
"Di sana ada balon udara. Griz mau naik itu tidak?"
"Mau-mau, Pu. Ayo, kita naik balon udara,"
Grizelle menunggu tak sabaran untuk tiba di tempat yang dimaksud sang ayah. Ia belum pernah menaiki balon udara. Ini pertama kalinya dan Ia sudah bisa membayangkan akan sangat menyenangkan.
"Kita ini sudah jauh dari penginapan sepertinya ya, Jhi,"
"Iya, Nilla. Tapi tak apa. Yang penting Griz senang,"
"Setelah itu kita kembali ke penginapan, Sayang? atau Griz mau mendatangi tempat lain lagi?"
"Hmm...seperrltinya (sepertinya) ke penginapan, Mu. Tapi aku belum tahu juga. Mungkin nanti bisa berrlubah pikirrlan (berubah pikiran),"
Vanilla mengangguk tak masalah. Seperti apa yang dikatakan suaminya tadi. Yang terpenting adalah kebahagiaan Grizelle dan liburan ini juga merupakan hadiah untuk Grizelle di hari ulang tahunnya.
"Nanti pulang dari sini semakin rajin belajarnya. Apalagi sebentar lagi Griz akan melaksanakan exam,"
"Siap, Mu,"
Grizelle mengerlingkan matanya pada sang Ibu yang duduk di kursi samping pengemudi dan menoleh padanya.
******
"Griz dan orangtuanya jadi berlibur?"
"Ya, kenapa? tidak biasanya bertanya,"
"Kenapa Vanilla harus ikut? bukankah seharusnya Ia banyak beristirahat,"
Karina merotasikan bola matanya kesal mendengar komentar yang diutarakan suaminya itu.
"Bisa istirahat di tempat berlibur. Mereka menginap di tempat yang di promosikan oleh orangtua teman Griz,"
"Padahal sudah tahu kandungannya lemah,"
Karina menatap sengit suaminya yang makan tapi sambil mencibir. Pantas saja Ia pulang untuk makan siang rupanya karena ingin berdebat bersamanya.
"Memang salah kalau Vanilla berlibur? suaminya lebih tahu bagaimana kondisinya. Lagipula Vanilla tetap bisa beristirahat dengan baik sekalipun dia berlibur. Kamu kenapa sih? tidak bisa melihat orang senang?"
Thanatan menatapnya dengan alis bertaut. Ia hanya bicara sesuatu yang mengusiknya saja. Ia bingung kenapa harus berlibur di tengah kondisinya yang sedang mnngandung? padahal Ia dengarĀ dari Karina bahwa kandungan Vanilla lemah menurut dokter.
"Kenapa? kamu masih menilai Vanilla bodoh dan lalai menjadi seorang Ibu?"
"Ya, 'kan memang sudah terbukti. Itu dia sebabnya aku tak habis pikir. Sudah ada pengalaman buruk mengenai kegagalan dalam mengandung dan dia sudah tahu juga penyebabnya. Kenapa sekarang malah tidak lebih waspada?"
"Itu hadiah ulang tahun untuk anaknya. Dia tidak mungkin tetap diam di rumah sementara anaknya sangat menginginkan orangtuanya untuk ikut berlibur. Griz adalah anak yang suka dengan kehangatan dari berkumpulnya keluarga. Wajar saja kalau Vanilla ikut,"
__ADS_1
"Ya sudahlah, tidak usah bicara lagi,"
"Kamu yang memulai. Bukannya makan saja dengan benar. Malah bicara yang tidak-tidak. Seharusnya kamu doakan saja Vanilla agar Ia bisa sehat terus sampai persalinan. Kalau kamu melarang Vanilla ikut, artinya kamu melarang cucumu untuk bahagia,"
*****
"YEAYYY AKU NAIK BALON UDARRLA (UDARA),"
Grizelle berseru ketika gelembung besar menerbangkannya dan kedua orangtuanya.
Vanilla dan Jhico tersenyum melihat anaknya yang nampak begitu bahagia dan menikmai liburannya kali ini.
"Semoga kita bisa naik ini lagi di lain waktu ya, Mu, Pu,"
"Iya, semoga nanti bisa kembali lagi ke sini dengn anggota baru,"
"Adikku, yeaayy,"
Grizelle yang paham dengan anggota baru yang diucapkan sang ibu langung menyebut adiknya dan bersorak. Ia tak akan sendirian lagi, nanti akan ada teman berlibur selain dari kedua orangtuanya.
