"Pupu, tadi aku minum ice cream tiga, maaf ya, Pu,"
Begitu ayahnya datang dan kembali duduk di tempatnya, Grizelle langsung jujur mengenai dirinya yang tadi melahap ice cream sampai tiga.
Jhico melebarkan matanya, "Tiga? wah sudah bisa dipastikan. Malam ini kamu sulit tidur karena radangmu kambuh,"
"Tidak, Pu. Tenang saja,"
"Kenapa sampai habis tiga? hmm?"
"Aku minta pada Nay-Nay. Telnyata (ternyata) Nay-Nay sudah siapkan banyak ice cream sebelum aku datang, Pu. Baik sekali Nay-Nay ya?"
"Apa Nay-Nay harus Pupu marahi juga sama seperti Mumu ya?"
Jhico ancang-ancang meraih ponselnya untuk menghubungi Mamanya.
"Jangan, Pu. Tidak boleh! Pupu tidak boleh malahi (marahi)Nay-Nay. Aku yang salah,"
"Jangan, Jhi. Anak kamu yang sulit diatur. Kamu malah menyalahkan orang,"
Grizelle berkata lugas bahwa Jhico tidak boleh memarahi Neneknya dan Ia mengaku bahwa dirinya yang salah. Sementara Vanilla tidak mengizinkan Ia melakukan itu karena merasa bahwa Grizelle memang sulit diatur.
Ia saja sempat kesal juga pada anaknya itu. Masih saja mengambil ice cream dan cokelat miliknya diam-diam sampai akhirnya dia sakit dan Jhico malah menyalahkannya.
"Jangan begitu, Griz. Kamu tidak boleh sedih, tidak boleh kelelahan, tidak boleh berlebihan dalam mengonsumsi apapun itu. Kalau kamu sakit, Pupu stress juga,"
"Kamu juga manja sekali kalau sakit," imbuh Vanilla yang selalu dibuat pusing ketika anaknya sakit. Sedikit-sedikit merengek, tidak mau sedikitpun berjarak dengan Vanilla. Bahkan bila Grizelle tidak menemukan Vanilla di sisinya ketika bangun dari tidur, Grizelle tak segan menangis.
"Anak Pupu ini bisa manja, bisa dewasa juga,"
Jhico mengapit pipi anaknya dengan bibir karena terlampau gemas dengan malaikat kecilnya itu.
"Pupu, ada saus bolognese dipipi aku,"
Tawa Jhico pecah saat Grizelle mendapati noda saus bolognese di pipinya usai Ia apit. Grizelle merengek seraya menggosoknya.
"Pakai tissue, Griz. Jangan seperti itu membersihkannya,"
Vanilla membantu anaknya untuk membersihkan. Grizelle bisa menciptakan iritasi di pipinya kalau diusap kasar seperti itu.
"Jangan jahil,"
Jhico terkekeh mendengar Vanilla memperingati dirinya. Ia tidak bisa menahan gemas. Bahkan tadinya Ia ingin menggigit pipi putih dan kenyal milik anaknya itu tapi Ia tidak tega. Takut anaknya kesakitan saat kulitnya menjadi santapan gigi-giginya yang jahil.
__ADS_1
-----
Hai hai aku double up nih. Boleh minta like, vote, dan komen yg byk? follow noveltoon aku yaa. Biar saling kenal bisa follow jg Instagram aku👉arzeemhrn