
Vanilla sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia menuruni tangga dan bergegas menghampiri Grizelle yang sedang bersama Raihan dan Rena di ruang keluarga.
"Griz, Mumu pergi sebentar ya. Griz jangan nakal di sini,"
Vanilla mencium anaknya yang duduk di pangkuan Raihan. Merasa pandangannya ke televisi diganggu oleh kehadiran Vanilla, Grizelle melenguh dan menjauhkan wajahnya dari Vanilla
"Oh tidak mau diganggu Mumu? Mumu jadi kalah dengan Grandpa sekarang ya. Biasanya kalau Mumu mau pergi ditatap sampai keluar dari pintu,"
"Hati-hati, Vanilla. Lasagna yang kamu buat sudah dibawa?"
"Oh iya, hampir tertinggal,"
Vanilla menepuk keningnya lalu cepat-cepat melangkah ke meja makan untuk mengambil lasagna yang menjadi hasil praktiknya hari ini. Jenis makanan yang sudah Ia coba buat bertambah lagi. Vanilla senang membuat makanan lalu dibawanya untuk Jhico karena Jhico sangat menyambut baik masakan buatannya. Cake kemarin saja beberapa kali disatap Jhico. Lelaki itu tak cukup hanya satu slice. Vanilla jadi senang dengan reaksi suaminya.
Grizelle mengantar Vanilla sampai ke depan pintu. Seperti biasa, wajahnya jadi sedih seolah Ia sudah paham bahwa Mumu nya akan pergi.
"Hati-hati, Mumu." ujar Raihan mewakili cucu dalam gendongannya itu. Grizelle menggerak-gerakkan tangannya ke udara seperti melambai. Vanilla pun melambai ke arahnya sebelum masuk ke dalam mobil. Kali ini Vanilla diantar oleh supir pribadi di mansion.
*******
"Kapan Vanilla sampai? aku kira dia selalu di sini,"
"Maunya dia memang begitu. Tapi ada Grizelle yang harus selalu bersamanya,"
"Ayo duduk dulu, Deni, Keynie."
Karina mempersilahkan Deni dan istrinya untuk duduk. Mereka datang untuk menjenguk Jhico. Sebenarnya Keynie yang meminta pada suaminya agar mereka segera menjenguk Jhico. Bukan waktunya untuk diam ketika orang baru saja mengalami kecelakaan.
Deni sempat berat hati untuk datang ke rumah sakit karena biar bagaimana pun hubungannya dengan Jhico masih saja dingin. Sampai sekarang Keynie juga bingung kenapa suaminya memiliki masalah dengan Jhico. Apa dia masih berharap pada Vanilla sehingga menganggap Jhico sebagai orang yang menghambat pergerakannya dalam mendapatkan Vanilla.
Seharusnya Deni sadar kalau Vanilla sudah benar-benar milik Jhico. Sudah ada Grizelle yang menjadi bukti cinta mereka.
Deni dan Keynie sendiri sudah memiliki anak. Sayangnya Deni masih belum bisa sepenuhnya fokus hanya pada anak dan istrinya.
"Maaf aku dan Vanilla belum bisa melihat anak kalian. Bagaimana kabarnya?"
"Tidak apa, Jhico. Kami mengerti kamu sedang begini. Kabarnya baik-baik saja. Griz sendiri bagaimana?"
"Baik---"
Cklek
"Dokter, bagaimana kondisinya?"
__ADS_1
"Aku kira dokter yang datang,"
"Hahaha,"
"Ups, sorry."
Vanilla yang tadi tertawa lebar langsung membungkam mulutnya sendiri. Ia tertawa tanpa peduli orang-orang yang sedang mengalami sakit di sana.
"Maaf, aku tidak bermaksud berisik. Hanya saja aku terlalu bahagia sekarang,"
"Wow ada pasangan yang baru punya anak juga di sini. Hai, bagaimana kabar kalian?"
"Hai, Vanilla."
"Kabar kami baik. Semoga kamu juga baik ya ditinggal suami yang sedang menginap di rumah sakit,"
Vanilla yang mendengar ucapan Deni langsung tersenyum.
"Oh tentu aku baik-baik saja, Deni. Aku sering datang ke sini supaya tidak terlalu rindu dengan Jhico,"
Vanilla tersenyum seraya menaik turunkan alisnya menatap Deni. Sementara Deni langsung mendengus dan mengalihkan mata nya pada Jhico yang memperhatikan Ia dan Vanilla.
"Aku buat lasagna. Kalian harus mencobanya. Tapi kalau tidak lezat, maaf ya. Baru pertama kali buat,"
Deni mendekati Vanilla yang sudah duduk di sofa setelah Vanilla memberikan lasagna padanya, Ia langsung menyantap nya. Vanilla juga memberikannya pada Jhico dan Keynie yang awalnya tidak mau tapi karena Ia paksa jadi mau tidak mau Keynie terima. Karina Ia berikan namun menolak. Kalau Ibu mertuanya masih kenyang, maka Vanilla tak bisa memaksa.
