Nillaku

Nillaku
Nillaku 109


__ADS_3

Rena terkejut melihat banyaknya minyak aroma terapi yang sudah disimpan Vanilla dalam sebuah pouch. "Ini banyak sekali,"


"Karena belakangan ini pinggulku sering nyeri, Ma. Selain pinggul, kaki juga sering nyeri. Dan anehnya, Jhico juga merasakan nyeri di kaki,"


"Huh?"


Terdengar lucu di telinga Rena. Mereka pasangan yang sangat kompak, sampai rasa nyeri saja hadir di tempat yang sama.


"Padahal yang hamil kamu. Kenapa jadi---"


"Kalau kata aku, mungkin Jhico merasa nyeri karena terlalu kelelahan. Tapi datang nya nyeri itu terkadang bersamaan dengan aku. Aneh ya, Ma?"


"Aneh sekaligus membingungkan. Mungkin kalian jodoh, jadi apa-apa kompak,"


Vanilla hanya bisa terkekeh dan di dalam hatinya juga berdoa demikian. Ia berharap bahwa jodoh nya sampai mati adalah Jhico seorang.


"Dengarkan apa kata suami, Vanilla. Biasanya, kalau kamu berlibur pasti suka kalap, lupa diri."


Rena yang sudah hafal kebiasaan putrinya mewanti-wanti hal ini. Setiap liburan Vanilla selalu lupa diri. Belanja buah tangan yang tiada habisnya, jalan-jalan ke sebuah tempat terkadang tidak ingin pulang, dan hal-hal buruk lainnya yang sering Vanilla lakukan ketika liburan semoga tidak Ia lakukan di babymoon nya kali ini.


"Istirahat yang cukup, jangan sibuk kesana-kemari lalu lupa istirahat,"


"Iya, Ma. Jhico juga pasti memantau aku dua puluh empat jam,"


"Dan kamu belum tentu mendengarkan ucapannya. Padahal niatnya baik,"


"Hfftt," Vanilla hanya bisa menghela napas kalau Mamanya sudah membela Jhico mati-matian.


*****


"Aduh yang mau berlibur. Giat sekali bekerja. Datang jam berapa kau?"


"Seperti biasa,"


Jhico sedang menikmati sarapan yang dibawakan Vanilla. Ia baru menikmatinya menjelang siang karena begitu datang, Ia sudah ada pasien yang menunggu.


"Ini makan siang atau sarapan?"


"Sarapan,"


"Baru sarapan? tadi sibuk sekali memangnya?"


"Begitulah,"


Kenzo mengangguk usai menyapa rekan sekaligus pemilik klinik tempatnya bekerja itu. Karena beberapa hari ke depan Jhico akan meninggalkan rutinitas nya, sekarang Jhico semakin memaksimalkan pekerjaan nya.


*****


Bel apartemen Vanilla berbunyi. Vanilla dan Mama nya yang sedang makan saling menatap.


"Mama saja yang buka,"


"Aku saja, Ma."


Vanilla bangkit dari duduknya untuk membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang.


Beberapa kali bel dibunyikan, Vanilla melihat dari kamera pengintai yang ada di atas pintu. Tamu nya seorang wanita tapi menggunakan bucket hat dan dia menunduk di depan pintu.


Vanilla membuka handel pintu, dan Ia langsung dibuat terkejut


"DORR!"


"Sialan!"


"HAHAHAHAH,"

__ADS_1


Vanilla menatap Jane dengan wajah marah. Ia sudah penasaran dengan tamu yang datang tetapi malah dibuat terkejut.


"Apa-apaan sih kamu?! penampilan sok-sok misterius. Aku kira kamu penjahat,"


"Aku mau masuk. Awas!"


Bak tuan rumah, Jane melangkah masuk ke dalam apartemen meninggalkan Vanilla yang mendengkus.


"Jane?"


Rena terkejut melihat kedatangan Jane. Jane duduk di depannya kemudian mencicipi donut yang dibawakan Rena untuk Vanilla.


"Ada apa datang ke sini, Aunty?"


"Melihat persiapan Vanilla. Kamu sendiri mau apa?"


"Hmmm aku sedang butuh teman,"


"Pulang ke mansion, suamimu sudah ada di sana, dia menelponku untuk menanyakan keberadaan mu tadi,"


"Iya, nanti saja."


"Kabari dia kalau begitu,"


"Nanti,"


"Nanti-nanti terus. Dia khawatir, Jane. Biarpun sedang ada masalah jangan begitu lah dengan Richard. Lagipula dia sudah minta maaf padamu berulang kali,"


"Memang ada masalah apa? dia kabur ke mansion?" tanya Vanilla yang tepat sasaran. Rena mengangguk kemudian melirik Jane yang terlihat enggan membahas permasalahannya.


