Nillaku

Nillaku
Nillaku 301 Pertemuan Grizelle dengan Nay-Nay dan Triple A


__ADS_3

Karina tersenyum hangat pada para pegawai suaminya yang tersenyum menyapanya.


Karina langsung diarahkan oleh sekreteris Thanatan untuk segera memasuki ruangan Thanatan dimana lelaki itu telah menunggunya.


Pintu tertutup otomatis setelah istrinya masuk ke dalam dan Thanatan menekan tombol pada satu buah remote yang terletak di mejanya.


"Ini dokumen milikmu. Apa aku terlalu lama sampai di sini?"


Thanatan menggeleng kemudian Ia menerima dokumen yang diserahkan istrinya.


"Kenapa kamu datang ke rumah Jhico?"


"Memang tidak boleh aku datang ke rumah putraku sendiri?"


"Maksudku, ini terbilang masih pagi,"


"Vanilla berada di rumah sakit,"


"Sejak kapan?"


"Setelah pulang berlibur kemarin dia tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke rumah sakit oleh Jhico sementara Griz di rumah,"


Thanatan tersenyum miring seraya berkata dalam hatinya, "Apa aku bilang 'kan. Dia memang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak jera dengan kejadian sebelumnya,"


"Aku pergi dulu ya. Aku ingin bertemu Griz,"


"Jadi anak itu hanya bersama pengasuhnya?"


"Semalam Rena dan Raihan datang,"


Thanatan terdiam beberapa saat menatap istrinya. Kemudian Ia mengangguk. Entah apa maksud dari tatapan suaminya itu, Karina tidak mengerti. Ia harus segera tiba di rumah Grizelle, Ia ingin segera mengetahui kabar anak itu yang lagi-lagi ditinggal ibu dan ayahnya ke rumah sakit.


Istrinya keluar dari ruangannya. Sementara Thanatan segera memanggil sekretaris untuk menyerahkan dokumen yang tadi dibawa oleh istrinya.


Setelah dokumen tersebut tak lagi di tangannya, Thanatan menghembuskan napas pelan. Ia menelungkupkan kedua tangannya di wajah seraya menyandarkan punggungnya.


Hari ini akan melelahkan sekali untuknya karena banyak pekerjaan yang menanti. Tapi Ia sudah terbiasa, sehingga tak mengeluh. Walaupun entah mengapa Ia ingin sekali tahu tentang Vanilla dan Grizelle.


"Vanilla...Vanilla, apa kamu akan membuat cucuku hilang lagi? hm?"


*****


Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Grizelle menyambut Karina dengan senang. Kini, neneknya lengkap.

__ADS_1


"Nay-Nay kenapa lama tiba di sini?"


"Griz tahu Nay-Nay akan datang?"


"Ya, kenapa lama, Nay-Nay?" Ia mengulangi pertanyaan yang tadi belum dijawab oleh Karina.


"Biarkan Nay-Nay duduk dulu, Griz,"


Grizelle segera mengajak Karina untuk bergabung bersamanya dan Rena di sofa.


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik, kamu pun begitu 'kan?" tanya Karina pada Rena dengan hangat. Selain sebagai keluarga, mereka juga terikat sebagai teman.


"Iya, aku baik,"


"Nay-Nay, kenapa lama?" untuk kedua kalinya Grizelle mengulangi pertanyaan. Ia gemas sendiri karena tak kunjung mendapat jawaban dari Karina.


Padahal Karina sedang saling sapa dengan Rena. Tapi cucunya ini memang tak sabaran.


"Nay-Nay ditelpon Kakek saat di jalan, kakek meminta agar Nay-Nay mencari dokumen pekerjaannya yang tertinggal di rumah. Maka Nay-Nay harus kembali lagi ke rumah lalu setelah itu mengantarkan dokumennya ke kantor Kakek. Barulah Nay-Nay ke sini," jelasnya runtut yang langsung membuat Grizelle puas.


"Oh begitu. Aku pikirrl (pikir) Nay-Nay tidak jadi datang ke sini,"


"Iya, aku tidurrl (tidur) ditemani Grrlandma dan Grrlandpa, Nay-Nay,"


"Sudah sarapan?"


"Sudah, dengan Grrandma dan Grrlandpa tadi,"


"Griz habis apa sih? kenapa wajahnya sedikit basah seperti ini?"


"Aku habis berrlmain (bermain) mobil, Nay-Nay," sahut anak itu seraya terkekeh kecil dan mengusap keningnya.


"Setelah bermain mobil dan Grandpa nya pulang, sembari menunggu kamu yang lama sampainya, Ia membantu Ariella mempercantik taman belakang," ucap Rena menceritakan kegiatan cucunya pagi ini yang benar-benar aktif sekali.


