Nillaku

Nillaku
Nillaku 329 Kakek tumbang yang berarti tubuhnya sudah benar-benar menyerah


__ADS_3

Vanilla merasakan sentuhan lembut di keningnya saat Ia mengerinyit marah membaca pesan dari kakak tunggalnya itu.


Sosok yang mengusap keningnya itu bertanya dengan suara seraknya,"Kenapa?" Jhico sudah mengantuk tapi Ia penasaran dengan apa yang membuat istrinya sampai terlihat serius sekali menatap layar ponsel dan sorot marahnya juga membuat Jhico semakin ingin tahu.


"Oh, tidak," jawab Vanilla seraya tersenyum. Ia memadamkan layar kemudiam meletakkan ponselnya di samping kepalanya. 


"Tidur, sudah malam," Vanilla mengangguk, memang sekarang sudah malam dan malam ini Ia dibuat kesal dengan perilaku sang kakak yang diakui sendiri oleh kakaknya itu.


"Kenapa dia mabuk sih? apa sekarang dia sudah di rumah? tapi apa mungkin dia pulang dalam kondisi seperti itu? astaga, aku khawatir pada kakakku yang menyebalkan itu!" batin Vanilla yang masih resah namun Ia tak ingin suaminya tahu keburukan kakaknya. Siapapun tahu bahwa Devan memanglah seperti itu sejak dulu. Tapi Vanilla rasa Jhico tak tahu bahwa sampai saat ini Devan masih suka melakukannya.


-Aku tidak sengaja membeli minuman beralkohol. Lalu saat aku meminumnya sampai habis, aku mabuk Hahahah- Devan mengirim pesan seperti itu. Vanilla merasakan getar dari ponsel yang Ia letakkan di dekat kepalanya. Ia rasa getar itu disebabkan oleh Devan yang membalas pesannya. Begitu Ia raih ponselnya, benar, Devan telah membalas pesannya. Memilih untuk bicara langsung, Ia melirik Jhico terlebih dahulu sebelum beranjak ke balkon kamarmya dan menelpon Devan di sana.


Mata suaminya sudah terpejam. Ia bisa pergi sebentar ke balkon dan bicara dengan kakaknya itu.


Ia menekan nomor kakaknya dan panggilan pun langsung dijawab. "Kamu dimana sekarang?"


"Di rumah," terdengar sahutan santai dari Devan.


"Kamu gila ya? mabuk lalu ke rumah?"


Devan terkekeh mendengar cercaan adiknya. "Bukankah lebih baik seperti itu? daripada aku ke hotel? lalu aku bersama--"


"Jangan coba-coba ya, Devan! aku pikir kamu tidak lagi seperti itu. Kamu kembli menyakiti Lovi? iya?!"


"Astaga, kamu memarahiku, adikku,"


"Diam kamu!"


Devan di tempat tidurnya mati-matian menahan tawa kencangnya sebab Lovi sudah terlelap.


"Kamu kenapa sih? bukankah tidak aneh lagi kalau aku mabuk dan kencan?"


"Aku pikir kamu sudah berubah, bodoh!"

__ADS_1


Devan menggeleng pelan. Sebesar itu amarah Vanilla yang menandakan bahwa perempuan itu sangat menyayangkan sikapnya.


"Aku membeli minuman dan aku tidak tahu kalau itu minuman beralkohol. Setelah aku minum, aku mabuk. Aku minta driver menjemputku di kantor, aku mabuk karena minum itu ketika aku akan pulang ke rumah,"


Vanilla menggertakkan giginya kesal. Meskipun katanya Devan tidak sengaja tapi kalimat-kalimatnya tadi masih membuat dada Vanilla panas.


"Memang kamu masih sering mabuk dan kencan dengan wanita lain?"


"Mabuk? tentu masih aku lakukan bila memang kondisinya mengharuskan aku melakukannya. Tapi kalau yang satu itu, tidak pernah lah! Aku sudah terjerat dengan diri Lovi, aku tak mungkin bisa berkhianat,"


Jujur Vanilla merasa senang mendengarnya. Ia akan memaki kakaknya habis-habisan kalau Ia masih saja merasa tidak cukup dengan satu permpuan disaat sudah ada Lovi dan mereka telah memiliki pelengkap dalam pernikahan yaitu tiga orang anak.


"Kamu mengkhawatirkan aku ya?"


