Nillaku

Nillaku
Nillaku 209


__ADS_3

Vanilla dan Joana menemani Grizelle memangkas rambutnya. Usai berdebat melalui telepon dengan Jhico yang tidak mengizinkan sang putri memangkas rambutnya, akhirnya terciptalah sebuah kesepakatan bahwa Grizelle boleh memiliki rambut yang lebih pendek dari sekarang tapi ketika memanjang lagi nanti, Vanilla tidak boleh membuatnya pendek lagi.


Vanilla yang sangat menginginkan penampilan rambut anaknya segera diupgrade supaya lebih terlihat fresh, akhirnya menyetujui permintaan sang suami.


"Aku ingin Griz tampil dengan rambut pendek, Jhi,"


"Untuk apa, Nillaku? Dia sudah cantik seperti itu. Aku lebih suka rambutnya panjang. Seperti princess, kata Griz,"


"Iya, tapi Griz juga tidak menolak. Dia mau rambut princess nya dipangkas,"


Jhico yang sedang membaca kasus-kasus pasien yang ditanganinya minggu ini pun mendengus saat sang istri tak menyerah membujuknya, oh bukan membujuk, lebih tepatnya memaksa.


"Anakku sudah cantik dengan rambutnya yang seperti biasa. Tidak perlu kamu---"


"Jhi, aku mohon. Tolong lah beri izin. Dia anakku juga, Jhi!"


Jhico memijat keningnya mendengar rengekan Vanilla. Grizelle dan Joana sampai menahan tawa melihat Vanilla merengek seperti itu pada suaminya melalui sambungan telepon.


"Ya sudah, tapi kalau sudah panjang lagi nanti, tidak boleh dipangkas!" Ujarnya tegas. Sungguh, Ia menyukai Grizelle dengan rambut panjangnya. Terlihat semakin cantik dan anggun, sama seperti Vanilla jika rambutnya panjang.


"Aku pangkas rambut hingga menjadi pendek, kamu bilang juga cantik,"


"Ya memang, tapi lebih cantik bila rambutmu panjang. Dan aku rasa Griz juga begitu,"


"Ya sudah, jadi intinya diizinkan atau tidak?" Tanya Vanilla yang mulai jengah.


Jhico menghela napas panjang. Terpaksa, Ia bergumam "Ya," karena kalau tidak, Vanilla tidak akan berhenti mengganggunya sekarang dan mungkin anak mereka juga sudah sakit kepala mendengar mereka berdebat.


"Okay, terimakasih, Sayang," Ucap Vanilla dengan riang. Ia menyerahkan ponselnya pada Grizelle yang menengadahkan tangan padanya. Grizelle ingin bicara dengan ayahnya.


"Pupu, tenang saja. Aku akan tetap cantik dengan lambut (rambut) pendek. Kata Pupu, aku selalu cantik,"


Jhico tersenyum mendengar ucapan sang anak yang menenangkan hatinya itu. Ia mengangguk, meski Grizelle tak melihatnya.


"Iya, Princess kecil, Pupu. Rambutmu boleh dipangkas. Pupu yakin akan tetap cantik,"


Grizelle memekik senang. Ia sampai melompat kecil karena diperbolehkan memperbarui penampilan rambutnya. Ia pikir, ide sang Ibu tak buruk juga. Ia ingin esok saat sekolah, rambutnya sudah dengan style yang berbeda.


"Kalau aku warnai jadi pink, boleh, Pu? Supaya mirip princess asli,"


"Astaga, Sayang. Jangan ya,"


Jhico panik sendiri. Walaupun Ia yakin bahwa warna merah muda di rambut anaknya tak akan membuat anaknya terlihat buruk, tapi Ia lebih suka warna rambut asli Grizelle yang berwarna cokelat, sama seperti ibunya.


"Biarkan warna rambutmu yang asli. Jangan dirubah," pesannya tegas namun tetap dengan nada yang lembut.

__ADS_1


Tawa indah mengalun dari bibir menggemaskan Grizelle. Ia hanya menjahili ayahnya saja. Tidak menyangka reaksinya akan panik seperti itu.


"Aku juga suka dengan warna rambutku. Aku tidak merubahnya. Tenang saja, Pu,"


"Okay, Sayang,"


"Bye, Pu. Sampai jumpa nanti ya,"


"Di rumah 'kan? Kamu tidak ke klinik lagi?"


"Tidak, aku ingin langsung pulang, istirahat. Mumu juga pasti tidak mengizinkan aku kembali ke sana,"


"Iya, lebih baik kamu langsung pulang, istirahat karena besok sekolah. Hati-hati ya,"


"Pupu jangan lama pulangnya," ucap anak itu sendu sebelum panggilan mereka terputus.


