
Tadi Vanilla langsung mengobati luka putrinya di lutut. Kemudian Vanilla menggantikan baju sekolah anaknya. Sekarang, Grizelle sedang terlelap.
Vanilla menatap dalam pada anaknya. Tangannya terulur untuk menghapus sisa-sisa air mata Grizelle di pipinya yang menyebabkan rambutnya melekat di pipinya.
"Ada-ada saja drama Griz pulang sekolah," Vanilla menggeleng pelan.
Tapi kalau tidak begitu, Grizelle mungkin tidak akan jera lari-lari. Anaknya itu memang tidak bisa berjalan pelan, selalu inginnya berlari. Akhirnya sekarang mendapat pelajaran. Entah nantinya bisa merubah kebiasan itu atau tidak.
Saat Jhico pulang nanti, Ia pasti akan terkejut mendapati kassa dan plester di lutut putrinya itu. Lalu Vanilla yang akan merasa bersalah dan merasa bahwa tak bisa menjaga anak mereka dengan baik walaupun Jhico tidak akan menyalahkannya dan Jhico juga tahu kalau Grizelle yang salah. Jhico tahu bagaimana kebiasaan anaknya itu.
Nada masuk ke dalam kamar dan membuat Vanilla menoleh. "Nona Lovi datang, Nona," katanya pada Vanilla.
Vanilla mengangguk pelan. Kemudian beranjak dari sisi Grizelle untuk menghampiri tamunya.
Nada menjaga Grizelle, Ia menunggui anak itu. Takut-takut kalau Grizelle menangis lagi. Nada yakin Grizelle masih suka merasakan perih dari lukanya. Bisa jadi Grizelle masih sering menagis terus karena itu.
******
"Icelle, dimana Aunty?"
"Belum juga menyapa Aunty. Sudah menanyakan Icelle?" tany Vanilla pada Auristella yang langsung mencari keberadaan Grizelle.
"Oh iya, hallo, Aunty," Auristella cepat-cepat menyapa adik dari ayahnya itu. Ia memeluk Vanilla juga seperti yang Lovi lakukan.
"Tidak kedengaran suaranya. Sepertinya anak cantik itu tidur ya? atau sibuk belajar dan mengerjakan tugas?"
Vanilla menggeleng, tebakan Lovi yang kedua salah. Ia mengajak Lovi dan Auristella duduk dulu. Barulah Ia bicara.
"Icelle tidur, Auris. Dia habis jatuh,"
"Hah? jatuh? kenapa? maksudku, kenapa bisa jatuh?"
"Ya ampun, Icelle...Icelle...ada-ada saja anak itu,"
Vanilla menggeleng pelan melihat reaksi Lovi. Sama sepertinya tadi yang tidak menyangka kalau akan ada kejadian Grizelle jatuh dan kakinya terluka.
"Terus lukanya parah?" tanya Lovi cemas.
"Berdarah. Tapi sudah aku obati,"
"Kenapa bisa jatuh, Aunty? memang dia memanjat gerbang atau bagaimana?"
"Kamu lagi, aneh juga. Tidak mungkin Icelle memanjat. Untuk apa dia melakukan itu," Lovi tak habis pikir dengan anaknya yang bicara seperti itu. Vanilla justru terkekeh mendengar penuturan Auristella.
"Dia lari begitu keluar dari mobil. Jadi begitulah, jatuh dan berdarah. Dibantu oleh security tidak mau. Harus aku yang membantunya,"
"Tapi bisa jalan, Aunty?"
"Bisa, Sayang. Tadi ditawari oleh security apa ingin digendong? tapi dia menolak,"
"Beruntung Icelle tidak minta digendong olehmu, Van,"
Vanilla kemungkinan besar menolak bila memang Grizelle minta digendong olehnya. Ia sudah tidak kuat lagi. Tapi ia lebih tidak kuat melihat anaknya menangis kesakitan seperti tadi. Anaknya mengerti bahwa kini Mumunya tengah mengandung maka tidak meminta untuk digendong, hanya dipapah saja olehnya.
__ADS_1
"Kasihan Icelle. Padahal aku datang ke ini mau bermain dengannya,"
"Auris menginap saja di sini,"
"Tidak, Aunty. Icelle juga sedang sakit. Biar dia istirahat saja. Kalau ada aku di sini, bisa-bisa dia tidak istirahat, dia akan bermain terus,"
"Oh iya, ini, aku hampi lupa,"
Lovi menyerahkan apa yang Ia bawa pada Vanilla yang langsung berdecak pelan. "Banyak sekali ini, Lovi,"
"Itu ice cream dan cokelat, Aunty,"
Auristella menunjuk ice bag yang baru diletakkan Lovi. Vanilla mengerjapkan matanya.
