
Jhico memasuki apartemen yang suasananya sunyi seperti biasa. Begitu masuk ke dalam kamar, Vanilla yang tengah berkutat dengan laptopnya menoleh karena suara pintu terbuka yang Ia ciptakan.
"Tidak terlalu sibuk? biasanya pulang lebih malam,"
"Iya, kamu pulang jam berapa tadi?"
"Kira-kira dua jam yang lalu,"
"Kenapa tidak mau aku temani pemotretan? padahal waktuku luang,"
"Malas saja melihat wajahmu di tempat kerjaku,"
Jhico menahan senyumnya. Semoga saja alasannya memang benar karena malas melihat wajahnya.
"Bukan karena ada Renald?"
"Tidak, kalau tidak percaya tanya Jane dan Joana saja,"
Jhico selesai menanggalkan pakaian bagian atasnya, Ia akan segera mandi. "Jhi, waktu aku mabuk, apa saja yang aku lakukan?" saat kaki Jhico melangkah ke kamar mandi, pertanyaan Vanilla berhasil menahan langkahnya.
Vanilla ingin dengar langsung dari mulut Jhico. Lelaki itu menoleh lalu diam sejenak, berusaha berpikir dan memilah jawaban yang tepat agar tidak menyinggung istrinya sama sekali.
"Tidak melakukan apapun,"
"Aku bertanya serius,"
"Aku juga serius menjawabnya,"
"Bajuku---siapa yang menggantinya?" Vanilla tersendat ketika bertanya seperti itu. Ia malu tapi tak bisa dipungkiri kalau perkara siapa yang menggantikan bajunya, sempat menjadi beban pikiran Vanilla ketika bangun dan Jhico sudah tidak ada lagi di sampingnya.
Vanilla tidak berani bertanya 'Memang benar aku mengatakan cinta padamu?' nyalinya hanya sampai pada perkara baju. Padahal pertanyaan utama yang harus Ia dengar jawabannya adalah mengenai pengakuan cinta yang Ia ucapkan saat mabuk itu.
"Tentu saja aku,"
Vanilla mengerjapkan matanya dengan tubuh yang tiba-tiba kaku. Astaga, hal itu saja tidak Ia sadari sama sekali. Berarti ada kemungkinan bila ucapan Jane tadi benar adanya. Ia telah mengakui perasaannya sendiri tanpa Ia sadari.
"Maaf aku--"
"Tidak, kamu suamiku."
Vanilla tidak mengerti kenapa mulutnya tergerak untuk bicara seperti itu. Ia hanya tidak suka ketika Jhico mengucapkan maaf padahal apa yang dia lakukan tidak salah.
"Aku mandi dulu ya,"
Setelah Jhico masuk ke dalam kamar mandi, Vanilla kembali fokus pada kegiatannya yang sempat terhenti tadi.
Getar ponsel Jhico yang tadi diletakkan lelaki itu di nakas, membuat Vanilla menoleh. Vanilla meraih benda tipis yang canggih milik suaminya. Nama Aurora muncul di sana tapi hanya sebentar saja, dalam hitungan beberapa detik.
Vanilla mengerang dalam hati. Apa yang terjadi di belakangnya? Vanilla menggeleng, tidak ingin berpikiran buruk.
Namun tetap saja otak tidak bisa diajak kerja sama. Ia terlalu sensitif bila menyangkut Aurora akhir-akhir ini. Ada apa sebenarnya?
********
"Sudah bisa bekerja lagi?"
"Iya, Keynie sudah pulih."
"Kapan selesai pemotretan?"
"Tidak bisa dipastikan. Kemarin ditunda karena Keynie harus masuk rumah sakit,"
"Istrimu benar-benar sudah pulih?"
"Ya, dia yang mau bekerja besok. Aku biarkan saja, agar tidak stress di rumah. Nanti dia malah memikirkan peristiwa kemarin lagi,"
__ADS_1
"Okay, katakan pada Key sampai jumpa esok hari,"
Jane akan memberi tahu Vanilla perihal pemotretan besok. Ketika dihubungi sekali belum ada jawaban. Apakah Vanilla sudah tidur? tetapi tidak mungkin, karena belum terlalu malam. Kebiasaan Vanilla semasa belum menikah hampir tidak pernah tidur pada pukul delapan malam. Apakah kini sudah berubah semenjak adanya Jhico?
