
"Kamu tidak mengundang aku saat menikah,"
"Aku lupa,"
"Astaga, lupa? bisa-bisanya kamu lupa dengan teman dekat sendiri,"
Vanilla menjadi pendengar yang baik di antara kedua manusia yang sedang sibuk berbincang.
Begitu sampai di tempat pemotretan untuk promosi produk Deni, Ia dan Jhico sudah disambut oleh model lainnya. Rupanya Deni tidak main-main dalam mengembangkan bisnisnya kali ini. Sebab bukan hanya satu atau dua orang model saja yang terlibat.
Salah satu dari model itu ada yang menyapa Jhico dengan hangat, mengingat Jhico sebagai temannya sewaktu kuliah dulu, Jhico pun ingat. Akhirnya mereka berbincang sampai Vanilla merasa tidak ada gunanya Ia di dekat Jhico. Karena mereka hanya sibuk berdua.
Namanya Aurora, dia model yang gagal menjadi seorang dokter, begitulah inti dari rangkaian cerita yang didengarnya.
Vanilla hanya tersenyum sesekali dan mengangguk ketika diajak masuk ke dalam topik pembicaraan, lalu membuang arah pandang. Ia tidak nyaman di sana. Entah karena apa. Ingin bergabung bersama Deni, Joana, Jane, dan Keynie, tidak diizinkan oleh Jhico.
"Tapi aku ada rencana lanjut kuliah lagi, Co."
"Itu bagus. Aku dukung, karena menurutku ilmu yang kamu dapat sudah lumayan banyak, tapi kamu malah memutuskan untuk berhenti di tengah jalan,"
"Ya, dulu aku sangat kesulitan untuk membiayai kuliah, Co. Sekarang sudah bisa mencari uang sendiri,"
Rupanya Aurora adalah perempuan yang tangguh. Ia memutuskan untuk berhenti kuliah demi mencari uang. Dan setelah memiliki uang lebih, keinginannya untuk belajar masih ada. Berbeda sekali dengan Vanilla yang banyak uang tetapi tidak pernah menggunakan kesempatan yang diberikan Tuhan sebaik mungkin. Selalu berkuliah tetapi tidak lulus-lulus karena sibuk menjadi gadis liar. Sejak dulu Vanilla hanya pandai menghamburkan uang. Tanpa tekad ingin menjadi orang yang sukses.
"Keputusan yang kamu ambil sangat tepat. Kamu berhenti kuliah bukan karena sesuatu yang---"
Vanilla bangkit dari sana. Gadis itu menahan dongkol karena suatu sebab yang Ia sendiri bingung datangnya darimana.
Vanilla tidak lagi mendengar kelanjutan kalimat Jhico yang secara halus memuji Aurora.
"Kenapa ke sini? sudah bosan duduk bersama suami?" Joana menggoda Vanilla. Gadis itu menjawil dagu sahabatnya. Wajah Vanilla tertekuk.
"Dia mantan kekasih Jhico?"
"Tidak tahu, tidak mau tahu juga," nadanya tidak biasa ketika menjawab pertanyaan Keynie.
Alis Deni menukik tajam. Setelah tahu biduk permasalahannya, Lelaki itu menahan senyum geli. Melihat drama rumah tangga orang lain rupanya lebih menyenangkan daripada drama rumah tangga sendiri.
"Kamu cemburu ya?"
"Huh, cemburu? seorang Vanilla cemburu? tidak mungkin,"
Jane dan Deni kompak mencibir. Mereka sudah mengenal Vanilla sangat lama. Tidak mudah percaya hanya dengan sanggahan seperti itu sementara bukti sudah sangat-sangat jelas.
Vanilla melirik Jhico yang bergeming. Ia tidak menyadari kepergiannya atau bagaimana? huh! Jhico benar-benar menyebalkan.
"Cantik, elegan, sepertinya pintar---"
Vanilla meraih headphone di atas meja yang entah milik siapa. Ia tidak ingin mendengar kalimat Deni lebih jauh.
Tawa Deni yang meledak berhasil mengalihkan perhatian Jhico dan teman bicaranya.
__ADS_1
Deni bangkit lalu menepuk tangannya untuk memberi tahu bahwa sesi pemotretan berikutnya akan segera dimulai.
"Aku tidak bisa menunggu sampai selesai karena ada pekerjaan lain. Aku harap kegiatan kalian hari ini lancar sampai akhir," ujar Deni yang didengar baik oleh seluruh rekan kerjanya.
Ada yang berpose secara individu, ada juga yang tiga atau dua orang di sesi kali ini. Deni menghampiri istrinya yang tengah menghapus make up karena bagiannya sudah selesai.
"Aku bekerja dulu ya? kamu pulang sendiri, tidak masalah?'
Keynie mengangguk dan tersenyum. "Sudah biasa sendiri," Deni yang mendengarnya terkekeh. Lelaki itu mengecup wajah Keynie. Perempuan itu sempat membeku beberapa saat. Deni hampir tidak pernah bersikap manis seperti ini di khalayak umum. Apa yang melatar belakangi sikap manisnya kali ini? apa karena kehadiran Vanilla?
Vanilla melihatnya dengan tatapan iri. Deni bisa juga menampilkan rasa kasih sayangnya pada Keynie. Sementara Jhico?
Sepertinya Vanilla yang terlalu menutup mata. Setiap kali Jhico berusaha untuk menunjukkan, Vanilla selalu menolak. Jadi siapa yang harus disalahkan?
