
Selama apartemen hanya dihuni olehnya karena Jhico belum pulang, Vanilla masih berusaha mencari ponselnya yang sejak kemarin tidak Ia genggam.
Vanilla penasaran dengan jalan cerita hilangnya benda tipis itu. Ingatan Vanilla tidak mungkin salah. Ponselnya tidak mungkin hilang di luar apartemen atau tertinggal di rumah Jhico saat menginap di sana, karena begitu sampai di apartemen, Ia sempat berkirim pesan dengan Lovi yang mengatakan bahwa keponakannya selalu rindu dan berharap Vanilla sering-sering datang ke mansion.
Gadis itu sampai merendahkan tubuhnya untuk menjangkau bagian bawah ranjang. Barang kali terjatuh di sana. Tak hanya itu, sebelumnya Vanilla juga mengangkat bantal-bantal sofa yang ada di kamar.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Mencari ponsel," jawabnya dingin. Vanilla tahu siapa yang bertanya padanya karena tidak mungkin orang lain berani masuk ke dalam kamar mengingat Jhico begitu menjaga privasinya. Vanilla masih berada di bawah ranjang yang gelap gulita seraya meraba-raba lantai.
"Huh, sudah tidak marah lagi dia?" gumam Vanilla dalam hati setelah mendapati Jhico yang sudah mau mengeluarkan suara lagi setelah beberapa hari jarang melakukan itu.
"Oh masih perlu rupanya,"
Vanilla ingin menoleh ke arah Jhico hingga tidak sengaja kepalanya terantuk besi penyangga bed. Ia meringis kesakitan dan segera mengeluarkan kepalanya dari dalam sana.
Jhico berusaha tidak peduli dan khawatir melihat kening istrinya memerah. Karena Ia masih kesal, jadi tidak perlu memberi gadis itu perhatian yang bisa menyebabkan kepala Vanilla semakin besar sehingga Ia akan dengan mudah membuat Hawra menangis lagi.
"Hanya karena ingin menghubungi laki-laki lain, sampai mengorbankan kepala. Vanilla...Vanilla.. bodoh sekali kamu,"
Vanilla menggeram dalam hati. Jhico jahat sekali sekarang. Mulutnya dengan santai mengatakan Ia bodoh. Kemana perginya kata-kata manis dan Nillaku itu?
Ah! kenapa dia merindukan itu semua? sial!
Jhico memutuskan untuk membersihkan tubuhnya tanpa mengucapkan apapun lagi. Setelah laki-laki itu menjauh, Vanilla bangkit berdiri dan mengepalkan jari-jarinya. Vanilla ingin sekali merusak pintu kamar mandi itu lalu mengguyur mulut tajam Jhico dengan air shower yang panas.
******
"Kamu akan dioperasi akhir pekan nanti,"
Jhico bergabung dengan Vanilla yang sedang bersantai di rooftop kamar. Vanilla berada di sini pasti karena Ia tidak bermain ponsel. Jhico yakin Ia kebosanan, jadi memilih untuk menikmati deru angin malam.
Ekspresi Vanilla yang tadinya datar belum menyadari kehadiran Jhico, kini berubah drastis. Langsung terbit sinar kebahagiaan. Padahal Jhico baru berbicara satu kalimat.
Bagaimana kalau Jhico tiba-tiba saja mengatakan, "Aku berbohong, Vanilla. Kamu belum bisa sembuh sekarang," bisa dipastikan mimik wajahnya murung dan hatinya juga hancur karena harapan itu dipatahkan secara sepihak.
Dari sini Jhico bisa menilai istrinya masih sangat menantikan saat-saat dimana Ia kembali bisa menatap dunia dengan kedua matanya sendiri tanpa Jhico yang berperan sebagai mata untuknya.
"Benar? aku akan dioperasi? aku tidak sabar, Jhico." Vanilla mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Jhico dan langsung memeluk lelakinya. Itu gerakan refleks yang diberikan tubuh Vanilla sebagai ucapan 'terima kasih' untuk Jhico yang sudah berhasil menemukan kornea yang tepat untuknya.
"Ini semua berkat Papamu,"
Vanilla melepaskan jalinan tubuh mereka lalu mengernyit bingung. "Maksudmu? bukankah kamu yang berjanji untuk membuat aku bisa melihat lagi?"