Vanilla menelponnya balik. Jane langsung mengalihkan panggilan menjadi video. "Ada apa, Jane? kamu ganggu aku terus," gerutunya.
"Ganggu bagaimana? kamu sedang apa bersama Jhico?"
"Aku mengerjakan tugas. Jhico--"
Vanilla melirik suaminya yang tengah memainkan ponsel di sofa. "Entah sedang apa dia," jawab Vanilla setengah mencibir. Melihat suaminya menjelajahi ponsel, Vanilla jadi teringat panggilan Aurora yang masuk ke ponsel suaminya tadi.
"Keynie sudah pulih. Besok dia sudah bisa ikut pemotretan bersama kamu,"
"Tidak jadi libur?"
"Tidak,"
Vanilla menghela napas panjang. Padahal Ia sudah senang ketika Jane mengatakan tidak ada agenda apapun esok hari.
"Dia sakit apa?"
"Keguguran,"
"Huh? kamu serius?"
"Iya, kalau tidak salah sudah dua minggu yang lalu di kuretase,"
"Ya Tuhan, aku kira sakit biasa. Tapi Key sudah lebih baik sekarang?"
"Ya sudah, Nillaku. Kalau belum pulih tidak mungkin dia sudah bekerja lagi," Jane menggoda Vanilla dengan sebutan 'Nillaku' yang diberikan Jhico untuk Vanilla. Biasanya Vanilla akan tersipu ketika Jane menyematkan kata itu.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Pukul berapa aku harus datang?"
Jane memutus sambungan telepon. Vanilla melirik Jhico yang kebetulan tengah menatapnya. "Siapa yang sakit?"
"Keynie keguguran. Tapi sekarang sudah pulih,"
"Astaga, kenapa bisa?"
Vanilla mengangkat bahunya sebagai jawaban. Ia saja baru tahu tadi. Deni memang sempat membatalkan pemotretan Vanilla dengan Keynie secara tiba-tiba. Tetapi alasan jelasnya Ia tidak tahu. Deni hanya mengatakan bahwa Keynie sakit. Ia kira hanya sakit biasa. Vanilla sempat kaget juga mendengar berita ini. Rupanya Keynie sudah sempat mengandung.
"Tadi Aurora telepon,"
"Aku tahu,"
Vanilla memaki dirinya sendiri. Jelas saja Jhico tahu. Dia sudah berkutat dengan ponsel sedari tadi. Pasti Ia sudah melihat ada panggilan yang masuk beberapa waktu lalu.
"Kenapa dia menelpon?"
"Entah, mungkin tidak sengaja,"
"Mungkin iya," pikir Vanilla karena panggilan Aurora pun hanya bertahan tidak sampai tiga detik. Kalau memang ada sesuatu yang penting pasti panggilannya akan berlangsung lama sampai mendapat jawaban.
Jhico membuka kotak pesan masuk. Aurora baru saja mengiriminya pesan dan Ia meminta maaf karena sudah tidak sengaja menghubunginya.
"Benar, dia tidak sengaja menelpon aku,"
Jhico mengarahkan ponselnya pada Vanilla sebentar untuk menampilkan pesan Aurora. "Kalian sering berkirim pesan ya?" tanya Vanilla dengan spontanitas.
Vanilla tidak bisa melihat jelas riwayat chat suaminya dengan Aurora karena posisi Jhico lumayan jauh darinya. Ia di ranjang sementara Jhico duduk di sofa.
"Tidak, ini pertama kali."
Vanilla mengangguk pelan. Lalu kembali berbaring di depan laptopnya. "Sejak kapan saling menyimpan nomor ponsel?"
__ADS_1
"Terakhir bertemu,"
"Oh, di klinik?"
"Iya, memang kenapa?"
