
"Oh ayolah, kau menyukai perempuan yang menaruh perasaan pada Jhico? siapapun yang mencintai Jhico, artinya dia berselera rendah. Sementara kau terlalu tinggi untuk dia,"
Barvi memantik api untuk benda yang akan di hisapnya. Lelaki itu memperhatikan asap yang keluar dari mulutnya. Ia sedang memikirkan perasaannya yang aneh ini. Benar apa yang dikatakan Dinata. Ia terlalu cepat menyimpulkan. Tapi saat Dinata secara tidak langsung menyuruhnya untuk mundur, ada rasa tidak ingin didalam benaknya.
"Fionna tidak akan berani macam-macam. Dia gadis baik, aku yakin."
"Hati manusia siapa yang tahu? apalagi dia lebih banyak mengenal Jhico daripada Vanilla,"
"Tapi percuma. Karena aku melihat Jhico benar-benar tulus mencintai istrinya. Daripada Fionna tidak dilirik oleh Jhico, lebih baik dengan aku 'kan?"
Dinata paling kesal kalau sepupu-sepupunya sudah lemah karena cinta seperti ini. Padahal banyak sosok lain. Tapi kenapa harus menyukai perempuan yang berharap pada Jhico? selemah dan seburuk itukah Barvi sampai tidak mampu mencari yang lain?
Dinata bangkit dan mengibaskan sebelah tangannya. "Aku mau rapat. Kau pulang saja,"
Lagi-lagi Barvi mendapat pengusiran. Ia menggeleng tegas. "Aku mau di sini menenangkan diri. Kalau kau mau rapat ya rapat saja. Aku tidak ganggu,"
"Sial! kenapa seolah kau yang menjadi pemilik ruangan ini?"
"Berisik! bisa keluar sekarang?"
Dinata menatap sepupunya dengan tajam saat Ia malah diusir balik oleh Barvi. Melihat Barvi yang sepertinya memang benar-benar butuh ketenangan, akhirnya Ia keluar menuju ruang rapat.
****
Joana masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan tidak menentu. Ia merebahkan diri di atas ranjang kecil miliknya dengan posisi telungkup. Gadis itu segera mencari nomor ponsel Vanilla untuk menyampaikan keluh kesahnya. Itu juga yang dinantikan Vanilla sejak tadi. Ia butuh hiburan. Dan curhatan orang lain bisa menjadi hiburan untuknya yang sedang kesepian itu.
"Hallo, Joana."
"Hai, aku mau cerita, Van."
"Iya, aku dengarkan."
"Dia minta pernikahannya dipercepat,"
"Huh? tunangan saja belum 'kan?"
"Iya, aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa seperti itu. Dia seperti pasrah saja dengan perjodohan ini. Sementara aku sangat keberatan,"
"Jadi dia---"
"Oh ya, ternyata dia itu pernah bertemu denganku saat kami masih kecil,"
"Dia anak dari rekan kerja ayahmu 'kan?"
"Iya, tapi aku merasa tidak pernah melihatnya,"
"Mungkin kamu lupa. Lalu kapan pernikahan itu berlangsung?"
"Belum ada kesepakatan tapi yang jelas maju dari rencana awal. Aku saja tidak tahu rencana awalnya kapan,"
__ADS_1
"Kamu harus semangat, Joana. Masa mau menikah, malah bersikap tidak peduli seperti itu,"
"Bukan keinginanku. Jadi aku--- ya kamu tahulah. Kamu juga pernah merasakannya,"
"Itulah sebabnya aku tidak mau kamu seperti aku yang banyak memberontak padahal pihak laki-laki memiliki niat yang baik. Nanti kalau sudah cinta, pasti rasanya akan lebih menyenangkan. Percaya padaku. Kamu jalani saja apa yang sudah digariskan Tuhan. Kebahagiaan akan datang padamu. Cinta datang karena terbiasa, kamu sering mendengar kalimat itu kan?"
Joana menghembuskan napas berat. Bayangan menjalani hidup bersama laki-laki yang tidak diinginkan benar-benar membuat Joana sakit kepala.
Apakah bisa Joana seperti Vanilla yang pada akhirnya hidup bahagia bersama Jhico meski diawal banyak sekali ketidak cocokan.
"Semoga aku bisa seperti kamu dan Jhico ya. Menikah karena Jhico yang memaksa kamu, tapi akhirnya kalian bisa saling mencintai,"
"Kamu serahkan semuanya pada Tuhan, mintalah yang terbaik. Kalau semuanya berjalan dengan baik sampai hari pernikahan itu tiba, artinya dialah yang terbaik untukmu menurut Tuhan. Tapi kalau seandainya selama proses menuju pernikahan ada banyak masalah yang menimpa dan kamu semakin tidak yakin dengan dia, mungkin memang bukan dia jodohmu,"
"Iya, aku mengerti,"
*****
Jhico baru saja menemani Vanilla periksa kandungan di rumah sakit. Vanilla tidak diharuskan istirahat total lagi, tetapi kegiatannya tetap harus dibatasi.
