Nillaku

Nillaku
Nillaku 425 Thanatan mengajak Grizelle untuk melakukan pertemuan


__ADS_3

"Kapan kamu menjemput Jane, Richard?"


Richard menggeleng pelan dengan senyumnya. Ia menggenggam tangan ibunya dengan hangat.


"Nanti kalau Ibu sudah bisa kembali ke rumah,"


"Semoga Jane benar-benar memaafkan Ibu dan Jane tidak berubah pikiran untuk kembali ke sini,"


Richard menggeleng yakin. Istrinya sudah memaafkan Ibunya dan memang benar-benar memuruti permintaannya untuk kembali ke sini.


"Ibu, aku boleh berpesan sesuatu pada Ibu?"


Richard menjadi objek utama dari sorot mata Ibunya saat ini. Richard menunduk dan mengucapkan maaf dulu sebelum Ia mengatakan apa pesannya.


"Saat Jane sudah kembali, aku mohon jangan sakiti Jane lagi,"


Ibu Richard tertegun. Richard baru kali ini memohon padanya perihal Jane. Hati Ibu teriris mendengar penuturan Richard yang sudah tidak ingin lagi melihat Jane hancur, kecewa, atau sedih.


******


"Ya ampun, ada Keyfa. Ayo masuk-masuk. Keyfa hanya sendiri?"


Vanilla menyambut kedatangan Keyfa, teman anaknya yang senpat tidak ia sukai kehadirannya karena merasa Jhico sangat menyayangi Keyfa bahkan sampai terkesan berlebihan.


"Iya aku minta ke sini setelah control kesehatanku,"


"Lalu bagaimana hasilnya? Keyfa sehat 'kan?"


Keyfa terang mengangguk menjawab pertanyaan Vanilla yang ia sebut dengan Kakak manis karena namanya Vanilla.


"Icelle masih sekolah, belum pulang,"


"Aku boleh ya bermain dengan Grizelle di sini?"


"Boleh, berarti tunggu Grizelle pulang ya? sekarang Keyfa mau makan apa?"


"Kebetulan aku sudah makan, Kakak manis,"


"Oh begitu. Mau minum apa? biar disiapkan?"


"Air minum biasa saja,"


"Apa yang biasa?" tanya Vanilla dengan senyum jenakanya. Ia tidak tahu air biasa yang dimaksud anak itu.


"Air putih, maksudku,"


"Oh okay, sebentar ya,"


Vanilla beranjak mengambilkan air minum juga makanan ringan ke hadapan Keyfa.

__ADS_1


"Dinikmati dulu sambil menunggu Grizelle pulang,"


"Iya, Kakak dokter tidak ada ya?"


"Bekerja, masih di klinik,"


Keyfa menganggukkan kepalanya. Pantas saja ketika mengedarkan pandangan rumah dalam keadaan sepi.


"Sebentar ya, aku jawab telepon dulu," Vanilla undur diri untuk menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.


Ia mengerinyit mendapati nama Thanatan di ponselnya. Vanilla sampai mendekatkan matanya pada layar karena Ia terlalu tidak yakin kalau Thanatan menghubunginya.


"Hallo, Pa,"


"Ada di rumah?" langsung Thanatan menyambut suara menantunya dengan pertanyaan seperti itu.


"Ada, Pa. Papa mau ke sini? aku ada di rumah, Pa,"


"Grizelle?"


"Oh, kalau Icelle masih sekolah, belum pulang, Pa. Ada apa ya, Pa?"


"Papa masuk kalau begitu,"


Thanatan langsung menyudahi pembicaraan. Alis Vanilla bertaut. Ia masih belum paham maksud Thanatan yang mengatakan bahwa Ia akan masuk.


Vanilla menyambut hangat Papa keduanya. Dan mempersilahkan Ia duduk. Tapi Thanatan menggeleng, sebab Ia melihat ada seorang tamu di ruangan itu, anak kecil yang pernah membuat Ia kesal saat Jhico putranya terang-terangan sangat menyayangi anak itu bahkan seingatnya pernah sampai berdebat dengan Vanilla hanya karena Jhico membela anak itu.


"Papa di halaman saja," katanya yang membuat Vanilla tergagap. Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba dingin. Entah kenapa Ia jadi bingung harus melakukan apa.


"Kenapa Papa menatap Keyfa sedikit aneh ya?" batinnya


Vanilla menyusul ayah keduanya itu yang memilih duduk di halaman. Ia harus tahu maksud kedatangan Thanatan sekarang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sebab tidak biasanya Thanatan datang ke rumah dan hanya sendiri.