"Aku tidak ingin ikut campur, tapi aku ingin kamu tetap baik-baik saja dengan Richard,"


"Ini lezat, nanti aku bawa pulang ya?" tanya Jane mengalihkan. Ia menunjuk donut yang masih tersisa di dalam box.


"Bawa saja. Mama bawa banyak,"


Jhico tiba di apartemen sudah menjelang malam. Yang menyambutnya adalah Vanilla, yang baru saja selesai membereskan semua keperluan untuk mereka berlibur.


Jhico kira, kamar mereka masih berantakan seperti tadi pagi. Rupanya tidak, koper sudah tertata di sudut kamar, tidak ada lagi barang-barang yang tergelatak sembarangan.


"Lelah ya, Nilla?"


"Apa?"


"Lelah membereskan nya?"


"Tidak, biasa saja."


"Terima kasih,"


"Untuk apa? tidak perlu terima kasih, itu semua memang sudah tugasku."


Jhico tersenyum kemudian mengecup kening istrinya. Ia juga menyapa anaknya yang mulai menampakkan diri, karena usia nya semakin besar.


"Badanku letih sekali hari ini,"


"Aduh, itu tidak boleh terjadi. Besok kita mau berlibur jadi harus sehat. Kamu mandi, nanti aku pijat."


Jhico menjawil ujung hidung istrinya. "Karena mau berlibur jadi perhatian padaku,"


"Tidak, aku memang perhatian. Kamu saja yang tidak sadar,"


"Halah, selama ini kalau aku lelah dan ingin dipijat harus bicara terang-terangan supaya kamu pijat. Kalau hanya kode kamu tidak peka. Entah memang sengaja tidak peka, atau--"


Vanilla memeluk suaminya dengan tawa geli. Ia memang menyebalkan sekali. Terkadang Ia benar-benar tidak peka, tapi sering juga mengabaikan.

__ADS_1


Jhico mandi sesuai titah istrinya tadi. Ia membasuh seluruh tubuhnya yang terasa penat setelah seharian bekerja. Ia jadi tidak sabar berlibur, menikmati waktu dengan bersantai ria dan juga bersenang-senang bersama istrinya.


Setelah mandi, Vanilla menyuruh suaminya untuk duduk di kursi rileks agar dipijat oleh teknologi yang terdapat di dalam kursi tersebut. Dan Jhico langsung berdecak.


"Kamu yang pijat. Masa kursi? tadi katanya---"


"Iya, okay. Kamu berbaring,"


"Tidak perlu buka baju, Nilla?"


"Ngapain? tidak usah lah,"


Vanilla memukul punggung suaminya. "Memang ada yang aneh dengan pertanyaanku? kenapa aku dipukul?"


"Aku bisa memijat tanpa harus bajumu dilepas. Paham tidak?"


"Hmm sensitif sekali kamu ya,"


Drrtt


Drrtt


"Ada yang menelpon mu itu,"


Ponsel Jhico berada di nakas sementara kepala Jhico menoleh ke arah yang berlawanan dengan nakas. Vanilla yang lebih dulu menyadari bahwa ponsel suaminya menyala.


"Mama," Jhico memberi tahu Vanilla bahwa yang menghubunginya adalah Karina.


"Hallo, Ma."


"Hallo, Co. Besok pesawat jam berapa?"


"Aku sudah mengatakannya kemarin. Lupa?"


"Oh iya, hmm Mama lupa,"


"Dua belas siang,"


"Semoga Mama bisa bertemu kalian dulu ya,"


"Mama mau datang? ke bandara?"


"Semoga ada waktu,"


"Tidak usah, Ma. Mama doakan kami saja. Tadi aku sudah pamit pada Nenek melalui telepon,"


Daripada dipaksakan disela kesibukannya, lebih baik Karina tidak datang. Lagipula sudah biasa Ia pergi sendiri tanpa di temui di bandara terlebih dahulu. Kali ini berbeda, mungkin karena Ia pergi bersama Vanilla. Ia senang, setidaknya Karina peduli terhadap istrinya.


"Tapi Mama ingin melihat Vanilla dulu. Mama usahakan besok bisa datang ke bandara, menemui kalian sebelum berangkat. Sekarang kamu sudah pulang 'kan?"


"Sudah,"


"Vanilla sedang apa? dia jangan kelelahan, Jhico."


"Memijat aku,"


"Oh manisnya," ucapan Karina didengar oleh Vanilla juga. Vanilla tersenyum malu mendengarnya.


"Ya sudah, kalian istirahatlah. Besok adalah hari yang melelahkan,"


---------


Halohaaa selamat malam. Selamat beristirahat semuanya. Aku gk up NILLAKU tengah malem nih wkwk. Tp kl Addicted tengah malem kek nya :D udh baca Addicted sama MCH yg ep hari ini blm?


__ADS_1



__ADS_2