Nillaku

Nillaku
Nillaku 21


__ADS_3

Denaya masuk ke dalam ruangannya. Di sana ada Jhico dan Vander. Ia menemukan Jhico yang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Nilla, jawab aku. Kamu hanya bersama Jane dan Adrian?"


Tut


Tut


"**** !"


Denaya melirik Jhico yang memaki seraya meletakkan ponselnya di atas meja dengan sedikit kasar.


Saat ini sedang jam makan siang sehingga Vander dan Jhico memanfaatkan kekosongan waktu untuk mengisi perut mereka. Sementara Denaya makan di luar bersama Raven sepertinya. Karena tadi, Jhico melihat lelaki itu menunggu Denaya di luar ruangan saat gadis itu belum menyelesaikan tugasnya.


Vander terkekeh di sebelahnya dan Jhico melirik malas. Hatinya sudah tidak tenang sekarang. Ia ingin sekali cepat-cepat sampai di mansion lalu menuntaskan rasa penasarannya.


"Pekerjaan belum selesai, cemburu menghampiri~"


Denaya menyembunyikan tawanya ketika teman seruangannya selain Jhico itu bernyanyi dengan lirik yang terdengar lucu dan nada yang sembarang.


"Cinta terkadang menyulitkan ya?"


Vander menoleh pada Denaya dan Jhico bergantian. Denaya langsung menghela bahunya tidak mau menjawab, sementara Jhico kembali melahap burger miliknya yang tiba-tiba saja terasa hambar. Padahal biasanya jika sedang merasa lapar, semuanya akan nikmat di lidah Jhico.


"Inginnya tidak cemburu. Tapi kalau cinta tanpa cemburu itu rasanya tidak mungkin,"


"Seperti kamu ya , Nay?"


"Huh?" Denaya melirik tajam saat Vander menggodanya. Ia juga memperhatikan reaksi Jhico. Lelaki itu tampak tidak peduli atau mungkin tidak mendengar? karena yang dilihatnya, Jhico juga berkutat dengan ponsel.


"Berusaha menerima dan melupakan yang sebelumnya milik kita memang sulit. Lagi-lagi karena cinta,"


Jhico masih berusaha menghubungi Vanilla berulang kali. Ia anggap tidak ada orang di dekatnya karena mengendalikan gejolak panas di hati bukan perkara yang mudah apalagi ditengah pembicaraan mereka yang menjurus ke arah lain.


"Aku berusaha untuk waras, Nillaku. Silahkan saja kalau kamu mau bermain, aku pastikan tidak akan lama. Kamu belum tahu aku dengan sisi yang lain,"


Jam kerjanya terasa begitu lama. Tidak biasanya Jhico seperti ini. Sepanjang mendiagonis dan menyembuhkan pasien, perasaan Jhico benar-benar tidak tenang. Beruntungnya Ia bisa mengendalikan itu sampai akhirnya pekerjaan yang Ia emban pun selesai.


Begitu menginjak mansion, Ia melihat sepasang manusia selain Jane dan Vanilla. Mereka yang sedang tertawa bersama seketika terdiam ketika Jhico datang dan langsung menarik tangan Vanilla sehingga mereka pergi dari sana.


Itu bukan tindakan yang baik dan Jhico tahu kesalahannya. Namun Ia tidak bisa lagi melihat Vanilla berada di sana lebih lama. Sejak kapan mereka berbincang hangat seperti itu? apa yang mereka bicarakan? berbagai pertanyaan memenuhi benaknya.


*******


"Kamu aneh sekali. Kenapa tiba-tiba memelukku?"


Vanilla melepaskan jeratan suaminya. Sehingga mau tidak mau Jhico menyerah. Lelaki itu menjulurkan kompres pada Vanilla tanpa berniat untuk menjawab.


"Sembuhkan aku sekarang!" Jhico meletakkan punggung tangan Vanilla di keningnya. Vanilla tersentak beberapa saat. Tubuhnya lebih panas dari sebelumnya. Itu hanya Perasaannya saja atau bagimana?


"Sejujurnya aku belum pernah merawat orang sakit," Vanilla kembali memulai percakapan seraya mendorong pelan tubuh suaminya agar berbaring.


"Aku yang pertama. Fakta yang membuat aku bahagia,"


Vanilla mulai merawat Jhico. Ia dengan sabar memenuhi apapun perkataan Jhico yang lebih paham dengan proses penyembuhan itu.


"Nillaku..."


"hm?"


Hanya berdehem, tapi respon yang tidak pernah ditunjukkan gadis itu ketika Jhico memanggilnya dengan sebutan 'Nillaku' membuat buncahan di dada Jhico tidak beraturan. Setidaknya Vanilla tidak menolak lagi ketika Jhico memanggil Vanilla dengan sebutan berbeda dari orang lain.


"Jadi tidak ada masalah lagi kalau aku memanggilmu 'Nillaku' ?"


