
Sejak kepulangan Vanilla, Jhico memilih untuk tidur sementara Karina sedang menunggu suaminya yang belum juga sampai di rumah sakit setelah sebelumnya Ia suruh untuk kembali ke rumah mengambil soup salmon buatan Hawra.
Karena Karina sudah merasa lapar, Akhirnya Ia menelpon sang suami dan tak lama langsung dijawab.
"Kamu dimana sih? lama sekali belum datang. Aku sudah lapar," sembur Karina menggunakan kalimatnya yang diucapkan dengan cepat tanpa jeda.
"Sudah di basement,"
"Ya sudah, cepat!"
"Jangan marah-marah kamu ya. Nanti aku buang soup ini. Biar kamu tidak makan sekalian,"
Tut
Tut
Karina langsung mematikan teleponnya. Thanatan berdecak kesal. Karina menyebalkan sekali hari ini. Bagi Karina, suaminya pun menyebalkan. Ia sangat menunggu makanan itu dan Ia juga merasa lapar. Dengan teganya Thanatan mengancam akan membuang makanan yang sudah Ia nanti sejak tadi.
*******
Raihan sampai di apartemen putrinya sudah malam. Ia menekan bel apartemen dimana penghuninya baru saja bangun tidur. Bibi, Rena, Vanilla, dan Grizelle memang tidur setelah Devan dan keluarga kecilnya pulang.
Bibi membuka pintu apartemen. Rena sudah menunggu suaminya menjemput di ruang tamu bersama dengan Vanilla dan Grizelle juga.
Raihan menghampiri Grizelle yang dipangku oleh Vanilla.
"Griz kapan main ke mansion Grandpa? seharusnya sekarang berhubung tidak ada ayahmu,"
"Iya, Vanilla. Malam ini kamu ikut dengan kami saja. Mau tidak?"
Vanilla nampak menimang karena ragu. Grizelle belum pernah diajak menginap di suatu tempat selain rumah sakit kemarin.
"Di mansion lebih aman. Dan Adrian juga sering datang ke sana untuk bermain. Selama Jhico di rumah sakit, kamu seharusnya dengan kami,"
"Siapkan perlengkapan kalian. Ikut dengan kami ke mansion. Jhico tidak mungkin melarangmu 'kan?"
"Tidak, Pa. Tapi aku izin dulu ya? aku telepon Jhico sebentar,"
"Okay, Papa tunggu,"
******
Karina mengusap perutnya yang terasa sangat penuh. Ia berhasil menghabiskan makanan yang begitu Ia inginkan.
"Kata Ibu kamu seperti orang hamil,"
"Heh? bicara apa kamu?! jangan sembarangan ya! aku mana mungkin hamil lagi,"
"Kata Ibu! kamu dengar baik-baik!"
__ADS_1
Perdebatan itu membuat Jhico terbangun. Ia mengerjapkan matanya dan langsung mencari Mamanya yang biasanya duduk di sampingnya.
Ia menemukan Karina danThanatan di sofa. Meja di depan mereka terdapat wadah makanan dan juga botol minum yang terbuka.
"Kenapa bangun, Jhico? kami berisik ya?"
"Kamu yang berisik. Aku tidak," sahut Thanatan yang mengundang Karina untuk menoleh padanya. Karina menatap suaminya dengan sinis.
"Wajar saja aku berisik. Aku terkejut mendengar ucapanmu tadi,"
"Aku hanya menyampaikan apa yang dikatakan Ibu saat di rumah tadi. Ibu pikir kamu pasti akan makan yang lain. Ternyata kamu memaksa aku untuk mengambil soup itu,"
"Aku hanya ingin saja. Entah kenapa,"
Drrrtt
Drrtt
"Ma, tolong ambilkan ponselku,"
"Iya, tunggu sebentar,"
Karina berdiri untuk membantu anaknya yang belum bisa bergerak bebas. Ia meraih ponsel Jhico dan membaca nama orang yang menelpon anaknya.
"Nilla mu yang menelpon," ucapnya memberi tahu.
"Padahal kamu bisa meminta tolong pada Papa,"
Karina kembali lagi ke sofa. Sementara Jhico menjawab panggilan Vanilla. "Hallo, Nilla. Ada apa?"
Tadi Vanilla sudah memberitahunya bahwa Ia sudah tiba di apartemen. Sekarang Jhico bingung kenapa Istrinya kembali menelpon.
"Aku boleh menginap di mansion Papa dan Mama?"
Senyum Jhico hadir. Ia jadi mengingat masa-masa awal pernikahannya. Perubahan dari Vanilla benar-benar terlihat jelas. Dulu, mana pernah Ia meminta izin pada Jhico. Kemanapun Ia pergi, tidak pernah melibatkan Jhico. Berbanding terbalik dengan sekarang. Ke tempat orangtuanya saja Ia meminta izin. Jhico rasa selagi tempat itu aman untuk Vanilla, tentu saja Jhico tidak akan melarang.
"Boleh, kenapa harus tidak boleh? kamu akan lebih aman di sana,"
"Iya, Papa juga mengatakan demikian. Padahal aku rasa, apartemen ini sangat aman,"
"Tidak apa, ikuti apa yang Papa katakan. Jujur saja, ketidak hadiran aku di samping kalian berdua membuat aku khawatir. Tapi mau bagaimana lagi? aku hanya bisa berdoa dari sini dan berusaha untuk cepat sembuh,"
"Okay, aku berangkat sekarang kalau begitu. Jangan pikirkan apapun selain kondisimu. Bye, Jhi."