"Ini lezat, Vanilla. Tidak ada kurang sedikitpun," puji Deni atas masakan adik dari sahabatnya.
Keynie menatap suaminya dengan sedikit lirih. Setiap Ia memasak selalu saja dikomentari kurang ini, kurang itu oleh Deni. Padahal menurutnya sudah pas, begitupun menurut orang-orang di rumah mereka.
Bukan Ia merasa iri terhadap Vanilla yang berhasil memasak makanan lezat sekalipun Ia mengakui bahwa ini pertama kalinya Ia membuat lasagna. Ia hanya merasa tersinggung pada suaminya yang selalu memenangkan Vanilla daripada dirinya. Ia sadar tidak seharusnya kesal dengan Vanilla karena Vanilla tidak salah apapun. Yang salah adalah suaminya yang terkadang lupa siapa dirinya saat ini. Suami sekaligus ayah untuk anak mereka.
Ia tidak bisa memasak dan itu menjadi masalah besar untuk Deni oleh sebab itu Ia belajar. Kalau dilihat dari sikap Jhico, sepertinya Jhico tidak sekejam Deni yang memaksa istri harus bisa memasak.
Awal belajar memasak, banyak sekali protes yang dilayangkan Deni dan itu membuat Keynie pesimis sejujurnya. Tapi lambat laun Ia terus berusaha sampai akhirnya bisa menguasai beberapa jenis masakan namun tetap saja selalu ada yang kurang di lidah Deni.
"Ma, cobalah lasagna buatanku,"
"Nanti pasti Mama coba. Sekarang perut Mama masih penuh,"
"Bagaimana, Jhi? lezat atau tidak?"
"Lezat, selalu lezat kalau kamu yang membuatnya,"
__ADS_1
"Ah kamu membuat aku terbang. Jangan begitu, nanti kalau aku terbang tidak bisa balik lagi bagaimana?"
Keynie tersenyum melihat interaksi Vanilla dan suaminya yang kini terkekeh pelan menanggapi kicauan Vanilla yang berkhayal bisa terbang.
"Terimakasih atas pujiannya, My Jhi."
"Sama-sama, Nillaku."
Deni menyenggol lengan istrinya yang memperhatikan Vanilla dan Jhico. "Makan lasagna nya, bukan menonton drama,"
"Kenapa sih? suka-suka aku lah. Aku hanya kagum saja pada mereka berdua sembari bermimpi kapan aku bisa semesra itu dengan suamiku,"
Deni segera merangkul pinggang istrinya lalu mencium pipinya sesaat. "Kita sudah mesra. Tidak usah melihat kemesraan orang lain,"
"Eheemm, mohon maaf sebelumnya. Ada Mama di sini dan tidak ada Papa. Jadi mohon pengertian nya ya,"
Vanilla terkekeh mendengar itu lalu segera mengecup pipi Karina. "Maaf, Ma."
******
"Kamu kenapa diam saja sejak tadi? aku tidak ada teman mengobrol,"
"Tadi aku tidak diacuhkan. Setelah mereka berdua pergi, kamu butuh aku untuk jadi teman mengobrol?"
"Hah? maksudmu bagaimana? kamu tidak suka kalau aku mengobrol dengan Deni dan Keynie?"
Jhico hanya diam saja tak mau menjawab. Sikapnya yang aneh dan tak biasa itu membuat sang istri bingung.
Setelah Deni dan istrinya pulang, Jhico malah diam saja padahal tujuan Vanilla datang ke sini karena ingin melepas rindu dengan suaminya. Tapi yang terjadi malah Jhico menonton televisi.
"Mungkin kamu terlalu sibuk dengan Deni dan Keynie. Jadi Jhico merasa tidak diacuhkan oleh kalian," Karina menjelaskan pada Vanilla karena putranya saat ini dalam mode merajuk pada istrinya.
"Oh Astaga, maaf kalau memang kamu merasa begitu. Kamu tahu sendiri lah bagaimana aku kalau sudah bertemu teman. Pasti sibuk mengobrol sampai terkadang lupa dengan sekitar,"
Vanilla mengarahkan wajah Jhico yang fokus pada televisi agar beralih padanya. Vanilla memberikan senyum terbaiknya sebagai permintaan maaf.
"Maaf, Pupu. Meskipun aku sibuk mengobrol dengan teman tapi duniaku tidak pernah berpaling dari kamu. Percayalah,"
Jhico yang tadi sedikit merengut langsung tertawa kecil. Ia menahan gemas pada istrinya dengan menggigit bibir bawahnya.
"Selama aku tinggal di rumah sakit, kamu belajar berbicara manis begitu dari siapa? apa Grizelle yang mengajarkannya agar Mumu nya bisa membuat Pupu merasa lebih bahagia?"
ย -----------
__ADS_1
Bwt single/jomblo jgn geliikk ya sama scene di atas๐๐ akupun bwtnya rada gimana getohh. Kl menurut kelean gmn? mereka kan jarang sweet tuh. Kali-kali dibuat sweet yegaaa?