
Grizelle dan Vanilla melangkah masuk ke dalam rumah Thanatan dan Karina dengan langkah pelan. Keadaan rumah sunyi. Maid sedang melakukan tugasnya masing-masing. Mereka berdua yakin bahwa Karina, Thanatan, maupun Hawra mungkin berada di kamar.
"Griz, Mumu pulang ya? Mumu hanya mengantar saja, tidak usah lama-lama di sini," Vanilla menatap Grizele dengan tatapan jenaka. Ia ingin tahu reaksi Grizelle.
"Ya sudah, aku tidak takut ditinggal sendiri di sini. Ada Kakek dan Nay-Nay. Ada Oma juga,"
Vanilla terkekeh ternyata tak sesuai bayangannya. Ketika berada di rumah orang biasanya Grizelle tidak pernah mau lepas dengannya. Tapi kalau di rumah keluarga sendiri memang berbeda.
"Mumu benarrl (benar) mau pulang?"
Vanilla menggeleng pelan. Ia menggamit tangan anaknya kemudian mengajak ke lantai dimana kamar Thanatan dan Karina berada.
"Ayo, temui Kakek,"
Vanilla dan Grizelle berjalan semakin dekat dengan kamar Tuan rumah. Kemudian Vanilla meminta pada anak itu untuk menekan bel.
"Aku tidak bisa, Mumu. Aku 'kan pendek," katanya setengah menggerutu. Vanilla terkekeh pelan melihat anaknya yang merajuk.
"Mumu saja, Mumu tinggi," ujarnya pada sang ibu. Vanilla mengangguk kemudian menekan bel di depan pintu kamar.
"Ketuk saja langsung biarrl (biar) cepat dibuka," katanya lagi. Vanilla menggeleng. Ia rasa cukup menunggu, tidak perlu mengetuk.
"Ketuk saja, Mumu. Aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam,"
Vanilla menghembuskan napas pelan. Kemudian tangannya terangkat untuk mengetuk pintu di hadapan mereka saat ini. Hampir saja tangannya mengetuk kepala Karina karena Karina membuka pintu secara tiba-tiba.
"Eh Maaf, Ma," Padahal tidak menyentuh tapi Vanilla tetap meminta maaf. Karena Ia tahu perilakunya kurang sopan.
"Tadi Griz minta diketuk saja pintunya,"
"Iya, tidak apa,"
"Dimana Kakek?" tanya Grizelle langsung bahkan belum menyapa Nay-Nay nya.
"Kamu tidak mau menyapa Nay-Nay dulu? tidak mau peluk dan cium Nay-Nay?" tanya Karina padanya.
Grizelle segera melakukan apa yang disebutkan neneknya tadi. Kemudian Ia kembali bertanya pada Neneknya mengenai Kakeknya.
Karina langsung mengajak Grizelle dan Vanilla ke dalam. Vanilla menolak enggan. "Aku di luar saja, Ma. Takut mengganggu Papa yang sedang istirahat,"
"Tidak apa, Vanilla. Ayo, masuk. Lihat anakmu. Sudah masuk dia,"
Karina terkekeh memperhatikan cucunya yang langsung masuk begitu dipersilahkan. Dan anak itu mendekati kakeknya.
"Ya Tuhan, sembuhkan Kakek. Kasihani Kakek aku ya, Tuhan," gumamnya seraya menatap dalam diam Thanatan yang memejamkan matanya.
__ADS_1
Karina dan Vanilla tersenyum memperhatikan Grizelle yang sebesar itu memiliki rasa peduli pada Kakeknya.
Kini Grizelle mengusap tangan Thantan dengan lembut. Ia menoleh pada Karina, "Kakek sudah minum obat, Nay-Nay?"
"Belum, Sayang. Belum makan siang dan belum minum obat juga,"
"Ah kebetulan aku belum makan siang juga," ujarnya seraya terkekeh dan mengelus perutnya sendiri.
Vanilla menatap anaknya dengan kernyitan di dahi. "Tadi Mumu ajak makan siang dulu saat belanja kamu tidak mau,"
"Sengaja, aku mau makan di sini, Mumu,"
"Iya, Sayang. Tidak apa," Karina melarang menantunya untuk menegur Grizelle melalui tatapan. Vanilla sudah menawarkan anaknya makan dulu saat di pusat perbelanjaan tapi anaknya itu malah tidak menolak dan barusan Ia tahu sebabnya kenapa, karena Ia ingin makan di rumah kakek dan neneknya.
"Ayo, makan bersama," ajak Karina pada Vanilla dan Grizelle. Suara mereka sedari tadi sanhat pelan. Tak ingin mengganggu istirahat Thanatan.