"Kita ke bioskop dulu, mau?"
Jhico ingat beberapa hari lalu istrinya meregek ingin pergi ke sana. Jujur sampai sekarang Ia kepikiran karena belum memenuhi keinginan Vanilla.
Dokter sudah memastikan bahwa Vanilla sudah bisa beraktivitas tapi jangan terlalu lelah. Jhico rasa ke bioskop akan menambah kebahagiaan Vanilla yang mulai besok sudah bisa kuliah sehingga Ia tidak merasa kebosanan lagi.
"Mau-mau, sekarang 'kan?"
Vanilla mendengus lalu memukul lengan suaminya kesal. Ia sudah bahagia sekali. Ternyata Jhico hanya menjahilinya.
"Sekarang, Nillaku. Kalau menunggu kamu melahirkan untuk apa aku bicarakan sekarang?"
"Benar?"
"Iya," jawab Jhico dengan gemas. Ia menarik lengan istrinya yang terlalu fokus padanya sampai tidak sadar kalau ada orang yang terhalangi langkahnya.
Jhico mengusap kepala Vanilla yang terlihat bahagia sekali. Ia ikut merasakannya. Kemarin-kemarin Ia juga tidak tega melihat Vanilla kesepian dan merasa bosan di apartement. Tapi Ia tak bisa melakukan apa-apa karena semua demi kebaikan Vanilla.
****
"Sepertinya Vanilla tidak bisa datang ke sini,"
"Aku coba hubungi dia dulu,"
Malam ini adalah penentuan hari tunangan Jane dan Richard. Jane ingin Vanilla ikut memberi pendapat sama halnya seperti saat Vanilla menikah dulu, Ia juga turut serta.
"Tidak ada jawaban,"
Jelas saja panggilan Jane tidak diangkat, karena Vanilla dan Jhico sudah menikmati film di bioskop.
__ADS_1
"Coba aku hubungi Jhico,"
Rena mencari nomor telepon Jhico dan seperti halnya Jane, Ia juga tidak mendapat jawaban.
"Sepertinya Jhico sibuk bekerja, dan Vanilla sibuk tidur di apartemen,"
"Iya, aku rasa juga begitu,"
***
Film yang ditonton kali ini bergenre komedi. Sempat ada perdebatan antara Vanilla dan Jhico mengenai pemilihan film.
"Aku tidak mau yang romantis. Nanti kamu menangis seperti tempo hari, aku yang dibuat bingung,"
"Tapi aku mau romantis!"
"Tidak, aku mau komedi saja,"
Walaupun mengikuti keinginan suaminya secara terpaksa, nyatanya Vanilla juga menikmati apa yang disajikan oleh film tersebut. Penatnya langsung hilang karena tertawa terus sejak tadi.
"Aku mau minum,"
Jhico mengambil air mineral di samping Vanilla yang tadi dibelinya, lalu Ia membuka tutup botolnya sebelum menyerahkan air mineral tersebut pada sang istri
Vanilla menoleh sekilas dan Ia menggeleng. "Aku mau minum yang punya kamu,"
Jhico mengerinyit dan keras kepala tetap mengangsurkan air mineral pada pemiliknya. Namun lagi-lagi Vanilla menggeleng.
"Aku mau--"
"Minuman punya aku adalah soda. Jangan aneh-aneh lah, Nilla. Kamu kenapa tidak memikirkan anak kita? memang kamu pikir itu baik dikonsumsi oleh Ibu hamil?"
"Kan minta sedikit, tidak berlebihan,"
Jhico segera keluar dari ruang teater dengan membawa minuman soda miliknya. Ia membuang soda itu sekalian juga buang air kecil di toilet yang tak jauh dari ruang teater dimana mereka menikmati film.
Biarpun Ia sangat menginginkan soda itu, tapi kalau bisa membuat Vanilla dalam bahaya, lebih baik tidak usah.
Vanilla dibuat bingung saat suaminya pergi. Ia menunggu beberapa menit. Vanilla sempat ingin menyusul karena Jhico tidak kunjung kembali. Tapi saat berdiri, Ia melihat Jhico kembali memasuki ruang teater. Akhirnya Ia duduk lagi.
"Kamu darimana tadi?"
"Buang minuman dan buang air kecil juga," jawab Jhico dengan tenang tidak ingin mengganggu orang di sekelilingnya.
"Dibuang?! aku 'kan minta, kenapa dibuang?!" Vanilla berusaha menekan suaranya yang hampir lepas kendali. Ia merasa kesal karena Jhico tidak mau berbagi minuman.
Alis Jhico menukik tajam. Dan Ia menatap Vanilla dengan sorot dingin. Ia mendesis di dekat telinga Vanilla,
"Aku tidak akan memberikannya. Kamu mau apa?!"
__ADS_1
-------
HAY HAY SUDAH KLIK LIKE DAN KETIK KOMEN BLM? UDH BERBAGI POIN BLM? KL BLM, AKU TUNGGU YAAA :) MAKASIH BUAT YG MASIH SETIA BACA. SAYANG KALIAN SEMUA😚