"Iya, Pupu selalu berusaha pulang tepat waktu 'kan? Karena Pupu tahu, ada princess kecil yang menunggu Pupu di rumah,"


Grizelle tersenyum lebar. Usai mencium layar ponsel Mumunya dan panggilan dengan sang ayah berakhir, Ia mengembalikan ponsel itu.


"Jadi, diizinkan Pupu?" Tanya Joana memastikan. Grizelle mengangguk cepat. "Pupu bolehkan aku memangkas rambut tapi tidak boleh mewarnai rambut,"


Tawa Joana pecah. Jelas saja Jhico tidak mengizinkan karena sepertinya itu terlalu ekstrim. Grizelle yang masih sangat kecil memiliki rambut berwarna merah muda. Sebenarnya terdengar menggemaskan tapi mungkin pemikiran Jhico berbeda.


Selama proses pemangkasan rambut princess kecilnya, Vanilla menunggu seraya berbincang dengan Joana. Sementara Grizelle tenang dengan pop corn sisa Ia menonton bioskop tadi.


Pop corn habis, Ia meminta snack lain berupa cokelat pada Mumunya. Vanilla segera memberikan cokelat pada putrinya.


"Jadi, bagaimana dengan yang sekarang? Sudah ada tanda-tanda akan serius?"


Joana menepuk paha Vanilla kesal. "Jangan bahas itu," ujarnya. Vanilla selalu semangat kalau membicarakan cerita cintanya yang tak kunjung mendapatkan pelabuhan terakhir.


"Masih teman,"


Vanilla mendengus, lagi-lagi jawaban itu yang didengarnya. "Teman terus. Kapan lebih dari teman?"


"Ya, nanti,"


Vanilla menggeram gemas lalu mencubit lengan Joana. Ia menoleh saat Grizelle memanggilnya.


"Mu, aku haus,"


"Kamu makan terus sejak tadi," canda Joana dengan tawa kecilnya.


Vanilla menyerahkan air minum dari dalam goodie bag berisi snack dan minuman yang tadi dibelinya untuk Grizelle.

__ADS_1


"Sudah selesai. Semakin cantik kamu ya,"


Vanilla dan Joana bangkit dari kursi yang berada di samping Grizelle. Anak itu sudah selesai dipangkas rambutnya sesuai dengan keinginan Vanilla dan Grizelle.


"Woahh cantik, selalu cantik," Joana memuji Grizelle hingga anak itu tersipu malu.


"Terimakasih, sudah membuat anakku senang dengan potongan rambut barunya,"


"Kembali kasih," seseorang yang bertugas memangkas rambut Grizelle pamit undur diri usai memastikan Grizelle bersih dari sisa-sisa potongan rambutnya.


Vanilla menatap rambut anaknya, puas. Ia menghela rambut sang putri, memutari tubuh Grizelle untuk menilai.


"Bagus, Sayang. Kamu terlihat beda. Semakin cantik. Pupu pasti suka melihatnya,"


Grizelle tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang membuat Ia terlihat menggemaskan. "Benar bagus, Mu?"


"Iya, benar 'kan, Jo?" Ia meminta pendapat Joana yang langsung mengangguk cepat.


"Iya, Terlihat fresh dan cantikmu bertambah,"


"Aduh," Grizelle meringis, menutup mulutnya.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku malu, Mu, di puji terus," cicitnya pelan dengan wajah memerah. Vanilla dan Joana terkekeh.


"Kita jadi ke dokter gigi?"


"Iya, Sayang. Gigimu jadi berwarna cokelat karena habis makan cokelat,"


Tangan Vanilla bergerak mengambil tissue dari dalam tasnya kemudian segera membersihkan sisa-sisa cokelat yang melekat di gigi sang putri.


Semalam Grizelle mengeluh kalau giginya sakit. Jhico langsung meminta Vanilla agar mengantar putri mereka periksa gigi. Meskipun sakit, ternyata Grizelle tetap memilih cokelat saat membeli snack tadi.


Vanilla sudah melarang namun Grizelle tetap ingin cokelat. Ia memohon pada Ibunya itu agar dibelikan satu. Vanilla membiarkan karena nantinya juga Grizelle yang akan merasakan sakitnya.


"Tadi makan cokelat. Dokter marah nanti,"


"Kalau nanti malam sakit lagi, jangan merengek pada Mumu ya," imbuhnya memperingati.


Grizelle merengut, "Ya sudah, aku merengek pada Pupu saja," jawabnya.


-------


Aku cepet kan up nya? kalian jg yg cepet like, komen, vote nya yaaaa. Bsk up lg ga? tergantung teror nya guys :p

__ADS_1


__ADS_2