"Aku ingin makan dengan Kakek juga,"
"Ya sudah, bangunkan Kakekmu, Griz. Biar dia makan siang dan minum obat,"
Grizelle membangunkan Thanatan. Krina mengajak Vanilla lebih dulu ke ruang makan. Sebelum keluar dari kamar, Vanilla meletakkan bawaannya yang tadi Ia beli bersama Grizelle.
Ia terkekeh meringis ketika meletakkannya, "Hampir saja lupa," katanya. "Kenapa bawa-bawa itu? datang ke sini saja sudah cukup," ujar Karina padanya.
"Oh baik sekali Cucuku,"
Mereka berdua melangkah ke ruang makan. Vanilla berinisiatif membantu maid menyajikan makan siang begitupun Karina.
"Nenek Hawra dimana? aku belum bertemu dengannya,"
"Di kamar, Sayang. Ibu sudah makan,"
"Oh begitu,"
Usai menghidangkan, Vanilla bergegas ke kamar Hawra yang kebetulan tidak tertutup sempurna. Sehingga Ia bisa sedikit melihat suasana di dalam kamar.
Hawra kelihatan sedang membaca sesuatu di tengah ranjang.
Vanilla menyelinap masuk dan itu langsung membuat Hawra tersentak kaget. Vanilla terkekeh pelan.
"Maaf ya, Nenek. Aku menganggu,"
"Ya ampun, Sayang. Kamu datang? sejak kapan? tidak mengajak Grizelle ke sini?"
"Grizelle di kamar Kakeknya,"
__ADS_1
"Oh ya ampun. Nenek harus bertemu dengannya,"
Hawra menghampiri Vanilla kemudian memeluknya dengan hangat. Setelah itu Ia menggenggam tangan Vanilla. "Bagaimana kabarmu? baik? dan dia juga baik?" Hawra bertanya mengenai kabar Vanilla dan juga janin dalam kandungnnya seraya mengusap perut Vanilla.
"Baik, Nenek. Kami berdua sehat,"
"Ah syukurlah,"
"Sudah makan?"
Tampaknya memang kemanapun Vanilla pergi selalu tawaran makan yang Ia dapatkan.
Belum dijawab Vanilla, Hawra sudah mengajaknya untuk ke ruang makan.
"Makan ya,"
"Ayo, Ibu juga makan," Karina mengajak ibunya untuk makan dan Hawra terkekeh.
"Ibu sudah makan tadi. Kalian saja yang makan,"
"Makan lagi juga tidak apa," kekeh Karina menatapnya.
"Jangan, kalau Jhico tahu, dia bisa menegur Ibu,"
Mereka berdua tertawa setelahnya. Belum lama makan siang, Karina mengajaknya makan lagi. Yang benar saja.
Mereka di meja makan mengobrol kemudian tertawa sementara Grizelle di kamar Kakeknya mencoba memberanikan diri untuk membuat Kakeknya terjaga.
"Kakek, makan siang dulu dan minum obat. Nanti boleh istirrlahat (istirahat) lagi," Ia berujar sangat lembut agar Kakeknya tidak terkejut dengan suaranya.
"Kakek, Ini aku Icelle,"
Thanatan mengerjapkan matanya dan Grizelle tersenyum senang. Ia mendapat respon dari Kakeknya.
thaatan mentapnya bingung dengan ali bertaut. Kemudian lelaki itu duduk masih tak lepas menyoroti Grizelle dengan tatapn tenang dan datarnya seperti biasa dan itu membuat Grizelle takut. Ia menunduk kemudian memutuskan untuk melarikan diri. Tidak bisa kuat lama-lama dipandang seperti itu oleh Thanatan.
Kaki-kaki kecilnya melangkah pergi. Yang terpenting Ia sudah berhasil membangunkan Kakeknya. Jadi tugasnya sudah selesai. Ia ingin sekali menyapa Thanatan dengan hangat seperti biasa tapi kondisi Kakeknya itu tidak seperti biasa. Khawatirnya Thanatan merasa terganggu bila ia bersikap seperti itu. Maka Ia ingin pergi saja dari hadapan Thanatan.
Namun suara Thanatan menginterupsi langkahnya. Grizell berhenti sejenak namun Ia belum menoleh.
"Kenapa pergi?" tanya Thanatan yang membuat Grizelle melipat bibirnya ke dalam. Ia semakin takut sekarang.
"Apa Kakek akan memarralahi (memarahi) aku karrlena (karena) aku membangunkan nya?" pikir Grizelle.
"Kenapa pergi? Kakek bertanya padamu,"
__ADS_1