Nillaku

Nillaku
Nillaku 47


__ADS_3

Jhico meraup bibir Vanilla dengan gemas. Selama ini dia mati-matian menahan agar tidak pernah memaki Vanilla. Tapi gadis itu malah sebaliknya.


"Mudah sekali bicara kasar seperti itu pada suamimu sendiri,"


"Ah, kamu terlalu suci,"


"Tidak, siapa yang mengatakan itu? aku juga banyak dosa, tapi setidaknya aku berusaha untuk menahan diri agar tidak bicara kasar pada istriku sendiri,"


Sampai di apartemen, Vanilla langsung membersihkan tubuhnya sementara Jhico beranjak ke dapur untuk membuat makanan yang bisa mengisi perut.


Jhico hanya sanggup membuat ramen instan ditengah rasa lelahnya. Yang terpenting perut istri dan dirinya bisa terisi.


Vanilla menghabiskan waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk mandi karena Ia juga berendam di dalam sana untuk mengurangi rasa letihnya.


Selesai dengan itu semua, Vanilla keluar dan langsung mengenakan dress santai berbahan satin miliknya.


Jhico masuk ke dalam kamar, kemudian meletakkan ponsel dan jam tangannya di atas nakas . "Makan dulu sebelum istirahat,"


Vanilla mengangguk. Kali ini waktunya Jhico yang masuk ke dalam kamar mandi. Setelah memasak lalu menunggu Vanilla di ruang makan, waktunya cukup lama sampai Ia bosan. Akhirnya Ia memutuskan untuk memanggil Vanilla ke kamar.


Ponsel Jhico di atas nakas terlihat menyala dan juga bergetar. Vanilla melirik kamar mandi dan bunyi gemercik air sudah terdengar. Kemudian Ia menatap ponsel Jhico yang kembali menampilkan panggilan kedua.


Selain 'Papa', ada foto Thanatan yang terpampang di sana. Vanilla merasa ragu untuk mengangkatnya takut yang dia lakukan nanti dianggap Jhico terlalu ikut campur mengingat Vanilla tahu hubungan Jhico dan Papanya tidaklah sebaik yang orang lain kira.


"Hallo, Pa?" setelah mempertimbangkan kembali, akhirnya Vanilla menjawab panggilan tersebut.


"Vanilla?"


"Ya, Ini aku, Pa."


"Dimana Jhico? kenapa kamu yang menjawab panggilan Papa?"


"Jhico---Jhico sedang mandi,"


"Papa akan bicara nanti kalau begitu. Katakan padanya, Papa menelpon,"


"Baik, Pa."


Vanilla mengerinyit bingung masih dengan memandang ponsel suaminya. Vanilla ragu ingin mengatakannya atau tidak pada Jhico. Karena tujuan Thanatan menghubungi Jhico pasti karena ingin berdebat lagi. Selalu seperti itu. Dan entah mengapa Vanilla tidak bisa melihat suaminya lagi-lagi berada di situasi yang sama.


Kalau bukan masalah hak waris, kedudukan, dan lain-lain, seharusnya Thanatan langsung saja menyampaikan tujuannya menelpon sekalipun Vanilla yang mengangkatnya.


******


"Auris sakit,"

__ADS_1


"Sakit? sejak kapan?"


"Beberapa hari yang lalu. Devan dan Lovi juga mengalami kecelakaan,"


"Astaga, kenapa tidak ada yang memberi tahu aku?! kamu juga, kenapa baru sekarang?!"


"Kita semua fokus untuk berada di dekat mereka, Vanilla. Uncle Raihan pun tidak ingin hal ini membuat kamu dan Jhico menjadi kepikiran sementara kalian juga sibuk dengan urusan masing-masing. Uncle Raihan tahu Jhico sedang mengurus semua hal untuk mendirikan kliniknya,"


"Tapi aku dan Jhico juga keluarga kalian, seharusnya---"


"Aku jujur padamu sekarang karena Adrian dan Andrean selalu menitip pesan padaku sebelum berangkat kuliah, mereka menginginkan kamu datang ke mansion untuk bermain bersama. Mereka merasa sepi walaupun Uncle Raihan sudah meluangkan banyak waktu untuk menemani mereka di mansion. Lama-lama aku tidak tega,"


"Aku akan ke sana setelah tes ini selesai,"


******


Karina duduk termenung di samping Ibunya yang terbaring lemah. Penyakit Hawra tiba-tiba saja datang menyerang. Beruntungnya Hawra segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan khusus. Serangan jantung yang dialaminya tadi sore membuat satu rumah panik. Ini yang terkadang ditakutkan oleh Karina ketika Ia meninggalkan Ibunya hanya bersama para pelayan ketika Ia harus bekerja. Tetapi Karina selalu berpesan pada semua pelayan di kediamannya untuk selalu memantau Hawra karena Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lalu tidak ada yang tahu mengingat serangan jantung tidak bisa diprediksi kapan akan datang.