"Percuma juga aku melarangmu. Mulutku lelah memberi tahu, kamu tetap pada keinginanmu. Jadi ya... aku tidak peduli,"

__ADS_1


Jhico kembali merebut bibir istrinya. Ini sudah menjadi kesukaan Jhico sejak--- Ia memaksa Vanilla untuk menikah dengannya. Walaupun mendapat beberapa pukulan dari Raihan, Jhico tetap merasa bahagia. Ia tidak lagi penasaran dengan rasanya. Terdengar kurang ajar memang. Tapi itulah kenyataannya. Dan sekarang Ia bebas menikmati manisnya bibir gadis itu.


****


Jhico melepas lingkaran tangannya pada pinggang Vanilla yang malah tertidur ketika Ia meminta untuk ditemani tidur.


Jhico terkekeh tipis. Istrinya benar-benar menggemaskan sekali. Keadaannya yang tidak sehat justru membuat Vanilla memperlakukannya dengan baik. Tidak ada perkataan tajam, atau ketidak sukaannya pada sang suami.


Pergerakannya itu membuat Vanilla terbangun. Vanilla melenguh seraya mengerjapkan matanya. Jhico menantikan mata biru itu terbuka sempurna.


"Mama telepon, Nillaku. Tolong angkat!" ujarnya ketika melihat ponsel berkedip.


Jhico menyerahkan ponselnya yang kini bergetar di nakas kepada istrinya itu. Vanilla masih diam, tidak tahu harus menjawab apa.


"Katakan apapun,"


Akhirnya Vanilla mengangguk. Jhico membantunya untuk menggulir layar, lalu Vanilla mendekatkan benda tipis itu di telinganya.


"Hallo, Jhico. Nenekmu sakit, Mama dan Papa akan pergi ke Roma. Tolong datang, bisa? dia menginginkan kamu di sini,"


Sepasang suami istri itu mengerjap kemudian Jhico memandang Vanilla. Ia mengusap wajah Vanilla untuk meminta agar ponsel itu diserahkan ke tangannya.


Namun Vanilla masih mempertahankannya. Ia menjawab dengan suara lembut agar Karina yang berada di seberang sana tidak merasa tersinggung sedikitpun.


"Ma, Jhico sedang sakit juga,"


"Oh...." Karina menghela napas kecewa. Ia sedikit terkejut juga ketika bukan suara Jhico yang menyambut panggilannya.


Sepertinya kali ini permintaan Hawra tidak bisa dipenuhi oleh cucunya yang sudah menikah itu.


"Tapi kami akan ke sana sekarang," Vanilla tidak mungkin menolak. Permintaan sederhana ini untuk pertama kalinya diutarakan oleh Hawra selama Ia dan Jhico menikah.


Jhico tersenyum lega. Itu yang akan Ia ucapkan tadi pada Karina. Tidak menyangka Vanilla akan semudah ini ketika diminta untuk mengerti keluarganya. Dia tidak harus meminta izin lagi pada Vanilla karena gadis itu sudah mengizinkannya secara tidak langsung.


"Mama senang mendengarnya. Kami tunggu ya,"


"Aku ikut kamu. Boleh?"


Jhico mengangguk senang. Ya Tuhan, Ia tidak menyangka gadis keras kepala di dekatnya ini akan mengajukan dirinya untuk ikut mendatangi kediaman keluarganya.


"Tentu saja boleh. Tapi kita tidak bisa menginap di sini pada akhirnya. Kamu tidak masalah dengan itu?"


Vanilla bangkit dari ranjang dengan hati yang entah mengapa terasa membuncah tidak sabar. Sampai akhirnya tidak menyadari kalau selimut telah membelit kakinya. Vanilla terjatuh di lantai dan Jhico langsung melakukan perannya sebagai suami. Sampai kompres yang ada di dahinya terlepas karena Ia terlalu cepat bereaksi.


"Maaf, aku tidak sengaja,"


"Hei, kenapa meminta maaf? kakimu yang sakit, bukan aku,"


Jhico mengusap kaki Vanilla yang sempat terantuk tepi ranjang sebelum akhirnya mendarat sempurna di lantai. Bagian belakang tubuh Vanilla pasti juga sakit. Sehingga Jhico mencoba untuk mengusapnya. Namun Vanilla menepis, bahkan Ia menatap suaminya dengan tajam.


"Jangan macam-macam!"


"Aku tahu rasanya. Sakit bukan? aku menyentuh milik istriku memang salah?"


Vanilla mencibir lalu menyingkirkan tangan Jhico dari kaki yang rasanya sedikit terkilir itu.


"Ayo, aku bantu,"


"Jangan sampai kamu terluka karena kecerobohan, Nillaku. Aku tidak suka itu,"


****


"Kita tidak membawa apapun untuk Nenek?"


"Sepertinya tidak perlu. Nenek lebih butuh kita untuk saat ini,"

__ADS_1


"Okay, baiklah."


"Kamu benar-benar bisa mengendarai mobil? kalau tidak, kita bisa meminta supir untuk melakukannya,"


"Aku tidak akan membiarkan supir ada di antara kita. Lebih baik berdua,"


Vanilla mendengus dan mengundang tawa Jhico. Usai menutup pintu mobil di samping sang Istri, Jhico memutari mobil lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudinya.