"Ya, tapi aku tidak berhasil, Nilla. Papaku dan Papamu yang berhasil melakukan itu. Tapi Aku terpaksa menolak kebaikan Papa karena Papa pamrih. Dan aku tidak mungkin menolak Papamu juga. Jadi...maafkan aku. Aku belum bisa menepati janjiku,"
Wajah Vanilla kaku tidak terbaca. Jadi seharusnya Ia sudah dioperasi sebelum ini tapi karena Jhico menolak Thanatan, kondisinya masih belum berubah sampai saat ini.
"Kamu menolak Papa Thanatan karena beliau pamrih? apa maksudmu, Jhico? seharusnya aku sudah sembuh! kenapa kamu menolak sesuatu yang baik untuk istrimu sendiri?!"
Jhico segera meraih tangan Vanilla yang baru saja mendorong bahunya untuk meluapkan emosi.
__ADS_1
"Nilla, Papa meminta balasan setelah kamu sembuh nanti. Aku tidak mau, Nilla."
"Apa itu? kenapa tidak kamu beri saja? memang Papamu meminta apa?!"
Kabar bahagia tertimbun dengan kekecewaan Vanilla terhadap Jhico yang mengulur waktu penyembuhannya. Vanilla tidak habis pikir dengan keputusan Jhico.
Jhico diam sampai akhirnya Vanilla kembali bertanya.
"Kapan Papa mengatakannya?"
"Sebelum berangkat ke Roma. Saat itu kita berada di rumahku,"
Vanilla langsung teringat dengan pembicaraan mereka yang dicuri dengar oleh Vanilla. Jadi ada topik yang terlewat, yang tidak sempat Ia dengar?
"Dia meminta aku untuk menganggap semua yang terjadi pada kami baik-baik saja. Bagaimana bisa semudah itu?"
"Apa salahnya berdamai, Jhico? kenapa kamu tidak bisa menerima masa lalu? kamu tidak diprioritaskan oleh keluarga, sehingga kamu seperti ini. Aku tahu semuanya, Jhico! aku tahu!"
Rahang Jhico mengeras tiba-tiba. Vanilla sangat lancang untuk membahas ini. Kenapa mereka jadi berbicara hal lain yang bukan menjadi urusan Vanilla?
"Kamu tidak tahu apapun, Vanilla." tukasnya membantah statement Vanilla bahwa Ia tahu semuanya. Vanilla belum mengenal keluarga besarnya secara keseluruhan. Setelah hidup bersama lebih lama lagi, mungkin Vanilla baru bisa mengatakan itu.
Jhico masuk ke dalam kamar dengan suasana hati yang sulit untuk dijelaskan. Seharusnya mereka tidak berakhir seperti ini. Tadinya Jhico ingin menjadikan momen tadi sebagai langkah untuk memperbaiki hubungan mereka yang renggang beberapa hari. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Vanilla membahas permasalahan yang terjadi dalam diri Jhico adalah sesuatu yang salah dan tidak seharusnya Ia lakukan. Lalu dia mengeluarkan pernyataan seperti itu. Jhico semakin meradang.
*****
"Jhico, Dinata dan Istrinya baru saja menyambut kehadiran anak pertama mereka. Kamu harus melihatnya ya?"
"Tidak, Nek. Untuk apa?"
"Nenek lupa? dia tidak datang ke pernikahanku,"
"Nenek tidak lupa, Sayang. Tapi jangan balas itu semua dengan hal yang sama,"
Jhico keluar dari ruang gawat darurat yang sepi pasien. Setelah memeriksa kondisi pasien korban kecelakaan kecil, Jhico menghubungi kembali neneknya. Bila sedang bekerja, Jhico memang menutup akses apapun yang bisa mengganggu konsentrasi dirinya.
"Ya, aku usahakan,"
"Jangan lupa membawa Vanilla. Biarkan dia lebih kenal dengan semua keluarga kita. Nenek yakin mereka semua akan datang untuk menjenguk cicit Nenek yang baru lahir itu,"
"Nenek kenapa tidak hadir juga di sana? bagaimana bila Nenek datang bersamaku dan Vanilla?"
"Ah tidak. Nenek bisa datang setelah Lanera dan anaknya kembali ke rumah,"
"Baiklah, aku tutup teleponnya ya, Nek?"