"Papa mau minum apa? biar aku siapkan?"


"Tidak perlu, Papa hanya menunggu Grizelle di sini. Papa ingin membawanya menghadiri sebuah pertemuan dengan rekan kerja di sebuah ballroom hotel. Cucunya Thomas, Evelyn ikut. Dan dia ingin sekali bertemu Grizelle,"


"Oh begitu. Hanya pertemuan saja ya, Pa? maksudku kalau sekalian menginap di hotel itu, akan aku siapkan pakaiannya,"


"Hanya pertemuan tapi mereka bisa bermain di kamar sembari menunggu selesai,"


"Iya, Pa,"


Vanilla masuk ke dalam untuk mengambilkan air minum dan juga menyajikan hal serupa dengan Keyfa. Seperti cake dan dua jenis makanan ringan.


Vanilla memutuskan untuk menemani Thanatan saja dan Keyfa sudah ia minta untuk menunggu sejenak di sana. Anak itu tidak keberatan dan ia menikmati apa yang disajikan Vanilla. Sebab tidak tahan godaan ingin mencoba cake buatan Vanilla.


"Jadi boleh Papa membawanya?"

__ADS_1


"Boleh, Pa. Icelle akan senang sekali diajak Papa pergi apalagi bertemu dengan temannya. Evelyn sempat memberinya boneka besar dan itu membuat hati Grizelle terkesan sekali padahal mereka baru satu kali bertemu di ulangtahun Evelyn,"


"Dua kali papa meeting dengan kakeknya dan Ia ikut terus. Selalu Grizelle yang Ia tanyakan,"


Vanilla tersenyum, jujur hatinya senang Thanatan tidak mau kalah dengan Thomas yang sesekali akan membawa cucunya ke pingkungan pekerjaan supaya anak-anak itu tahu bagaimana suasana di dalam pekerjaan kakek mereka.


"Katakan pada Jhico juga,"


"Iya, Pa. Pasti Jhico mengizinkan,"


'Kamu pasti senang, Jhi,' batin Vanilla membayangkan kalau suaminya tahu bahwa anaknya akan diajak sang kakek untuk melakukan pertemuan di ballroom hotel.


-Jhi, Papa datang ke rumah ingin mengajak Icelle pergi menemaninya menghadiri pertemuan di ballroom hotel. Tapi sekarang Icelle belum pulang- Vanilla mengetik pesan seperti itu pada suaminya yang tidak langsung dibaca mungkin karena suaminya tengah sibuk dengan pasien.


"Kamu tidak menjemputnya?" tanya Thanatan pada Vanilla. Merasa sangat aneh mereka hanya diam seperi orang tidak saling mengenal dan kali ini thanatan berinisiatif mengajak Vanilla bicara lebih dulu.


"Iya, Pa. Tadi sempat sakit kepala. Lalu aku minta tolong pada Mr. Jun untuk menjemput Grizelle,"


"Sekarang masih?"


"Masih apa, Pa?" Vanilla bertanya bingung, menoleh pada ayah suaminya yang kini duduk tepat di sebelahnya.


"Kepalamu masih sakit?"


"Tidak, Pa. Sudah sembuh, apalagi melihat Papa datang. Aku tidak menyangka Papa akan datang. Setelah menelpon aku langsung bisa melihat Papa,"


"Sebenarnya tadi sudah sampai. Hanya saja ingin memastikan kamu dan Grizelle ada di rumah,"


Mobil yang biasa dikendarai Mr Jun untuk menjemput putri Jhico dan Vanilla sudah tiba dan langsung masuk ke dalam garasi. Grizelle di dalam mobil tak menyadari kehadiran kakeknya.


"Sudah sampai. Terrlimakasih Mr Jun,"


"Sama-sama, putri cantik,"


"Sebentar, aku bukan dulu pintunya,"


"Tidak usah, aku bisa buka sendirrli (sendiri),"


Grizelle membuka pengaman pintu dan langsung keluar setelah itu pintu tertutup otomatis.


Ia berjalan riang dengan ransel di punggungnya sampai tiba di halaman, matanya berbinar melihat ada Kakeknya.


"Kakek,"


Grizelle sudah bisa berlari seperti biasanya seolah lukanya sudah benar-benar sangat kering dan sembuh padahal kenyataannya belum seperti itu. Memang sudah sembuh tapi seharusnya tidak dibawa berlari dulu. 


Grizelle menubruk badan kokoh Thanatan, memeluk Kakeknya yang duduk dengan hangat.


"Kakek pasti menunggu aku ya?"

__ADS_1


__ADS_2