
"Devan, ada yang menghubungi kamu,"
Devan mematikan shower saat pintu kamar mandi diketuk oleh istrinya.
"Kenapa, Lov?" Ia tidak mendengar maka bertanya pda Istrinya itu.
"Ada yang menghubungi kamu,"
"Siapa?"
"Jane,"
"Siapa?"
"Ihh telingamu itu ya,"
Kamar mandi mereka luas sekali. Dan lovi bicara dari luar kamar mandi sementara Devan tetap bertahan di posisinya di bawah shower. Jelas saja Devan tidak bisa mendengar jelas.
"Jane, Devan,"
"Oh Jane,"
Devan menyalakan shower lagi. Tapi seketika Ia sadar, "Hah? Jane?"
"Ah tidak usah dijawab, Lov,"
"Dijawab, dia saudaramu,"
"Memang kamu tidak cemburu?"
"Untuk apa cemburu? dia juga sudah punya suami, kamu sudah punya anak. Dia hanya ingin tahu kabarmu. Jangan terbiasa memutus komunikasi apalagi dengan keluarga, Devan,"
Lovi menasihati suaminya yang memang kerap sekali tidak mau menjawab panggilan Jane. Sebab Devan masih kesal dengan perempuan itu yang pernah menyukainya.
"Wanita gila," kalau kata Devan menyebut Jane.
"Iya, aku mandi dulu,"
Devan kembali melakukan ritualnya setelah bekerja. Sementara Lovi berbaring di ranjang.
Suara Auristella memanggilnya dari luar kamar. Lovi menyuruhnya untuk masuk.
"Kenapa, Sayang?"
"Adrian membanting iPad ku, Mom,"
Auristella merengek padanya dengan iPad di tangan. Anak perempuannya itu mendekat dan menyerahkan iPad nya pada sang Ibu.
"Tapi ini tidak apa. Tidak rusak,"
"Tapi Ian jahat, Mom. Dia bilang tidak sengaja,"
Brak
Adrian masuk ke dalam kamar orangtuanya dengan tidak sabaran sampai pintu terpelanting ketika Ia membukanya.
__ADS_1
"Mom, aku benar-benar tidak sengaja. Lagipula salah Auris yang meletakkan iPad di sofa. Saat aku ingin duduk, aku merasa ada yang mengganjal, jadi aku dorong saja. ternyata itu iPad nya. Aku benar-benar tidak sengaja, Mom," Adrian menjelaskan sebelum Ibunya salah paham dan marah padanya. Lovi harus tahu ceritanya dari dua sisi. Tidak akan ia biarkan adiknya saja yang menjelaskan.
"Kenapa kamu tidak lihat dulu barang apa yang kamu dorong itu?"
"Aku sedang menonton, Mom. Aku tidak menyadari kalau itu iPad,"
"Masa bisa begitu? seharusnya kamu lihat dulu sebelum didorong!" Auristella berseru marah pada Kakak keduanya itu.
Lovi menghembuskan napas pelan. Ia mengurut kepalanya pelan. Pertengkaran dimulai Ia harus siap menghadapi keduanya yang sama-sama keras kepala.
Devan keluar dari kamar mandi menatap mereka bingung,seperti orang bodoh. "Kenapa lagi?" tanya lelaki itu pada kedua anaknya yang kini masih mempertahankan argumen masing-masing dan saling menatap penuh permusuhan.
"Ian membanting iPad punya, Dad,"
"Rusak? ya sudah, nanti Daddy belikan lagi,"
"Bukan seperti iu menyelesaikannya!"
Devan kian pusing sekarang ketika dimarahi Lovi. Bahkan ditatap tajam oleh istrinya itu.
"Ya daripada bertengkar hanya karena itu. Lebih baik aku memberi solusi seperti itu, Lov,"
"Aku tidak sengaja, Dad. Aku ingin duduk di sofa. Aku merasa ada yang mengganjal lalu aku dorong yang ternyata itu iPad Auris. Salahnya sendiri yang meletakkan iPad di sofa. Padahal ada meja. Mungkin dia lupa fungsi meja," cercanya menunjuk samg adik. Auristella menghempas telunjuknya.
"Auris, Ian, berhenti ya. Daddy tidak mau melihat kalian bertengkar seperti ini hanya karena permasalahan kecil. Keduanya harus saling meminta maaf karena sama-sama salah,"
"Dia yang salah, Dad. Aku tidak mau minta maaf,"
Adrian akan keluar dari kamar dan suara tegaa Devan mebuat Ia menguringkan niat.
