Nillaku

Nillaku
Nillaku 187


__ADS_3

"Griz dimana?"


Masuk ke dalam rumah, Jhico tidak menemukan anaknya. Ia hanya melihat Karina yang berjalan ke arahnya lalu memeluk.


"Menemani Papa yang sedang sakit,"


"Papa sakit lagi?"


"Iya, sejak beberapa hari lalu,"


"Aku tidak diberi tahu,"


Jhico bergegas menghampiri Thanatan yang Ia yakini kadar gula nya meningkat dan hipertensi nya juga begitu.


Seharusnya Ia tidak perlu bingung kenapa Papa nya tidak memberi tahu. Memang biasanya seperti itu. Apapun yang terjadi, Thanatan tidak akan mengatakan apapun padanya. Padahal Ia sebagai anak ingin sekali dilibatkan. Seperti membantu merawat, atau paling tidak datang melihat keadaan nya.


Jhico membuka pintu dan melihat Papa nya sedang terlibat percakapan dengan putrinya. Laki-laki kuat yang tidak pernah lelah bekerja keras, yang diam-diam menjadi panutan dalam hidup Jhico itu, sedang berbaring.


"Pa, bagaimana kondisinya? sudah minum obat?"


Grizelle menoleh saat mendegar suara Jhico. Ia mengisyaratkan Pupu nya untuk mendekat.


"Glandpa itu sakit kalena kelelahan, Pu. Lagipula ya, 'kan sudah ada Pupu yang cali (cari) uang, kenapa Glanpa masih cali uang? Huh,"


Thanatan merasa terhibur dengan kehadiran cucunya. Meski sejak tadi Ia lebih banyak diam, tapi Grizelle tidak henti mengajaknya komunikasi hingga mereka tidak terlibat dalam suasana yang dingin. Grizelle bercerita tentang kegiatan di sekolahnya, hal yang sedang ia sukai sekarang yaitu mengenal make up, dan masih banyak lagi cerita lainnya.


"Bagaimana kondisinya, Pa?"


"Bisa dilihat 'kan? sudah jauh lebih baik dari kemarin-kemarin," tanggap nya dengan sedikit ketus. Senyum Jhico langsung hilang melihat reaksi Papa nya. Padahal ia bertanya sebagai bentuk perhatian. Grizelle melirik ke arah Jhico dan Thanatan.


"Beluntung (beruntung) kita datang ke sini, Pu. Kalau tidak, kita tidak tahu Glandpa sedang sakit,"


"Hmm iya, Griz." gumam Jhico.


"Papa sudah makan?"


"Sudah," ujarnya singkat. Nada bicara nya terdengar semakin sinis saja.


Lagi-lagi Grizelle melirik Ayah dan kakeknya. Ia bingung kenapa mereka berdua seperti orang yang musuhan. Selalu begitu kalau bertemu.


Grizelle bertanya-tanya dalam hati, "Apa Pupu dan Glandpa musuhan? sepelti (seperti) aku dan Adlian (Adrian) yang kadang-kadang musuhan kalena (karena) Adlian menyebalkan. Kalau benal (benar) Pupu dan Glandpa musuhan, sebabnya kalena (karena) apa ya?" Anak itu mengusap kening nya bingung.


"Hmm sepeltinya (sepertinya) Pupu dan Glandpa halus (harus) menyelesaikan masalah secepatnya. Jangan lama-lama. Aku kelual (keluar)dulu ya,"


Jhico dan Thanatan sama-sama terperangah mendengar Grizele bicara seperti itu seolah Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di antara Thanatan dan Jhico. Padahal dari dulu sampai sekarang mereka berdua memang selalu begitu kalau berinteraksi. Grizelle menyadari itu, tapi selama ini Ia anggap angin lalu. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk Pupu dan kakeknya berbaikan kalau memang ada masalah.

__ADS_1


"Jangan menjadi dewasa sebelum waktunya, Grizelle."


"Maksud Glandpa?"