"Aku dapat itu juga?" tanya Vanilla bingung pada Lovi dan Auristella.
"Ya, untuk Icelle juga. Dia suka dengan itu," kata Auristella.
"Woah harus Aunty sembunyikan ini. Kalau dia tahu, bisa-bisa dihabiskan dalam satu waktu,"
Lovi tersedak oleh tawanya sendiri. Ia juga pernah ada di posisi Vanilla. Harus menyembunyikan makanan atau minuman yang sensitif sekali bisa membuat anaknya sakit. Diberikan izin untuk menyantapnya, tapi harus tahu aturan. Sementara ketiga anaknya saat masih kecil seusia Grizelle, sulit sekai untuk diberi tahu tentang itu. Kalau sekarang, mereka sudah memahami bahwa apapun yang berlebihan itu tidak baik.
"Ya sembunyikan di tempat yang aman,"
"Akan aku berikan sesekali," ujar Vanilla.
"Jangan sesekali, Aunty. Harus sering-sering, karena Icelle suka dengan ice cream dan cokelat,"
"Kamu jangan mengatur Aunty. Aunty yang punya anak jadi Aunty lebih mengerti tentang anaknya," Tegur Lovi pada Auristella yang kini terkekeh meringis. Ia tahu Grizelle sangat menyukai makanan seperti itu maka Ia meminta agar Vanilla sering memberikannya pada Grizelle. Grizelle pasti akan senang.
"Ya sudah, kalau begitu, kami pulang ya, Van,"
"Cepat sekali? makan dulu,"
"Tidak, ini sudah minum"
"Ya dan belum habis," kata Vanilla.
Bibi belum lama mengantar minum. Dan sekarang mereka sudah mau pulang.
"Biar kamu bisa istirahat,"
"Aku memang istirahat terus, Lovi. Kerjaanku di rumah itu istirahat saja,"
"Ya memang begitu kalau lagi mengandung. Jangan sampai lelah. Kami pulang ya,"
Vanilla mengantar mereka sampai keluar. Auristella melambai padanya.
"Semoga Icelle cepat sembuh ya, Aunty,"
"Ya, terimakasih,"
Vanilla membalas lambaian tangan keponakannya itu. Setelah mobil Lovi melaju, Vanilla kembali ke kamar anaknya lagi.
__ADS_1
"Griz tidak bangun, Nad?"
"Tidak, Nona,"
"Aku makan dulu sebentar. Katakan pada Griz kalau dia mencariku,"
"Baik, Nona,"
Vanilla melangkah ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil ponsel. Setelah itu barulah Ia ke ruang makan. Perutnya sudah meronta minta diisi.
Disela makannya, Jhico menghubungi. Ia dengan cepat menjawab, "Hallo, Jhi."
"Hai, Nilla. Griz sudah pulang?"
"Sudah, kami sudah di rumah,"
"Sedang apa Griz?"
"Tidur habis jatuh tadi,"
"Jatuh? jatuh dimana? sudah diobati 'kan?"
"Jatuh karena berlari. Lututnya berdarah. Tapi sudah aku obati. Sekarang dia sedang tidur. Menangis terus sejak tadi, karena kesakitan,"
"Memang parah?"
"Ya lukanya lumayan meluas. Tidak dalam sebenarnya tapi mungkin dia merasa perih,"
"Ya ampun,"
Diam sesaat, Vanilla tahu suaminya tengah cemas. Ia kembali bersuara,"Tidak apa. Griz sedang tidur sekarang,"
"Kalian sudah makan?"
"Griz sudah. Bekalnya habis. Aku sedang makan. Kamu sudah makan? jangan lupa makan, jangan sampai melupakan kesehatan diri sendiri,"
"Iya, sudah, Nillaku. Bye,"
Vanilla mendengkus, singkat sekali obrolan mereka. Suaminya tidak mau lama-lama berbincang di telepon kalau sedang bekerja. Ya, Ia harus mengerti itu. Justru seharusnya Ia senang karena Jhico berusaha untuk bekerja dengan profesional.
"Mumu,"
Vanilla menoleh ke belakang saat ada yang memanggilnya, siapa lagi kalau bukan Grizelle. Anak itu kini bersama Nada yang membantunya berjalan. Ia segera berdiri untuk membantu Grizelle berjalan mendekat padanya dan duduk.
"Mumu sedang makan. Griz mencari Mumu?"
"Iya,"
"Bagaimana lukanya,"
"Masih sakit,"
"Kenapa bangun? seharusnya Griz berbaring saja kalau masih sakit,"
__ADS_1