"Rumah tanggaku paling aneh di dunia," geram gadis itu.
Sebelum giliran Vanilla, Jhico menghampiri istrinya itu. Vanilla pura-pura menyibukkan diri, Ia becermin padahal penampilannya sudah sempurna sejak tadi.
"Keynie, launching produknya kapan?"
"Aku tidak tahu, Jane. Kamu tahu sendiri, Deni sesulit itu untuk terbuka padaku,"
Jane mengangguk kemudian Ia menghampiri sepupunya yang tengah tidak acuh pada Jhico.
"Kenapa, Co?"
"Aku bicara, tapi sepupumu ini diam saja. Ada apa dengannya? ada yang salah dengan mulutnya?"
Vanilla melepas cekalan suaminya seraya menatap tajam. "Tidak usah menggangguku. Tadi aku membuat kamu dan Aurora terganggu tidak?"
Jhico melirik ke arah Aurora, takut Aurora mendengar. Reaksinya itu membuat Vanilla kian geram. Dia memikirkan perasaan orang lain sementara perasaan istrinya sendiri lagi gundah gulana tidak jelas seperti ini. Sialan!
"Kenapa jadi Aurora yang kamu bahas?"
"Untuk apa aku membahas dia? tidak penting sekali,"
"Ada yang tidak beres dengan mu, Nillaku." Jhico menggeleng heran. Semakin heran lagi melihat Jane tertawa keras.
Vanilla pergi ke toilet meninggalkan Jhico yang masih tidak mengerti dengan penyebab istrinya marah-marah tidak jelas seperti tadi.
"Memang seperti itu kalau perempuan sudah cemburu. Yang sabar, Jhico."
******
Cuaca Manhattan saat ini memang benar-benar dingin. Sampai semua orang yang keluar dari rumah menggunakan Coat yang terkadang berlapis-lapis.
Termasuk Aurora yang terlihat bersiap ingin pulang. Tetapi sebelumnya, Ia sedang mengenakan Coat kedua. Gadis itu tidak kuat dingin.
"Kamu pulang sendiri, Aurora?"
Jhico menyapa Aurora sebelum pulang. Di sampingnya ada Vanilla yang Ia genggam. Vanilla mengerang kesal dalam hati. Ia sudah lelah, kenapa harus basa-basi dulu dengan Aurora? seharusnya langsung saja mengatakan 'sampai jumpa'.
__ADS_1
"Iya, belum ada pasangan jadi pulang selalu sendiri," Ia menanggapi dengan santai. Vanilla justru menyerap makna lain. Sepertinya dia yang terlalu sensitif dan selalu berpikiran buruk terhadap orang lain.
"Tidak apa-apa pulang sendirian di tengah cuaca yang seperti ini?"
"Ck! mau pulang atau mengobrol?" bisik Vanilla kesal, Ia akan melepas tautan tangan Jhico tapi lelaki itu malah mengeratkan.
"Dua-duanya,"
Mendengar dari Jane bahwa Vanilla tengah cemburu, Jhico tidak percaya sama sekali. Jadi kali ini Ia akan membuktikan kalau ucapan Jane tidak ada benarnya.
"Tidak apa-apa. Aku pulang ya. Kalian hati-hati,"
"Ya, semoga kamu selamat sampai rumah,"
"Vanilla, sampai jumpa di pemotretan selanjutnya. Bye!"
Vanilla melambai pada Aurora yang sudah menjauh. Senyum Vanilla begitu terpaksa ketika membalas senyum Aurora.
Jhico mulai mengayunkan langkah lagi. Ia melirik Vanilla sesekali. Gadis itu sudah berubah lagi rautnya. Benar-benar tidak terbaca.
Vanilla menutup pintu mobil dengan kasar. Jhico menatapnya aneh. Apa lagi yang salah dan siapa lagi yang berbuat salah? kenapa jadi mobilnya yang menerima akibat?
"Kamu kenapa sebenarnya?"
"Aku baik-baik saja. Memang ada yang aneh?"
"Kamu selalu seperti itu saat aku bicara dengan Aurora. Kenapa tidak menyukai dia?"
Vanilla terkekeh sebelum menjawab. Tidak ada kesal sama sekali di wajahnya, berbeda dengan tadi. Karena perasaan kesal itu akan tertarik otomatis bila Aurora ada di dekatnya dan Jhico.
"Aku menyukai semua orang,"
"Apa pintu mobil yang tidak kamu sukai? karena kamu membantingnya tadi,"
"Ya, anggap saja begitu. Pintu mobil saja bisa aku banting karena aku tidak suka," Jhico dibuat merinding saat istrinya mengucapkan kalimat yang sarat akan peringatan itu. Sorot matanya sangat serius ketika menatap Jhico.
"Kamu tidak mungkin ingin membunuhku,"
"Astaga---" Vanilla terbahak kencang. Ia yang gemas dengan kepolosan Jhico langsung menarik daun telinga Jhico. Hal itu membuat Jhico semakin khawatir lagi. Tadi istrinya marah-marah sekarang tertawa lepas. Apa dia depresi karena tidak kuat lagi menjalani pernikahan ini?
"Nillaku, jangan gila ya? aku tidak bisa melihat perempuan yang aku cintai gila,"
"JHICO SIALAN!"
--------
Udh stres doi pdhl baru Aurora doang yg sbnrnya gk ganggu samsek. Si Van-Van msh ae gengsi gk mo ngaku. Untung donat jeko syg.
MCH UP. UDH BACA?
__ADS_1