"Jangan sok tahu! Kamu masih kecil, tidak tahu apapun. Memang apa masalah yang terjadi diantara Grandpa dengan Pupu kamu?!" pungkasnya dengan sinis. Grizelle segera menunduk, Ia tidak menduga kalau apa yang Ia lakukan salah di mata kakeknya.


"Kita keluar saja, Griz. Grandpa sedang sakit, biarkan Grandpa istirahat," ujar Jhico pada anaknya. Ia mengusap kepala anaknya. Karena tak mendapat reaksi apapun dari Grizelle, Ia segera menggendong Grizelle.


"Are you okay?" Jhico berbisik di telinga Grizelle. Ketika melihat Grizelle menatapnya dan tersenyum, Jhico merasa lega.


"Kami keluar dulu, Pa. Selamat beristirahat,"


Jhico benar-benar membawa anaknya keluar dari kamar. Thanatan menatap kepergian mereka dengan wajah tanpa ekspresi.


Jhico menutup pintu dengan pelan lalu berniat untuk menurunkan Grizelle agar ia berjalan sendiri, tapi Grizelle menggeleng tidak mau. Ia ingin tetap digendong oleh Pupunya. Anak itu menyembunyikan wajah di ceruk leher sang ayah.


"Griz jangan bersedih. Itu lah risiko nya kalau datang ke rumah Grandpa Thanatan, harus siap dengan sikapnya yang terkadang tidak hangat dengan Griz,"


"Aku tidak sedih, aku hanya mengantuk,"


Jhico terkekeh kecil mendengar anaknya berkilah. Tidak salah kalau beberapa orang termasuk Thanatan mengatakan bahwa Grizelle sudah dewasa sebelum waktunya. Grizelle bisa bersikap layaknya orang yang lebih dewasa daripada dirinya. Sebenarnya Grizelle sedih, Jhico tahu itu. Tapi Grizelle menjaga perasaan Jhico yang mungkin akan merasa bersalah karena Papa nya lah yang membuat Grizelle langsung murung seperti ini.


"Griz kenapa digendong, Sayang? sudah mau pulang?"


"Pasti karena Thanatan ya? tadi nenek lihat dia tidak begini," Hawra berujar pelan pada Jhico. 'Begini' yang dimaksud Hawra adalah, Grizelle seperti sedang menangis sembari memeluk erat Ayahnya.


"Griz mau pulang sekarang?" Jhico mengalihkan.


"Jhico, katakan pada Mama apa yang Papa lakukan pada Griz?"


"Papa tidak melakukan apapun, Ma. Tenang saja,"


"Tidak mungkin,"


Karina segera memposisikan dirinya di balik punggung Jhico untuk melihat wajah cucunya yang tersembunyi di ceruk leher Jhico.


Karina merangkum wajah Grizelle dan Ia membulatkan matanya terkejut. Tak disangka, Grizelle menangis dalam diamnya.


"Astaga, Sayang. Hey, kenapa menangis?"


Jhico pun panik sama seperti Karina. Ia segera membawa Grizelle duduk disusul oleh Karina dan Hawra. Karina menelan ludahnya kelat. Siapa lagi yang membuat Grizelle seperti ini kalau bukan Thanatan? karena Grizelle baru saja dari kamar Thanatan. Tadi begitu datang, anak itu nampak sangat berseri. Sekarang malah sebaliknya.


"Benar-benar ya Thanatan itu. Dia sedang sakit tapi masih bisa membuat cucunya seperti ini,"


Karina akan berdiri namun tangannya ditahan oleh Hawra. Ibunya itu tahu apa yang akan dilakukan putrinya. Pasti ingin menegur Thanatan. Saat ini bukan waktu yang tepat. Thanatan sedang sakit dan Ia butuh ketenangan. Mungkin itu juga sebabnya Grizelle keluar dari kamar dalam keadaan sedih, sepertinya karena mendapat pengusiran dari Thanatan, pikir Hawra.