Grizelle, Vanilla, dan sang suami menikmati pemandangan dari atas. Benar-bebar indah luar biasa ciptaan Tuhan. Awalnya Vanilla sempat takut karena Ia membayangkan akan berada di ketinggian nantinya. Tapi begitu berhasil berada di atas sini, Ia begitu nyaman bahkan rasanya tak ingin turun.
"Mumu tidak takut lagi 'kan?" Jhico bertanya pada wanita di sampingnya yang selalu Ia harapkan akan menjadi pendampingnya ini.
"Tidak, Pu. Aku malah senang sekali sekarang. Aku ingin di atas saja,"
Vanilla terkekeh menyadari anaknya yang tak ingin jauh dengan dirinya sama sekali. Begitu Ia mengatakan ingin tetap berada di atas balon udara, Grizelle langsung bereaksi sedih.
"Masih ada Pupu,"
"Hiii Mumu tidak boleh bicarrla (bicara) begitu. Aku ingin berrlsama (bersama) keduanya, bukan salah satu saja,"
Grizelle menggeleng tegas. Ia menatap Mumunya dengan sorot sedih. Ia tak ingin hanya dengan Pupunya saja atau Mumunya saja, melainkan Ia ingin ditemani keduanya sampai kapanpun.
*****
Devan mewujudukan niatnya semalam yang ingin lari pagi ini. Pukul lima pagi Ia sudah terjaga dan langsung mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian olahraga yang sangat nyaman.
Ia keluar dari rumah tanpa sepengetahuan siapapun. Rumahnya masih sepi dari aktivitas. Ia tak pamit pada istrinya sebab Lovi baru selesai mengemasi barang-barang mereka pukul dua dini hari. Itupun sudah Ia bantu. Dan Devan memaksa agar Lovi mau dibantu oleh asistennya. Tapi Lovi tidak ingin. Ia benar-benar akan memastikan semua barang yang dibawa sudah siap dan yang rencananya akan ditinggal di rumah mereka ini, juga tetap dalam kondisi rapi.
Tok
Tok
"Auris, sekolah,"
Auristella meregangkan persendiannya seraya mengerjapkan matanya setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya.
__ADS_1
"Auris, sekolah, cepat!"
Terdengar suara Adrian di luar kamarnya. Auristella berdecak, Ia menatap jam dinding.
"Belum terlambat, masih pagi,"
Ia memutuskan untuk kembali memejam namun ketukan pintunya tak berhenti.
"Auris cepat bangun. Mau aku rusak pintu kamarmu ya?"
Aurustella akhirnya beranjak meninggalkan tempat ternyamannya untuk melepas lelah. Ia segera membuka pintu kamarnya dengan gerak kasar.
"Apa sih? ini masih pagi,"
"Aku bangunkan supaya kamu tidak terlambat. Mommy belum membangunkan kamu 'kan?"
"Biasanya Momny bangunkan aku nanti,"
"Ya sudah, apa bedanya sekarang atau nanti?"
Adrian meninggalkan adiknya yang menatap kesal pada punggungnya yang telah menjauh.
Ia belum ingin bersiap karena masih pukul lima lewat tiga puluh lima menit. Sementara Ia mulai belajar pukul delapan hari ini.
Auristella mendatangi kamar orangtuanya yang ternyata tidak terkunci.
Ia masuk dan mengerinyit melihat Mommy nya yang masih terlelap.
"Tidak biasanya Mommy masih berada di tempat tidur. Biasanya sudah sibuk membuat sarapan," gumamnya seraya mendekati sang Ibu.
"Hei, bukannya bersiap malah ke sini,"
"Kamu berisik sekali sih. Kenapa tidak kamu saja yang bersiap sekolah? Daripada banyak bicara lalu terlambat, lebih baik mandi dan berangkat ke sekolah,"
Ia tak menduga kakak keduanya akan menyusulnya ke kamar orangtua mereka.
"Jangan bangunkan Mommy,"
"Aku juga tahu! aku mau tidur di dekat Mommy,"
"Hih tidur lagi? astaga, dasar penggila tidur,"
"B E R I S I K," Tekan Auristella seraya menatap tajam kakaknya.
Auristella berbaring di sebelah Mommynya lalu mengubur diri dengan selimut tebal tak ingin lagi melihat kakaknya yang sudah menyebalkan padahal masih pagi.
"S E K O L A H," Melakukan hal serupa, Ia menitah adiknya agar tak lagi tidur melainkan siap untuk sekolah.
__ADS_1
"Bukan tidur!" lanjutnya lagi.