"Kamu juga minta maaf pada Adrian, ayo cepat,"
Devan menitah kedua anaknya untuk saling meminta maaf. Devan berhasil membuat keduanya melunak. Adrian mendekat pada adiknya dan Ia mengulurkan tangannya pada sang adik satu-satunya.
"Maaf," katanya pada Auristella.
"Yang benar, Adrian. Minta maaf tapi wajahmu seperti mengajak adu gulat,"
Lovi menahan tawanya saat devan menyuruh anaknya untuk memperbaiki cara meminta maaf pada Auristella.
Adrian tersenyum pada adiknya, "Maaf ya."kali ini Ia melakukannya lebih lembut dan memang tulus, tidak seperti tadi yang sedikit terpaksa.
"Maaf juga,"
Melihat Auristella yang masih ketus, Devan juga menegurnya. "Minta maaf yang benar, Auris,"
"Aku minta maaf juga, Ian," katanya lagi kali ini dengan ekspresi senyum.
"Hmm jangan bertengkar lagi,"
Usai mengamankan situasi, Devan yang masih mengenakan bathrobemya beranjak ke walk in closet untuk berpakaian.
"Masih bisa hidup iPad nya 'kan?"
"Bisa, Mom,"
__ADS_1
"Iya lah, pasti bisa. Karena tidak rusak. Aku kan tidak merusaknya, hanya tidak sengaja menjatuhkan,"
Adrian menyahuti kemudian keluar dari kamar. Meninggalkan Auristella yang mendengkus. Lovi segera mengusap bahu putrinya dan mengambil gadget milik anaknya itu.
Ia memeriksanya. Masih bisa digunakan dengan normal seperti biasa, jadi seharusnya tidak ada lagi yang diperdebatkan.
"Kata Daddy tadi aku mau beli yang baru?"
Melihat Devan yang sudah kembali dari walk in closet, Auristella bertanya seperti itu pada Devan.
"Kalau rusak, Auris. Itu 'kan tidak rusak,"
"Tapi aku mau yang baru, Mom,"
"Tidak boleh. Kalau masih bisa digunakan,"
Auristella merengut, padahal ia sudah senang tadi dikala mendmegar ucapan ayahnya yang akan membelikan Ia iPad baru.
"Tadi Daddy bilang kalau rusak,"
"Oh berarti sekarang aku rusaki saja ya, Dad? supaya Daddy belikan yng baru," tanya Auristella dengan tampak polosnya menatap Devan.
Lovi mencubit pipi anaknya dengan gemas. "Tidak boleh seperti itu,"
"Biar beli yang baru, Mom," Auristella merengek masih bersikeras minta dibelikan yang baru oleh ayahnya.
"Kalau beli satu, berarti beli semua,"
"Tapi punya Ian dan Ean masih bagus,"
"Punya kamu memang sudah tidak bagus? hm? belinya bersamaan. Punyamu sekarang juga masih bisa digunakan seperti biasanya. Jadi tidak ada cerita beli yang bru," lugas Lovi yang paling tegas kalau masalah ini. Berbeda dengan suaminya yang mudah luluh kalau anaknya sudah minta ini dan itu, Lovi justru tidak mau setiap saat menuruti permintaan anaknya kalau memang dirasa belum perlu.
"Tadi jadi ke klinik perawatan?"
"Tidak jadi, aku malas ke sana. Jadi dari rumah Icelle, aku dan Auris langsung pulang,"
"Kenapa malas? kamu selalu begitu, Lov. Biar semakin cantik,"
Lovi memutar bola matanya tatkala melihat sang suami yang mengerling jenaka.
"Tidak usah perawatan Mommy sudah cantik!"
"Ya, kalau sejak lahir sudah cantik, maka tidak perlu apapun lagi supaya cantik,"
"Iya, aku tahu, Lovi sayangku. Kamu sudah cantik sejak lahir makanya aku tergila-gila. Tapi biar semakin mempesona, cantik, kamu harus perawatan. Jangan hanya mengandalkan produk-prpduk skincare saja,"
"Errghh Daddy bicara apa sih. Tergila-gila, itu berlebihan sekali. Sering merayu perempuan seperti itu ya," tembak Auristella langsung seraya melotot pada ayahnya.
Lovi terbahak melihat anaknya yang seperti tengah menginterogasi ayanya.
Devan menggaruk pipinya yang tak gatal. Ia tidak bisa berkutik kalau sudah begini.
"Itu beda cerita, Sayang. Mereka semua itu yang tergila-gila pada Daddy,"
"Hih, memang Daddy tampan sekali apa?"
__ADS_1
Devan kelewat gemas dengan anaknya yang mencerca. Ia segera meraih Auristella dalam pelukan kemudian menggelitiki anaknya iu hingga terpingkal-pingkal.