__ADS_1


"Tadi katanya tidak sedih. Sekarang kenapa menangis?"


Jhico merangkum wajah anaknya yang saat ini Ia pangku. Grizelle menggeleng lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang pahlawan laki-laki dalam hidupnya itu.


Grizelle hanya diam, tanpa kata. Ia merasa bersalah telah menjadi anak yang begitu perasa tapi kurang bisa menyampaikan apa yang Ia rasakan. Ia sedih, tapi tidak bisa dan tidak ingin orang lain tahu.


"Lebih baik kamu bawa Griz ke wahana bermain," saran Hawra. Anak seusia Grizelle biasanya akan melupakan kesedihan kalau dibuat bahagia dengan diajak bermain.


"Griz mau?"


"Icell mau ditemani Grandma, Sayang?" tanya Karina membujuk cucunya. Perempuan itu mengusap punggung Grizelle.


"Ayo, kita pulang saja. Mumu juga kita tinggal terlalu lama,"


Jhico akan berdiri dengan Grizelle yang masih setia memeluknya. "Aku tidak sedih, Pu."


"Ya, okay. Sekarang kita pulang,"


"Tapi aku belum bilang pada Glandpa kalau akan pulang sekalang (sekarang),"


"Tidak usah, Griz. Biar Grandma yang bilang nanti,"


Sempat-sempatnya terpikir untuk pamit pada kakeknya. Mendengar ucapan anak itu, hati Karina merasa tersentuh. Ia yakin Grizelle tidak baik-baik saja sekarang dan itu karena Thanatan. Tapi Grizelle tetap menghargai kakeknya itu.


*****


"Apa yang kamu lakukan pada Grizelle? dia menangis, asal kamu tahu."


"Aku tidak suka dengan dia yang dewasa sebelum waktunya, sok tahu tentang aku dan Jhico,"


"Astaga, Thanatan... sebesar apa kesalahannya sampai kamu membuat Griz menangis? kamu mengusirnya? memarahi dia juga?"


"Jhico yang memancing aku. Aku jadi kelepasan bersikap sinis. Sudahlah, jangan berlebihan,"


Thanatan begitu ringan mengatakan 'jangan berlebihan' padahal baru beberapa menit yang lalu Ia telah membuat hati seorang anak yang tidak tahu apa-apa merasa terluka.


"Kamu yang jangan berlebihan! Grizelle itu cucu kamu! darah kamu juga mengalir di tubuhnya. Kenapa kamu tega sekali pada Grizelle? Dia sangat menyayangimu, Thanatan. Apa kamu tidak bisa melihat seberapa besar kasih sayang tulus yang dia berikan untuk kamu? huh?"


Thanatan membuka mulutnya dan bangkit dari posisi berbaringnya, untuk menyahuti ucapan sang istri, namun tiba-tiba saja ia merasa kepalanya sakit.


"Bisa berhenti sinis pada Grizelle? dia tidak salah apapun. Hanya karena dia perempuan yang tidak bisa kamu andalkan sebagai ahli waris dan dia merupakan anak dari Jhico yang selama ini kamu cap sebagai anak pembangkang, kamu sampai tega menyakiti hati Grizelle,"


Thanatan menghembuskan napas pelan. Ia memijat kening nya, sembari menatap langit-langit kamar.


Karina yang sedari tadi memunggungi ranjang, menghadap jendela kamar pun akhirnya memutuskan untuk keluar. Ia tidak ingin lepas kendali. Sebenarnya masih ada rangkaian kalimat di otaknya yang ingin segera disampaikan pada sang suami.

__ADS_1


"Maafkan aku, silahkan kamu istirahat lagi,"


Karina rasa ucapannya tadi sudah benar tapi waktunya yang kurang tepat karena kondisi Thanatan saat ini sedang sakit. Seharusnya kalaupun ingin menegur Thanatan, Ia bisa melakukan itu nanti ketika suaminya sudah sembuh.


__ADS_2