Nillaku

Nillaku
Nillaku 45


__ADS_3

"Vanilla, kuliahmu tidak terbengkalai setelah bekerja?"


"Tidak, memang kenapa?"


"Benar? jangan terlalu dipaksakan. Sekarang waktumu untuk kuliah. Masalah keuangan jangan kamu pikirkan,"


Tidak biasanya Jhico membahas ini. Mungkin karena Ia melihat Vanilla yang terlalu ambisius dalam mencari uang hingga menimbulkan rasa khawatirnya.


"Aku senang melakukannya. Bukan hanya karena uang tapi ini adalah hal yang aku sukai sejak dulu,"


Jhico menghentikan mobilnya setelah sampai di kampus Vanilla. Setelah mengantar istrinya, Jhico pergi ke lokasi kliniknya yang tidak jauh dari apartemen.


Diperkirakan semuanya akan selesai dalam waktu satu minggu lagi. Jhico benar-benar tidak sabar untuk bekerja di dunianya sendiri. Nanti, seiring berjalannya waktu Ia akan terus menambah tenaga kerja di dalam kliniknya.


********


"Vanilla, nanti sore kita harus bertemu dengan Deni dan istrinya untuk membahas kerja sama kita,"


Jane sengaja datang ke kelas sepupunya yang sedang kosong itu. Vanilla mengangguk patuh. Sekarang Jane yang mengaturnya, Vanilla hanya mengikuti. Kerja sama yang bagus menghadirkan hasil yang maksimal. Terbukti, belum genap sebulan Vanilla kembali bekerja, sudah banyak pemasukan yang mereka peroleh.


"Aku akan menjadi brand ambassador juga?"


"Sepertinya ya. Deni tidak akan membiarkanmu hanya menjadi model iklan saja,"


"Berkatmu semakin melimpah, Vanilla."


"Ya, Joana. Aku sangat bersyukur,"


Setelah selesai dengan urusan menuntut ilmu, Vanilla, Joana, dan Jane datang ke tempat yang sebelumnya sudah disepakati.


Di sana sudah ada Deni dan Keynie yang menantikan mereka. Sepasang suami istri itu dingin-dingin saja kelihatannya, sama seperti Vanilla dan Jhico. Deni sibuk dengan ponselnya dan Keynie memilih untuk memperhatikan suasana restoran yang cukup tenang.


Setelah mengetahui bahwa Vanilla kembali meniti karirnya, Deni menggunakan Vanilla sebagai model untuk iklan bisnis clothing miliknya. Bukan hanya Vanilla, tapi Keynie pun turut serta.


Ini untuk pertama kalinya Vanilla bekerja sama dengan Deni dan Keynie. Vanilla sangat antusias begitupun dengan Deni.


"Bukan hanya itu. Kamu dan Keynie akan menjadi brand ambassador. Kamu bersedia?"


Benar dugaan Jane tadi. Rupanya Deni sudah memiliki rencana itu. Tetapi baru dibicarakan sekarang. Vanilla menoleh pada Jane untuk meminta persetujuan, kemudian Ia mengangguk cepat. Vanilla belum pernah menerima project semacam ini. Karena Jane yang terlalu pemilih. Berhubung ini adalah bisnis milik sahabat Devan, tentunya Jane sulit menolak.


"Aku tidak akan menyesal menjadikan kamu sebagai brand ambassador produkku,"


"Kenapa tidak Keynie saja?"


"Tadinya aku tidak dilibatkan untuk menjadi apapun. Tapi setelah aku paksa, akhirnya dia menyetujui juga," Keynie mengungkapkan perasaan kesalnya. Ada sedih juga yang menyelinap di hati ketika melihat suaminya lebih memilih perempuan lain untuk menjadi bagian dari bisnisnya daripada dirinya yang merupakan Istri Deni sendiri.


"Aneh kamu! istri sendiri tidak dilibatkan?!"

__ADS_1


"Sebelumnya aku sempat ragu," jawabnya jujur yang semakin melukai hati Keynie. Ragu bagaimana maksudnya?


"Dia tidak sepintar kamu, Vanilla."


Vanilla menatap Keynie dengan perasaan tidak nyaman. Vanilla tahu betul apa yang sedang dipikirkan Keynie sekarang. Ia tidak ingin siapapun salah paham karena kalimat bodoh Deni itu.


"Aku tidak pintar! kalau pintar, tidak mungkin menjadi mahasiswa abadi di kampus," Ia merendahkan hati. Dia bodoh! tugasnya saja banyak diselesaikan oleh Jhico. Sementara Keynie? dia sangat pintar. Karena setahu Vanilla, Keynie merupakan alumni universitas yang kualitasnya sangat luar biasa ditambah lagi lulus dengan nilai sangat baik, Deni sendiri yang bercerita. Terkadang Vanilla merasa heran dengan sikap sahabat kakaknya itu. Tak jarang Deni menceritakan semua kebaikan sang istri dan juga memujinya tanpa sepengetahuan Keynie sendiri, tapi ketika berada di hadapan Keynie, Ia hanya bisa menyakiti.


"Aku tidak bisa cantik seperti kamu saat berpose di depan kamera, Vanilla. Itu kebodohanku,"


Saat semuanya sudah ada persetujuan, Vanilla baru memberi tahu Jhico perihal kerja samanya dengan Deni kali ini. Kebiasaannya yang belum juga hilang adalah memutuskan sesuatu tanpa dibicarakan terlebih dahulu dengan suaminya yang lebih berhak.