"Ya, hati-hati."
Klik
Usai Vanilla memberikan kecup jauh, Vanilla memutuskan panggilannya. Karina dan Thanatan langsung menatap putra mereka.
__ADS_1
"Ada apa dengan Vanilla?" tanya Karina.
"Papanya mengajak Vanilla dan Griz untuk menginap di mansion,"
"Tidak heran keluarga mereka selalu hangat. Anak-anak Raihan menuruti semua ucapannya sehingga tidak menimbulkan perdebatan. Berbeda dengan kamu yang selalu membantah. Papa suruh berobat ke luar negeri tidak mau padahal menurut Papa itu lebih baik. Apapun saran Papa, tidak pernah mau didengar. Devan dan Vanilla juga tidak segan meminta bantuan pada orangtua mereka. Sementara kamu? selalu bersikap seolah bisa hidup sendiri,"
Karina menghembuskan napas pelan. Ia mendorong punggung suaminya agar berdiri dan pulang saja. Lagi-lagi Thanatan berbicara yang keluar dari konteks pembicaraan yang pada akhirnya menyalahkan setiap perbuatan Jhico.
Jhico menolak pengobatan di negara lain karena Ia memikirkan anak dan istrinya. Ia tidak bisa meninggalkan mereka berdua terlalu jauh. Keberadaannya di rumah sakit saja membuat dirinya selalu kepikiran padahal rumah sakit itu tidak berjarak terlalu jauh dari apartemen.
"Aku sudah berikan alasan kenapa aku menolak, Pa. Papa seorang suami dan ayah. Aku pikir dengan begitu, Papa bisa mengerti aku. Aku tidak terbiasa meninggalkan istriku apalagi anakku,"
Bagi yang memiliki kepekaan di atas rata-rata, mungkin akan merasa bahwa kalimat terakhir Jhico merupakan sebuah sindiran. Seharusnya Thanatan menyadari itu. Sejak Jhico kecil, Ia terbiasa meninggalkan Jhico hingga berbulan-bulan untuk urusan pekerjaan. Saat pulang ke rumah, jarang sekali menghabiskan waktu bersama Jhico. Lebih memilih untuk sibuk dengan pekerjaan lagi.
Karina semakin membuka matanya. Beruntung kesepian yang dialami Jhico ketika masih kecil tidak membuat dia tumbuh menjadi anak yang memiliki masa depan rusak.
"Lebih baik kamu pulang. Sudah tidak ada keperluan lagi di sini,"
"Nanti,"
Karina berdecak pelan. Ia mencubit lengan suaminya dengan kesal. Ibu satu anak itu benar-benar tak habis pikir dengan suaminya. Thanatan bisa melihat kondisi Raihan sekarang. Bukannya prihatin malah membuat anaknya semakin kacau saja.
"Papa rasa tidak ada salahnya Vanilla dan anakmu ikut kemanapun kamu berobat. Vanilla pasti mendukung apapun yang membuatmu cepat sembuh,"
"Pengobatan di dalam negeri juga sudah cukup,"
"Tapi penyembuhannya lama, Jhico. Papa yakin kalau berobat di negara yang Papa maksud, kamu bisa sembuh dengan cepat karena ada teman Papa juga yang bisa menangani kamu. Beliau sudah memiliki banyak pengalaman dalam menangani masalah kesehatan yang sedang kamu alami sekarang ini,"
Jhico memilih diam. Keputusannya sudah bulat. Ia tidak ingin kemanapun. Berobat di negaranya sendiri sudah cukup dan Jhico yakin hasilnya akan memuaskan.
"Bagaimana kamu bisa bekerja kalau pemulihan yang harus kamu lalui bisa sampai berbulan-bulan?"
"Pa, jangan menentang keputusan Jhico. Dia berhak menentukan ---"
Thanatan mengangkat sebelah tangannya pertanda bahwa Ia tak ingin Karina ikut campur.
"Kalau kamu pergi ke tempat lain mungkin kamu juga bisa menenangkan pikiran. Di sini kamu banyak gangguan,"
"Gangguan apa?"
"Anak kecil itu. Entah kenapa Papa merasa risih setelah melihat interaksi dia bersama kamu. Apa kamu tidak merasakannya juga?"
"Tidak, Keyfa anak yang baik. Dia sangat menyayangi ku dan dia tulus. Oleh sebab itu aku merasa nyaman berada di dekatnya,"
"Kamu ini aneh ya. Kenapa kamu risih dengan Keyfa? dia anak yang baik bahkan sampai memohon pada Ibunya agar mendonorkan darah untuk Jhico. Seharusnya kamu berterima kasih setelah anak mu dibantu,"
"Kamu selalu ikut campur! ini pendapatku, Karina."
"Pa, sudah-sudah. Jangan berdebat di sini," Jhico berusaha menghentikan perdebatan kedua orangtuanya yang kini saling melempar tatapan tajam.
__ADS_1
-------
Update ku di jam pocong lg gesss. Aku up jam 01.15 gatau selesai review jam brp. Semoga gk lama krn kalian udh pd nunggu. Iya 'kan? ( Reader be like : kepedean ni authornya)😂😂