"Cucu Ibu tidak datang. Benar, dia tidak peduli lagi. Ibu selalu membelanya, tapi sekarang malah tidak dipedulikan,"


Hawra baru saja merasa lebih baik, dan Thanatan sudah berkata seperti itu. Bahkan jejak obat yang tadi diletakkan di bawah lidah masih terasa.


"Pa...."


Hawra menggeleng heran dengan sikap Thanatan yang semakin hari seperti tidak memiliki perasaan lagi terhadap semua orang. Dilihatnya Ia sedang sakit, bukannya mendoakan dan terus menemani, malah menyerangnya dengan kata-kata seperti itu yang membuat Ia menjadi berpikir Mengenai hal selain penyakitnya. Apa benar Cucunya tidak lagi peduli?


Dan yang Ia bicarakan itu adalah putranya sendiri. Apa hubungan darah tidak lagi berlaku untuk Thanatan dan Jhico sampai mulutnya sekejam itu mengecap Jhico bukanlah keturunan yang baik bagi keluarga mereka.


"Dia akan datang, Ibu yakin."


Thanatan mendengus seraya tersenyum miring, "Tunggu saja sampai Ibu lelah sendiri. Kalau sudah tidak memiliki niat untuk berbakti sampai kapanpun akan seperti itu perilakunya,"


********


"Aunty tidak menjenguk Auris?"


"Tidak, Aunty di sini saja, menemani kalian,"


"Yeay, kita memang butuh teman, Aunty. Sementara Auris banyak yang menemani di sana. Ada perawat, dokter, Grandma. Bahkan ada dua Grandma. Kurang banyak apa?"


"Auris sedang sakit jadi wajar banyak yang menemaninya,"


"Makan dulu pizza ini. Aunty sengaja membelinya untuk kalian,"


"Ini sudah makan, habis dua." ujar Andrean menunjukkan potongan kedua makanan yang Ia sukai itu.

__ADS_1


Vanilla terkekeh lalu menyaksikan keponakannya dalam diam. Rasanya sudah sering mereka mengalami cobaan seperti ini. Tapi yang paling menyayat hati, Vanilla pikir adalah yang terjadi saat ini.


Lovi pernah ditembak oleh Glen, ayah Elea, keduanya juga pernah jatuh sakit sampai kejang, tak cukup sampai di situ, saat hari ulang tahun pun Andrean dan Adrian harus merasakan yang namanya gegar otak karena terjatuh dari lantai. Sekarang Auristella sakit mengharuskan mereka untuk tidak egois dulu sebagai anak yang lebih tua, ditambah lagi kondisi orangtua mereka yang juga tidak sehat sebab kecelakaan, pasti membuat Andrean dan adiknya terpukul.


"Aunty menginap di sini?"


"Tidak mungkin, nanti Uncle Jhico mencari Aunty," Andrean menjawab pertanyaan adiknya yang dibalas anggukan oleh Vanilla yang bertujuan untuk membenarkan.


"Aunty akan datang lagi besok,"


Jane tampak memasuki mansion bersama kekasihnya, Richard. Mereka baru saja mengisi perut di sebuah restoran usai Jane menemani kekasihnya bekerja sebentar.


"HALLO, AKU DATANG."


"Wah, ada Uncle Richard."


Richard tersenyum menyapa kedua anak kembar yang tampak senang karena kedatangannya itu.


"Sekarang ramai dan banyak teman?"


"Ya, terima kasih Aunty sudah membawa Uncle ke sini,"


"Uncle yang mau datang, bukan disuruh Aunty Jane."


"Oh, benarkah? Uncle baik sekali. Dan ini apa?"


Adrian paling cepat tanggap kalau melihat sesuatu yang dibawa orang lain ketika datang mengunjunginya. Ia memekik senang saat Richard menyerahkan beberapa paper bag belanjaan yang ternyata berisi banyak makanan juga es krim.


"Lalu pizza yang Aunty bawa bagaimana nasibnya? tidak dihabiskan?"


"Tidak, sudah kenyang." jawab Adrian seraya menepuk-nepuk perutnya, tetapi sedetik kemudian tangan anak itu bekerja membuka kemasan es krim lalu melahapnya.


Jane dan Richard terkekeh geli melihat perilaku Adrian sementara Vanilla mencibir kesal, "Kenyang, tapi kenapa masih menikmati es krim?"


"Kalau es krim tidak mungkin membuat aku semakin kenyang, Aunty."


"Aunty, tenang. Andrean akan habiskan pizza ini," Andrean tetap fokus menyantap pizza yang jumlahnya tinggal sedikit. Ia mengusap bahu Vanilla.


"Ah, terima kasih sayangku. Kamu memang baik, tidak seperti adikmu yang menyebalkan itu,"


-------


Aku up siang menjelang sore nih. Gak papa telat yak? wkwk. Lanjut, yay or nay?


__ADS_1


__ADS_2