Ia menyuarakan klakson pertanda pamit pada bagian keamanan mansion. Sebelum keluar dari area mansion, sekilas Jhico menoleh ke belakang untuk melambaikan tangannya pada Rena. Wanita itu sempat terkejut karena rencana mereka berubah secara tiba-tiba. Ia sangat senang begitu Vanilla akan menginap di mansion. Namun ketika mendengar bahwa Hawra, nenek Jhico sakit, maka Rena pun menjadi pihak yang paling mendukung Vanilla untuk segera mendatangi Hawra.


Kesunyian adalah teman mereka selama di perjalanan. Karena itulah ketika ada suara kecil yang berasal dari perut Vanilla, Jhico bisa mendengar dengan jelas.


"Lapar?"


Vanilla hanya mengangguk dengan wajah malu. Ia tidak ingin mengakuinya secara terang-terangan.


"Makan di rumahku saja ya?"


"Ya, aku juga tidak mau makan di luar,"


"Kamu jauh lebih baik kalau aku sedang sakit. Apa sebaiknya aku sakit terus, Nillaku?"


"Bicara apa kamu?" nada bicaranya terdengar marah. Vanilla terkadang kesal dengan orang yang tidak bersyukur sama seperti dirinya dulu. Seharusnya kesehatan lah yang disyukuri dan diinginkan. Bukan malah sakit yang menyiksa tubuh.


"Memang begitu kenyataannya,"


Ketika lampu lalu lintas menghentikan laju mobil, Jhico menoleh sejenak pada Vanilla lalu meraih tangan gadis itu. Vanilla menolak, namun Jhico jauh lebih keras kepala.


"Bisakah kamu seperti ini lebih lama lagi?"


Sikapnya memang masih dingin. Namun tak dipungkiri selama Vanilla merawatnya tadi, Jhico lah yang menjadi prioritasnya. Bahkan ketika Adrian masuk ke dalam kamar untuk mengajaknya bermain, Vanilla menolak dan mengatakan bahwa Ia harus bersama Jhico karena lelaki itu sedang sakit. Padahal yang selama ini Jhico tahu, Vanilla begitu mengutamakan keponakannya.


"Jangan meminta lebih," tukasnya.


*****


Hawra yang terbaring lemah di atas ranjang tersenyum bahagia begitu Jhico datang bersama Vanilla.


Dan Jhico pun merasakan kebahagiaan yang sama ketika Vanilla begitu mudah menjalin kedekatan dengan Neneknya. Gadis itu bisa menghilangkan sikap yang selama ini ditunjukkan kepada Jhico. Dengan kelembutan, Vanilla memenuhi keinginan Hawra yang meminta untuk disuapi oleh Vanilla.


Melihat kedekatan yang begitu hangat itu, Jhico memilih untuk keluar dari kamar Hawra, memberi keduanya waktu.


Jhico bertemu dengan Thanatan yang baru pulang bekerja. Pakaiannya tidak dalam kondisi teratur dan wajahnya juga sangat menampilkan kelelahan.


Jhico tidak merasa heran dengan itu. Memang seperti inilah kebiasaan Papanya. Bekerja sekeras mungkin tanpa mengingat istri di rumah. Mungkin hal itu juga yang membuat Karina bosan dan terkesan ingin balas dendam. Ia tidak ingin kalah sibuknya dengan sang suami. Membangun butik dimana-mana, perusahaan pun sudah mulai dirintisnya. Itulah yang membuat Jhico merasa hidup sendiri. Ia memiliki orangtua tapi rasanya seperti manusia yang hidup di dalam belantara. Karena biar bagaimanapun ramainya rumah atau istana yang ditempatinya, akan tetap terasa sepi karena dua orang yang seharusnya berada di sampingnya justru terlalu bergelut dalam dunianya masing-masing.


"Suatu kehormatan bisa menemukan kamu berada di rumah ini tanpa permintaan..."


"Terkadang sudah diminta pun kamu tetap enggan," lanjut Thanatan seraya melepas jas yang membalut tubuhnya. Karina yang sedang sibuk dengan desain rancangannya di meja ruang keluarga pun langsung bangkit untuk menyambut sang suami dan meraih segala perlengkapan yang ada di tubuh suaminya.


"Karena Nenek,"


Jhico duduk dengan tenang. Lalu menyeruput secangkir teh hangat yang dibuat pelayan ketika Ia datang. Thanatan pun duduk di hadapan putranya.


"Jadi bagaimana cara Nenek memintamu untuk datang?"


"Nenek sakit,"


Reaksi Jhico memang akan seperti ini. Ia menjawab dengan singkat tanpa mau menatap Thanatan. Mata tajam yang selalu memandang Vanilla dengan lembut itu malah memandang cangkir yang baru saja diletakkannya kembali di atas meja.


"Papa sudah menemukan kornea untuk Vanilla. Kamu kalah cepat huh?"


-----------


Hellawww My beloved readers❤️ NILLAKU baru bisa up skrg mon map yaaa ;) ini aku up jam 1 malem hiks. Semoga aja review-nya ga lama :( DUKUNGANNYA BIAR AKU SEMANGAT!!! Thankiss 😘💙

__ADS_1



__ADS_2