"Ya, sampaikan rindu Nenek pada Vanilla,"
"Akan aku sampaikan nanti,"
Biar bagaimanapun cucu Hawra bukan hanya Jhico. Ia melakukan ini untuk menghargai mereka semua dan lagi-lagi untuk menepis dugaan bahwa Ia lah yang membuat Jhico seakan lupa dengan keluarganya sendiri. Hawra sudah berusaha untuk berlaku adil walaupun pada akhirnya mereka semua mengungkapkan hal yang sebaliknya. Hanya Jhico yang berada di pihak Hawra. Sementara cucunya yang lain berada dalam genggaman tangan Opa Jhico, Arlan, mantan suami Hawra. Bahkan sampai anak menantunya pun, Thanatan seolah lupa dengan kehadiran anaknya sendiri. Ia lebih nyaman dengan perkumpulan kakek dan cucu-cucunya itu.
__ADS_1
Thanatan begitu dekat dengan Arlan karena dari ketiga anak Arlan dan Hawra, hanya Karina yang memiliki suami teramat sukses dalam kehidupan dunianya. Thanatan semakin menguasai bisnis setelah Ia menikah dengan Karina dan Ia semakin dihujani kesuksesan. Itu juga yang membuat Thanatan begitu patuh pada ayah dari istrinya. Ia merasa berhutang budi karena Arlan mengajarinya semua hal tentang bisnis sampai akhirnya Ia berhasil menjadi orang yang paling handal dalam menyelesaikan berbagai proyek. Siapa yang tidak kenal dengan Thanatan? seperti halnya Raihan, lelaki yang menjadi orangtua Jhico itu juga patut diacungi jempol.
Begitu selesai dengan tugasnya, Jhico pulang ke apartemen dan langsung menyuruh Vanilla untuk segera bersiap.
"Kamu mau mengajakku kemana? makan di luar?" tanya Vanilla dengan nada yang masih belum bersahabat.
"Jangan terlalu percaya diri. Siapa yang ingin mengajakmu makan?"
Jhico membuka lemari pakaiannya lalu meraih celana navy miliknya dan hoodie berwarna putih. Setelah itu, Jhico beralih ke lemari pakaian Vanilla. Ia meraih hoodie juga untuk Vanilla kenakan. Ini bukan pertama kalinya Jhico sengaja menyiapkan pakaian dengan tema atau warna yang senada untuk mereka berdua kenakan.
"Cepat ganti pakaianmu!"
Vanilla meraihnya lalu berganti di kamar mandi. Sementara suaminya melakukan itu di dalam kamar.
Mereka selesai hampir bersamaan. Karena sudah beberapa kali Jhico memberinya peringatan agar tidak terlalu lama mempersiapkan diri.
"Kamu lapar?" Jhico jadi kepikiran dengan kalimat istrinya tadi yang terdengar seperti meminta makan tapi dengan gengsi yang menutupi. Tadi Vanilla memberi kode padanya kalau Ia lapar atau hanya perasaan Jhico saja yang terlalu peka?
"Tidak,"
"Ya sudah, kalau begitu kita langsung ke rumah sakit saja,"
"Bukankah aku dioperasi akhir pekan nanti? untuk apa kita ke rumah sakit?"
"Menjenguk keponakanku yang baru lahir,"
"Oh, kenapa tidak mengatakan itu sejak tadi? kita tidak membawa apapun ke sana?"
"Sudah aku siapkan,"
Jhico keluar terlebih dahulu setelah siap dengan penampilannya yang casual namun tetap menawan. Jhico menunggu istrinya yang sedang mengenakan parfum di tubuhnya. Lelaki itu bersedekap dada seraya bersandar pada daun pintu.
"Pakai parfum saja membutuhkan waktu lima menit," protesnya karena jengah. Vanilla mendengus lalu Ia meraih alas kaki untuk dikenakannya.
"Ini adalah waktu tercepat yang aku gunakan untuk bersiap sebelum pergi. Seharusnya kamu bersyukur aku bisa secepat ini. Kamu tahu sendiri selama kita menikah, aku selalu lama untuk merias diri,"
"Ya, kamu memang lambat dalam segala hal,"
"Tidak biasanya kamu meminta aku cepat-cepat seperti ini," Vanilla belum ingin berdebat lagi sehingga Ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Kalau kita cepat sampai di sana, cepat juga kita pulang lalu urusanku selesai,"
Jhico menoleh untuk melihat ekspresi kebingungan istrinya. Ia mencibir, "Masih lekat betul dalam ingatanku saat kamu mengatakan 'Aku tahu semuanya, Jhico.' Lalu ini apa? seperti ini saja kamu tidak mengerti. Masalah keluargaku lebih rumit dari apa yang kamu pikirkan sampai untuk bertemu mereka saja, aku sangat enggan. Kamu bisa melihatnya sendiri bukan?"
--------
NILLAKU up, MY CRUEL HUSBAND up. Monggo di cek!
__ADS_1