"Tidak! aku khawatir kamu akan menyakiti hati Lovi lagi!"


"Tapi kamu khawatir dengan kondisiku sekarang 'kan?" tanya Devan dengan menyebalkannya. Vanilla mendengus kemudian menyudahi panggilan, tak ingin menjawab 'ya' atas pertanyaan kakaknya tadi.


Devan tersenyum sesaat menatap layar ponselnya yang sudah padam. Adiknya tak mau mengakui kalau Ia cemas dengannya. Devan tahu akan hal itu namun ingin mendengar langsung dari adiknya. Tapi sepertinya Vanilla terlalu sulit untuk dibuat mengakui bahwa Vanilla menyayangi dirinya dan tengah mencemaskan kondisinya saat ini yang mengaku mabuk.


******


Karina memasuki kamar usai membuatkan teh hangat untuk suaminya yang pagi ini seperti biasanya akan bekerja. Namun yang Ia lihat detik ini adalah suaminya masih terlelap di atas tempat tidur.


"Ya ampun, Thanatan. Kenapa tidur lagi? tadi sudah bangun,"


Tak biasanya Thanatan setelah bangun malah kembali tidur. Biasanya lelaki itu akan langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap ke kantor.


Karina membangunkan suaminya itu. "Pa, bangunlah. Sudah pagi," katanya pada sang suami yang belum bergerak sedikitpun hanya dengkuran halus yang terdengar.


"Apa tidak mau bekerja? tapi tidak mungkin," Ia bermonolog.


Ia mengguncang lengan suaminya hingga menggeliat. "Pa, bangunlah. Ini sudah pagi. Kamu akan bekerja 'kan?"

__ADS_1


Thanatan mengangguk pelan. "Ya," Ia beranjak duduk. Kemudian memijat kepalanya yang terasa nyeri.


"Kenapa? sakit? hm?" Karina menyentuh dahi suaminya dan Ia merasakan panas di sana. Begitu menyentuh lehernya juga begitu.


"Kamu sakit. Aku ambilkan makan dan obat dulu ya. Setelah makan dan minum obat, istirahat lagi,"


"Aku akan ke kantor,"


"Tidak-tidak! kamu harus istirahat di rumah hari ini. Kamu sakit!" tegas Karina. Suaminya benar-benar demam sekarang. Terbukti dari panas yang menjalar dari setiap kulit Thantan yang Ia sentuh. Suara Thanatan pun serak.


Karina bergegas mengambil sarapan dan juga obat untuk suaminya. Kemudian Ia kembali lagi ke kamar. Thanatan terlihat tidur lagi. Lelaki itu memang kelihatan lemah sekali pagi ini.


Ia lekas membangunkan suaminya lagi. Menyuruhnya untuk makan.


"Aku suapi?"


Thanatan menggeleng. Ia merasa bisa melakukannya sendiri. Ia menghembuskan napas pelan, sebenarnya malas sekali untuk makan tapi Ia harus melakukannya.


Ia mulai menyantap makanan yang disiapkan istrinya. Kalau biasanya Thanatan akan menyantap di meja makan, kini Ia di kamar.


Setelah makan, Karina memberikannya obat penurun demam.


Karina yakin suaminya ini kelelahan. Terlalu sibuk dengan dunianya sebagai seorang pengusaha sampai akhirnya lalai dengan kesehatan dirinya sendiri.


"Tidurlah,"


"Aku harus ke kantor,"


"Tidak harus. Kamu tidak datang ke sana sehari saja tidak akan membuat perusahaan jadi hancur. Jadi dengarkan aku, Pa. Kamu harus istirahat. Kamu jarang sakit. Kalau sudah sakit, artinya tubuhmu memang sudah benar-benar menyerah,"


Karina menatap Thanatan dengan raut permohonan. Ia hanya meminta Thanatan istirahat saja di rumah. Tidak lebih dari itu. Sesulit itukah memahami kondisi tubuhnya sendiri?


"Istirahat saja ya. Pekerjaan kamu tidak akan lalai kalau kamu sehat,"

__ADS_1


"Besok kalau memang sudah memungkinkan kamu bisa bekerja, silahkan. Aku tidak akan melarang," katanya lagi.


Karina menatap sebentar pada suaminya yang kini memejam, kemudian Ia bergegas keluar dari kamar membiarkan suaminya beristirahat.


__ADS_2