"Aku dukung apapun keputusanmu," walaupun jawaban Jhico seperti itu, tetapi vanilla yakin bahwa suaminya sedikit kecewa.


******


Setelah putrinya menikah, Rena belum pernah berkunjung ke apartemen milik Jhico dan Vanilla. Karena itulah, setelah melakukan sidak ke butik-butik miliknya yang sudah lama tidak Ia lirik, Rena singgah di sana.


Kebetulan hanya ada Jhico karena Vanilla tengah berbelanja di supermarket lantai dasar.


Rena disambut begitu hangat. Jhico menjamunya dengan baik. Ia terlihat sudah biasa dalam melakukan semuanya sendiri. Tidak aneh, anaknya tidak bisa apa-apa, pasti Jhico yang mengambil peran Vanilla sebagai istri.


Saat sampai, Rena merasakan lantai sedikit basah. Sepertinya Jhico baru selesai membersihkan lantai karena Ia tidak melihat cleaning service di dalam unit apartemen Jhico.


"Kamu benar-benar suami idaman. Beruntung sekali Vanilla memilikimu,"


Jhico hanya terkekeh canggung.


"Tidak, Ma. Semuanya sudah selesai. Akhir-akhir ini aku yang membersihkan apartemen karena orang yang biasa melakukannya sedang sakit. Begitu ditawarkan untuk menggunakan jasa orang yang lain, aku menolak. Karena aku sudah percaya dengan dia," jelasnya.


"Iya, hati-hati sebelum memasukkan orang ke apartemen. Belakangan ini Mama semakin sering mendengar berita kejahatan di dalam rumah oleh orang tidak dikenal,"


"Vanilla tidak pernah membantu?"


"Bantu, Ma. Dia tidak mungkin diam saja melihat suaminya membersihkan apartemen seorang diri,"


Jhico masih menutupi kekurangan istrinya dan itu membuat Rena kagum. Ia tidak salah menerima Jhico sebagai menantunya.


"Mama dengar kamu tidak lagi bekerja,"


Jhico tidak melihat kekhawatiran di mata Rena. Artinya Rena percaya bahwa Jhico bisa menjadi suami yang baik walaupun belum ada pekerjaan lagi. Itu yang diinginkan Jhico. Ia tidak mau diremehkan dan dianggap tidak mampu membahagiakan Vanilla.


Rena hanya ingin mendengar secara langsung dari mulut Jhico mengenai semua hal yang sudah Ia alami.


"Iya, Ma. Aku akan mendirikan klinik sendiri,"


"Wah, bagus itu. Mama selalu mendukungmu. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk datang pada Mama dan Papa ya?"

__ADS_1


Di keluarga Vanilla Ia merasa sangat disayangi begitu tulus. Hal itulah yang membuat Jhico lebih nyaman bersama keluarga istrinya daripada keluarganya sendiri.


Denting pintu tanda kunci berhasil dibuka membuat Jhico dan Rena menoleh. Vanilla datang membawa beberapa goodie bag.


Ia terkejut mendapati Rena ada di apartemen. Gadis itu segera meletakkan apa yang dibawanya tadi di atas meja lalu memeluk Rena dengan erat.


"Ada apa ini? tidak biasanya Mama datang,"


"Oh, tidak senang Mama ke sini?"


"Senang, tapi aku bingung."


"Setelah memantau butik, tiba-tiba saja Mama ingat kamu. Jadi Mama datang,"


"Beli apa? kamu masih saja boros rupanya,"


"Kebutuhan bulanan aku sudah habis sebelum waktunya, jadi terpaksa belanja."


"Banyak sekali,"


"Selagi yang dipakai uang suami, tidak ada yang salah, Ma." guraunya yang membuat Rena terkekeh. Jhico memperhatikan interaksi mereka berdua. Jujur Ia iri. Kapan Ia dan Karina bisa sehangat itu bila bertemu? Rasanya tidak akan pernah. Karena setiap tatap muka, pasti selalu ada saja hal yang diperdebatkan. Walaupun cenderung Ia yang lebih keras kepala, tapi yang memulai semuanya lebih dulu adalah Karina dan Thanatan.


"Sebanyak ini membeli--"


Mata Rena menyorot kebutuhan bulanan khusus perempuan. Satu goodie bag isinya benda itu semua.


"Belum pernah terlambat, Vanilla?"


"Terlambat apa, Ma? kuliah? tidak pernah lagi, karena Jhico selalu marah kalau aku bangun siang,"


Vanilla berceloteh seraya mengeluarkan barang-barang yang dibelinya, "Dia itu cerewet sekali, Ma. Aku tidak bisa sesantai dulu kalau bangun tidur. Pasti langsung disuruh mandi,"


Rena berdecak kesal. Anaknya ini memang tidak paham atau menghindar?


"Ini 'terlambat' dalam konteks yang berbeda,"


"Maksud Mama?"


"Terlambat datang bulan, Nillaku." jelas Jhico dengan lembut membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan getar aneh di hati.


"Tidak, siklusku teratur,"


"Artinya belum ada tanda-tanda Mama akan dapat cucu dalam waktu dekat ya?"


-----------


Aku up siang niyy. Msh pd semangadd kan? atau udh ngantuk mo bobo siang?

__ADS_1


MCH udh up dua kali. Stlh up NILLAKU, aku up MCH lagi. Pantengin trs yaaa



__ADS_2