"Mungkin karena tidak ada Mumu, jadi Griz merasa cepat bosan ya?"


"Iya, Nay-Nay. Biasanya kalau aku sedang tidak sekolah, aku dan Mumu ada kegiatan. Entah sibuk di dapurrl (dapur) walaupun Mumu yang masak, atau kami berrldua (berdua) perrlgi (pergi) ke suatu tempat, atau serrling (sering) juga kita menonton televisi saja,"


"Sabar sebentar ya. Mumu akan pulang nanti,"


"Iya, aku tidak sabar sekali. Mau lihat Mumu secarrla (secara) langsung, aku harrlus (harus) lihat keadaan Mumu," Ia sudah bertekad untuk memastikan keadaan Mumunya secara langsung. Kalau hanya dari sambungan telepon saja, Ia tak bisa tenang sepenuhnya. Saat tahu Ibunya diminta untuk menginap di rumah sakit, Grizelle ingin sekali menyusul ke sana dan menemani Vanilla. Tapi Ia tak kuasa melakukan itu karena Ia tahu bila Ia tak disuruh oleh orangtuanya untuk datang ke sana itu artinya memang pilihan terbaik adalah Ia tetap diam di rumah.

__ADS_1


"PERMISI, ICELLE. HALLO, ADA ORANG?"


Ketiga perempuan berbeda generasi itu sontak menoleh bersamaan pada satu arah.


"Aku kenal suarrlanya (suaranya)," gumam Grizelle.


Sedetik kemudian ia menemukan sosok Auristella. Matanya membulat lucu, mulutnya pun demikian. Auristella berlari ke arahnya dan langsung menubruknya.


"ICELLE, AH AKU RINDU,"


Grizelle belum bangkit sepenuhnya dari rasa terkejut. Kini ia mendapat pelukan juga dari Adrian, kakak sepupu laki-laki keduanya.


"Huwaaa kalian sudah pulang?kenapa tidak bilang padaku?"


Grizelle terlihat berkaca menerima kedatangan mereka. Kini Ia bisa melihat kedatangan Andrean, Lovi, dan Devan yang menyusul.


"Sengaja, biar kejutan," sahut Adrian dengan raut jahilnya seperti biasa. Ia dan Auristella sudah melepas pelukan mereka pada anak perempuan bertubuh mungil di depan mereka ini. Kemudian Auristella mencubit pipi Grizelle karena gemas.


"Selama ulang tahun. Ini hadiah dariku. Maaf, terlambat," Auristella menyerahkan sebuah hadiah yang tak lain adalah dua stel pakaian non formal yang sama persis dengannya. Ia minta dibelikan itu sebagai hadiah oleh Mommynya.


Andrean dan Adrian memberikan hadiah mereka juga yang tentu adalah mainan sebab mereka tak tahu lagi harus memberi apa. Kebetulan sebelum pulang, ketiganya memang pergi ke toys store untuk membeli mainan mereka sendiri dan sekalian Grizelle juga.


"Terrlimakasih ya,"


"Hih masih belum bisa bicara R?" ledek Adrian yang mengundang tarikan pelan di daun telinganya dari sang ayah. Devan gemas sekali dengan mulut Adrian yang tak ada habisnya menjahili orang. Sedang dalam suasana terharu sehabis berpisah dan kini akhirnya bertemu, Adrian malah sempat-sempatnya membahas artikulasi Grizelle dalam bicara yang melibatkan huruf R.


"Tidak apa. Masih kecil," sahutnya kemudian setelah menyadari tatapan kesal dari Grizelle.


"Kamu tidak mau peluk aku, Ean?" tanya Grizelle pada Andrean yang diam saja tak seriuh kedua adiknya ketika bertemu dengannya.


Andrean langsung maju mendekatinya dan segera membawanya ke dalam pelukan. Ia bahkan mengusap punggung Grizelle singkat.


"Bagaimana kabarmu?"


Grizelle tersenyum mendapat pertanyaan itu dari sepupunya yang paling pendiam dan dingin.


"Aku baik, kamu juga pasti baik 'kan? karrlena (karena) buktinya bisa datang ke sini,"


Andrean hanya mengangkat sudut bibirnya sekilas tapi sudah bisa membuat Grizelle tersenyum lebar karena senang Andrean mau tersenyum padanya.


"Kalian bertiga lupa dengan Grandma ya?"


Sampai kehadiran Rena terlupakan oleh ketiga anak Devan karena terkalahkan posisinya oleh Grizelle.

__ADS_1


Ketiganya langsung memeluk Rena kemudian Karina juga. Sementara Grizelle juga mendapat pelukan dan ciuman kasih sayang dari Lovi dan Devan yang sudah terbilang lama tak bertemu dengan anak cantik buah cinta Vanilla dan Jhico itu.


__ADS_2