"Tidak, hanya bertanya,"
Walaupun terkesan tidak acuh tapi Jhico bisa menilai kalau ada yang aneh dari istrinya. Jhico segera mendekati Vanilla dan berbaring di samping Vanilla, memperhatikan apa yang Vanilla lakukan dengan laptopnya.
"Jangan berpikir yang buruk tentang aku ya. Aku tidak akan menyakitimu. Percaya padaku,"
Vanilla yang sedang menopang dagu menoleh sebentar lalu menatap dalam-dalam mata suaminya, berusaha mencari kesungguhan di sorot mata yang tajam itu.
"Kamu tahu kalau aku sulit percaya padamu?"
"Iya, setiap mendengar nama Aurora atau ada Aurora di sekitar aku pasti kamu menunjukkan reaksi yang aneh seolah kamu menduga aku akan melakukan sesuatu di belakang kamu,"
Vanilla mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang menghadap langit-langit apartemen. "Aku rasa, aku sudah mencintai kamu, Jhi."
Vanilla tidak bisa lagi menahan kegelisahan hatinya. Ia sangat malu mengakui itu. Vanilla menjilat ludahnya sendiri. Ia selalu mengatakan bahwa Jhico tidak berarti sama sekali untuknya dan Ia tidak mungkin mencintai Jhico.
Jhico mengangkat kepala untuk menatap wajah Vanilla. Jantung Vanilla berdetak tidak beraturan. Ia telah mengkhianati prinsipnya sejak awal. Tapi apa boleh dikata? Ia tidak siap tersakiti walaupun Jhico mengatakan tidak akan menyakitinya.
Jhico pun tidak lagi terlungkup. Ia memeluk Vanilla lalu mengecup wajah istrinya dari samping.
"Jangan buat aku bahagia kalau pada akhirnya itu hanya semu,"
Vanilla menyingkirkan tangan Jhico dari pinggangnya. Kemudian Vanilla memiringkan tubuhnya.
"Kamu hanya takut kehilangan aku," ujar Jhico mengeluarkan isi pikirannya.
"Kamu pikir, perasaan takut kehilangan itu hadir karena apa?"
"Tidak tahu, jangan tanya aku. Coba tanya hatimu sendiri,"
"Saat aku mabuk, aku mengatakan kalau aku mencintai kamu. Benar?"
Lidah Jhico terasa kelu. Vanilla mengetahui pengakuannya sendiri di saat mabuk kemarin malam?
"Aku tahu dari Jane. Sejak saat itu aku berpikir keras, Jhico. Aku berusaha meyakini perasaanku sendiri,"
"Lalu?"
"Itu terucap bukan karena aku mabuk. Tapi memang benar sedang aku rasakan,"
Sepertinya ini terlalu mengejutkan untuk Jhico. Tidak mungkin secepat itu sementara sejak kejadian kemarin malam Vanilla tetap bersikap seperti biasa. Tidak menunjukkan kalau Ia mulai menyimpan rasa untuk Jhico.
"Maksudmu?"
"Entah sejak kapan, aku merasa kalau aku sangat butuh kamu, aku takut kehilangan kamu, aku tidak suka dengan siapapun yang berhasil dekat dengan kamu melebihi kedekatan aku bersama kamu. Itu apa namanya?"
Jhico menghela napas pelan. Ia mengusap wajah Vanilla dengan lembut. Ia juga tidak tahu apa jawaban yang tepat dari pertanyaan Vanilla.
"Aku rasa belum sampai pada tahap itu. Kamu hanya menyayangi aku,"
"Tapi---"
"Jangan terburu-buru mengenali perasaanmu sendiri. Tenang, aku akan menunggu sampai kapanpun itu,"
Jhico masih mau menunggunya. Vanilla harus menggunakan kesempatan itu untuk benar-benar mengartikan perasaannya terhadap Jhico. Apa benar nama Jhico sudah berhasil menggantikan nama Renald di hatinya? sejak kapan kehadiran Renald tidak begitu dipentingkan lagi olehnya?
----------
Woaah Vanilla udh ketakutan nih krn Aurora. Jd milih jujur deh. Eh tp ini jujur atau cuma takut jd jendong?🤣🤣
__ADS_1